Monday, June 17, 2013

CERITA BERSAMBUNG (47)

MASIH ADA JALAN
Oleh: Oesman Doblank

EMPAT PULUH TUJUH



           “Kok bisa begitu, boss?” Tanya Sabar, yang dengan seksama mendengarkan opini Bon dan, sambil terus mengerik punggung Bondan, yang sebagian sudah bergaris merah.
           Bondan memang merasa nggak enak ba dan. Ia tahu, jika tubuhnya masuk angin. Untuk itulah, ia mempertimbangkan akan ke dokter, la lu pulang ke rumahnya. Tapi, Sabar yang melihat kondisi Bondan, menahan dan berinisiatif mengerik tubuh Bondan yang menurut Sabar, masuk angin.
          Meski tak biasa, Bondan tak merasa terpak sa untuk dikerik. Ia memenuhi saran Sabar, karena menghargainya dan sekaligus ingin men coba bagaimana rasanya dikerik saat tubuh dise rang penyakit masuk angin
          Bondan yang membiarkan tubuhnya dike rik, kembali meneruskan ocehannya.
           “ Menurut buku yang gue baca, lebih baik punya anak sholeh dan sholehah daripada punya anak pintar. Sebab, anak pintar akhlaknya belum tentu baik. Kepintarannya, kapan saja bisa disa lah-gunakan. Itu sebabnya, banyak koruptor. Ba nyak maling krah putih. Mafia hukum, mafia pa jak. Mereka, kebanyakan orang pintar. Bertitel. Berpangkat. Tapi, akhlaknya di bawah titik nol.
           Nah, anak sholeh dan sholehah, sejak ke cil hidupnya sudah penuh adab. Penuh tata kra ma. Tahu bagaimana cara menghargai dan meng hormati orangtua. Juga tahu cara menghargai te man sebaya yang seiman, dan teman sebaya yang beda agama.
            Disiplinnya juga tinggi. Tahu aturan. Ja di, kapan waktu main dan kapan waktu belajar, sudah bisa ngatur sendiri. Mana baik dan mana tidak baik, juga sudah paham. Karena bisa dan jadi biasa, akhirnya mereka akan paham.
           Jika sudah paham, pasti memiliki kemam puan untuk membedakan mana yang hak dan ma na yang batil, mana yang boleh dan mana yang dilarang.
           Makanya, kalau abang mau punya anak sholeh dan sholehah, didik yang baik. Ajarkan sejak dini agar mereka ngerti, waktu belajar harus belajar dan waktu main baru dipersilahkan main. Kalau tidak begitu, repot, bang.
           Tapi kalau anak abang soleh dan shole hah?  Bakalan hepi sampai akhir menutup mata, bang. Mereka, tidak akan mengambil yang bu kan haknya. Tidak usil, tidak iri, tidak suka mem fitnah, tidak ingin menguasai milik orang lain. Nah, ketika akhirnya tumbuh dewasa dan jadi orang pintar, yang dipikirkan bukan kepentingan pribadi. Tapi, kepentingan sesama.
             Waktu kerja, misinya ibadah, bukan men cari harta. Tapi, ketika rezekinya berlimpah, yang dipentingkan bukan foya-foya dan berme wah-mewah di jalan setan.
             Tapi, foya-foya dan bermewah mewah di jalan Allah. Nggak bakalan kepincut mau ke dis kotik atau nite club. Nggak bakalan keranjingan shoping. Sebab, sejak kecil, paham, semua itu bukan kegiatan amal ibadah. Jadi, hartanya di pa kai buat beramaliah. Membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan.
              Yang diutamakan, tentu saja, saudara kandungnya terlebih dahulu. Baru saudara dekat yang bukan kandung. Kemudian, meluas ke orang lain yang dikenal maupun yang tidak di kenal. Tapi, dilakukan dengan ikhlas. Ikhlas itu, artinya kayak orang buang air. Nah, kotoran,  kan, kalau sudah kita buang, nggak pernah mau kita ambil lagi.

               Jadi, ikhlas itu artinya semua dilakukan hanya karena Allah. Kalau sudah begitu, ya, cuma berharap keridhoan dari Allah. Nggak mau di puji orang lain. Nggak ngungkit dan nggak ngarepin apa pun dari orang lain. Apapun namanya, kalau masih mau dapat  pujian, dapat balasan dari sesama, yaa, belum full ikhlas.


Bersambung........





