Wednesday, May 8, 2013

CERITA BERSAMBUNG (16)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


ENAM BELAS


Suaranya yang lantang, terdengar rekan-rekannya dan membuat mereka bergegas meng hampiri. Tentu saja ingin tahu apa yang sesungguhnya sedang dan akan terjadi
Jika Bondan tidak peka, bukan tak mungkin bisa salah paham. Untung, Bondan menyadari dan ia tahu apa yang harus segera diperbuat. Ia segera mengeluarkan uang dari sakunya. Sebe narnya, tak sengaja, dan ia tak bermaksud memamerkan kertas merah yang nyaris sulit digeng gam oleh tangannya. Tapi, karena ia biasa pegang uang banyak, tak masalah.
Bondan hanya segera mencabut lima lembar ratusan ribu dengan tangan kanannya.
“Sorri….gue bukan penjahat. Sekarang, bawa gue keliling ke pinggiran Jakarta. Nih buat elu, bang. Kalau kurang, nanti lu tinggal minta. Ayo, jalan. Oh iya, gue mau nyari rumah kontra kan di komplek perumahan. Jadi, bawa gue ke komplek perumahan yang udeh lu tau tempat nya. Di sana, kita cari rumah yang dikontrak atau yang dijual. Begitu cocok, lu bawa lagi gue ke sini. Oke?”
Kalau saja si tukang ojek yang helmnya masih bersarang di kepala Bondan, tidak mikir cari uang lebih sulit dari menghitung butiran beras sekarung, dia pasti gak peduli, lantaran terlanjur malu. Terlebih, beberapa temannya, spontan berminat merebut rezeki yang sudah di depan matanya.
“Kalu si Sabar kagak mau, pake ojek saya aja, boss,” samber tukang ojek yang punggung jaketnye ada tulisan ganyang koruptor
“ Kalau segitu ongkosnye, sama saya aja, boss. Sampai besok juga saya siap, nganterin, ” kata yang satunya lagi, yang usai menawarkan diri, langsung berdoa dalam hati. Hanya, Bondan dan para tukang ojek lainnya, sama sekali tak mendengar denger doanya yang terucap dalam hati, dan didawamkan dengan sangat khu suk.
“Tuhan…tolong bikin si sabar linglung dan emosi. Biar penumpangnya naik ojek saya saja. Soalnya, bayarannya setengah juta. Tolong saya Tuhan. Sampai saat ini, saya belum bisa ngelunasin kreditan motor “
Doa si tukang ojek yang pakai kaos Jack mania, bukan tak didengar Tuhan. Hanya, Sabar, si tukang ojek yang terlalu curiga karena memang banyak kejahatan yang mengancam keselamatan para pengojek, sadar. Ia lebih siap mem buang malu dan mengakui kebegoannya.
“Enak aje, lu pade. Gue kan, cuma salah paham,” ia buru-buru menetralisir agar penum pangnya yang masih memakai helmnya, tak beralih ke rekannya yang terang-terangan ngiler mau membawa Bondan ke manapun tujuannya.
Sabar bergegas meminta maaf, Bondan mengikhlaskan uang di tangannya disamber oleh Sabar, yang cepat memasukkanya ke saku celana, dan buru-buru menstarter motor.
“Dasar keple, lu, Bar. Tadi ogah, sekarang nafsu “
“Mangkanye, lain kali ati-ati nilai orang. Penjahat lu kire boss. Eh, boss lu sangka penjahat “
Sabar yang tak menggubris ocehan temannya, tak sempat mendengar ocehan lain yang dilontarkan rekan ojeknya. Namun, niatnya bergegas meninggalkan pangkalan, tertunda karena Bondan memintanya menunggu. Ia baru tahu apa sebabnya, setelah menoleh ke belakang melihat Bondan sibuk mengeluarkan lima lembar ratusan ribu dan segera memanggil salah seorang tukang ojek yang berada paling dekat dengannya.
Begitu mendekat, Bondan mengangsurkan lembar ratusan ribu di tangannya
“ Bu..bu..buat saya nih boss?” Tanya si pengojek dengan sedikit gugup tapi banyak nafsu ingin segera mengabilnya.
“ Enak aja,lu. Bukan cuma buat lu sendiri bang. Tapi, bagi bagi buat semua teman yang ada di sini. Sori... Gue nggak sempat bawa lu semua buat makan makan”


Bersambung......




































