Sunday, April 28, 2013

CERBUNG (3)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TIGA

.
Saat ini, Bondan bukan ingin menyesali nasib atau menggugat orangtua. Bondan lebih ingin, mengubah prilakunya. Mengubah jalan hidup. Ia ingin mulai meluruskan jalan yang masih tersisa. Jalan yang memang masih harus dilalui dan ditempuhnya.
Keinginan yang tak bisa didapatkan semisal berharap pada banyak teman. Pun pada orang tuanya. Tuhan sekalipun tak akan menolongnya. Sang Khalik, tak pernah berkehendak mengubah nasib satu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang berkehendak mengubahnya.
Bondan melihat, di pelupuk matanya hanya kesulitan yang memanjang. Tak melihat hal termudah atau kemudahan, kecuali tekadnya di bulatkan dan keinginannya diwujud-nyatakan
Itu sebabnya, Bondan bisa melihat jalan terang. Meski sedemikian berliku, tapi Bondan yang tak ingin terus keliru, bersikukuh. Bersikeras melaluinya, meski memang sangat berliku. Bondan tak ingin lantas meninggalkan. Terlebih menyerah.
Bondan tak merasa malu. Tekadnya tak pupus meski kesulitan tak berhenti memburu. Terlebih Mbok Sinem selalu membantu. Menemaninya berbincang kapan pun Bondan perlu teman mengobrol. Mendengarkan keluhan tanpa minta ini atau itu.
Bondan jadi punya alasan yang kuat hingga betah  di rumah. Dia mulai merasakan arti dan makna rumahku istanaku. Perlahan tapi pasti, Bondan mulai bisa menanggalkan kebiasaan buruknya. Mylai bisa menjauh dan jika kelak Bondan benar benar bisa meninggalkan lingkungan gaulnya, dia tak berniat melupakan kawan kawannya. Bagaimana pun mereka pernah singgah di hati Bondan, dan seburuk buruknya teman, tidak boleh dilupakan meski sah saja jika menjauh agar hal hal yang sudah tak dikehendaki tak menyapanya lagi. Tak berpeluang untuk menyeretnya kembali
Semua keburukan yang semula dianggap bisa membebaskan dirinya dari belenggu keresahan, karena hanya sepi dan sepi setiap kali ia berteduh dan diam di rumahnya yang mewah. Sepi demi sepi yang mencengkram, membuat Bondan hanya terus memburu dan terus membidik dengan hawa nafsu. Lalu, bersama kehendaknya yang dilarikan kemanapun ia suka, selalu saja ia mengira, yang diraih dan direguknya adalah kebahagiaan yang melebur segala duka laranya. Mengubur kenestapaan jiwanya, yang tak pernah ba sah oleh tetesan kasih sayang dan cinta.
Nyatanya?
Di setiap itulah yang sesungguhnya terasa dan senantiasa dirasakan, dirinya dalam cengkra man dusta. Malah membuat jiwanya tak pernah tentram. Semakin ia memburu dengan hawa naf sunya yang terus menderu, hasil konkritnya bukan ketentram. Tapi kepuasan tanpa dasar. Ke puasan yang tak pernah memberi apa-apa, kecuali mengembalikan ke suasana yang sama: nestapa.
ORANG-orang bijak, begitu mudah mengerti dan memahami hidup itu apa dan bagaimana. Orang bijak tak sebatas sangat arif meli hat. Tapi juga arif menilai. Itu sebabnya, orang bijak lebih merasa tak pandai menyalahkan atau membenarkan, kecuali memang terlihat jelas ada kesalahan di dalam kesalahan, dan nampak nyata kebenaran yang selalu melandasi kebenaran itu sendiri.
Jadi, siapa pun yang telah lupa berbuat baik atau telah berprilaku buruk, bisa saja mengubah sikap dan prilaku buruknya. Selama ada keinginan untuk merubah, yang nisbi bisa ada yang tak nampak bisa jadi nyata. Begitu pun se baliknya.
Bila dulu terus ingat dan sekarang lupa, merupakan hal biasa. Dulu lupa sekarang ingat, juga bukan sesuatu yang istimewa. Lupa dan ingat selalu saling mempengaruhi. Selalu berlom ba menguasai setiap jiwa manusia