Sunday, June 16, 2013

CERITA BERSAMBUNG (46)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank


                                          EMPAT PULUH ENAM


              Sabar mengambil keputusan untuk tidak mau meladeni ocehan lelaki brewok itu lagi.
              “Pak..bilang betul, dong, pak. Waah, bapak belum pernah nonton Ipin dan Upin, ya?”
              Sabar segera  menjalankan motornya de ngan hati-hati. Setelah lepas dari ruang setapak di antara motor yang di parkir di kanan kiri, ia bergegas. Tak berminat menoleh dan melihat, apa yang sedang dilakukan oleh lelaki brewok berpakaian necis, yang mengaku baru saja diting galkan isteri selama-lamanya             .
             Bondan celingak celinguk. Tapi, belum juga melihat sosok si tukang ojek. Ia bertanya ke seorang satpam
               “Memang, tempat parkir motor di sebe lah mana,  pak ?”
               “Tuuuh, di sana. Di halaman belakang Duduk dulu aja, dik ?”
               “ Ma kasih, pak “
               Bondan sudah ingin duduk.
               Terdengar bunyi klakson motor 
               Bondan menoleh. Dengan santun, Bon dan pamit ke pak Satpam rumah sakit. Lalu menghampiri Sabar. Mengambil helm.
               “Kalau tau  lama, saya ikut abang ke tempat parkir,” kata Bondan yang bergegas me makai helm dan naik ke motor.
               “Nanti, abang jangan sampai lupa. Ka lau ada rumah makan, kita singgah. Perut saya su dah lapar lagi “
               “Siap boss,” sahut Bondan, yang begitu melihat plang  di tempat bayar parkir terangkat, segera meluncur.
                                  *******              
            MALAM kedua, rencana tetap nginap di rumah bang Sabar, terpaksa harus kembali diper timbangkan. Bukan lantaran rumah petakan yang dikontrak bang Sabar pengap. Juga bukan karena suasananya, bising oleh suara anak-anak yang umumnya lebih betah bermain  di luar rumah tim bang kumpul bersama orangtua mereka di rumah
          Pada hal, jika para orangtua dan anak-anak nya membiasakan diri untuk tetap betah berada di rumah – meski hanya rumah kontrakan, anak-anak tak menjadi liar. Liar dalam arti, saat bela jar mereka belajar dan orangtuanya menuntun anaknya agar lebih semangat dalam  belajar. Ti dak malah lebih semangat bermain, seolah-olah, seluruh waktu mereka hanya untuk bermain
            Jika hal pertama yang dilakukan, betah dan enjoi di rumah, yang kelak akan  terbangun, tak hanya indahnya kebiasaan bercengkrama. Ta pi, juga berbagai hal lain yang membuat hubu ngan orangtua—anak, makin harmonis. Makin dekat dan mesra. Makin saling mengerti dan memahami, di mana posisi anak dan dimana po sisi orang tua, yang memang berkewajiban dan senantiasa harus mengasuh, membimbing dan mendidik anaknya, agar tumbuh dan berkembang bersama kodrat kebaikan, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW
            Jika para orangtua bisa mendidik dengan baik, mampu mengarahkan dengan benar, dan memotivasi dengan tepat, anak-anak mereka ak an tumbuh dan berkembang  menjadi anak anak yang sejak dini, akhirnya akan lebih mengenal dan terbiasa mengutamakan dan melaksanakan  berbagai kebaikan
           Pada akhirnya, yang tertanam di jiwanya adalah akhlak mulia. Budi pekerti yang membuat anak-anak, berjiwa sholeh dan sholehah. Tak malah sebaliknya, liar dan akhirnya tumbuh menjadi anak yang tidak orientatif pada ilmu dunia maupun ilmu akhirat
            Kalau saja kesadaran ke arah itu menjiwa di setiap orangtua, akan bermunculan anak-anak sholeh dan sholehah, yang duapuluh lima tahun mendatang, mampu memakmurkan dan menjadi kan Indonesia sebagai negara adi kuasa. Dan, anak seperti itu, bisa berasal dari mana saja. Tak terkecuali dari rumah petak yang sempit, panas dan pengap


Bersambung.......