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (15)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA BELAS


“Kali ini, gue cuma mau parkir mobil. Tolong lu jaga mobil gue. Oke? Naaah, ini ada buat lu. Cukup, kan buat ngopi, ngerokok dan makan siang “
“Sama buat makan besok, juga cukup, boss,” sahut Tukijan, sambil nyamber kertas ber harga berwarna merah dari tangan Bondan.
“Tengkiyu berat, boss,” Tukijan ngucapin terima kasih dengan sikap begitu hormat, dan lagi berpikir buat terus membujuk, karena tanpa kerja, sudah dapat tambahan buat ngegemukin tubuh isteri dan anak anaknya
“Gue cau dulu,yaa,“kata Bondan yang lantas bergegas meninggalkan Tukijan
“Siap boss,” kata Tukijan, yang yakin suaranya tetap terdengar Bondan, meski sudah keluar dari pos jaga. Sambil terus senyum, sang satpam memandangi sosok Bondan yang akhirnya lenyap dari pandangan matanya.
“Kalau tiap hari begini, walau cuma dari satu orang, aku berani banget deh, insaf dan bilang sama koh Mao Ling Seng, gue udeh kapok nawar-nawarin ayam Bangkok,” gumam Tukijan sambil cepet cepet masukin kertas merah ke saku celananya, dan masukin album ke laci mejanya.
*****
DALAM hatinya, tukang ojek ngucap Alhamdulillah Hirabbil Alamin, setelah Bondan yang ia tawarkan dengan isyarat menghampirinya dan langsung duduk disadel motornya.
“Kemana kita,boss?” Tanya si tukang ojek yang langsung ambil helm yang sejak tadi nangkring di stang kaca spion motor.
“ Jangan panggil gue, boss, dong,” sahut Bondan, yang setelah ambil helm dari si tukang ojek, memprotes si tukang ojek yang dengan sok akrab, memanggil Bondan dengan boss.
“ Harus, boss. Sebab, setiap penumpang yang naik ojek saya, harus saya anggap boss dan untuk itu saya lebih berkenan memanggilnya boss, “ kilah si tukang ojek
“ Tapi gue bukan, boss, bang ?”
“Mau benar boss, kek. Mau bukan, kek, yang penting, di mata saya, penumpang adalah boss. Oh iya, boss belum bilang, nih, mau kemana. Kalau nanti saya ke kiri nggak taunya tujuan boss ke kanan, kan, repot, boss “
“Gue sendiri nggak tau nii, mau ke mana?” Bondan menyahut tanpa berpraduga apa-apa. Ia memang belum tau mau pergi ke daerah mana
Untung, tukang ojek belum merubah standar motornya. Bondan jadi tidak jatuh bersama motor atau harus menahan keseimbangan agar tidak terjungkal bersama motor. Soalnya, tukang ojek yang kayaknya belum dapat penumpang, langsung turun. Ia tak hanya mendadak kesal dengan jawaban Bondan. Tapi, juga, curiga.
Tak salah. Sebab, ia memang harus waspada. Meski di siang hari, bisa saja penumpangnya yang kini duduk di jok motornya, bukan warga negara teladan. Tapi, warga negara berjiwa edan, yang demi uang, siap mencari korban dari kalangan pengojek.
Bukan berprasangka. Tapi, sudah begitu banyak peristiwa menghebohkan,yang terjadi di kalangan pengojek. Dan aksi mereka, tak sebatas melarikan motor pengojek. Jika perlu, demi me lancarkan usahanya, menganiaya atau membunuh tukang ojek.
“ Kenapa si abang kayaknya sewot ?” Tanya Bondan, yang tentu saja kaget karena tukang ojek langsung turun dari motornya
“ Jelas marah dong?! Saya, kan, tanya baik-baik, kita mau kemana? Ngejawabnya malah nggak tau mau ke mana. Niat kamu, mencurigakan, tahu ?” Sahut si tukang ojek, yang lantaran curiga menjawab dengan sewot. 