Mengapa? Karena lupa adalah sifat. Ia melekat erat bukan pada hewan. Tapi, melekat dalam diri manusia. Sengaja melupakan adalah perbuatan, tindakan. Memang tidak nyata terlihat. Tapi membuahkan sesuatu yang banyak mengandung manfaat.
Bondan bisa memperbaiki kekeliruannya.
Bondan merasa sangat beruntung. Terle bih, tekadnya yang kuat, membuatnya tak lagi ter tarik bemabuk-mabukan. Bondan mulai merasakan, kondisi tubuhnya yang jauh lebih sehat dan jauh lebih segar
Dan yang membuatnya hepi dalam arti se sungguhnya, selalu berada dalam kondisi sadar. Sebelumnya, lebih sering dalam kondisi teler. Pengaruh alkohol, membuatnya entah berada di mana. Bondan juga merasa sangat beruntung. Ia tak lagi disinisi. Tak lagi dicap sebagai pemabuk. Sejak bertekad melupakan kebiasaan buruk dan akhirnya bisa meninggalkan, siapapun tak punya alasan untuk menilai dirinya sampah
Bukan berarti tak ada yang merasa dirugikan oleh Bondan. Terlebih, Bondan juga sengaja melupakan kebiasaan buruk lainnya. Memang, sengaja melupakan kebiasaan buruk, sangat tidak mudah. Tapi, toh, yang kemudian dirasakan Bondan adalah ketenangan. Ia lega, karena sudah bisa menjadikan rumahnya sebagai rumahku istanaku. Rumah yang membuat dirinya tentram dan bebas dari berbagai perkara
Ia bisa tidak kelayapan dan tidak begadang. Juga tidak lagi melakukan hal-hal yang se belumnya malah dianggap sangat wajar. Padahal, wajar dalam dimensi merugikan orang lain dan merugikan diri sendiri.
Teman-teman Bondan tentu saja merasa sangat dirugikan.
Sejak Bondan sadar – mereka menganggap seperti itu, tak ada lagi yang mentraktir minum sampai mabuk. Tak ada lagi yang mengajak mereka mencari anak-anak abg untuk bersenang-senang dan kesudahannya pasti dikencani.
Teman teman Bondan, bukan tak mem persoalkan. Mereka, malah sengaja menemui Bondan. Kalau saja Bondan tidak cerdik dan saat menghadapi hal itu ia kehilangan akal sehat, Bondan yakin, ia tak pernah bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Bondan yakin, pengaruh teman-temannya, sedemikian hebat. Jika kembali dekat, akrab dan menyatu lagi, percuma Bondan insaf
Saat teman-temannya datang, Bondan minta mbok Sinem membantunya. Ia minta agar mbok Sinem, menemui teman-temannya dan melakukan hal yang langsung diintruksikan oleh Bondan. Tak sulit bagi mbok Sinem melaksanakan perintah Bondan. Terlebih, sudah seringkali Bondan minta bantuan kepada mbok Sinem. Mbok Sinem tak pernah mengecewakan Bondan.
Tiap kali melaksanakan perintah Bondan untuk melakukan kebohongan, yang dirasakan mbok Sinem justeru senang luar biasa. Itu sebabnya, Mbok Sinem tak pernah merasa berdosa, karena setiap usai melaksanakan tugas, Bondan tak pernah lupa atau sengaja melupakan jasanya.
Bondan pasti memberi bonus. Jumlahnya, lumayan besar. Minimal, sebesar gaji sebulan Tapi, sering lebih. Bondan memang dapat lebih banyak. Ia memang paling berhak menerima uang, dari ayah maupun ibunya. Kebiasaan membohongi majikan – ayah dan ibu Bondan, membuat Mbok Sinem semangat dalam melaksanakan misi untuk kepentingan anak majikannya
Jadi, bukan lagi mbok Sinem jika tidak siap melaksanakan perintah. Ketika teman-teman Bondan benar-benar muncul, tanpa ragu, mbok Sinem segera menghadapi mereka.
Mbok Sinem menyambut teman Bondan sebagaimana mestinya. Dengan lugu, Ia bertanya mau ketemu siapa dan untuk urusan apa. Saat mereka menjawab mau ketemu Bondan , mbok Sinem lang sung memainkan peran lugunya.
“ Kok, baru hari gini, sih, mau besuk den Bondan?”
Tak hanya Heri Gondrong yang kaget. Gito, Suparman, Doni dan Marbun, lupa jika mereka datang karena kesal sama Bondan, yang menghilang tanpa pesan, yang menjauh tanpa kabar.



