Wednesday, May 8, 2013

CERITA BERSAMBUNG (27)



MASIH ADA JALAN
                                               oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH TUJUH


“Jadi, salah dong, kalau kita bilang mafia kasus, koruptor, maling ayam, mafia pajak, itu setan “
“ Salah sih, tidak, pak. Hanya, jelas sangat keliru. Sebab, yang nyata-nyata melakukan kejahatan pas ti manusia, bukan setan. Tapi, manusia selalu mengata kan, penjahat yang sebenarnya manusia telah melakukan perbuatan setan. Untungnya saja, setan tak pernah mela porkan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh manusia terhadap setan “
“Hahahaha, sekarang bagaimana, apakah setan. Eh, maaf, maksud saya, apakah dik Marwan berkenan mengontrak rumah saya ? Tapi, maaf, lho, baru san saya bilang setan. Habis, sih, dik Marwan bisa saja. Mau transaksi kontrak rumah, setan dibawa-bawa “
Bondan yang sudah melihat situasi rumah kontrakan milik pak Waluya yang menurutnya sangat sederhana, dan cocok dijadikan tempat tinggal karena lokasinya di dalam dan jauh dari jalan raya, tak lagi berpikir panjang lebar. Ia langsung menyatakan berminat dan langsung membayar uang kontrakan untuk dua tahun
“ Langsung dibayar saat ini ?” Tentu saja Pak Waluyo jadi kaget.
“ Sekarang, besok atau lusa, kan sama saja, pak. Saya tetap harus bayar. Jadi, kenapa harus ditunda-tunda ?”
“Terima kasih, dik Bondan. Terima kasih,” pak Waluyo menghitung uang yang diserahkan Bondan untuk membayar harga kontrak rumah.
“Boleh, kan, pak kalau saya langsung minta kunci. Kebetulan, saya kepingin banget istirahat “
“Oh, boleh. Tentu saja boleh. Silahkan, ini kuncinya,” pak Waluya segera menyerahkan kunci rumahnya kepada Bondan, dan segera pamit pulang.
Bondan memanggil tukang ojek agar membawa motornya ke dalam. Sadar ter senyum. Ia yakin, pak Waluya pergi dan membi arkan Bondan di rumahnya, berarti sudah deal. Sadar yakin, sebelum Maghrib, ia sudah bisa sampai di rumah sakit. Menjenguk isterinya, menyerahkan makanan enak dan amplop sete ngah juta rupiah.
“Kita istirahat sejenak, yaa, bang. Setelah itu, kita cari mesjid dan langsung pulang. Oh iya, jam berapa abang mau besuk isteri di rumah sakit “
“Sore, kok, boss. Tenang aja, boss. Masih banyak waktu. Saya juga kepingin santai sebentar,“ sahut Sadar, sambil standarkan motornya yang sudah dibawa masuk ke teras rumah tipe 36.
“Abang tau, nggak tadinya gue mau ambil rumah kontrakan yang mana ?”
“Waah, tepatnya saya nggak tau boss.Cuma, karena rumah yang akan dikontrak ada dua, kalau nggak rumah yang ini, pasti yang di sebelah, boss “
“ Gue kepengen banget, bang, ambil yang di sebelah. Cuma, kata pak Waluyo, harga pertahunnya tujuh juta rupiah. Sedangkan yang ini, cuma tiga juta rupiah. Akhirnya, gue pilih yang ini dong “
“Dananya nggak cukup, ya, boss?”
“Ya, nggak cukup buat bayar rumah sakit”





Bersambung.........





















<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>






CERITA BERSAMBUNG (26)


MASIH ADA JALAN
                                              oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH ENAM