Bersambung......

CERITA BERSAMBUNG (14)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

EMPAT BELAS


Mbok Sinem spontan menyahut, membalas salam dari Bondan dengan cepat. Di hatinya terasa ada yang bergetar. Inilah kali pertama si mbok mendengar sapaan salam dari Bondan saat anak majikannya meninggalkan rumah. Sebelumnya, yang menjadi ciri khas hanya teriak, ”Saya pergi yaa mbook,” sembari melangkah cepat ke mobil dan menghilang entah kemana
“ Duh Gusti…Alhamdulillah. Den Bondan sudah mulai mengucap salam. Semoga Engkau selalu menjaga dan melindunginya , “ Mbok Sinem mendoakan Bondan yang sudah meninggal kan rumah.
Si Mbok tersedak. Perubahan sikap Bondan, membuatnya terharu sekaligus bangga. Terharu, karena perubahan sikap Bondan semakin memperlihatkan kemajuan. Tak hanya memberinya kepercayaan yang begitu besar. Tapi, juga mulai mencurahkan perhatian. Si Mbok tak menyangka, jika Bondan malah menyuruhnya membawa satu-satunya anak lelaki, dari empat anaknya yang selebihnya perempuan.
Mbok Sinem akan berusaha untuk menghubungi Parijan, agar ia mau tinggal bersamanya di rumah sang majikan. Tentang menantunya yang menyebalkan, akan dipikirkan kemudian. Tapi, semoga saja, dorongan den Bondan, bisa membuatnya lebih dekat dengan menantunya dan ia bisa membimbingnya. Syukur jika mau berubah dan hak dia jika ingin tetap di jalannya..

BONDAN menghentikan mobilnya di parkiran sebuah hotel mewah.
Ransel dan sepatunya yang biasa dibawa dimasukkan ke bagasi
Bondan yang tampil bersendal jepit, bercelana jeans dan t’shirt, membuat seorang satpam di pintu masuk hotel tercengang. Ia megucek-ngucek matanya. Sepertinya,tak percaya,yang terlihat jelas di depan matanya, Bondan
“Lu nggak mikir lagi ngeliat setan, kan?“ Bondan bergegas menyapa Tukijan, sang satpam
“Saya cuma kaget boss. Soalnya….” Sahut Tukijan, yang kelihatan jadi nggak enak. Tapi, Bondan tidak tahu, yang nggak enak itu hatinya atawa jeroannya.
“Nggak nyangka kalo gue cuman besendal jepit? “ Tanya Bondan, ingin memastikan
“Saya memang berprasangka, boss. Tapi, bukan sandal jepitnya yang bikin saya kaget. Saya kaget, karena biasanya, boss cuma nelpon dan saya langsung antar ayam bangkok ke kamar boss “ Sahut satpam bernama Tukijan, yang lantas tergopoh ke pos jaga, ambil album di laci meja dan bergegas kembali ke luar, untuk menemui Bondan, yang sudah dikenalnya.
“ Stock terbaru ini, kece banget, boss. Umurnya baru 16 tahun,” kata Tukijan, sambil angkat jempol , dan setelah larak lirik, berusaha memberikan album foto di tangannya
Bondan hanya menanggapi niat Tukijan dengan senyum. Ia lalu memberi isyarat, kalau dirinya sedang tak punya keinginan untuk melihat album berisi cewek abg yang kece-kece, yang tengah berada di tangan Tukijan.
“ Lihat dulu aja, boss. Saya jamin, aslinya lebih bagus dari fotonya,” Tukijan berusaha me yakinkan
Bondan maklum jika Tukijan berusaha membujuknya. Ia lalu meraih bahu Tukijan, dan mengajaknya ke pos, tempat Tukijan ambil album. Tukijan jadi optimis. Ia hanya mikir, bakal seperti biasa. Meski caranya mengagetkan. Biasanya nelpon, saat ini datang langsung ke sumber nya, Tukijan yakin bakal dapat uang dari bisnis lender yang diam-diam dirintisnya..
Di pos jaga, Tukijan ternganga. Bondan bukan ambil album di tangannya, malah bilang sambil nyodorin selembar ratusan ribu rupiah.