Bersambung.........


CERBUNG (2)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

DUA

 

         Kan, lebih bego dari Gayus Tambunan. Lebih tolol dari oknum polisi, oknum jaksa, dan oknum hakim yang bersekongkol dengan Gayus. Demi uang dan angan-angan mewujudkan impian hidup mewah, malah rela menggadaikan harga diri. Akhirnya, harus menanggung malu, Kehilangan reputasi dan kehilangan harga diri. Isteri dan anak-anaknya, boleh jadi dirundung malu.

       Mulanya, Bondan yang berulang kali mengaca hanya melihat wajah gantengnya. Tapi akhir nya, Bondan mulai melihat satu demi satu keburukan dirinya. Bahkan, Bondan semakin mampu mengurai, keburukan-keburukannya. Satu demi satu, keburukan pribadi, seperti menjelaskan pada dirinya sendiri.
       “ Jika yang kamu tanam bibit kebaikan, yang lahir dari perbuatan kamu bukan aku, sang keburukan. Tapi musuhku, sang kebaikan. Dan, yang kelak akan kamu tuai bukan aku, tapi sang kebaikan “
        Bondan ternganga.
       Sadar, selama ini, ia keliru. Salah jalan. Saat itu, kekeliruan, sengaja atau tanpa rencana, me mang dirasa nikmat dan memuaskan. Membuat nya terlena. Terbuai. Tiap kali dikonkritkan, me mang hanya nikmat dan kepuasan yang saat itu didapat dan dirasakan.
     Hanya, semuanya seketika. Sekejap mata Setelah itu, dirinya kembali terperangkap dalam jeratan hawa nafsu, dalam sunyi yang terasa sedemikian panjang. Sunyi yang membuatnya malah tak mampu mengandalikan diri. Dan, ia pun seperti terperangkap di ruang gelap yang paling pengap. Terjebak dalam sepi yang meresahkan. Dalam resah yang paling menggelisahkan. Membuatnya jemu dan kerap terseret ke dalam arus yang penuh tanda tanya. Arus yang tak lagi diketahui, di mana ujung dan dimana pangkalnya
      Tentu saja semua itu, tak pernah menentram kan jiwanya. Tak pernah mendatangkan ketena ngan batin. Di balik nikmat dan kepuasan yang direguk Bondan, tak ada apapun kecuali seonggok jiwa yang hampa dalam gulana. Kering ke rontang dilanda nestapa.
Jiwa yang tak pernah dibasahi oleh perha tian, kasih sayang dan cinta. Jiwa yang hanya di hidupkan, dan digerakkan oleh materi, membuat Bondan tak mampu menjadi seseorang yang berjiwa atau berhati. Jiwanya malah selalu lunglai dalam belai kemewahan. Hatinya cenderung rapuh, oleh materi yang berlebihan.
       Apa yang harus kulakukan agar jiwa tent ram, batin tenang tapi aku tetap leluasa mereguk nikmat yang memuaskan, dan buahnya adalah kebahagiaan yang hakiki seperti yang kumaui?
Bondan nyaris senewen.Tiap kali bergulat dan bergelut dengan batinnya, ia merasa tersiksa. Tersiksa karena betapa sulitnya meninggalkan kebiasaan buruknya. Begitu mudah ia melakukan Tapi, begitu sulitnya, saat ingin meninggalkan. Apakah karena aku tak biasa berbuat baik, lalu kekuatan buruk dalam diri ini malah mampu memelorotkan hasrat berbuat baik?