Bondan menoleh. Tersenyum, mengangguk dan memperkenalkan diri, dan menyam paikan maksudnya pada pak Waluya.
“ Kayaknya, saya mesti tanya dulu, dik Bondan mau ambil yang mana, nih? Kalau mau yang masih asli, saya bisa langsung antar masuk ke dalam agar dik Bondan bisa lihat-lihat. Kalau mau yang di sebelahnya, kita harus ke rumah bu Mursidin terlebih dahulu “
“Jadi, yang masih asli punya bapak, yang sudah direnovasi dan ditingkat, punya bu Rasidin. Bagaimana kalau saya maunya lihat lebih dahulu rumah bapak. Oh ya, boleh saya tahu, berapa harga per tahunya, pak ?”
“Rumah saya kan masih asli. Masih apa adanya. Listriknya pun hanya 900 watt. Har ga per tahunnya, tentu lebih rendah dari rumah di sebelahnya. Saya tawarkan cuma tiga juta rupiah. Jika dik Bondan naksir rumah bu Rasidin, kata nya, sih, per tahun tujuh juta rupiah “
Pak Waluya membuka gembok rumah nya. Mengajak Bondan masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Sadar tetap di atas motornya. Me mandang bungkusan plastik berisi makanan ma hal, untuk isterinya. Ia yakin, boss mengijinkan ji ka ia ikut melihat-lihat ke dalam. Tapi, Sadar ta kut malah lama. Ia tak ingin, kelamaan di dalam rumah, begitu keluar, motornya sudah raib entah ke mana
“Pastinya, isteriku nggak mungkin ti dak senang Dia pasti tidak nyangka, jika suami nya yang cuma tukang ojek, bisa bawa makanan enak, mahal dan dibungkus dalam kemasan m ewah “
Sadar terus memandang bungkusan yang ia gantung di stang motornya. Ia terus terse nyum. Seperti Bondan, yang juga tersenyum sete lah mendengar seloroh pak Waluya, yang menga takan, para tetangga menyangka rumahnya yang sekitar sebulan kosong ada penghuninya
“Pak Waluya bisa saja. Tapi, untung saya tidak takut setan. Sebab, saya pernah jadi setan. Dan ketika saya merasa sebagai setan, saya bisa melihat dengan nyata, lho pak, betapa setan-setan beneran malah pada santai dan berleha-leha “
“Hahahahaha, sekarang, dik Bondan yang bisa saja. Masa’ bisa, sih, setan beneran malah pada santai dan berleha-leha “
“Benar dan nyata, pak.Mereka itu, malah pada malas kerja. Baru kepingin membujuk manusia agar pada mabuk, eh, manusia yang sudah jadi setan, malah mabuk duluan. Baru mau ngebujuk manusia agar korupsi, eh, manusia yang sudah menempatkan setan dalam dirinya, belum dibujuk sudah lebih dahulu korupsi. Jadi, setan merasa nggak ada kerjaan.
Mereka jadi bisa santai dan berleha-leha. Sebab, saat ini, kebanyakan manusia, malah menempat kan setan ke dalam dirinya. Menjadi setan sebelum setan datang untuk membujuknya. Para setan pasti bersyukur, sebab semakin banyak manusia yang jadi setan, semakin ringan tugasnya “
“ Ada benarnya juga, lho, dik Bondan. Sebab, setan yang benar-benar setan, kan, nggak pada hobi ma buk-mabukan. Eh, manusia yang dilarang melakukan perbuatan setan malah gemar mabuk-mabukan. Setan juga nggak hobi korupsi, sebab, setan nggak perlu uang atau rumah mewah.
Tapi, korupsi itu pekerjaan setan. Lalu, mengapa justeru manusia yang gemar melakukan korupsi, yaa ? Jadi, menurut dik Bondan, yang aneh itu, setan atau manusia, yaa ?”
“Waah, menurut saya, itu harus dianggap aneh tapi nyata, pak. Soalnya, kalau kita bilang yang aneh itu manusia, toh, nyatanya manusia itu konkrit dan sesama manusia bisa melihat wujud nyatanya. Tapi, jika yang aneh kita anggap setan, toh, meski kita tak pernah bisa melihat wujudnya, kita juga tak pernah melihat kenyataan tentang setan yang sedang bermabuk-mabukan.
Di pengadilan, kita juga tak pernah, tuh, melihat jaksa membacakan tuntutan kepada setan. Yang dituntut, pasti manusia. Hakim yang kemudian memvonis, juga tidak menjatuhkan vonis untuk setan. Sebab, wujud nyata terdakwanya, kan jelas: manusia “



Bersambung..........


















