Friday, May 3, 2013

CERBUNG: (10)


MASIH ADA JALAN
oleh: Oesman Doblank

SEPULUH


Karena mendadak, supir kendaraan di belakang sedan yang dikemudikan Tarman, tak mampu mengendalikan mobil boksnya. Supirnya dan kenaknya pun, tak sempat beristighfar, ka rena tengah berbincang dengan kneknya. Saking asyik dan membuat supir dan knek ngakak ba reng, tak tahu jika sedan di depan mereka ber henti mendadak.
Tak ingin celaka, boleh saja. Tak ingin terkena musibah atau bencana, sah-sah sa ja. Siapa dan dimana pun, yang namanya manu sia, punya keinginan yang sama. Ingin selamat. Tak ada yang ingin mendapat kecelakaan. Berba gai bentuk musibah, mulai Tsunami sampai ban jir yang hanya semata kaki pun, inginnya dihin darkan. Tapi, sanggupkah manusia ‘berontak’ da ri kehendak Tuhan?
Semisal di belakang sedan yang dike mudikan Sutarman tak ada kendaraan lainnya, bo leh jadi, pak Sadewa hanya luka di kening , ka rena terbentur sandaran jok depan mobilnya. Ta pi, isterinya ? Belum tentu sekedar luka ringan, setelah ia terpental akibat mobil yang dibawa Su tarman berhenti dengan sangat mendadak
Nyatanya, di belakang sedan mewah mereka, banyak kendaraan lainnya. Salah satu nya, mobil boks besar, mengangkut berbagai jenis sembako. Bukan mobil itu yang membuat sedan di depannya--yang berhenti mendadak, tertabrak. Tapi, karena pengemudinya, tengah asyik berbincang, dan menurut kneknya, yang luka parah, ketika mereka asyik tertawa terba hak-bahak, jarak mobi boks besar dan sedan yang berhenti mendadak, hanya beberapa meter.
Jika supir sedan malah secara tak se ngaja menginjak rem, pengemudi boks yang gu gup dan berusaha menginjak rem, dalam keadaan demikian, malah menginjak gas. Tabrakan tak ter hindarkan. Benturan yang begitu keras dan sam pai menimbulkan suara menggelegar, tak saja me ngagetkan para penumpangnya. Orang-orang di tepi jalan pun, terkesiap.
Mereka, seketika berhamburan. Mo bil dan kendaraan lain yang melintas, dan jarak nya berdekatan, memang ada yang langsung saja menghilang. Tapi, juga banyak yang menghen tikan kendaraannya
Keingin-tahuan tentang nasib pengen dara dan penumpangnye, membuat kerumunan yang malah merepotkan pihak yang ingin mem bantu menyelamatkan, terhalang oleh kerumunan orang yang hanya ingin sekedar melihat nasib orang lain yang mengalami musibah.
Seketika, jalanan jadi macet total. Ke banyakan pengemudi, tertarik menghentikan ken daraan mereka, dengan seenaknya.
“ Kayaknya, semua penumpang sedan tak tertolong. Mati semua,” kata seseorang de ngan raut wajah yang biasa-biasa saja.
“ Pengemudi dan knek mobil boksnya mati juga?” tanya seorang pengemudi, dari da lam mobilnya. Ia kesal, karena yang ditanya ma lah mempercepat langkahnya.
Ia baru tahu, setelah beberapa orang mengejar sambil berteriak kencang.
“ Copet. Copeeet. Tangkap, orang itu, copet!”
“Pantas gue tanya dia malah jalan makin cepat. Nggak taunya, tuh orang, copet “ Gerutu si pengemudi yang lantas menggerakkan mobilnya. Ia tak sempat memperhatikan orang-orang yang mengejar copet, karena pengendara di belakangnya, terus membunyikan klakson.
Setelah melihat tiga ambulans yang dalam waktu singkat sudah tiba di lokasi keja dian, orang-orang yang berkerumun tak bisa le bih lama bertahan. Ketangkasan petugas bekerja, membuat evakuasi berlangsung dengan begitu singkat. Ketiga mobil ambulan bergerak lagi. .
Bunyi sirene yang memekakkan teli nga, entah sekedar menyuarakan permintaan agar diberi keleluasaan untuk melaju dengan kencang, atau sekaligus menyuarakan duka cita.
Yang jelas, orang-orang yang berkeru mun tak ada yang berkomentar, segalanya berja lan dengan cepat. Seperti halnya ketiga mobil am bulan, yang bergerak beriringan. Entah menuju rumah sakit terjauh atau paling dekat. Yang jelas, mereka hanya bisa memandang dan setelah am bulan lenyap dari pandangan mata, satu persatu meninggalkan lokasi kejadian.
Dua petugas polantas nampak sibuk melaksanakan tugas. Mengatur kembali agar ke macetan segera teratasi. Seorang lagi, sibuk ber komunikasi, sampai akhirnya, ia memberi aba-aba pada pengemudi mobil derek agar leluasa me laksanakan tugasnya. Membawa mobil sedan me wah yang rusak berat ke kantor polisi. Dan mobil boks besar, yang juga diderek ke tempat yang sama.
Bondan terbangun. Kondisi tubuhnya be lum pulih. Jauh dari segar. Memang sangat ken tara, jika Bondan masih lemas. Tapi suhu tubuh nya sudah berubah. Tidak lagi panas, seperti sebelum dikompres. Bondan baru ingin memang gil mbok Sinem. Tapi, saat ia menoleh ke pintu kamar, matanya menangkap sosok mbok Sinem, yang pantatnya terduduk di lantai, kepalanya tersandar ke tempat tidur Bondan.
Bondan membatalkan niat, memanggil mbok Sinem. Meski tubuhnya masih terasa le mas, Bondan meraih bantal. Dan perlahan ia me nggerakkan tubuhnya ke tepian ranjang. Dengan sangat hati-hati, Bondan meraih bahu mbok Si nem. Meski perlahan, ia bisa menarik tubuh si mbok, yang sedemikian lelap. Bondan melihat ruang yang cukup, untuk menempatkan batal empuk ke sisi bagian bawah ranjangnya.
Bondan sempat terengah-engah. Tapi, kepala si mbok sudah bersandar ke bantal empuk. Membuatnya lega. Terlebih, mbok Si nem terlihat sangat letih. Begitu lelapnya, hingga tak terbangun saat Bondan mengangkatnya. Bon dan menatap sejenak wajah mbok Sinem yang te rus lelap karena lelah menjaga dan mengurusnya.
Bondan melihat jam tangannya. Ia tersentak. Soalnya sudah setengah enam. Sudah menjelang maghrib. Bondan menguatkan diri, melangkah ke kamar mandi. Meski perlahan, ia bisa sampai ke pintu kamar mandi. Tapi, niatnya masuk terhambat. Ia mendengar jelas suara, si mbok.
“ Deeeen… Maaf…mbok tertidur. Biar si mbok membantu memapah”
Bondan menoleh. Melihat si mbok bergegas berdiri. Meletakkan bantal ke ranjang nya. Menghampiri Bondan dengan tergesa. Tapi, Bondan menolak keinginan mbok Sinem, yang ingin memapahnya ke dalam kamar yang hanya tiga meter dari ranjangnya