       Bondan tak tahu harus bicara dan bertanya pada siapa. Ibunya, entah di mana. Sejak rahasia ayahnya terkuak, ibunya memang tak minta cerai. Tapi, juga menolak ketika ayahnya bersedia dan siap menceraikan.
Ibunya memilih tetap terikat dalam tali perkawinan, dan tinggal bersama Bondan. Tapi, bukan untuk mengurus Bondan. Saat itu, Bondan hanya dimanfaatkan agar kebutuhan hidup ibu nya yang memang materialistis, selalu dan tetap terpenuhi
       Status orangtuanya memang tetap sebagai suami-isteri. Secara fisik, mereka tidak bercerai. Tapi batin, mereka sudah terpisah. Sejak lama. Sesekali, ayahnya memang datang. Setelah berte mu sesaat dengan Bondan, usai mensuplai uang, bergegas pulang, hilang. Ayahnya, seperti tak pe duli, bagaimana Bondan tumbuh dan berkembang.
        Malah, ketika ayahnya tahu, ibunya bermesraan dengan lelaki lain, pak Sadewa tidak marah. Ayahnya juga hanya tersenyum, saat tak lama berselang, ia mengetahui isterinya sudah jarang pulang. Pak Sadewa hanya berpesan, agar mbok Sinem merawat Bondan dengan baik, benar dan dengan segenap ketulusan. Ayahnya beralasan, ia tak mungkin bisa mengajak Bondan tinggal ber sama di rumah salah satu dari dua orang isteri lainnya
        Meski begitu, ayahnya tetap memenuhi berbagai kebutuhan Bondan dan ibunya. Tapi, ayahnya sama sekali tak mempersoalkan, di mana sebenarnya ibu Bondan, apa yang dilakukan dan siapa lelaki yang mendampinginya.
        Tapi, akhirnya Bondan tahu, mengapa ayahnya, malah menikah dengan dua perempuan lain. Menurut mbok Sinem, saat ekonomi ayahnya masih morat-marit, ibunya lebih sering menjerit. Kerap kecewa, marah, dan tak henti-hentinya mengecilkan dan menyudutkan suaminya. Ayah Bondan yang hanya sanggup membelai isterinya dengan kemiskinan, tak pernah dihargai terlebih dihormati
      Ibunya sering memaki, mencibir, mengecilkan.menghina dan menyebut ayahnya sebagai lelaki yang hanya mampu memberi kepuasan batiniah. Sama sekali tak sanggup memenuhi ke puasaan lahiriah, yang juga sangat didambakan dan diinginkan ibunya. Jika saat seperti itu Bondan belum lahir, mungkin sudah lama mereka bercerai.
        Itu sebabnya ayahnya menikah dengan pe rempuan lain. Hanya, si mbok Sinem sama sekali tak mengerti, mengapa sampai menikah dengan dua perempuan. Jika hanya dengan satu perempuan, mungkin karena ingin ada yang mengurus, merawat, menyayangi, memperhatikan dan masih punya tempat yang nyaman untuk saling berbagi. Saling menautkan mimpi