Saturday, June 15, 2013

CERITA BERSAMBUNG (45)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank

EMPAT PULUH LIMA



                  Sabar buru buru menyeka air mata dan berusaha hentikan sesenggukannya. Baru kemudian dia menoleh ke arah suara. Melihat lelaki brewok berpakaian necis, Sabar tak peduli
                  “Jangan banyak tanya, lu? Gue mau nangis, kek. Mau ngakak, kek. Kenapa lu pake mau tau urusan orang”
                  Brengseknya, lelaki brewok malah tidak merasa tersinggung. Malah, dengan sangat bersahaja dia menyahut
            “Maafin saya, pak. Soalnya, saya nggak bisa nangis. Padahal, isteri saya, baru saja me ninggal dunia  “
            Sabar yang malah kesal, membentak.
            “ Terserah bapak. Toh, bapak bisa segera cari isteri lagi. Tapi, kalau kehilangan orang ba ik, kehilangan manusia berhati malaekat, kemana saya bisa nyari gantinya?”
            “Oooh, berarti kita sama-sama kehila ngan, ya, pak?”
            “Mau sama, kek, mau beda, kek, itu uru san masing-masing  !”
            Sabar yang merasa terganggu, jadi nggak bisa nahan sabar. Ia jadi lupa kalau dirinya masih tetap sesenggukan. .
            “Iya, pak. Tadi, pak dokter juga bilang, masing-masing ada jalannya. Jadi, saya disaran kan untuk tidak menangis. Sebab,  isteri mening gal karena sudah waktunya. Atas kehendak NYA, lho, pak. Sama sekali bukan atas kehendak saya. Tapi, tadi, sesaat saya sempat sedih. Bener, pak.
             Sekarang saya sudah kembali senang. Ka yaknya, sudah plong. Bebas merdeka, pak.
             Mudah mudahan, saya dapat kemudahan cari isteri pengganti Tapi,sekarang ini, kok susah ya, pak, cari perempuan yang nggak matre.
             Isteri saya itu, matre banget, pak. Nggak taunye, ibunya juga matre. Teman-teman ngerum pinya juga pada matre pak. Padahal, saya kepe ngeeen banget, cari isteri yang sholehah. Nggak matre. Sayang sama dua anak saya. Tapi, pasti su lit, ya, pak. Memang, sekarang ini zamannya zaman matre, ya, pak ?”
             “Maaf, saya sudah harus pulang. Jangan ganggu saya lagi ! “
             Sentak Sabar sambil berusaha mengelu arkan sepeda motornya .
             “Oh, bapak mau pulang? Pulang ke ma na? Saya ikut, dong , pak ?”
             “Kata bapak, isterinya baru saja  mening gal? Dari pada ikut saya pulang, kan, lebih baik bapak urus pemakaman isteri bapak. Bagaimana juga, sih ?” Sabar makin sewot
             “ Oh iya, ya, saya ini, kok bagaimana ju ga yaa? Tadi,maksudnya, kan saya mau ambil ha pe yang tertinggal di bagasi motor. Mau telpon mertua. Ngabarin anaknya sudah meninggal. Ta di, waktu saya mau bawa ke rumah sakit, sudah saya kabarkan akan membawa isteri saya ke ru mah sakit. Sekarang ini, kira-kira, menurut perki raan bapak, mertua saya masih di rumah atau ma sih dalam perjalanan ke rumah sakit, ya, pak ?”
               Sabar sudah bisa menghidupkan motor nya. Sudah bisa jalankan motornya. Namun, harus perlahan. Karena jalan  di sela sela  yang memenuhi tempat parkir, sangat sempit. Setelah  melap air matanya, ia berkata.
               “ Sebaiknya, bapak tanya kembali saja ke dokter. Saya pulang dulu. Assalammualai kum,”
               “Walaikum salam, pak. Hati-hati, pak. Jangan nerobos lampu merah. Tapi, kalau terlan jur nerobos karena bapak tidak disiplin, saat ke tangkap polisi, jangan mau diajak damai, pak Bapak bilang minta langsung ditilang saja, pak

              Kan, lebih baik uangnya disetor lang sung dan masuk ke kas negara. Buat bayar utang negara kita, pak. Kalau tidak lunas lunas, apa ka ta dunia, dan bagaimana nasib anak cucu kita nan ti, pak. Betul, kan, pak ? ” 



Bersambung.........

SILAHKAN SENYUM

TIPS MEMIKAT  SUAMI THE BEST.
oleh : Oesman Doblank

WANITA berhak berkeinginan punya suami yang paling diinginkan. Yaitu, yang baik hatinya, baik kantong dan dompetnya, baik kelakuan dan juga baik kesehatannya
Jika hal itu yang didambakan, maka hal pertama yang hrs dilakukan, perhatikan kepribadian yang paling khas dari pria yang kamu rindukan mulai dari bangun tidur sampai kepingin tidur maning. Lalu, tanya langsung dengan  sikap gentlegirl, apakah ia punya 5 syarat minimal kepribadian yang terdiri sbb :
1. Apakah kang mas punya rekening pribadi yang sehat dan gendut, di beberapa bank ?
2. Berapa hektar sawah dan kebun pribadi yang sudah disiapkan buat masa depan?
3. Apakah beberapa kendaraan yang kerap dipakai sah sebagai milik pribadi dan tidak bakal disita KPK?
4. Sudah berapa buah rumah pribadi yang dimiliki dan bebas dari incaran penegak hokum yang siap menyita?
5. Apakah tanah hasil serobotan sepuluh tahun silam sudah jadi milik pribadi dan uang hasil penjualan tanah serobotan sudah dimasukkan ke laundry?