Bersambung

CERBUNG (9)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

SEMBILAN


Susilawati yang matanya terpejam, melenguh. Mengeluh. Keluhan senang. Perlahan, Johan bergerak. Ke Sofa panjang, yang mudah dicapai karena memang sangat dekat. Ia membaringkan tante Susi yang sama sekali tak meronta kecuali melenguh, ke sofa panjang yang empuk. Jari-jemari tangan kanannya terus menjelajah, ke pung gung dan membuka tali beha. Jari lainya, terus mengelus bagian tubuh yang menggoyahkan. Perlahan, jari jemari itu menarik celana dalam warna pink
“ Jangan di sini, Johan “
“Kenapa?Bukankah di sini, juga sama “
“ Nanti, ketahuan Si Ati dan mang Dudung “
Susilawati kuatir, tapi tangannya mulai meraba dan terus merayap ke sela-sela celana pendek Johan. Tangannya yang lain, merambat di dada Johan yang berbulu lebat. Johan tak diam Ia terus “menerkam” dengan cumbuan yang membuat Susilawati blingsatan tak keruan
“ Tak perlu kuatir. Yang penting, saya bisa membuat tante tidak kesal lagi “
“ Saya sudah melupakan “
“ Terima kasih,” desis Johan.
Johan menarik perlahan daster tipis yang masih melekat ditubuh Susilawati. Sampai akhirnya lepas. Lalu melempar begitu saja. Tante Susi memelorotkan celana pendek Johan. Susilawati yang sudah terbaring di sofa panjang, menatap Johan sambil mengurai senyumannya yang aduhai.
Johan melakukan hal yang sama. Sambil terus menatap, tangan Johan meraih kedua paha Susi. Menggesernya perlahan. Ke bagian kiri dan kesebelah kanan.
Perlahan, Johan menurunkan tubuh. Susilawati yang kembali memejamkan mata, memasukkan benda yang sejak tadi digenggem dan dielus-elusnya. Perlahan, Johan menurunkan tubuhnya. Desah nafas Susilawati, beru bah. Johan berbisik. Minta Susilawati memenuhi janjinya
“ Yaa, sayang. Pasti tante penuhi. Seka rang, tolong cepat bawa tante ke ujung dunia. Terbangkan agar secepatnya sampai ke surga”
Johan tersenyum. Ia tahu apa yang kemudian harus segera ia lakukan, agar Tante Susi bisa menggelinjang dengan lincah, bersama helaan nafasnya yang tak beraturan. Nafas yang menderu-deru dibelenggu nafsu
*********


BARU kali ini pak Sadewa merasa ber ada dalam posisi bingung. Biasanya, setelah da pat kabar dari mbok Sinem, ia tak pernah bi ngung. Terlebih dibingungkan oleh keadaan. Se bab, ia selalu bisa dan leluasa mengkondisikan keadaan Setiap mengatakan tak bisa datang, ia langsung transfer. Selesai mentransfer uang yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja, ia sudah bisa fokus dengan kesibukannya. Ia tak pernah ber tanya, apakah mbok Sinem benar atau dusta atau hanya mengada-ada
Kali ini, pak Sadewa justeru merasa bi ngung. Terlebih, ia sedang di mobil, membawa, menjaga, dan mengantar Marina, isteri ketiga nya. Bukan kehotel atau tempat wisata. Dan bu kan untuk bersenang-senang Tapi ke rumah sakit bersalin terdekat. Ia bingung karena sejak berang kat dari rumah, Marina terus mengeluh.
Di saat seperti itu, mbok Sinem malah mengabarkan Bondan sedang sakit. Ia sendiri, sedang sibuk mengawasi, menjaga dan mem bujuk sang isteri yang terus menerus mengeluh sakit sambil tak henti-hentinya ngelus-elus perut nya. Kabar dari si mbok dan rintihan isterinya yang merasa kesakitan sejak mereka berangkat dari rumah, membuat pak Sadewa jadi pening. Stress
Sopirnya, yang biasa bisa bawa mobil dengan tenang, melihat pak Sadewa resah di dalam mobil, malah jadi gugup.
“Larinya, cukup seperti ini atau saya harus percepat lagi, boss?”
“ Yaa, harus cepat, bodoh. Tapi, tetap hati-hati. Awas, kamu kalau sampai celaka,” bentak pak Sadewa
Ia pantas jadi emosional, karena sang supir malah minta ijin hanya untuk cepat atau tidak cepat melarikan mobil. Bukankah ia supir dan lebih tahu apa yang harus dilakukan saat sang majikan tengah repot mengurus isterinya yang akan melahirkan?
Pak Sadewa tak berpikir panjang atau malah tak tahu atau tak ingat, supirnya, yang jika dibentak, malah makin grogi. Bukan bisa cepat mengendalikan diri dan mengantisipasi situasi. Sang supir yang biasa taat aturan lalu lintas, tak segera menyalakan lampu sein, meski tak jauh lagi harus berbelok .
“ Nyalakan lampu seinnya, bodoh. Langsung rapat ke kiri karena di belokan yang sudah dekat itu, kita harus belok ke kiri “
“ Si..siap, pak !”
Siapnya bukan dalam arti sebenarnya. Sebab, yang lantas dilakukan, bukan menyalakan lampu sein. Sutarman, malah memencet klakson. Membuat pak Sadewa terperanjat. Emosinya, kian menguat. .
“Bukan klakson, Tarmaaan. Tapi lampu sen !” Pak Sadewa kembali membentak
“ I..i..iya, pak “
Tarman berusaha menyalakan lampu sein. Tapi, karena kaget, meski bisa menyalakan lampu sein, kakinya yang gemetar, spontan bergerak dan menginjak rem, sekuatnya. Sampai habis. Sedan yang semula melaju de ngan kece patan agak tinggi, seketika itu juga, terhenti.