      Ingin dipijat isteri karena capek atau lelah usai mencari nafkah. Ingin dimanja. Ingin tenang dan damai bersama isteri yang mencintainya. Keinginan seperti itu, selama bersama ibu Bondan hanya jadi angan. Hanya menjadi keinginan yang mau tidak mau lebih baik dipendam tim bang diungkapkan.
       Hal seperti diimpikan oleh siapapun lelaki yang sudah jadi seorang suami, cuma jadi kerinduan yang paling nisbi. Saat ayahnya masih dalam kemiskinan, ibu Bondan, tak pernah mau mengurus – terlebih memperhatikan dan mamahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan suaminya
     Tak mungkin mencurahkan kegelisahan jiwa, pada Ibu yang tak mengurus dan tak bersahabat dengan putranya. Juga tak mungkin berkeluh kesah pada ayah, yang datang hanya sesekali, dan kunjungannya yang hanya sesaat, sebatas memenuhi kewajiban, memberi uang.
     Bondan bukan tak pernah mengungkap, menyoal atau menggugat. Hasilnya? Ia malah memi lih droup out di akhir semester lima
Ratih, wanita yang dicintainya, lebih rela meninggalkan dirinya. Ratih, memilih menikah dengan pria mapan. Memang ia mengaku tak mencintai pria itu. Tapi ia tahu dan melihat ke nyataan, pria mapan pilihannya, lebih punya masa depan.    
      Prilakunya, tak seperti Bondan, yang makin lama -- dengan alasan kecewa pada orang tua, bukan memperbaiki dan jadi lebih baik tapi malah makin berantakan
     Makin akrab dengan minuman keras. Dekat dengan wanita yang kemesraan dan dekapan ha ngatnya hanya sebatas untuk uang. Bukan untuk hatinya yang kering kerontang. Juga bukan untuk hal lain, yang paling didambakan. Di setiap dekapan mereka, Bondan hanya merasakan nikmat dan kepuasan sesaat.         Bondan tak pernah merasakan ketentraman paling nyata. Semua benar-benar hanya sesaat. Setelah itu, lenyap.
Bondan memang telah keliru. Awalnya hanya pelarian. Akhirnya, jadi kebiasaan. Karena ia merasa punya orangtua tapi tak berhak atas kasih sayang, perhatian, dan cinta. Bondan terlempar dalam kesendirian. Hanya dicekoki materi dan berbagai fasilitas. Ia memang leluasa melakukan apa pun yang diinginkan. Setiap kali Bondan mengekpresikan kepuasan, setiap kali itulah Bondan lupa tentang luka yang menganga di jiwanya. Setelahnya, melihat kenyataan yang di da lamnya hanya ada sepi. Kesunyian yang mengoyak-ngoyak hati
Jika saat ini ia ingin kembali kuliah, hanya tinggal bilang. Ayahnya pasti malah senang dan mendukung sepenuhnya. Terlebih, pak Sadewa memang sangat berharap agar Bondan kembali ke kampus, menjadi sarjana. Bahkan, jika memang Bondan berhasrat kuliah di Amerika atau Australia. Pak Sadewa, sangat mendukung
Bondan bukan tak pernah menggugat.
Hasilnya? Hanya tanda tanya tanpa jawab.
Menjenuhkan .
Membuatnya frustrasi
Bondan malah terjebak ke dalam sebuah situasi, yang membuat dirinya tak terkendali. Meski masih bisa tersenyum manis tapi nasibnya begitu miris