6. Berapa juta gaji pribadi perbulan dan berapa milyar hasil korupsi berjamaah yang tersisa untuk pribadi?

Friday, June 14, 2013

CERITA HUMOR

DICIPOAIN CEWEK IDAMAN
oleh : Oesman Doblank
      KOMENG udeh janji, kagak bakal maenin Nurlela. Sebab, Nurlela lebih cakep dari Mumun, pacar ketiga, nyang sengaja die putusin, lantaran keteknye yang cuma ngejamin  bau asem, kagak juga mau dioba tin. Padahal, Komeng udeh kasih biaya buat ngobatin ketek Mumun nyang bau asem. Eeh, nyang namanye Mumun, bukan buru-buru ngerenovasi keteknye, malah gunain duit dari Komeng buat ngobatin enyaknye nyang pantatnye bisulan, lantaran ngedudukin bantal warisan kakeknye.
            Lantaran ngorup duit buat biaya ngerenovasi ketek, mau kagak mau, Komeng outin Mumun. Begitu dapet Nurlela, Komeng langsung janji, kagak bakal lagi kepincut sama cewek lain.            “ Ogud cuman kepengen nyandarin cinta di pelabuhan hati dikau, Nurlela “
  1.             Komeng kagak bakal lupa sama kalimat nyang diucapin sepenuh hati, saat Nurlela dan Komeng saling berjanji, buat ngejalin cinta tanpa ada dusta atau cipoa di antara mereka.
  2.             Tentu aje, Nurlela percaya setengah koit.
  3.             Komeng juga begitu.
  4.             Cuma, entah setan dari mane nyang ngebujuk Komeng, supaya die ngelesin cewek becelana jeans nyang kaosnye warna pink. Waktu entu, emang lagi hujan gerimis. Waktu sama-sama neduh dan masih gerimis, Komeng emang cuwek bebek. Tapi, waktu hujan mulai deres, dan tuh cewek nanyain waktu, Komeng nyang seudeh ngeliat jam, lantas ngejawab baru jam empat, tuh cewek keliatan kuatir.
  5.             “ Emang mau ke mane?” Kate Komeng nyang langsung nanya. Lantaran kepingin tau kenapa tuh cewek keliatan kuatir. Tujuannye sih nggak lebih dari basa basi alias timbang kagak nanya.
  6.             “ Mau ke rumah mpo,” kata tuh cewek, nyang keliatan makin kuatir, sambil sesekali ngeliat ke sebelah kanan. Boleh jadi, ngira ada metro mini nyang emang paling diarepin.
  7.             “ Aduuuh, mana acaranye jam empat. Mati deh, gue,” si cewek  ngegerundel.
  8.             Kalo aje gerundelannye Cuma di ati, nggak bakal kedenger orang. Lantaran kenceng, Komeng nyang jelas ngedenger nyoba nawarin jasa. Emang nggak langsung nawarin.
  9.            “ Eeh, jangan mati dulu. Masa’ orang cakep mau cepet cepet mati, “ kate Komeng, nyang komennye spontan alias kagak perlu mikir
  10.            “ Soalnya, udeh telat. Ulang taon keponakan aye, mulainnye jem empat “
  11.            “ Waaah, mesti cepet-cepet nyari taksi, tuuh?”
  12.            “Jangan kate taksi. Metro mini aje belon ada nyang lewat ?”
  13.            “ Emangnye di mane, sih, rumah mpoknye?”
  14.            “ Yaa, lumayan jauh. Cuman, ape boleh buat deh, kalo emang nyatanye udeh telat “
  15.           “Terus, batal, dong ngehadirin ulang taon kepona kan ?”
  16.           “Iye, sih. Tapi, biar aje, deh. Mpok aye pasti maklum. Lagian, kalo sekarang aye belon sempet beli kado. Kalo besok, kan, bisa sekalian bawain kado “
  17.          “ Kalo gitu, seudeh ujan berenti,  langsung ke mall  aje ?” Komeng jadi ketarik buat lebih akrab.
  18.          “Ke mall? Ngapain ? Lagian, mana enak ke mall sendirian. Ntar, disangka abg nyang mau ngetem, lagi. Iiih, emangnye aye angkot, suka ngetem “
  19.          “ Kalo nggak enak sendirian, abang siap anterin ?”
  20.          “Belon kenal masa udeh mau nganterin. Enak aje,” kate si cewek nyang tentu aje cakepnye, kagak kalah sama Nurlela. Komeng, langsung nangkep peluang. Tanpa ragu, ia pun langsung bilang.
  21.          “ Oooh iyee, kite belon kenal, yee. Syet deh, kok abang jadi bloon, sih? Tapi, timbang terus bloon, gimana kalo kita kenalan ?“
  22.         Tanpa ragu, Komeng nyodorin tangan. Syet, deh, bener-bener pucuk dicinte uler pun nyampe. Die nyam but ajakan Komeng. Tanpa ragu nyodorin tangan. Lang sung aje Komeng nyamber. Komeng ngerasa ada nyang bedesir, waktu genggam tangan Zubaedah.
  23.          “ Komeng,” tanpa ragu, Komeng nyebut namanye
  24.          “ Zubaedah,” kata tuh cewek nyebut namanye .
  25.          Nggak lama, Komeng udeh beduaan di mall bareng Zubaedah. Mestinye, Komeng kagak perlu nra ktir Zubaedah. Sebab, kagak minta ape-ape. Tapi, lan taran mau enak ngobrol, Komeng ngajak ke es teller 987, nyang juga nyediain bakso .
  26.           Mestinye lagi, Komeng kagak perlu ngeluarin duit buat bayar kado. Sebab, Zubaedah nyang seudeh di traktir ngebakso ples ngembat es teller, ngajak ke toko maenan anak, udeh mau bayar harga mobil-mobilan nyang cuma  tiga ratus ribu perak. Tapi, Komeng malah berbisik mesra.