Bersambung......

CERITA BERSAMBUNG (13)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


TIGA BELAS

(5)

MENINGGALKAN prilaku buruk, tidak semudah meninggalkan jejak langkah. Bahkan, lebih sulit dari mengecat es dan menghitung buih-buih di luasnya lautan dan samudra. Tapi, siapa pun yang bisa, sanggup dan berhasil mengubah prilaku buruknya, dia adalah seseorang yang hebat.
Perkasa dalam arti sesungguhnya. Karena berarti dia telah berhasil mengubah kebodohan nurani menjadi kecerdasan yang membuat pribadinya mulia.
Hanya, apakah setelah berhasil mengubah prilaku buruk, ia sanggup mengembangkan kecer dasan hatinya menjadi kemuliaan yang tangannya menyelamatkan dan bibirnya menentramkan siapa saja dan juga dirinya? Bagaimana jika malah kembali lagi ke prilaku semula?
Jelas patut dipertanyakan. Terlebih, Bondan baru melangkah ke babak baru sebuah kehidu pan. Babak yang sungguh sangat asing. Selama ini ia hanya bergelut dalam kemelut. Dalam cen tang perenangnya jiwa yang rapuh. Jiwa yang ha nya dikendalikan oleh hawa nafsu. Lepas dari se gala sebab yang bisa membuat Bondan begitu
Memang, sekecil apapun, kemungkinan un tuk menjadi Bondan seutuhnya, tetap terbuka. Dan kemungkinan itu --sekecil apa pun, adalah peluang. Terlebih, bersamaan dengan itu, muncul kesadaran untuk mewujudkan. Hanya, bagai ma na pun, tetap tergantung siapa yang melakukan dan apa motif utamanya mengubah prilaku.
Apakah digunakan sepenuhnya untuk tujuan mengubah prilaku, atau hanya sebatas mengisi ti tik jenuh. Bila sepenuhnya untuk mengubah prilaku, berarti kemungkian yang secuil dan kesada ran yang tumbuh, adalah hidayah dan juga karunia. Jika sebaliknya, bukan hidayah. Tapi, se mata mata hanya sebagai titik jenuh dan kelelahan dalam pencapaian yang tak pernah jelas, mana ujung mana pangkalnya.
Bondan sadar, ia bukan tak cuma bisa kembali ke asal muasal. Kemungkinan kembali, juste ru lebih besar. Sebab, ia baru mulai mengubah dan belum benar-benar berubah. Sedangkan selama ini, sudah nyaris tenggelam bersama kebiasaan buruknya.
Kalau keraguan masih tersisa, kalau tekad tidak sebulat keinginan yang mutlak ingin dicapai, kalau iming-iming kemewahan masih menyisakan pesona, Bondan tak punya tekad untuk hijrah. Hanya, Bondan tak punya keberanian untuk menyebut yang dilakukan sebagai prilaku orang yang ingin hijrah.
Bondan hanya ingin mengubah jalan hidup dan menyelaraskan jati dirinya dengan jalan hidup yang berbeda dengan masa silamnya
Pada Mbok Sinem, pun, ia tak pamit dengan alasan ingin hijrah Ia hanya bilang akan me nikmati suasana baru dengan mondok di sebuah pesantren di luar kota. Tempat tepatnya di mana, ia belum bisa memastikan. Ia baru akan mencari pesantren, yang menurutnya cocok untuk menjelajah dan menikmati hidup barunya. Tentu sambil belajar dan mendalami agama
“Lalu, bagaimana dengan si mbok, den ?”
“Ya, tidak harus bagaimana-bagaimana, mbok. Si mbok tetap tinggal di sini. Toh, sebulan sekali saya pulang “
“Sendirian ? “
“ Si mbok kan, pernah bilang, anak si mbok bekerja di Jakarta dan belum punya rumah. Ajak saja dia tinggal di sini. “
“ Tapi, den ?”
“ Si mbok nggak usah kuatir. Mantu si mbok, kan tidak kerja. Saya akan minta agar dia membantu si mbok mengurus rumah. Bilang sama dia, tinggal dan makan di si sini, saya gratis kan. Tapi, jika ia juga bekerja di sini, saya tak mau gratisan. Tiap bulan, pasti saya beri gaji “
“Sebaiknya, apa tidak si mbok saja yang minta pensiun, den. Si mbok siap kok, kembali ke kampung. Toh, asal usul si mbok memang hanya orang desa “
“ Mbok, saya masih butuh si mbok untuk jaga dan merawat rumah. Lagipula, saya tak me nganggap si mbok orang lain. Mbok sudah saya anggap orangtua saya “`
“Tapi,mantu si mbok itu,orangnya sangat malas, den. Suaminya hanya buruh pabrik, tapi pola hidupnya, seperti orang kaya. Si mbok kuatir, den Bondan malah….” Mbok Sinem tak bisa menuntaskan kalimatnya.Bondan memberi isya rat agar si mbok Sinem tak terus bicara.
“ Mbok…Apa salahnya jika dicoba. Kita beri dia kesempatan. Barangkali saja, begitu ia tinggal bersama si mbok, prilakunya berubah. Oke ?’
“ Tapi saya tidak ingin disalahkan, den “
“ Saya janji tak akan menyalahkan. Yang penting, jika si mbok menilai tak ada perubahan, bilang ke saya. Kita minta dia ke luar dan saya siap carikan rumah kontrakan untuk anak si mbok dan keluarganya. Sekarang, saya pamit, mbok. Hati-hati. Assalammualaikum “