<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>




CERITA BERSAMBUNG (25)


MASIH ADA JALAN
                                              oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH LIMA



BONDAN malah tidak ingin memberi uang sepeserpun, pada seorang pengemis perempuan sekitar tiga puluh lima tahunan, meski ia menggendong bayi dan tangan kanannya menuntun seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahunan.
Hanya, Bondan yang sedang memperhatikan dua rumah yang posisinya saling bersebelahan dan di masing masing pagarnya ada tulisan dikontrakkan, sama sekali tak merasa terganggu. Tapi, ia sempat kesal. Pasalnya, meski ia sudah minta maaf dengan begitu sopan dan sudah mengatakan, “lain kali saja ya, bu,” si pengemis, terus aja memohon agar ia dikasihani dan diberi sedekah.
“ Ibu kan, masih gagah. Masih kuat. Mestinya, ibu kerja. Sebab, mengemis itu, menghina diri sendiri, lho, bu ?”
Bondan terpaksa memberi saran. Sabar yang duduk rileks di atas motor yang diparkir di sebuah pohon rindang, tak jauh dari posisi Bondan, hanya bisa memperhatikan dari tempat ia melepas lelah
“ Kerja apa dan di mana, oom. Saya su dah cari kerjaan ke berbagai tempat, tak ada yang mau menerima saya. Meski hanya sebagai pem bantu rumah tangga,” jelas si pengemis
“ Oh, yaa” Bondan kaget.
“ Iyaa, oom. Cari kerja itu benar-benar susah,” tegas pengemis perempuan, sambil mene nangkan bayi di gendongannya, dan bocah lelaki yang dituntunnya
“Kalau begitu, kerja saja di rumah sa ya. Kebetulan, si mbok Sinem, butuh teman. Nah , ibu mau, kan, ikut dan bekerja di rumah saya ?”
“ Ta..tapi, oom?”
“Soal gaji? Ibu jangan kuatir. Ibu mau minta gaji berapa? Satu juta atau satu juta sete ngah?”
“A..a..anu, oom. Lain kali saja”
Pengemis perempuan itu malah jadi berbalik gugup. Ia tak menyangka, jika pria yang dipanggilnya oom, malah mengajak bekerja dengan gaji menggiurkan. Tapi, ia juga kesal, karena yang ia harapkan diberi uang, bukan diminta bekerja, meski gajinya cukup menggiurakan. Bukankah ia lebih biasa menengadahkan tangan, meminta dan dengan begitu tinggal menikmati hasil tanpa harus memeras keringat dan membuang tenaga?
Jika harus bekerja, bukan tak sanggup. Tapi, tak biasa. Dan jika bekerja, berarti ia harus menguras tenaga, merelakan diri diimarahi majikan, dan bukan tidak mungkin, pakai disiksa. Bukankah banyak pembantu yang dianiaya?
Bondan tak sempat menanyakan me ngapa pengemis wanita yang pinter nyetel wajah nelangsa, malah menolak tawarannya, setelah mengaku sudah melamar sebagai pembantu ke berbagai tempat, tapi tak kunjung ada yang mene rima. Sebab, si pengemis bergegas pergi tanpa permisi. Bocah delapan tahun yang dibawanya, nyaris terpelanting saat ia menuntunnya dengan gerak cepat.
“Kenapa tuh pengemis,boss? Ngam bek?” Tanya Sabar, ketika Bondan mengham pirinya.
“Tau? Dia bilang, makanya ngemis lan taran susah cari kerja. Eh, gue ajak kerja di ru mah gue, malah langsung ngeloyor. Kayaknya, sih, ngambek “
“Orang males, tuh, yaa, gitu, boss. Dia jak kerja bukan senang, malah kesel. Sebab, ker ja, kan, mesti pakai tenaga. Mesti siap diomelin. Modalnya, cukup gede. Ka lau ngemis, modal nya kan cuma salammualaikum “
“ Oh, yaa? Terus, gimane, nee? Kalau setengah jam ke depan orangnya nggak datang juga, kita cari ke komplek yang lain, si abang kagak keberatan, kan?”
“ Insya Allah, boss “
“ Insya Allah keberatan apa tidak keberatan “
“ Boss, sampai besok pun saya siap an tar boss ke mana saja. Yang penting, tujuannya cari rumah. Eh, kayaknya, yang punya datang, tuh boss “



Bersambung.............



