Bersambung …....

CERBUNG (8)



MASIH ADA JALAN
oleh: Oesman Doblank

DELAPAN


Di satu tempat yang tak diketahui baik oleh Bondan maupun Mbok Sinem, Susilawati menutup hapenye. Dia ngedumel karena masih belum bebas dari rasa kesal.
“ Baru demam, bukan ke dokter malah minta ibunya pulang. Kenapa anak itu jadi mendadak cengeng, sih? Apa dia nggak tau , ka lau ibunya lebih menderita? Apa dia nggak mi kir, aku bukan pembantu? “
Entah kenapa Susilawati jadi kelihatan begitu kesal. Entah kenapa Susilawati tak suka mendengar kabar kalau Bondan, anak kandungnya, yang sungguh sungguh sangat merindukan kehadiran ibunya yang dikabarkan sedang demam, malah ditanggapi dengan emosi
“ Tante…mana kopi panas saya?”
Kalau saja Susilawati tak mendengar suara lelaki yang bernada manja dari dalam rumah, ia tak bergegas beranjak dari kursi taman, halaman rumahnya.
“Pagi-pagi, bukannya mempercantik wajah, lalu sediakan saya kopi dan sarapan pagi untuk kita berdua, malah termangu dan cemberut. Ada apa sih, tiba-tiba saja tante jadi seperti pemain lenong yang habis mentas tapi honornya nggak dibayar ?”
Johan, anak muda sekitar 30 tahunan, yang hanya bercelana pendek, langsung menegur Susilawati yang ba ru saja masuk ke ruang tamu.
“ Apa kamu bilang ? “
Johan, yang dadanya bidang, dengan bulu berham buran di sekujur dadanya, tercengang. Ia tak menyangka, Susilawati yang belum lama berselang menggelinjang tak ada habisnya, terus mengetatkan pelukan dan tak habis ha bisnya mengumbar senyumannya yang merangsang, berka li-kali melenguh tiap merasakan nikmat yang ia berikan , dan selalu mengucapkan kalimat yang sama :
“Terima kasih, Johan. Hanya kamu yang cerdas dalam memberi kepuasaan dan membahagiakan tante, “ dengan suara indah dan sikapnya yang begitu mesra sam bil mengelap keringatnya yang membanjiri tubuhnya, me nanggapi candanya dengan emosional.
“Kalau aku tanya, kamu harus cepat jawab. Jang an berlagak tidak merasa bersalah ?”
“Maksud saya, kan, cuma kepingin bercanda, tan te. Tidak ada maksud lain kecuali ingin membuat suasana lebih indah. Agar kita tetap hepi “
Johan, segera menyahut. Tapi, kalimat yang ter ucap, jauh panggang dari api. Sama sekali tidak asli. Jauh dari kejujuran. Terus terang, jika melepas kata-kata yang terbersit dihati, bisa jadi bensin dan membakar emosi Ia kuatir suasana jadi kisruh. Sebab, Johan melihat emosi tan te Susilawati sudah tersulut. Entah karena apa dan oleh siapa.
Johan memilih mengalah, karena kuatir, tante Susilawati membatalkan kesediaannya memberi bayaran lebih. Johan tak ingin permintaannya yang telah disanggupi malah lantas diingkari, karena setelah berhasil memberi kepuasan di ranjang, dinilai gagal memberi kepuasan diluar ranjang
Hal itu, yang memaksa Johan berkata tidak jujur, Mestinya, yang ia bilang seperti ini.
“ Saya, kan, sudah kehabisan energi karena semua stock yang ada, sudah saya salurkan untuk memba kar hasrat tante. Masa’ mau ngopi dan sarapan agar dapat mengembalikan energi yang hilang, harus minta. Mestinya, kan, seperti biasa, sudah tersedia. Urusan tante yang meminta kepada pelayan villa “
“ Ingat, yaa, Johan. Lain kali, silahkan becanda. Tapi, jangan ketika saya sedang kesal. Kalau kamu tidak suka saya ingatkan, sekarang juga, kamu saya persilahkan pergi dari villa saya. Toh, saya tidak pernah sulit mencari pengganti kamu. Kapan saja saya perlu gigolo, hanya ting gal menelpon, dan yang jauh lebih hebat dari kamu bisa saya dapatkan “
“ Sorri, tante. Saya tidak tau kalau tante sedang kesal. Saya sungguh-sungguh minta maaf, tante “
Johan yang jadi kuatir kalau “honornya” tidak dibayar, ingat kedua anaknya yang perlu biaya sekolah. Ingat isterinya yang kerap didatangi tetangga untuk menagih hutang, dan ingat tukang kredit barang yang juga datang untuk tujuan yang sama : menagih cicilan barang yang diambil isterinya, dengan atau tanpa sepengetahuannya
Meski begitu, Johan tak kehilangan pikir. Ia segera bangkit dari kursi.. Mendekat. Menatap tante Susi lawati yang bibir seksinya masih cemberut. Tangan kanan Johan meraih pinggang Susilawati. Tangan kirinya menyi bak daster tipis yang membalut tubuh tante Susi. Menyentuh sela-sela strategis kakinya. Dan usapan tangan Johan terus bergerak liar.
Susilawati terdiam. Matanya terpejam. Johan merapatkan bibirnya ke leher Susilawati yang jenjang.
“ Johan…kamu jangan nakal. Saya nggak kuat,”
Emosi Susilawati, mendadak luluh.


Bersambung …..........