Bersambung......

CERITA BERSAMBUNG (12)


ADA PINTU DI JENDELA
oleh : Oesman Doblank

DUA BELAS


RUMAHNYA hanya sebatas tempat berteduh, agar terhindar terpaan hembusan angin yang bergemuruh, dari terik mentari yang panasnya menyengat, membakar kulit, dan dari derasnya guyuran hujan atau rintik gerimis, yang kesemuanya hanya membuat hatinya miris.
Kalau azan Maghrib tidak menggema, ia ingin menghentikan Tomo, yang tengah melang kah ke arahnya. Menemaninya ngobrol atau menemaninya berkeliling, karena telah sekian lama Bondan pernah lagi mengetahui perkembangan di komplek perumahan di mana ia tinggal
Bondan hanya menghentikan Tomo. Setelah merogoh dompet, mengambil selembar lima puluh ribuan, Bondan menyodorkannya ke Tomo
“Tips antar tabung gas,” kata Bondan pada Tomo yang tercengang dan dia tak segera mengambil lima puluh ribuan yang disodorkan Bondan
“ Buat makan malam dan beli rokok,” Bondan menambahkan, dan dengan gerakan yang cepat, memasukkan uang di tangannya ke saku baju Tomo, setelahnya Bondan bergegas mening galkan Tomo, yang sehari-hari bekerja di toko engkoh Tie Liang Tai.
“ Terima kasih, boss. Semoga rezeki boss makin berlimpah ruah,” kata Tomo.
Toma lantas berpaling ke arah Bondan yang terus berjalan setelah meninggalkan Tomo yang nampak begitu terharu karena tak menduga jika di jelang Maghrib ia memperoleh rezeki yang jumlahnya, menurut Tomo, lebih dari lumayan.
Bondan merogoh, mengambil lembaran lima puluh ribuan. Memandang. Entah takjub entah heran. Nyatanya, Tomo sepertinya tak percaya pada kenyataan. Padahal, lembaran lima puluh ribuan, yang sudah ada di tangannya bukan uang palsu atau uang untuk main monopoli. Tapi, uang asli. Jika dibelikan krupuk, cukup buat lauk selama sebulan
Tapi, akhirnya Tomo sadar. Senyumnya mengembang. Ia sempat mencium kertas berharga di tangannya. Dan, jika ia sampai ke toko tempatnya bekerja, ia pasti akan kembali ternganga. Terlebih, jika bossnya benar-benar jujur dan langsung menyerahkan uang tips yang dititipkan Bondan untuk Tomo.
“ Edan… sudah nitip uang tip sama boss, kok barusan, di jalan, memberi uang tip lagi? Malah, lebih besar. Oh, tengkiyu Tuhan “
Bisa saja sambil ngelonjak kegirangan, Tomo bilang seperti itu. Toh, Bondan tak tahu dan Tomo yakin, anak muda yang bai hati itu juga tidak kepingin tahu apakah ia girang setengah mati atau sebaliknya. Tapi, yang jelas, Tomo tak bisa menahan tetesan ari mata yang tiba saja mengalir.
Tomo terharu. Tak menyangka kalau dia dipertemukan dengan seorang anak muda yang bak hati.