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (24)


MASIH ADA JALAN
                                                           oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH EMPAT


Bukan berarti mereka harus terus menerus tidak tahu. Toh, akhirnya mereka memang harus tahu. Setelah tamunya yang duduk di meja nomor 13, mengajukan pesanan, mereka harus segera mengisi dengan berbagai hidangan, lengkap dengan minuman yang di inginkan.
Sedangkan yang tadi dan sekarang me reka lihat, tak perlu serius diperhatikan. Itu bu kan urusan manajemen rumah makan. Toh, tak ada larangan untuk menangis dan cekakakan. Ja di, saat mereka melihat Bondan dan Sabar yang sudah tidak sesenggukan, menikmati hidangan dengan lahap sambil sesekali tertawa lebar, tak ada kewajiban bagi pelayan untuk segera memanggil petugas keamanan.
Nanti, setelah puas dan mereka pergi da ri rumah makan tanpa bersedia membayar, baru manajemen rumah makan sangat berhak untuk bersikap dan mengambil tindakan. Bahkan, setegas-tegasnya. Kalau perlu—jika terbukti tidak bayar, bisa langsung ngeroyok. Setelah babak belur, baru mereka giring ke kantor polisi.
Toh, tinggal buat laporan resmi. Bilang saja mereka preman, yang rakus saat makan tapi setelah kenyang sama sekali tak punya hawa nafsu untuk segera membayar. Malah mereka maksa minta ongkos buat pulang. Kan, beres. Paling, korban seratus ribu buat kasih uang rokok.
Nyatanya? Toh, seperti biasa. Tak ada masalah. Tamunya, bayar. Malah, petugas di bagian kasir, sempat dua kali tercengang. Pertama, saat bilang plus pesanan terakhir yang bungkusannya sudah dijinjing Sabar, totalnya tiga ratus lima puluh ribu rupiah, Bondan malah langsung komentar
“ Saya kira sampai sejuta. Nggak tahunya cuma tigatus lima puluh ribu. Nih mbak, uangnya, “ kata Sabar sambil menyodorkan empat lembar ratusan ribu
Kedua, saat ingin menyerahkan uang kembalian setelah ia menerima empat ratus ribu rupiah dari tamu yang tadi duduk di meja nomor 13, ia mendengar jelas, tamunya malah bilang.
“Ambil saja buat mbak. Dan ini, “ katanya kemudian sambil menyerahkan dua lembar ratusan ribu, “ Bagi buat empat orang teman mbak. Sebab, tadi mereka melayani dengan baik, dan tak mentertawakan kami, ketika kami asyik menangis ”
Untung, tadi mereka bersikap profesional dan proporsional. Jika gegabah dan sampai menimbulkan kesan tidak mengenakkan pada tamunya, kan yang mereka peroleh bukan uang tip yang jumlahnya lumayan besar. Tapi, klaim dari tamu yang duduk di meja nomor 13.
“Alas kakinya memang cuma sandal jepit. Tapi isi kantongnya, tebalnya selangit , “ kata pelayan berjidat agak nongnong
“ Hebat tuh, orang. Oom Ferdy saja, sekalinya ngasih tip lima puluh ribu, eh, nyuruh dibagi rata buat berlima. Padahal, tiap datang, mobil mewahnya selalu beda,” ujar temannya.
“ Yee, uang tip udeh langsung gue se rahin, bukan cepet beresin malah ngerumpi. Lain kali, gue tahan sampai akhir bulan, baru nyaho, lu “
Tentu saja Bondan tak tahu, kalau yang tadi ia la kukan, diperbincangkan dengan serius oleh para pelayan. Entah komentar apa yang akan diungkapkan Bondan, jika ia tahu dan mendengar langsung, pribadinya diperbincangkan. Padahal, apa yang dilakukan Bondan, tanpa pikir pan jang. Tanpa beban, dan tanpa berharap dapat pujian.
Dari siapa pun. Termasuk Tukijan dan teman-temannya, yang kerap kali ia beri uang tip. Memang, back groundnya beda. Tapi, kontradiktif atau pun tidak, Bondan termasuk orang yang suka memberi. Paling tahu persis, yaa, mbok Sinem. Meski embel-embelnya beda, salah satu alasan mbok Sinem betah bekerja di rumah Bondan, karena ia sering dapat uang tips. Jika sengaja dihitung, jumlahnya melebihi gaji tetapnya yang per bulan hanya sejuta rupiah.