CERBUNG (7)


MASIH ADA JALAN
oleh: Oesman Doblank

TUJUH


        Bondan kembali berbaring. Dengan penuh perhatian dan ketulusan  si mbok Sinem menekan dan menggerak-gerakan botol – berisi air panas, yang dilapisi handuk. ke sekujur tubuh Bondan
“ Kita harus banyak beristighfar, den. Agar hati selalu terjaga, dari segala keburukan. Dari segala hal yang bisa membuat kita lemah “
“Iya, mbok. Terima kasih, si mbok sudah memperhati kan dan mengingatkan saya “
Bondan sudah kembali tenang. Air panas di botol yang sebentar-sebentar bergerak dari dada ke perut dan sebaliknya, benar-benar menghangatkan dan membuat demamnya cepat turun. Ketulusan mbok Sinem merawat Bondan yang tiba-tiba terserang demam, membuat Bondan akhirnya kembali tertidur lelap.
Mbok Sinem kembali ke kamar mandi. Menuang isi botol yang sudah dingin, lalu meletakkanya di sisi wastafel. Setelah menjembreng handuk kecil, ia membuka kran air panas. Si mbok menaruh handuk kecil di wastafel. Mema tikan kran. Dengan hati-hati si mbok memeras handuk kecil yang barus saja dibasahi dengan air panas.
Si mbok kembali ke kamar. Sejenak, ia menatap Bon dan yang sudah lelap. Ia lalu mendekat dan meletakkan handuk hangat ke kening Bondan.
“ Duh Gusti, hanya Engkau yang sanggup melindungi dan meneguhkan jiwanya “ guman si mbok, yang seusai mendoakan bergegas meninggalkan Bondan.
Mbok Sinem terus berharap agar bu Susilawati mende ngar nada panggilan dari selulernya dan menjawab pang gilan si mbok yang mengontaknya.
“ Duh Gusti…tolong buka pintu hati ndoro Susi.
Jangan biarkan ndoro Susi jadi tuli “
Si mbok tidak ingin kecewa, meski telah beberapa ka li memanggil, bu Susilawati tak juga menjawab. Si Mbok meletakkan gagang telpon dan bergegas kembali ke ka mar Bondan. Ia menarik nafas panjang. Merasa lega meli hat Bondan semakin lelap.
Mbok Sinem hanya bisa merasa kasihan pada Bon dan. Ia punya orangtua tapi lebih malang dari anak-anak yatim piatu, yang malah dapat perhatian lebih dari para pengurus panti asuhan. Ia hanya diberi materi berlebihn ta pi tak dilengkapi dengan kasih sayang. Diberi payung ke mewahan tapi hanya membuatnya kehausan belaian kasih dan lapar parhatian
Kalau saja pak Sadewa dan bu Sisilawati membe rinya tablet kasih sayang, cinta dan perhatian yang tulus dan sepenuh hati, Bondan pasti tak harus terus menerus menahan rasa haus dan lapar terhadap cinta kasih.
“ Duh Gusti…hanya karunia dan hidayah Engkau yang menguatkan jiwanya. Hamba hanya bisa membantu dengan kebodohan dan ketidak-tahuan “
Tak cuma batin mbok Sinem yang menangis. Air ma ta mbok Sinem pun meleleh di pipi. Mbok Sinem yang berdiri di ambang pintu kamar Bondan, hanya bisa mena tap dan kalau pun ia melihat duka nestapa di wajah anak majikannya, tak mampu berbuat apa-apa
Dulu, mbok Sinem tak pernah merasa seperti ini. Saat Bondan hanya bermabuk mabukan, jarang di rumah kecuali bersenang-senang dengan cewek abg dan teman-temannya, mbok Sinem tak pernah menangis. Juga tak pernah merasa terganggu. Toh, ia ada hanya untuk kerja. Melayani kebutuhan majikannya
Selama ia suka dan bisa melakoninya, tak berhak menegur terlebih menasihati. Jika tak suka dan tak sang gup menjalani, tak ada larangan untuk pergi secepatnya dari rumah majikannya. Mau kembali ke kampung hala man, silahkan. Pindah ke maji kan lain, monggo wae. Mbok Sinem bebas mengambil keputusan dan melakukan
Tiba-tiba mbok Sinem terkesiap.
Ia mendengar dering pesawat telepon.
Mbok Sinem melangkah tergopoh. Bergegas me ngangkat pesawat telepon.
Susilawati, tak menampakkan kecemasan apapun. Ia malah kelihatan marah saat bicara lewat seluluernya.
“ Ada apa, sih, nelpon saya sampai berkali kali….maaf…maaf… Apa si mok nggak tahu kalau saya jadi sangat terganggu,” kata suara di sebrang sana yang penuh emosi.
“ A... a..anu ndoro. Den Bondan demam dan memanggil manggil ndoro,” Mbok Sinem mencoba menjelaskan. Namun, ia kembali mendengar suara yang mengandung amarah
“ Aaaah, baru demam saja sudah kepingin ngerepotin saya.
Mbok, ingat ya, Bondan tuh sudah besar. Dia kan bisa pergi ke dokter. Kalau perlu dirawat, telpon ambulan dan bawa saja ke rumah sakit ….
Apa ? Aaaah…bilang sama dia, buat apa manggil manggil saya. Bapaknya, kan, ada dan tiap saat bisa dihu bungi…… Dengar baik-baik, ya mbok. Sekarang, cepat si mbok hubungi ayahnya. Bilang sama ndoro Sadewa, anak ndoro sakit karena rindu kasih sayang ayahnya. Selama ia sakit, yang diinginkan hanya satu, ditemani dan dijaga oleh ayahnya…..
Awas, si mbok jangan cuma bilang iya, iya dan iya. Hubungi secepatnya dan tolong katakan, ndoro Susilawati akan menggugat jika dia tak mau menemani dan menjaga anaknya yang sedang sakit……
Apa ? Si mbok jangan macam-macam, yaa?! Ingat... kalau si mbok tidak berani sampaikan permintaan saya, harus siap tanggung risikonya…..
Aaaah..sudah. Pokoknya, jangan berani berani lagi nelepon, saat saya sedang istirahat. Dan bilang sama Bondan, jangan jadi lelaki cengeng. Anak lelaki itu harus kuat. Kalau mau hidup harus siap menerima kenyataan dan tidak perlu menyalahkan siapa-siapa…..
Naah, begitu, dong. Si mbok memang harus nger ti. Orang yang sudah tua itu, harus lebih mengerti. ….
Yaa, sudah. Syukur kalau si mbok maklum “



Bersambung.......