  27.           “ Bedah, nggak perlu ngeluarin duit. Biar aje abang yang bayar ?”
  28.           Zubaedah, bukan kagak kaget. Tapi, lantaran ngehargain niat baik Komeng, die ngebiarinin Komeng ngebayarin mobil-mobilan nyang lantas dibungkus rapi sama sang pelayan.
  29.           Cuman, keluar dari mall, Komeng kagak bisa maksain diri nganter Zubaedah, pake motor ke rumahnye. Sebab, ngedadak Nurlela ngebel. Komeng buru-buru ngelayanin panggilan Nurlela. Jadinye, Komeng ku atir. Takut ketauan udeh punya pacar. Makanye, waktu Zubaedah nanya, Komeng ngaku yang ngebel adiknye.
  30.          “ Ade ape ade ketemu seudeh gede ?”
  31.          “Kagak percaye? Telepon aje. Nih nomornye?” Komeng terpaksa berjibaku. Dia yakin, cewek nyang baru kenal, kagak bakal tau kalo dicipoain. Kalo pun nekad ngehubungin Nurlela pake HPnye, paling ketauan. Yaa, kalo udeh ketauan, kan bisa bilang, lebih cinta sama Zubaedah.
  32.          Bagusnye, Zubaedah lantas kagak ngotot. Die bilang, percaya. Makanye, tetap ngasih alamat meski Komeng kagak bisa nganterin pulang lantaran mesti jemput adenye di kampus. Padahal, Komeng mesti cepet-cepet nyamper Nurlela, yang lagi nganterin mpoknye ke rumah dukun beranak. Mpoknye nyang udeh hamil gede, ngedadak mules dan ngaku kepengen beranak.
  33.         Komeng lega, lantaran Zubaedah kagak marah dan udeh ngasih alamat. Komeng lantas janji bakal maen ke rumah Zubaedah.
  34.         “ Pokoknye, kalo diizinin, abang pasti maen ke rumah Bedah. Entu juga kalo diijinin. Kalo kagak diijinin, tolong maafin abang, semisal tiap malem abang sengaja ngimpiin Zubaedah “
  35.         “Iiiih abang. Mau maen, siapa nyang larang. Lagian, Bedah seneng, kok,  nerima kedatengan abang “:
  36.         Komeng makin kesengsem sama Zubaedah, nyang seudeh ngucapin “sampai jumpa” lantas ngesun pipi Komeng . Saat udeh di taksi, Zubaedah juga nyempetin ngedadahin, dengan gayanye nyang manja.
  37.         Makanye, Komeng berusaha cari dan curi kesempatan supaya bisa maen ke rumah Zubaedah. Sialnye, Komeng kagak bisa komunikasi jarak jauh, lantaran kelupaan minta nomor hpnye. Sialnye lagi, Nurlela terus minta dianter ke rumah mpoknye, nyang baru aje bera nak.
  38.         “ Abang sih, bukan, bosen, nih. Cuman, kalo setiap hari nganter ke rumah mpoknye Lela, kapan kita bisa asyik beduaan ?” akhirnye, Komeng ngomong terus terang
  39.         “Abang gimane, juga, sih?. Baru diminta tolong nganter segitu aje, udeh nggak rela ?”
  40.         “ Abang bukan kagak rela. Cuma, ape kagak bosen, tiap ari ngelongok bayi? “
  41.         “ Kenape Lela mesti bosen? “
  42.         Komeng kagak nyangka, kalo lagi ngambek, Nurlela ngeselin. Jadi galak kagak keruan.
  43.         “ Yee, udeh. Nggak usah emosi, gitu.”
  44.         “ Abang nggak usah belagak nyesel, deh. Kalo emang bosan nganter, gak ape-ape, kok. Bosen ama Lela, tapi nggak berani terus terang, juga kagak jadi soal. Pokoknye, mau lanjut silahkan. Mau putus silahkan “
  45.         Nurlela, malah tambah galak. Pake nantangin lagi. Bikin Komeng nyang lagi kesengsem sama Zubaedah, cepet sewot.
  46.         “ Yee, emangnye abang kagak bisa mutusin, Lela.
  47.         Emangnye, abang kagak bisa dapetin cewek nyang lebih kece dari Lela. Bisa, kok. Cuman, kan, abang udeh janji nggak bakalan ninggalin dan nggak bakalan nyimpen dusta diantare kita ?”
  48.        “ Aaaah, hari gini malah ngegombal. Bilang terus terang, sekarang mau tetap anter Lela dan tetap ngerajut hubungan, ape sebaliknye ?”
  49.        Komeng, akhirnye milih emosi. Tanpa ragu, lantas nyeplosin kata, die lebih siap pisah dan ninggalin Nurle la.Sebab, sebagai lelaki kagak mau dibudakin cewek, nyang tiap harinye cuma hobi nengokin nyang baru aje lahir ke dunia.
  50.        Nyesel kagak nyesel, Komeng berani ambil keputusan. Soalnye, saat berantem, wajah Zubaedah nyang juga kece, muncul, muncul dan muncul sambil ngelemparin senyuman manisnye.
  51.        Duuh, putus, deh.
  52.        Tapi, Komeng kagak lagi mikirin Nurlela. Nyang sekarang ada di pikiran Komeng, cuman Zubaedah. Besok sorenye, Komeng ngeluncurin motornye ke Jalan Rindu Dendam gang Cinta Buta. Begitu ngeliat nomor empat tiga, Komeng ngerem motornye.
  53.        Komeng langsung nyabut kunci kontak seudeh stan darin motornye. Tanpa ragu, mencet bel. Hatinye dag dig dug. Ngarepin buanget, cinta Zubaedah langsung nyeruduk.
  54.        Komeng sempet kesel, lantaran nyang nongol dari dalem rumah, lelaki berambut cepak, badannye beotot kayak Ade Ray.