Bersambung.......












































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (23)


MASIH ADA JALAN
                                                           oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH TIGA


Kayaknya, jika ia tak mendengar langsung kalimat itu dari anak muda yang ia panggil boss. Tak melihat sikap boss, yang begitu santai dan tulus. Ia tak sanggup menggeser kursi. Tak sanggup duduk di depan boss. Tapi, karena ia langsung melihat dan mendengar, bisa juga ia menarik kursi. Ia berusaha untuk duduk tanpa ragu, malu, apalagi malu maluin. Toh, sudah jelas, boss mengajak dan mengijinkan ia untuk duduk bersamanya
Sabar merasakan, bimbang dan ragunya sudah hilang. Rasa malunya pun lenyap. Sabar sudah bisa tenang. Ia sudah bisa rileks, seperti Boss.
Ah, indahnya. Baru kali ini, Sabar masuk dan menikmati suasana rumah makan me wah. Tak lama lagi, ia yang sudah dipersilahkan pesan makanan paling enak, akan menikmati makanan yang harganya mahal. Malah, isterinya yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit, juga akan kebagian menikmati makanan enak yang harganya lebih dari harga bawang merah yang mendadak naik ke langit tinggi.
“ Yaa, Allah. Terima kasih. Hari ini, ham ba dapat banyak rezeki dan dapat penumpang yang baik hati karena kasih dan sayangMU pada ku, hambaMu, “
Bondan memang tak tahu, suara apa yang bergemerisik di dalam hati Sabar, si tukang ojek. Tapi, ia melihat dan tahu, ada air mata yang mengalir di pelupuk mata si tukang ojek. Dan, tak hanya itu. Dalam hitungan detik, Bondan malah mendengar suara sesenggukan
“ Bang…,” kata Bondan dengan sikap yang tetap saja santai. “ Gue tuh ngajak si abang makan. Bukan nyuruh si abang sesenggukan. Gue ngajak dan nyuruh abang pilih makanan yang abang suka, kenapa malah nangis? Kan, gue udeh bilang, soal siapa yang bayar, bukan urusan bang Sabar. Tapi, urusan gue “
“ Saya ngerti, boss,” kata Sabar, yang ingin hentikan tangis, tapi malah makin seseng gukan
“ Cuma, saya nggak bisa menahan rasa haru. Saya benar-benar nggak nyangka, hari ini Tuhan melimpahkan begitu banyak karunia. Dapat rezeki banyak dan ketemu sama anak muda, yang hatinya baik dan bijak “
“ Bang…bang…,” Bondan terpaksa meminta bang Sabar menuruti kemauannya. Bukan mau tegas, tapi Bondan, tak ingin ikut-ikutan menangis. Terlebih, sedang di restoran, dan tujuan utamanya masuk ke restoran mahal, bukan mau nangis sesenggukan. Tapi, mau makan.
“ Sekarang, tolong si abang jangan sesenggukan gitu. Anak si abang di rumah sakit, boleh nangis lantaran masih bayi. Di sini, abang jangan cengeng. Lagipula, saya mau makan, bang. Kalau si abang nangis, gimana saya bisa makan? Masa’ saya asyik makan si abang malah asyik nangis? Nggak lucu, bang. Sekarang aja, nih, saya sudah tidak tahan lagi, bang, kepingin nangis,” kata Bondan
Suaranya memang tegas dan sangat jelas, tapi hatinya malah jauh lebih lemah dari kata-kata dan sikap tegasnya. Buktinya, Bondan malah ikutan nangis.
“Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu, semua ini gara-gara elu, bang. Gue ngajak makan, mestinya lu senyum dan bukan malah nangis. Tapi, lantaran lu nangis, gue tuh jadi kepingin ikut nangis, bang. Huhuhuhuhu…“
Suara tangisan Bondan lebih keras dari Sabar. Beberapa pelayan spontan menoleh, ke meja 13. Meja tamu mereka, yang belum pesan hidangan tapi sudah pada menangis. Tapi, mereka tak berani mendekat. Hanya saling bisik-bisik. Dan satu sama lain saling tanya sekaligus saling jawab, dengan bahasa tubuh. Artinya, sama-sama tidak tahu, mengapa dan sebab apa tamu mereka, belum makan sudah pada nangis.