Sunday, April 28, 2013

CERBUNG (6)


MASIH ADA JALAN 
oleh : Oesman Doblank


ENAM


Yang juga dirasakan Bondan di balik sesalnya yang mendalam, setitik ketenangan dan rasa tentram. Selama ini rasa seperti itu malah menjauh.
Hal baru yang belakangan dirasakan, membuatnya terharu. Membuatnya bertekad  menguatkan dirinya untuk menjadi Bondan yang Bondan, yang beda dengan Bondan di masa silam
Langkah yang semula dipacu hawa nafsu, akan kembali dipacu. Namun, arahnya tidak lagi rancu, tapi fokus dan diarahkan ke satu titik – menjinakkan hawa nafsu. Bondan yakin, langkah barunya menciptakan sesuatu yang dirindu, di mana ketenangan senantiasa melambai dan mengurai arti penting ketentraman bagi siapapaun yang menginginkan.
Bondan bersyukur, lantaran selama masa labil, Bondan tak pernah bersentuhan dengan obat-obat terlarang. Ia tidak menyentuh opium, sabu, ganja, ekstasy atau jenis obat terlarang lainnya. Kalau saja Bondan sempat kepincut dan kerap bersentuhan dengan dunia sakaw yang melemahkan tubuh dan memporak-porandakan pikiran, Bondan yakin, kesadarannya justeru menghilang. Betapa sulitnya membebaskan diri dari pengaruh obat terlarang ketika tubuh dan pikiran sudah rapuh oleh narkoba yang daya rusaknya lebih dahsyat dari perusak lainnya
Bondan bersyukur karena dirinya merasa, Tuhan Yang Menghidupkan dan Mematikan manusia, memberinya hidayah dan karunia. Jika kemudian Bondan berjanji, akan menjadikan yang serasa diperolehnya menjadi hikmah, apa yang terkandung di dalam hidayah dan karunia - yang entah benar atau tidak telah diperolehnya-namun diyakininya, Bondan bertekad untuk mengkonkritkan janjinya
Yang pasti, Bondan sudah sangat ingin menjadi Bondan yang bukan dirinya di masa lalu. Bondan yang tak lagi menyeruak malam dengan kesewenang wenangan jiwanya yang tak terkendali ketika hawa nafsunya menzolimi
Bagaimana caranya, memang tidak semudah mengurai kata.
Namun, Bondan yakin, jika dirinya bisa melihat dengan begitu jelas betapa banyak jalan menuju keterpurukan, Tuhan akan memperlihatkan kepadanya jalan menuju keselamatan. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak. Di dalamnya juga banyak petunjuk yang membuat hati siapapun jadi sejuk. Tak membuat siapapun berkehendak merajuk kecuali ingin kembali terpuruk. Tekad Bondan yang tak ingin kembali terpuruk, sudah barang tentu hanya akan mengkonkritkan yang terbaik dan mengeyahkan yang buruk.
Bagaimana kebangkitan kesadaran menjadi cahaya yang senantiasa menghidupkan hidup seorang anak muda yang kepingin berubah, memang sulit diterjemahkan. Sebab, untuk mulai kesana, jika tak ada niat, malah jadi beban berat. Terlebih, cukup lama Bondan tak menjadikan rumahnya sebagai istana. Rumah mewah yang hanya berpenghuni Bondan dan mbok Sinem, tak pernah menjadi rumahku istanaku.
Tapi ketika sudah mulai melaksanakan, dan keinginan kuat membangun langkah baru dijadikan dasar, boleh jadi, kesulitan justeru menepi dengan sendirinya. Jika kemudian terbiasa dan kebiasaan berbuat baik semakin dibudayakan, tentu akan membuat Bondan beda. Bukan lagi Bondan di masa lalu. Tapi Bondan yang sudah menjadi Bondan dengan segala perubahannya
Apa yang harus diperjuangkan Bondanm, memang berat. Untuk itulah, setiap hari Bondan pasti menyisihkan waktu untuk menyendiri dan di kamarnya Bondan tak memikirkan bagaimana asyiknya menyeruak malam. Tapi, Bondan terus merenung dan merenung
“Sanggupkah aku melangkah ke hari esok dan selamat dalam perjalanan?”
Bondon menatap wajahnya. Dia tersenyum. Lalu merapatkan wajahnya ke cermin
.
ooooooooooooo