Bersambung.......


GARA GARA KEPEDESAN


          PAK GURU, selalu punya cara menghukum murid bernama Kardun . Padahal, Kardun murid paling pintar di kelas. Cuma, karena bandel dan sering bikin kesal gurunya, kerap diincar oleh sang guru untuk diberi hukuman.                                                                                                  
         Kali ini, pak guru yang kesal karena Kardun yang diminta tolong membelikan bakso dn dipesan jangan pakai sambal, dikira benar nggak pakai sambal. Sebab, di bagian paling atas mangkok, saat bakso diserahkan, pak guru memang sama sekali nggak melihat ada sambel, Makanya, dengan bernafsu dia menyikat bakso yang baru saja diserahkan oleh Kardun                                                                                         Nggak taunya, di bagian bawah mangkuk malah penuh dengan sambel. Nah, siapa yang sangka kalau akhirnya pak guru kelojotan menahan pedas. Untuk itu, pak guru memanggil Kardun dan dua temannya yang ikut mengantar Kardun membeli bakso. "Kalau kalian bisa menjawab pertanyaan bapak, kalian boleh pulang cepat. JIka gagal, harus bersedia dijemur diterik matahari," kata pak Guru. Dengan santai dan sikap yakin, Kardun malah nyahut " Siapa takut, pak?"
PAK GURU pun mulai mengajukan pertanyaan pada ANDI.
"Andi... berapa jika tujuh dikalikan dengan tujuh?" Dengan tenang, Andi yang nggak pintar pintar amat dan tidak bego bego udin menjawab dengan tepat. “ Itu sih empat puluh sembilan,pak”.
"Kamu boleh pulang," kata pak Guru yang lantas mengajukan pertanyaan ke Kimong " Kimong... jika sepuluh dikurangi 9, apakah ada sisanya?" Tanya pak Guru yang kayaknya sengaja memberikan pertanyaan paling mudah.Bukan lantara paham kalo Komeng sering telat mikir, tapi karena baik Kimong maupun Andi memang hanya sebagai pelengkap yang kelak bisa dijadikan alasan bila apa yang dilakukan olehnya diprotes. Baik oleh rekan sejawat maupun orangtua murid
"Jelas ada dong, pak. Kalau yang nggak ada, pasti jika sembilan dikurang sepuluh. Kalau sebaliknya bersisa satu pak,” Kimong malah menjawab sambil beretorika
Tentu saja Kardun yang menyaksikan hal itu merasa sangat yakin dan kelihatan makin tenang. Sebab, dialah ranking pertama di kelas dan sama sekali tak iri dengan kedua rekannya yang bisa menjawab karena soalnya memang mudah. "Pertanyaan untuk saya, apa,pak?" Tanya Kardun yang malah seperti menantang "Kamu siap?" Tanya pak GURU "Kenapa tidak pak?" Sahut Kardun dengan agak sedikit sombong.
PAK GURU pun bertanya. " Hai Kardun, jadi berapa jika 19 dikalikan 19, dikalikan 29, dikalikan 39, dikalikan 49, dikalikan 59, dikalikan 69, dikalikan 89 dan dikalikan 99 lalu ditambah 79 dan dikurangi 9 serta dipotong pajak sebesar 10 prosen?"
MOHENG kontan tercengang. Namun, segera bergegas berpikir. Tapi, akhirnya malah tak terpikir. Ia pun disuruh parkir di lapangan olahraga. Untuk menerima hukuman.
"Loe tadi bikin gue kepedesan, yee. Sekarang, gue bikin lu kepanasan," kata pak GURU, tentu saja di dalam hati. Kalo kalimat itu disampaikan ke kepala sekolah, dia yakin tak akan disetujui jika mengajukan utang ke koperasi sekolah (od)