Bersambung..........



































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (22)


MASIH ADA JALAN
                                                          oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH DUA


Kayaknya, jika ia tak mendengar langsung kalimat itu dari anak muda yang ia panggil boss. Tak melihat sikap boss, yang begitu santai dan tulus. Ia tak sanggup menggeser kursi. Tak sanggup duduk di depan boss. Tapi, karena ia langsung melihat dan mendengar, bisa juga ia menarik kursi. Ia berusaha untuk duduk tanpa ragu, malu, apalagi malu maluin. Toh, sudah jelas, boss mengajak dan mengijinkan ia untuk duduk bersamanya
Sabar merasakan, bimbang dan ragunya sudah hilang. Rasa malunya pun lenyap. Sabar sudah bisa tenang. Ia sudah bisa rileks, seperti Boss.
Ah, indahnya. Baru kali ini, Sabar masuk dan menikmati suasana rumah makan me wah. Tak lama lagi, ia yang sudah dipersilahkan pesan makanan paling enak, akan menikmati makanan yang harganya mahal. Malah, isterinya yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit, juga akan kebagian menikmati makanan enak yang harganya lebih dari harga bawang merah yang mendadak naik ke langit tinggi.
“ Yaa, Allah. Terima kasih. Hari ini, ham ba dapat banyak rezeki dan dapat penumpang yang baik hati karena kasih dan sayangMU pada ku, hambaMu, “
Bondan memang tak tahu, suara apa yang bergemerisik di dalam hati Sabar, si tukang ojek. Tapi, ia melihat dan tahu, ada air mata yang mengalir di pelupuk mata si tukang ojek. Dan, tak hanya itu. Dalam hitungan detik, Bondan malah mendengar suara sesenggukan
“ Bang…,” kata Bondan dengan sikap yang tetap saja santai. “ Gue tuh ngajak si abang makan. Bukan nyuruh si abang sesenggukan. Gue ngajak dan nyuruh abang pilih makanan yang abang suka, kenapa malah nangis? Kan, gue udeh bilang, soal siapa yang bayar, bukan urusan bang Sabar. Tapi, urusan gue “
“ Saya ngerti, boss,” kata Sabar, yang ingin hentikan tangis, tapi malah makin seseng gukan
“ Cuma, saya nggak bisa menahan rasa haru. Saya benar-benar nggak nyangka, hari ini Tuhan melimpahkan begitu banyak karunia. Dapat rezeki banyak dan ketemu sama anak muda, yang hatinya baik dan bijak “
“ Bang…bang…,” Bondan terpaksa meminta bang Sabar menuruti kemauannya. Bukan mau tegas, tapi Bondan, tak ingin ikut-ikutan menangis. Terlebih, sedang di restoran, dan tujuan utamanya masuk ke restoran mahal, bukan mau nangis sesenggukan. Tapi, mau makan.
“ Sekarang, tolong si abang jangan sesenggukan gitu. Anak si abang di rumah sakit, boleh nangis lantaran masih bayi. Di sini, abang jangan cengeng. Lagipula, saya mau makan, bang. Kalau si abang nangis, gimana saya bisa makan? Masa’ saya asyik makan si abang malah asyik nangis? Nggak lucu, bang. Sekarang aja, nih, saya sudah tidak tahan lagi, bang, kepingin nangis,” kata Bondan
Suaranya memang tegas dan sangat jelas, tapi hatinya malah jauh lebih lemah dari kata-kata dan sikap tegasnya. Buktinya, Bondan malah ikutan nangis.
“Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu, semua ini gara-gara elu, bang. Gue ngajak makan, mestinya lu senyum dan bukan malah nangis. Tapi, lantaran lu nangis, gue tuh jadi kepingin ikut nangis, bang. Huhuhuhuhu…“
Suara tangisan Bondan lebih keras dari Sabar. Beberapa pelayan spontan menoleh, ke meja 13. Meja tamu mereka, yang belum pesan hidangan tapi sudah pada menangis. Tapi, mereka tak berani mendekat. Hanya saling bisik-bisik. Dan satu sama lain saling tanya sekaligus saling jawab, dengan bahasa tubuh. Artinya, sama-sama tidak tahu, mengapa dan sebab apa tamu mereka, belum makan sudah pada nangis.