“Saya bukan tak ingin terus menerus jadi pemabuk mbok. Sebab, ketika mabuk, pasti ada yang saya dapatkan. Hanya, tidak seperti yang saya harapkan. Bukan tak pernah bahagia. Tapi selalu hanya sesaat. Setelah itu, mabuk lagi, begadang lagi, nguber abg lagi. Nggak ada habis-habisnya. Hanya dari itu ke itu. Saya jadi seperti manusia yang tidak punya tujuan hidup, mbok. Makanya, tolong do’akan saya,ya, mbok. “
“ Si mbok pasti mendoakan, den, “ sahut Mbok Sinem yang malah merasa dibelenggu perasaan haru. “ Dan, “ lanjut mbok Sinem yang tanpa sadar, malah sesenggukan
“Tentu saja si mbok bersyukur, den, apalagi den Bondan sudah mulai berjuang, artinya den Bondan sayang pada diri aden sendiri. Sayang pada keluarga dan …...” mbok Sinem tak mampu melanjutkan kalimatnya. Karena saat itu mbok Sinem menangis, sesenggukan
“ Huhuhuhuhu …. “
Bondan tak jadi mereguk kopinya. Bukan merasa terganggu oleh sesenggukan si mbok. Ia hanya merasakan sesuatu yang ujudnya bukan gangguan. Ia tak bisa menyebutkan. Hanya, sama sekali tak mengira, jika mbok Sinem yang lugu, yang hanya bersatatus pembantu, yang kerap ia suruh membohongi kedua orangtuanya, justeru paham apa yang sebenarnya dibutuhkan Bondan.
Bondan bangkit dari kursinya. Menghampiri mbok Si nem. Tanpa ragu, tanpa jengah dan tanpa merasa posisinya berbeda, Bondan memeluk mbok Sinem
“ Mbok nggak boleh nangis. Menangis itu cengeng Saya paling nggak suka, lho, melihat air mata yang tumpah karena kecengengan,” ujar Bondan.
Kalimat yang mengalir dari bibir Bondan sangat beda dengan suara hatinya. Yang terucap di bibir hanya untuk membujuk agar mbok Sinem malah menangis. Apalagi samai sesenggukan. Sedangkan suara yang bergemuruh di batinnya adalah kejujuran. Suara yang sama sekali tak pernah terucap dari bibir Bondan, memang tak terdengar mbok Sinem.
Bondan tak kuat menahan air mata yang mengalir dengan begitu saja. Menetes dan jatuh di kedua pipinya. Bondan juga tak bisa menahan rasa haru yang membelai dirinya. Keharuan yang indah. Baru kali ini ia menikmatinya. Bukan karena ayah-ibunya. Tapi, karena tulusnya perhatian mbok Sinem. Bondan membiarkan dirinya ikut menangis, sesenggukan
“ Si mbok bukan cengeng, den. Tapi, jangan larang si mbok menangis, jika aden sendiri, malah ikut-ikutan si mbok menangis. Dan, kalau perempuan tak boleh cengeng, lelaki lebih tak boleh cengeng, den. Karena memang tak pantas, lelaki menangis “
“Saya tidak sedang menangis, mbok. Saya hanya meniru sesenggukan mbok, Soalnya, selama ini, saya tidak pernah memberi perhatian pada si mbok. Kalaupun suka kasih bonus hanya karena si mbok bersedia cipoain ayah dan ibu saya. Sedangkan si mbok tak sekedar melaksanakan intruksi saya, tapi juga sayang sama saya. Selalu memperhatikan saya “
“Si mbok juga hanya menggoda den Bondan karena semula malah menyangka den Bondan tidak bakal mau berubah“
Lantas sang pembantu menatap dalam dalam putra majikannya. Kemudian si mbok mempererat pelukannya. Tanpa kikuk tanpa jengah. Malah si mbok merasa seperti memeluk anak kandungnya. Padahal, Bondan anak majikannya.
“ Ternyata…” ujar si mbok kemudian “ Oooh Tuhan, den Bondan tak lagi seperti kemarin-kemarin. Mbok bangga, den. Senang karena aden bisa”.
Bondan membiarkan si mbok Sinem memeluk dirinya begitu erat. Membiarkan si mbok tetap sesenggukan. Tapi, Bondan tak ingin larut dalam keharuan. Meski Bondan membiarkan mbok Sinem menangis, dia tak ingin membiarkan dirinya terus dan kian larut dalam tangis
Seketika ia merasakan, pelukan erat dan tulus si mbok Sinem,mengalirkan sesuatu yang dia tak tahu apa, tapi membuatnya merasa tentram. Ada degup dalam diri mbok Sinem, dan degup yang bunyi detaknya terasa cepat, membuat Bondan terkesiap.
“ Aaah, kalau saja ia ibuku dan selalu memeluk seperti ini, betapa indahnya hari-hari yang telah dan akan kulalui. Tuhan dimana dan mengapa ibuku ada tapi tak pernah membuka aliran kasih sayangnya ” Batin Bondan bergemuruh.
Tanda tanya berhamburan. Tapi tak ada jawaban
Tiba-tiba, Bondan jadi mendadak rindu pada ibu. Ibu yang tak pernah berbincang, tak pernah membangunkan, tak pernah marah atau menasihatinya. Tapi, rindu yang bergemuruh di dada pada ibunda, lupa pada apa yang tak pernah diberikan pada dirinya.
Bondan hanya melihat ada senyum ibunya yang indah. Senyum tulus untuk Bondan, yang memang sangat ingin menikmatinya. Bersamaan dengan itu, Bondan juga menikmati indahnya pelukan erat ibu, yang menghangatkan. Kalau saja kerinduan yang tiba-tiba menelisik ke hati Bondan, jadi kenyataan, barangkali ia akan bertambah kuat.
Aah, mengapa yang kini ia rasakan hanya sebatas pelukan hangat si mbok, bukan pelukan ibunya. Mengapa degup yang menenangkan, mengalir dari tubuh si mbok, bukan dari ibunya.
Bondan jadi kepingin merasakan hangatnya pelukan ibu. Ibu Susilawati, yang selama sembilan bulan mengandung.Yang saat melahirkan Bondan berjuang antara hidup dan mati, demi buah hati yang sesungguhnya pasti dicintai..
Dimanakah ibu, dan mengapa ia membiarkan saya sendirian di rumah besar dan mewah, tanpa tatapan mata indahnya yang sebening air pegunungan, tanpa peluk mesranya yang menghangatkan, tanpa wejangan mulianya yang menyejukkan.
“ Ibuuuuuu “
Teriakan Bondan, mengejutkan mbok Sinem yang sedang mengisi botol bekas sirup yang dilapisi handuk dengan air panas dari kran air. Mbok Sinem segera mematikan kran, dan dengan cemas ia ke luar dari kamar mandi. Menghampiri Bondan yang tadi tertidur sudah terduduk di ranjangnya dengan nafas tersengal-sengal.
“ Aden kenapa ?”
“ Saya kepingin ketemu, ibu, mbok ?”
Mendengar jawaban Bondan, si mbok Sinem bingung. Tak tahu bagaimana cara memenuhi keinginan Bondan, yang selama ini memang sudah sangat jarang bertemu ibunya. Namun, si mbok tak ingin putra majikannya makin sedih.
“ Yaa, nanti si Mbok pasti berusaha lagi. Mudah-mudahan, ibu aden mau menerima pnggilan si mbok, seperti biasanya. Sekarang, aden tidur lagi aja. Istirahat dan biar si mbok kompresin aden dengan air panas “


Bersambung......