Bersambung......

CERITA BERSAMBUNG (11)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


SEBELAS


“Mbook…biar saya sendiri saja. Saya sudah kuat, kok. “
“Tapi, den,” mbok kuatir dan merasa tidak enak.”
“Mbok…sebaiknya si mbok istirahat. Jika tidak mau istirahat, tolong bikinkan kopi susu untuk saya. Si mbok harus percaya, saya sudah tidak apa apa. Coba pegang, tubuh saya sudah tak panas lagi, kan?”
Bondan, meraih tangan si mbok, mena rik nya. Menempelkannya ke sekujur leher Bondan. Juga ke keningnya.
“ Si mbok percaya, kan, kalau saya sudah sehat?” Kata Bondan, tentu saja ia meyakinkan, karena tahu, si Mbok terlihat kuatir dan sekaligus merasa bersalah, telah melalaikan tugasnya. Tetap tertidur, saat den Bondan terbangun.
“ Sekalian si mbok bikinkan roti bakar, ya?” Mbok Sinem benar-benar sudah nampak lega. Bukan baru saja selamat dari rasa bersalah.Tapi, sikap den Bondan membuatnya lega.
Si mbok tahu, den Bondan sengaja meraih tangan si mbok. Selain menjelaskan tubuhnya sudah tidak panas lagi, sekaligus menenangkan hati si Mbok. Bondan tahu, si mbok kuatir karena hal apa. Namun, tak ia ungkapkan. Bondan malah menenangkan diri si mbok Sinem dengan cara, yang membuat Mbok Sinem jadi tenang. Jadi lega.
Si mbok Sinem bergegas ke luar dari kamar Bondan, setelah Bondan merapatkan pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Sambil melangkah ke dapur, tak henti-hentinya si mbok bergumam. Ia berdoa untuk Bondan.
“ Duuuh Gusti yang Maha Agung, sehatkan dan kuatkan den Bondan “
Bondan menikmati tubuhnya yang kuyup oleh guyuran air hangat dari shower. Tangannya sibuk berge rak, ke sana kemari. Menggosok punggung, perut, ketiak, dan tubuh lainnya, dengan sabun cair. Ia lalu meraih shampoo. Mencuci rambutnya yang gondrong. Bondan tak hanya merasakan hangatnya air yang mengucur dari shower. Tapi, juga merasakan segar. Dengan mandi air hangat, ia merasa sudah seperti sediakala, sudah pulih. Sudah sehat
“ Den..kopi susu dan roti bakarnya sudah di meja. Si mbok permisi dulu. Mau ke warung, beli gas. “
Kalau saja Bondan tak mendengar suara si mbok, Bondan yang baru saja mematikan kran shower air panas, berniat lebih lama di kamar mandi. Ia tak perlu bergegas mengeringkan tubuh dengan handuk. Toh, belum mendengar gema azan Maghrib.
Bondan bergegas meraih handuk dan melilitkan handuk warna hijau di tubuhnya. Ia segera ke luar kamar mandi. Ke luar kamar tidur. Karena tak melihat sosok si mbok, Bondan berteriak. Memanggil .
“ Mbooook…tunggu “
Bondan tak banyak berharap, Ia mengira mbok Sinem sudah ke luar untuk ke warung, membeli gas. Perlahan ia kembali ke kamar. Mengambil celana dalam. Celana pendek dan t’shirt. Ia bergegas mengenakan celana dalamnya, karena mendengar suara langkah mendekat. Untung, saat pintuk diketuk, Bondan sudah bercelana pendek.
“ Masuk, mbok “
Begitu masuk ke kamar, mbok Sinem yang melihat Bondan sibuk memakai kaos, menunggu sejenak. Ia baru bertanya setelah melihat Bondan sudah rapi memakai kaos, yang bagian depanya tertulis. Gantung Koruptor. Di bawah tulisan, dua orang duduk di dahan. Tangannya memegang dan dalam posisi siap menarik tubuh koruptor, yang lehernya sudah dijerat dengan tambang besar