KENTUT DI ERA PEMBANGUNAN


PERANAN KENTUT DLM PEMBANGUNAN. 
         Dapat dipastikan, bahwa tiap kali dilakukan pembahasan soal pembangunan baik oleh pemimpin negara maupun pemimpin RT, yang namanya kentut pasti tak pernah dibahas apalagi dibicarakan.                      Padahal, peran kentut itu sendiri tak hanya sangat besar. Tapi, juga sangat strategis. Sebab, siapapun yakin, Jika Presiden & para mentri tidak pernah kentut selama seminggu berturut turut turut, pasti berdampak hebat pada laju pembangunan.                                                                            Mengapa? Karena jika hal tersebut terjadi, semua harus segera dilarikan secepatnya ke ruang UGD sebuah rumah sakit dan dapat dipastikan harus dirawat secara intensif.                                                                                          Jika tidak, mahluk yang sudah tidak bisa ngegas, bakal senasib dengan mobil atau motor, tidak bisa jalan. Nah begitu pun dengan manusia yang biasanya braaat breeeet broooot saat melepas kentut, pasti akan semaput bila seminggu berturut turut tak disambangi oleh sang kentut.                   Back ground itulah yg dijadikan alasan untuk menggelar seminar seperempat hari bertajuk PERANAN KENTUT DALAM PEMBANGUNAN. Menurut Prof. DR dr PAIJO DOANG DONG AH, MSc, MSi TBc, masyara kat mokal kentut, bukan karena baunya. Tapi, karena jenis suaranya, yang bisa saja ngebas buanget. Padahal, yang kentut dengan bunyi tak terdeteksi alias cuma peeesssss, baunya lebih dari bangkai busuk. Tapi  yg brat brit brut bret brot, meski suaranya bak ledakan bom, malah tak bau. "Jadi," tutur beliau dgn semangat baja yg diam-diam kentut tapi bunyinya tak terdengar krn peeeeesssss, " marilah kita dekatkan perspektif kentut secara proporsional, krn harus diakui, kentut itu sendiri punya peranan dalam pembangunan," lanjut beliau. Hanya, ketika  seorang peserta diskusi berdiri dan menunjuk tangan, beliau tak langsung merespon. Stelah peeesssnya dikeluarkan, beliau baru bertanya.
"Anda ingin bertanya?" tanya sang profesor
"Tidak pak. Saya males bertanya"
"Lalu kenapa berdiri dan angkat tangan?" Sang prof menahan kesal.
"Saya berdiri dan angkat tangan, krn ingin minta izin buang gas"
Sang profesor tak sempat merespon, krn sang peserta langsung membuang gas yang beraroma rock, Braaat...Briiit Bruuut breeeet Broooot.
Peserta lain yg ternyata ingin kentut tp sejak acara hanya menahan hasrat kentutnya, tidak marah. Spontan mreka berdiri dan tanpa bertanya lagi, melepas gas tektonik alami yg diproduk oleh masing-masing perut. Sang profesor, dgn kesal melampiaskan juga kentutnya. Hanya, tdk braat breeet broot. Tapi, peesss...pesss...pesss.



BANTU SUSUN LAPORAN


AKU INGIN, nanti malam, setelah aku selesai rapat dan sampai di rumah, kamu tidak sedang ngorok," pesan sang suami pada sang isteri. 
Tentu saja, isterinya, sangat senang. Sebab, sudah lebih seminggu, merasa nggak disentuh, gak dicolek dan selama seminggu digratisin oleh suaminya, membuatnya berasumsi secara pribadi dan dia tak sadar jika jelang tutup buku perusahaan, suaminya yang sangat sibuk lebih fokus ke pekerjaan.
Karena pesan itulah, isterinya mandi kembang, dan begitu dapat bel dari suaminya, bahwa ia sudah meluncur pulang menuju rumah, dandan habis-habisan. Sengaja mengenakan gaun yang oleh para ahli ngintip dinyatakan sebagai gaun paling tipis se Indonesia.
" Huuuh...akan kuhabisi dia, agar besok dan besok serta lusa, selalu nyolek dan peduli sama aku," begitu kata hatinya, yang ternyata bertekad untuk membuktikan.                                                                                            Pas mendengar suara mobil suaminya, sang isteri dengan optimis, ceria dan penuh harap segera menuju pintu pagar untuk membukakan pintu. Setelah memarkir kendaraan dan turun dari mobilnya, suaminya malah langsung tercengang. Dia menunjukkan kaget seriusnya. Akibatnya,  tas berisi dokumen terjatuh dan menimpa kakinya. Sambil ngeluh dan memegangi kakinya yang sakit, suaminya berkata:                                            " Mama... apa-apaan, sih kamu?"
" Lhooo, kok papa tanya begitu. Bukankah papa melarang mama tidur?" Sahut sang isteri sambil merapatkan wajahnya ke bahu sang suami
"Iyaa.. tapi, maksudnya, papa mau minta bantuan agar mama menyusun kwitansi untuk laporan keuangan yang malam ini harus selesai," sahut sang suami. (ode)