CERBUNG (5)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA



Saking senangnya, Mbok Sinem jadi terharu. Bagaimana tidak, jika melaksanakan tugas yang begitu ringan saja , dibayar kontan dengan tujuh lembar ratusan ribu. Malah Bondan berjanji akan menggenapkannya jadi sejuta.
Bondan begitu sulit melupakan hari itu. Hari yang menurutnya sangat bersejarah. Hari di mana ia jadi bisa menilai, siapa dan bagaimana rekan-rekannya. Kalau saja ia tidak mengalami, Bondan yakin, suatu saat dirinya bisa celaka. Jika Bondan tak punya tekad yang kuat untuk mengubah kebiasaan buruknya dengan sengaja melupakan kawan-kawan yang selama ini dianggap kawan--tapi sebenarnya bukan kawan, boleh jadi, Bondan masih berada dan tetap bersama Marbun dan teman Bondan lainnya.
Di lintas kehidupan yang sepanjang malam kelayapan, mabuk mabukan, menikmati kehangatan memeluk dan dipeluk para abg dan tak kenal berhenti menyeruak malam, ternyata hanya geliat tak terkendali dari jiwa yang kekeringan perhatian dan kasih sayang.
Toh, ujungnya tetap hampa. Tetap tak mendapatkan apapun, selain lelah dan lelah.
Kalau pun ada nikmat, hampa manfaat. Kalau pun ada kepuasaan, hanya seketika dan yang kemudian kembali dirasakan tak lebih dari hampa. Sama sekali tak bermakna. Buahnya bukan kebahagiaan hakiki. Tapi kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang di dalamnya sama sekali tak melekat hakekat. Ujungnya, sia sia.
Kesia-siaan yang jika berulang dan terus berulang dan tanpa berusaha menghalang, ketika semakin meluas boleh jadi hanya membuat diri terhempas.
Bondan tak cuma ingin menjauhi kebiasaan buruknya. Bondan yakin, dirinya bisa melupakan semua yang pernah disentuh dan dirasakan. Bondan tak ingin sampai ke titik sesal tak berguna. Kalau akhirnya ia merasa menyesal, karena dirinya merasa masih sangat berguna. Bukan berarti Bondan merasa telah benar-benar berhasil menyelesaikan masalahnya.
Ia baru bisa membebaskan diri dari ruang pergaulan yang sama sekali tak tertata. Belum bebas dari berbagai ruang yang siap mencengkram siapa saja termasuk dirinya
Bondan sadar, masalah yang dihadapinya sangat berat. Lebih berat dari para pejuang Pa lestina, yang kalau pun mereka harus berperang, sangat mengerti dan paham untuk apa mengorbankan harta dan nyawa. Lebih berat dari beban yang dipikul oleh Presiden dan para menterinya, yang kalau pun menyatakan siap berjuang untuk mensejahhterakan rakyat, dan bukan untuk mensejahterakan kelompok dan pribadinya.
Berjuang agar mengenal dan memahami diri sendiri, suangguh jauh lebih berat dari perang itu sendiri. Sebab, perang di medan lagi tahu siapa musuh dan apa target yang akan dicapai. Sedangkan Bondan, sama sekali belum paham siapa musuh yang sebenarnya dan bagaimana cara dirinya memenangkan pertarungan
“ Tuhan…jika hamba tak sanggup mengubah prilaku buruk, hamba serahkan dan hamba pasrahkan segalanya hanya kepadaMu. Jika hamba sanggup, berikanlah kemudahan agar hamba selalu bisa melihat jalan kebaikan itu semakin terang benderang. Sehingga, langkah hamba hanya mengarah ke jalanMU. Hamba ingin berubah. Tuhanku…Beri hamba kemamuan yang penuh dan menyeluruh“
Bondan mulai ingat manusia hidup harus gemar berdo’a.
Harus membasuh tubuhnya dengan air wudhu
Seberat apapun harus membangun kebiasaan bersujud dengan ikhlas dan rasa syukur yang mendalam, karena seorang hamba seperti dirinya punya kewajiban yang sama, menyembah dan mengesakan Sang Pincipta Siiang dan Malam.
Memang terasa berat saat mulai berusaha mensucikan tubuh dengan air wudhu dan mensucikan hati dengan ruku' dan sujud, dan bacaan shalat yang telah sekian lama malah ditinggalkan. Dan ketika hasrat berserah diri kepada Sang pencipta mulai kembali dilakukan, Bondan berusaha menghimpun kemampuan agar keinginan yang mulai dirindukan bisa dilaksanakan. Bondan yakin, jika sudah bisa mengawali yang selama ini dirasakan sulit, ia akan terbiasa. Bondan mulai merasakan air matanya berjatuhan. Linangan air mata yang mengucur dengan sendirinya dari kedua pelupuk mata, seperti magnit. Kekuatan dan daya sedotnya yang sedemikian tinggi, seperti mengajak Bondan mengingat semua yang telah dilakukan.
Di saat saat seperti itu, Bondan mulai merasakan, betapa banyak manfaat yang didapat ketika dirinya mengingat masa lalu, masa dimana dirinya hanya larut dalam lakon indah yang menjebaknya. Masa di mana kebodohan demi kebodohan dilaluinya karena hawa nafsu yang sedemikian kuat memperdaya, membuat dirnya tak mampu mengingat apa yang lebih pantas dan lebih layak diingat.
Dalam kondisi seperti itu, Bondan malah menganggap lebih penting mengingat apa yang patut dan layak dia ingat dan dia kehendaki, seperti yang dikehendaki geliat hawa nafsu yang hanya mengajaknya mengejar kepuasan demi kepuasan yang sesungguhnya tak hanya seketika. Tapi juga abstrud. Begitu mudahnya Bondan terbawa dan kalau saja ia tak kuasa mendeteksi dengan apa yang terjadi, ia mungkin akan hanyut dan akhirnya tenggelam. Tak seorang pun yang peduli untuk menyeamatan.
Mengingat semua yang masih terlihat jelas di pelupuk mata, Bondan tak sanggup menepis rasa bersalah yang terbit seketika. Terbaca jelas, karena bak bak berita di koran atau majalah, menguraikan aneka peristiwa. Bondan membacanya dengan begitu seksama
Bondan sesenggukan sendirian, di kamarnya yang mulai terhampar sajadah. Di kamar pribadi Bondan yang sekian lama tak menggema doa, mulai terdengar lantun doa saat Bondan bersujud dan setelah Bondan menutup shalatnya dengan salam.



Bersambung.....