Bersambung

Monday, May 6, 2013

SKETSA



MAKAN DAN SHOPING DI MALL
oleh : Oesman Doblank


SEJAK mall Lupa Daratan di bukan, Komeng belum pernah ngajak isteri dan kedua anaknya main ke sana. Terlebih makan di salah satu restoran yang ada. Terlebih lagi, ngeborong pakaian dan keperluan lain nya.
Tapi di Minggu pagi yang cerah, begitu bangun tidur, Komeng langsung kumpulkan anak isterinya. Ke pada mereka, diumumkan, agar cepat mandi dan mempercantik diri karena mereka akan diajak ke Mall Lupa Daratan dan Komeng mempersilahkan isteri dan anak-anaknya untuk beli apa saja yang mereka suka.
Pokoknya, kita borong habis. Mau apa saja, please-please azza dah. Okeee ?”
Boing dan Mimin langsung jingkrak-jingkrak. Mereka gembira.
Akhirnya, tiba juga saat bagi mereka pergi shoping ke Mall Lupa Daratan, nyang kata banyak orang, harga di sana memang mahal mahal. Tapi bisa langsung bikin naik gengsi meski rasa makanannya lebih asyik rasa makanan di rumah yang dibikin sendiri.
Ooh, iyee, be. Emangnye babe dapat lotere kok bisa-bisanye ngedadak ngajak kite ke mall lupa daratan,” kata Mimin, anaknya yang selalu saja kepingin tahu.
Tenang saja,” sahut Komeng sambil buka lemari.
Lantas, dengan sangat penasaran, Komeng obrak-abrik isi lemari. Komeng pusing sendiri. Lantaran, duit yang ingin diambilnya, tak juga ditemui.
Rasanye, semalem, babe masukin karung yang isinye duit semua, ke lemari. Kok, sekarang malah nggak ada, yee ?” Komeng ngegerundel.
Abang..abang…makanye kalo ngalap mimpi jangan nyang terlalu indah. Akibatnye, kan, kasian anak-anak, bang.Baru aje girang bukan alang kepalang, harapannye udeh langsung melayang. Untung, si Mimin sama si Boing kagak mentokin palanye ke tiang”
Maafin gue. Gue kagak sadar, duit sekarung nyang semalem gue taro ke lemari, ternyata, cuman sebates mimpi doangan. “
Komeng yang jadi kagak kepingin ketawa sedikit pun, menatap kedua anaknya yang kayaknya kagak tau lagi, bagaimana cara tertawa yang baik dan menyehatkan.