  55.        “ Bokapnye, kali.” Kata Komeng dalem ati.
  56.        Komeng yakin, cowok nyang ngebukain pager masih keluarga Zubaedah. Kalo kagak bokapnye, pasti abang atawa encangnye. Buktinye, dia kagak nanya tapi langsung bukain pager. Komeng buru-buru ambil motor Langsung masukin ke halaman rumah Zubaedah.
  57.        “ Katanye mau dateng pagi, kok, sore baru muncul?” Tanya lelaki berambut cepak, begitu Komeng kelar markirin motor di halaman rumah Zubaedah.
  58.        “ Kayaknye, saya nggak janji mau dateng pagi, deh ?” kata Komeng. Tentu aje dia pake ngerasa bingung. Sebab, nggak pernah janji, kok, disangka mau dateng pagi?
  59.        “ Anda petugas dealer motor yang mau nagih cicilan motor, kan?” Tanya lelaki cepak, yang kagak nyoalin jawaban Komeng.
  60.        “ Saya bukan tukang tagih, oom. “ Komeng buru-buru ngejelasin. “ Saya Komeng. Minggu kemaren, udeh jalan bareng sama Zubaedah ke mall. Biasa, oom, anak muda. Naah, sekarang, saye nepatin janji mau ngapelin. Nggak ape-ape, kan, oom ?”
  61.        “ Nggak apa-apa. Cuma, jangan-jangan kamu salah alamat,” kata cowok rambut cepak.
  62.       “ Salah alamat? “ Komeng bergumam. Lantas, cepet-cepet ngeluarin secarik kertas. “ Rasa-rasanye saya nggak salah alamat, deh, oom “ kata Komeng, sambil nyodorin kertas ke lelaki cepak.
  63.      Lelaki cepak membaca tulisan di kertas. Kagak ada yang salah. Memang, tamunya sudah berada di jalan Rindu Dendam Gang Cinta Buta nomor empat tiga.
  64.      “ Bedaaah. Zubaedaah “ Lelaki cepak langsung berte riak, memanggil Zubaedah. Komeng kagak curiga, tapi ngerasa lega lantaran bentar lagi ketemu cewek nyang bi kin dia kesengsem.
  65.      Komeng baru kaget, setelah yang dipanggil Zubaedah nongol dari dalam rumah.
  66.      “ Papi sayaang. Ada apa sih, manggil manggil Bedah,” tanyanya. Dan begitu ngeh ada orang laen, Zubaedah  kaget. Gak nyangka kalau ada tamu. Komeng lebih kaget. Nggak nyangka kalo Zubaedah nyang keluar dari dalam rumah, bukan Zubaedah nyang nongol terus di pelupuk mata Komeng.
  67.      “Benar, minggu kemaren mami jalan berduaan ke mall sama dia ?”
  68.      “Waaah, enak aja. Kenal aja nggak, sudah berani Vietnam, eeh, fitnah saya ?”
  69.      “ Benar kamu minta sama dia supaya diapelin?”
  70.      “Idiiiih, sembarangan. Ngeliat mukanye aja baru detik ini, lantas kapan sempatnya bilang minta diapelin?” Sahut Zubaedah yang kesal lantaran merasa difitnah secara beruntun
  71.     Sebenarnya, Komeng pengen buru-buru ngejelasin. Pengen klarifikasi agar semua jadi jelas. Maksudnya, agar tuan rumah tau, ngerti dan paham, telah terjadi salah sasaran dan salah paham. Tapi, berhubung Komeng terlanjur gugup saat bertemu Zubaedah yang bukan Zubaedah yang ia kenal dan sempat ngesun pipi nya, dan lelaki cepak juga sudah terlanjur emosi karena isterinya telah difitnah secara membabi buta.
  72.     Yang kemudian terjadi, bak bik buk bek bok. Komeng nggak sempat nangkis, lantaran nangkis tonjokan tangan kanan lelaki cepak, nggak taunya, tendangan kakinya yang begitu cepat melaju ke perut sulit dihindarin. Akhir nya, yaaaa, Komeng babak belur. Mukanye bonyok kagak keruan.
  73.     Untung, Zubaedah, meski sambil ngejerit-jerit berhasil ngejinekin emosi suaminya. Sehingga, Komeng masih bisa diselamatkan. Juga untung, Zubaedah yang bukan Zubaedah, bergegas menjelaskan dengan baik ke hadapan massa yang ngedadak bermunculan. Kalo nggak, Komeng, pasti makin babak belur digebukin oleh massa yang mendadak berdatangan, bersama emosinya nyang mesti kagak disetel sinyalnye langsung naik ke ubun ubun
  74.       Komeng kagak sempet ngeliat Zubaedah asli nyang sebenarnya bernama Marlina, nyang senyam-senyum sendirian, di satu tempat, nggak jauh dari rumah nomor empat tiga
  75.      .“ Rasain, lu. Emang enak, gue kerjain “ Gumam Marlina, nyang kagak berani ngakak. Sebab kalo ada nyang nanya “ Kenapa ngeliat orang apes malah ngakak?” Dia pasti kesulitan menjawab. Timbang ketauan abis cipoain orang, kan, lebih baek senyam senyum sendirian. Kalau ada yang sempat melihat dan mengira ia gokil, nggak apa-apa. Yang penting, sukses ngerjain cowok mata keranjang
  76.       Komeng nyang pulang dengan sejuta sesal, sembari ati-ati bawa motornye, cuma bisa ngegerutu
  77.      “ Gue pikir cewek idaman,nggak taunye cewek sialan.Nasiib, nasib.....Nurlela yang cantik dan kayaknya cukup setia, sudah lepas dari pelukan.  Zubaedah yang diharapkan jatuh ke dalam pelukannya pun, ternyata melayang.terbang dan hanya jadi bayang bayang. Entah kemana sosok yang membuat Komeng babak belur itu menghilang..       