CERBUNG (4)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

EMPAT


“ Lho, memang ada apa dengan Bondan ?” Tanya Heri Gondrong
“ Ada apa? Den Bondan tuh sakit, kok, malah nanya ada apa?”
“Yang benar, mbok ?” Gito jadi sulit untuk tidak percaya.
“ Kok, saya mengatakan yang benar, malah tidak dipercaya? Memangnya, mentang-mentang saya cuma pembantu, malah lebih pantas untuk tidak dipercaya? “ Mbok Sinem, bisa memperli hatkan sikapnya yang tersinggung
“ Bukan begitu, mbok. Kita cuma kepingin tahu, mengapa sudah lebih dua bulan Bondan tak pernah mau kumpul lagi sama kita,” Marbun mencoba menenangkan mbok Sinem.
“ Den Bondan bukan tidak mau kumpul, mas. Juga bukan tidak mau gaul. Yang harus di dahului oleh setiap orang sakit, tuh, bukan kumpul atau gaul, mas. Tapi, harus disiplin mengikuti saran dan anjuran dokter. Jadi, selain harus banyak istirahat den Bondan juga harus bersedia dirawat. “
“ Jadi, sekarang Bondan sedang istirahat, ya, mbok?” Tanya Doni.
“ Yaa, iya lah. Masa’ orang sakit malah kelayapan, malah ke pub !”
Doni berusaha membujuk agar diizinkan menemui Bondan. Doni langsung mencolek bahu mbok Sinem dengan gaya yang memang sangat sok akrab. Sok supel. Doni memang tengah berusaha meluluhkan hati mbok Sinem. Doni yakin, ia bisa membujuk. Hanya, Doni tidak tahu, jika mbok Sinem tahu, Doni berusaha membujuk dan melulukannya
“ Si mbok bisa aja, deh. Sekarang, boleh dong, kalau kita masuk. Kan kalau kita bisa segera ketemu dan bisa langsung membezuk Bondan, kita bisa menghibur dan memberi semangat agar Bondan cepat sembuh dari penyakit yang dideritanya ”
“Kalau memang mau masuk, silahkan. Tapi, “ sahut mbok Sinem yang sadar tengah memainkan peran dan untuk itu ia tak melanjuitkan kalimatnya
“ Jangan pakai tapi, dong, mbok ?” Sergah Doni sambil kembali mencolek bahu mbok Si nem, dan melirik ke rekan rekannya. Doni meng isyaratkan ke teman lainnya, kalau ia akan berhasil membujuk mbok Sinem. Tentu saja dengan sangat yakin. Heri Gondrong dan yang lainnya membalas memberi isyarat sambil tersenyum.
“ Harus pakai, mas. Soalnya, yang bisa saya lakukan, cuma sebatas menyuguhkan minuman atau makanan. Saya tak bisa memanggil dan meminta den Bondan ke luar dari kamarnya “
“ Nggak apa-apa, mbok. Toh, kita tak hanya bersedia tapi juga bisa masuk ke kamarnya. Kan, mbok tahu kita juga biasa kumpul dan nginap di kamar Bondan ?” Doni semakin optimis
“ Iya, mbok. Lagi pula, si mbok nggak usah repot-repot menjamu kita. Kita, kan, kalau mau minum atau mau makan, bisa ambil sendiri. Lagipula, kita tidak mau ngerepotin si mbok, kok, “ Gito ikut mencoba meyakinkan
“Yaa, silahkan saja mas semua masuk ke dalam. Cuma, jangan harap bisa ketemu den Bondan. “
“Jangan gitu, dong, mbok. Apa sih, susah nya bilang kalau kita datang dan mau bezuk Bondan di kamarnya? “
“ Kalau sebatas bilang begitu sama den Bondan, tak masalah, mas. Cuma, bagaimana bilang nya jika sejak sebulan lalu, den Bondan dibawa dan dirawat di rumah sakit di Singapura “
“ Kita kok, jadi nggak ngerti, mbok ?”
“ Iya, mbok. Apa, sih, maksud si Mbok ?”
“Mas…dengar, yaa. Sebenarnya, den Bondan tuh sudah sejak lama mengidap penyakit gawat. Tapi, baru ketahuan belakangan. Dua bulan lalu, saat den Bondan cek-ap, malah diminta masuk ruang inap Rumah Sakit Pertamina.
Dua minggu dirawat di sana sama sekali tak ada perubahan. Karena tak juga sembuh, majikan saya, membawa den Bondan berobat ke Singapura. Kalau memang mau besuk, yaa, mas harus berangkat ke Singapura. “
“ Oh alaaaah, si mbok ini piyee, toh. Mestinya, bilang dari pertama kali kita datang, dong. Jadi, kita nggak penasaran. Nggak kecewa, “ Sentak Marbun

Tapi ia tak bisa ngejitak mbok Sinem, meski kepingin banget ngejitak sang pembantu tua yang mendadak jadi sosok paling menyebalkan
“ Mbok..mbok… kalau ada duit, daripada buat besuk Bondan yang dirawat di Singapura, kan lebih baik kita beliin minuman “ Doni mulai kelihatan aslinya, nyeleneh.
“ Iya, mbok. Teler tuh lebih enak, tau “ Kata Gito, yang langsung membalikkan tubuh dan ninggalin si Mbok.
“ Mbok, lain kali, langsung kabarkan. Jangan ajak kita ngider ngalor ngidul nggak karuan. Ngerti?” Heri Gondrong bukan tidak emosi. Ta pi, dia hanya mampu memberi peringatan

Mbok Sinem tak kepingin menepis atau menangkis. Si mbok sengaja tak mau mau menggubris. Bukan tak ingin. Tapi, tak ingin ketahuan telah berbohong. Si mbok Sinem juga tak hendak berbasa basi, dengan berpura pura mencegah teman teman den Bondan pergi agar mereka tidak merasa kecewa. Mbok Sinem yang tahu mereka kecewa, tak menyoal anak anak muda itu pergi tanpa bilang. Padahal, saat datang mereka mengucap salam.
Si mbok Sinem baru beranjak ke dalam rumah setelah mereka masuk ke mobil dan sejenak kemudian sudah hilang dari pandang
Mbok Sinem segera masuk untuk melaporkan keberhasilan misinya.
Bondan tak bisa menahan tawa.
Melihat anak majikannya terbahak bahak, tentu saja si Mbok Sinem jadi senang. Cuma, mbok Sinem tidak kepingin ikut terbahak. Serasa tak pantas jika mbok Sinem memanfaatkan situasi untuk ikut ikutan ngakak. Tapi senyum si mbok Sinem tak juga hilang.
“Den,si mbok mau pamit ke dapur dulu, den “
“Astaghfirullah Hal Adziem. Sorri, yaa, mbok. Saya jadi lupa sama si mbok. Oh iya, terima kasih yaa mbok,” Bondan yang tersadar merasa tidak enak sama si mbok.
Tentu lebih tak enak enak jika malah lupa memberi bonus.
Bondan merogoh dompet. Senyum mbok Sinem kian sumringah saat tujuh lembar ratusan ribu disodorkan ke arahnya.
“ Besok saya tambahin, supaya jadi genap sejuta “
“ Segini aja lebih dari cukup, den “
“ Pokoknya, besok harus saya tambah. Kalau saya lupa, si mbok harus ingetin saya. Oke ?”
“ Trima kasih, den. Terima kasih “


Bersambung.......