Bersambung......







































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (21)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH SATU


“Bang…bang ojek, tungguuuu”
Sabar menoleh. Ia melihat pelayan ru mah makan melangkah bergegas untuk mengham pirinya.
“ Ada apa, mas ?”
“Ada apa, ada apa? Gara-gara abang tidak ikut masuk ke dalam, jadi saya yang capek. Sekarang, lebih baik cepat deh, si abang masuk “ Kata sang pelayan restoran, yang tentu saja tak bisa menyembunyikan rasa kesal karena gara-gara Sabar tak langsung masuk ke rumah makan, ia harus kehilangan waktu dan tenaga untuk memberikan pelayanan terbaik kepelanggan atau calon pelanggan
“ Bilang saja saya mau ke warteg,” sahut Sabar yang semula kaget, karena tak me nyangka jika Bondan mengajaknya makan.
Tapi kemudian ia bergegas bersiasat dengan berlagak tidak menggubris ajakan Bondan. Terlebih Sabar melihat, sang pelayan rumah makan yang baru saja memintanya masuk ke rumah makan, tidak tulus dalam melaksanakan tugasnya.
“Si abang jangan norak, dong. Teman si abang tuh mau ngajak makan enak. Ngapain juga si abang malah mau ke warteg ?”
“ Teman?” Gumam Sabar
Ia lalu menatap sang pelayan
“Abang nggak percaya kalau saya dimin ta tolong untuk segera memanggil abang? Maka nya, cepat masuk dan tanya langsung ke teman abang, saya serius apa berbohong?”
Sabar tetap bimbang. Masih antara percaya dan tanda tanya. Pelayan yang ia lihat kesal, bergegas meninggalkannya. Sabar masih menatap sang pelayan yang meninggalkan dirinya de ngan perasaan tidak percaya. Tapi, akhirnya Sabar mengikuti langkah si pelayan restoran.
Ia pun masuk ke rumah makan. Di pintu masuk, Sabar celingukan. Baru bergegas meng hampiri setelah melihat boss, yang duduk di me ja nomor 13 melambaikan tangan ke arahnya.
Meski sudah di depan Bondan, Sabar tak langsung narik kursi. Sabar sebatas sanggup berdiri. Bagaimana pun, sulit menghalau kerag an. Bukankah ia tak diajak juga tak ditawarkan? Sabar masih belum sanggup menarik kursi dan duduk bersama Bondan di rumah makan mahal.
“ Hahahaha, sorri. Saya pikir, bang Sabar ngerti. Nggak taunya, nggak ngerti. Lain kali, walau saya nggak nawarin, ikut masuk aja bang. Oke ?”
Sabar, malah jadi gemetar. Tak bisa menyahut meski hanya dengan kata oke. Ia cuma mampu mengangguk. Itu pun anggukan yang lemah. Anggukan antara kepingin segera duduk , tapi terantuk oleh rasa ragu. Malu
“Nggak usah mikir panjang, bang. Lebih baik tarik tuh kursi, silahkan abang duduk se santa-santainya. Terus, abang ambil ini,“ kata Bondan, sambil ngegeser buku menu ke dekat Sabar.
“Pilih sendiri makanan dan minuman yang abang suka,” kata Bondan kemudian.
“ Jika abang suka dan mau nambah, sampai tiga kali pun, silahkan. Pokoknya, no problem. Yang penting, si abang kenyang. Oh iya, tadi di jalan, kan abang bilang, isteri abang di rumah sakit. Kalau perlu, pesan makanan yang paling enak dan paling mahal. Soal bayar, jangan abang pikirin. Pokoknya, saya traktir.
Tapi, kalau soal selera dan hasrat abang mau makan sampai kenyang, saya serahkan uru san itu ke abang. Sebab, perut abang dan selera abang, pasti sangat berbeda dengan perut dan selera saya. Oke ?”
“ Te..terima kasih, boss,” kata Sabar


Bersambung.....





































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>