Thursday, June 13, 2013

CERITA BERSAMBUNG (44)

MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

EMPAT PULUH EMPAT


“ Menurut lu, gue ni lebih baik nginap di rumah abang, nginap di hotel apa pulang dan tidur di rumah, yaa ?”
“ Aduuuh, gimana, ya? Saya,jadi susah ngejawabnya, nih, boss?”
“Susah apa nggak ngijinin gue nginap di rumah abang ?”
“Boss, sumpah! Jangankan nginap, boss mau datang ke rumah saja, saya pasti langsung senang setengah mati, boss. Cuma…Aduuuh, gi mana, ya? Terus terang, boss, rumah petak yang saya kontrak, nggak layak buat anda, boss?”
“Lu anggap gue orang hebat, apa? Emang gue raja cipoa atawa presiden yang nggak punya negara? Emang gue orang penting? Lu ka lau ngomong jangan bikin gue kesal, bang. Gini-gini, gue ini bukan orang penting. Bukan anak ra ja atawa anak presiden. Masa’ lu malah bilang, rumah lu nggak layak buat gue?
Bang, bilang aja terus terang. Lu tuh nggak sudi kalau gue nginap di rumah lu. Takut terganggu, dan takut direpotin. Iya, kan ?”
“Saya sama sekali nggak punya pikiran seperti itu, boss. Sumpah! Saya sangat senang dan merasa terhormat jika memang boss mau ngi nap di rumah saya. Cuma, masalahnya, saya ting gal di rumah petak. Ukurannya cuma tiga kali tujuh meter, boss.
Sempit. Panas, pengap. Nggak layak kalau boss nginap di rumah kontrakkan saya “
“Lu jangan ngomong, ngaco, bang. Gue nggak nanya berapa ukuran rumah, lu, kok. Juga nggak nanya luas atau sempit. Yang gue tanya, boleh apa nggak gue nginap di rumah abang? Jawaban yang kepengen gue dengar, boleh atau tidak. Kalau boleh, cepat kita pulang ke rumah abang. Kalau nggak boleh, gue nggak maksa. Ngerti, kan, bang apa yang gue omongin ?”
“Sangat ngerti, boss. Sekarang terserah boss, saja. Jika boss memang mau nginap, silah kan. Jika tidak, saya tidak marah “
“Ooh, gitu, bang. Jadi, lu tetap berharap gue nggak nginep? Yaa, sudah, berarti lu nggak ngijinin gue nginep ?”
Bondan jadi kesal. Bukan becanda jika langsung melengos lantas bergerak dengan cepat, meninggalkan Sabar. Sabar sangat kaget. Juga sangat menyesal. Dia tidak mengira, jika Bondan yang seharian mengesankan, bisa ngambek berat. Tanpa malu, Sabar yang tak ingin mengecewa kan Bondan, berteriak. Ia memanggil sambil me ngejar Bondan.
“Boss..tunggu boss.”
Sabar yang terengah-engah, nekad. Ia memberanikan diri meraih tangan Bondan.
“Gue mesti tunggu apalagi?” kata Bon dan, sembari menepiskan tangannya.
“Boss tunggu di depan sana. Saya ambil motor. Malam ini, boss harus nginap di rumah saya “
“ Lu ikhlas ?”
“ Insya Allah, boss. Tunggu di depan sana, boss. Saya ke belakang, ke tempat parkir, ambil motor “
Bondan tersenyum.
Begitu cepatnya ia meluluhkan kesal yang barusan saja hinggap di dirinya. Ia menatap Sabar yang bergegas meninggalkannya, dan nampak berlari agar bisa segera mengambil sepeda motor di tempat parkir. Dengan santai, Bondan bergerak ke luar.
Ke pintu keluar rumah sakit Mahal Itu Indah.
Di areal parkir, Sabar tak segera mengeluarkan motor ke jalan setapak yang hanya pas untuk sepeda motor. Sabar hanya terdiam sembari memandang deretan motor yang berhimpitan, dan melihat itu dia ingat saat berdesakan di mtro mini, yang kadang kala malah bikin kesal karena meski sudah berdesakan kerap dipaksa sang kondektur untuk terus merapat, Padahal, bernafas pun sudah merasa sulit.
Kelihatannya, Sabar merenung. Namun, merenung bingung. Bagaimana tidak,jika sepanjang hari dia terus dibuat terhenyak. Bukan oleh hal dan tindakan orang lain yang mengesalkan. Tapi, justeru tindakan, eksiyen dari seeorang yang membuatnya bahagia. Eksiyen yang berulang kali itulah, yang membuatnya tak henti hentinya terharu.
Sabar yang terduduk di sepeda motornya yang semula sekedar merenung kembali menangis. Dia tak peduli meski sempat melihat ada seseorang, yang sepertinya ingin juga ingin mengambil sepeda motornya. Hanya, Sabar sama sekali tak menduga jika pria brewok berusia sekitar empat puluh tahun, berpakaian necis malah menyapa Sabar yang tengah sesenggukan.
“Pak.. Kenapa di tempat parkir bapak menangis? Bapak baru saja kehilangan sepeda motor apa ada keluarga bapak yang meninggal dunia,”




Bersambung..........