Wednesday, April 24, 2013

PANTUN : NASIHAT AYAH KEPADA ANAK (DUA)


Selain berdoa ayah wajib mengingatKAN
Agar pas menjabat kamu tidak lupa diRI
Jadilah pemimpin yang mensejahteraKAN
Agar saat kau mengajak rakyat tidak laRI

Laksanakan program sesuai nomor uRUT
Boleh lompat jika urgen dan dinlai paTUT
Ingat nak, jangan sampai rakyat cembeRUT
Sikap kamu sendiri jangan plintat plinTUT
Jangan cuma pintar bicara atau danDAN
Karena harus mikir soal pembanguNAN
Jadilah pemimpin berkarakter taulaDAN
Agar rakyat tak hanya menikmati aNGAN2

Nak… teruslah melangkah ke dePAN
Tapi tengok ke samping dan belaKANG
Nak, kenapa rakyat menaruh haraPAN
Karena berharap kamu tak terjengKANG

Kotoran hanya layak masuk tong samPAH
Kalau masuk ke kulkas, sudah tak waRAS
Nak.. bukanah pemimpin ucapkan sumPAH
Maka katakan, mari berswa-sembada beRAS

Kapan pun, angin selalu berhemBUS
Semilirnyanya tak akan mencelakaKAN
Karena disumpah kamu harus meneBUS
Hasrat rakyat yang ingin disejahteraKAN

Laut kita masih berlimpah ikan teRI
Potensinya bisa dijadikan sandaRAN
Jika beeras berlimpah, bangun industRI
Agar mampu bersaing dan berkejaRAN

Tak hanya dengan tetangga terdeKAT
Tapi dengan negara yang sudah maJU
Tapi utamakan musyawarah & mufaKAT
Demokrasi seperti itu rakyat pasti setuJU

Dengan begitu, kau tahu mengapa jeraPAH
Kakinya tinggi. lehernya justru panJANG
Jadi, jika kamu sudah berani ucap sumPAH
Sejahterakan rakyat meski badai menerJANG

Nak... selagi hujan masih rintik rinTIK
Bergegaslah kamu berangkat ke kanTOR
Pemimpin memang harus ahli berpolitiK
Hanya, jangan gunakan cara yang koTOR

PANTUN : NASIHAT AYAH KEPADA ANAK (SATU)


Nak …. Lihatlah rombongan buRUNG
Selalu bersama saat mereka terBANG
Nak… janganlah engkau terus muRUNG
Meski kondisi negeri datangkan bimBANG

Nak… jika burung bisa terbang tingGI
Cita citamu harus seluas angkasa raYA,
Mari berpikir & kerja keras tuk negeRI
Agar Indonesia jadi negeri yang berjaYA

Kotoran layak masuk ke tong samPAH
Kalau masuk kulkas pertanda tak waRAS
Katakan, setelah nanti kamu disumPAH
Kujadikan Indonesia sebagai gudang beRAS

Hanya, jangan berlebihan mengapresiaSI
Yang baik. tidak ada lebih tidak kuRANG
Hanya, jangan sesekali melakukan korupSI
Karena dalam hidup kita tak boleh cuRANG

Juga nak, jangan merasa karena terlanJUR
Sebab, semua masalah bisa dikendaliKAN
Berbaktilah dengan cara dan sikap juJUR
Sebab, rakyat cuma ingin disejahteraKAN

Gak mungkin rakyat cuma ongkang kaKI
Mereka justeru lebih siap bekerja keRAS
Hanya, bisa saja rakyat akhirnya keKI
Jika prilaku pemimpin makin tidak waRAS

Meski keras kayu jati bisa digergaJI
Jadi, hadapi masalah tak perlu guSAR
Nak... pejabat yang ingat pada janJI
Kalaupun berbuat salah tidak beSAR