Wednesday, June 12, 2013

CERITA BERSAMBUNG (43)

MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

EMPAT PULUH TIGA

Sebenarnya berat sekali Ariyani melepas pelukan. Ia masih ingin menikmati degup kebai kan yang bermukim di jiwa Bondan. Ia ingin, de gupnya menjalar ke hati suaminya, ke dirinya, ke bayinya. Ke kedua anaknya, yang dititipkan di ru mah orangtuanya, karena ia di rumah sakit.
Sedangkan Sabar, suaminya, harus ngojek. Memang, ngojek bukan pekerjaan hina. Di mata Allah, lebih mulia dari Menteri atau pejebat yang gemar korup. Lebih mulia dari perampok berdasi atau perampok bergolok.
Hanya, isteri pengojek, harus pintar ber syukur. Saat suaminya pulang dan hanya bawa hasil pas-pasan untuk makan, dada dan jiwa harus selalu lapang. Jika sudah terbiasa, pasti bisa. Sebab, bersyukur adalah menerima segala ketetapan dari Allah dengan lapang dada. Dan bila hasrat mensyukuri nikmat dari Allah selalu menggelora dan menjiwa, yang bersemayam di dada yang lapang, itulah ketenangan dan keten traman yang membahagiakan.

                                                                    oooooo0oooooo


(9)

SABAR yang dengan sabar menunggu namanya dipanggil, masih asyik duduk di kursi ruang tunggu sambil termangu, tersentak. Ia ka get saat Bondan menepuk bahunya.
“Nggak dengar, barusan nama isteri lu dipanggil kasir”
Sabar bergegas menghampiri kasir. Lang sung menanyakan biaya yang harus ia bayar, jika besok sore membawa isterinya pulang. Kasir wa nita, melihat ke komputer. Menyebut jumlah re kening atas nama isteri Sabar
“ Jadi, semuanya lima juta?”
Kasir mengangguk sambil senyum.Sabar menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dadanya plong. Duit di tas pinggangnya, lebih dari delapan juta. Berarti, masih banyak lebih Sabar segera menulanasi biaya perawatan isterinya.
“Pokoknya, besok sore saya bawa isteri saya pulang. Lalu saya kembali nemuin mbak. Lebih dan kurangnya, besok saya selesaikan,”
kata Sabar.
Ia lalu bergegas menghampiri Bondan.
“Boss, kayaknya cuma habis sekitar enam jutaan,” Sabar menyerahkan kertas bukti pembayaran. Bondan meraih dan memperhati kan bukti tanda pembayaran
“Yaa, syukur Alhamdulillah, lah, bang. Berarti sisanya, kan, bisa lu gunakan buat beli keperluan bayi, lu, bang ?”
“Ja..jadi, tidak saya kembalikan ke boss saja ?”
Bondan melotot. Kesal.
“Tuh duit, kan, dari tadi sudah lu pe gang? Itu rezeki lu dari Allah, bang. Bukan dari gue. Kalau lu mau kembalikan, yaa, jangan ke gue. Kembaliin saja langsung ke Allah. Lu udeh kenal atawa tau apa nggak di mana alamat Allah ?” Ujar Komeng
Sabar langsung terharu. Seketika, ada yang mengembang di bola matanya.
“Awas, lu, bang. Sekali lagi sesenggukan, gue batalin niat gue nginep di rumah, lu ?”
Kali ini, sabar berusaha keras untuk tidak menangis. Ia ingin mengabulkan permintaan Bon dan, yang ingin dirinya tetap tegar dan terus sa bar
“Naaah, gitu dong, lu. Tegar, bang, te gar. Jangan sebentar-bentar nangis. Malu-maluin, gue aje, lu “
Bondan mengembalikan surat tanda bukti pembayaran. Sabar segera memasukkannya ke tas pinggang
“ Yang barusan boss bilang, serius?”
“Nginap di rumah, lu? “
Sabar mengangguk. Dadanya berdegup. Ia berharap, Bondan sebatas bercanda. Jika seri us? Mau tidur di mana? Rumah petak yang dikon trak, hanya membuat nafas sesak. Ventilasinya tak beraturan. Atapnya pun hanya dari asbes. Ji ka siang, panas dan berisik oleh hingar- bingar suara anak-anak.
Malam, pasti pengap. Sebuah kipas angin kecil miliknya, yang kadang rusak saat di pakai, malah membuat tamunya akan kegerahan. Tak mungkin Bondan merasa nyaman, bila benar ingin nginap di rumahnya


Bersambung..........