Friday, July 5, 2013

CERITA BERSAMBUNG (61)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank

ENAM PULUH SATU


         Malah, ia yang diangkat sebagai Direktur Utama dan diberi kepercayaan oleh Bondan un tuk mengelola dan sekaligus mengawasi perusa haan yang telah maju dan berkembang pesat, ka rena keuletan suaminya yang sekaligus diizinkan oleh Allah meraih keberhasilan dibidang bisnis
       Hanya, untuk hal yang satu ini, Sumirah ti dak menerima dengan begitu saja tawaran dan sekaligus kepercayaan Bondan pada dirinya. Me mang,  yang diberikan kepadanya adalah jabatan paling strategis. Gaji besar dan fasilitas pun pa ling memadai. Ia yakin, jika ia langsung meneri ma tawaran dan amanah Bondan tanpa catatan dan atau permintaan, ia bebas seratus prosen dari beban ekonomi.
       Bukan berarti jika Bondan tak memenuhi permintaannya, ekonomi rumah tangganya full diwarnai kendala. Ia toh masih punya  simpanan uang di bank, juga perhiasan, yang jumlahnya lumayan besar, dan semua yang dimiliki telah jadi milik pribadinya. Semua dari suaminya dan selama perkawinannya, yang ia dapatkan dari pak Sadewa, memang untuk dan atas nama Sumi rah. Sama sekali tak ada kaitannya dengan harta yang diwasiatkan pak Sadewa kepada Bondan.
       Kini, yang akan dilakukan Sumirah hanya menunggu kabar dari Bondan. Ia yakin, Bondan dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Dan jika Bondan berhasil memecat lelaki yang tak lain adik iparnya, ia tak akan menyesal. Malah, itulah yang diharapkan. Dampaknya, bukan tak ada. Hanya, Sumirah yakin, ia dapat menyelamat kan Lasmini, adik kandungnya, yang belakangan hidupnya agak kacau, karena suaminya, setelah diangkat sebagai salah seorang Direktur di peru sahaan suaminya, telah berubah menjadi lelaki yang sangat gemar main wanita, dan juga gemar menyakiti isterinya.
       Sumirah sengaja tak mau menceritakan mengapa, Juneadi lebih baik dipecat dari kedudu kannya. Jika Bondan melakukan investigasi, ia akan bisa mengumpulkan data-data kebobrokan adik iparnya. Baik di perusahaan, mau pun di lu ar perusahaan.
       Sumirah hanya tak ingin menjadi seseorang yang mengungkap borok dan kebobrokan mental adik iparnya. Selain karena ia sangat iba pada na sib adiknya, juga tak ingin ia dituding sebagai penyebab, dicopot dan dikeluarkannya Junaedi dari jabatan dan dari perusahaan        
        Hanya, Sumirah, sangat kuatir jika Junaedi tetap bercokol. Terlebih, ia sudah merasa sebagai adik ipar dari pak Sadewa, dan ia sama sekali tak merasa almarhum suaminya sedang mempertim bangkan untuk memecatnya. Dan pasca kematian pak Sadewa, bukan tak mungkin bila Junaedi semakin berencana untuk lebih memantapkan cengkramannya. Jika hal ini dibiarkan, Sumirah yakin, perusahaan yang dibangun dan dikembang kan oleh suaminya dengan susah payah, akan hancur di situasi yang sebenarnya bisa semakin berkembang.


Bersambung.........

Thursday, July 4, 2013

CERITA BERSAMBUNG (60)

MASIH ADA JALAN
Oleh: Oesman Doblank

ENAM PULUH


          Saat itu, Sumirah merasa lebih baik dengan tulus mengijinkan.  Bukan karena ia menyadari, tapi karena ketika itu, pernikahannya pun, nyaris sama. Malah boleh dibilang serupa.  Artinya, saat menikahinya status pak Sadewa juga bukan lajang dan bukan duda. Beliau sudah beristeri dengan satu orang anak.
         Hanya, saat menikahinya Pak Sadewa  melakukannya tanpa sepengetahuan isteri pertamanya. Bukan karena ia  tak ingin jujur atau sengaja tidak mau jujur. Tapi, kejujuran dalam bentuk apapun yang dipersembahkan kepada ibu kandung Bondan yang menjadi isteri pertamanya,  tak akan diapresiasi dengan pertimbangan yang bijak. Malah, kata Pak Sadewa, tak mungkin ia diijinkan menikah dengan wanita lain.
        Pak Sadewa yakin, isteri pertamanya yang tidak pernah menghargai, jauh dari menghormati suami, dan dinilai terlalu neko neko dalam me ngayuh biduk kehidupan rumah tangga bersama pak Sadewa yang ketika itu ekonominya mulai membaik, memilih tidak mengizinkan dan ia siap melakukan apa saja, asal pak Sadewa tidak meni kah dengan  wanita lain, .          
       Sedangkan yang paling mengesankan, dan hal ini yang tak akan mungkin bisa dilupakan oleh Sumirah, keleluasaan dan kemudahan mene rima dirinya dan juga adik tirinya. Bondan sama sekali tak melihat sosoknya yang patut dibenci. Juga tak menempatkan kedua adiknya sebagai sosok, yang mengganggu kehidupannya. Paling tidak, mengganggu kemutlakan Bondan dalam menikmati harta warisan.
       Dan, sama sekali Sumirah tidak mengira, ji ka rumah yang kini masih jadi tempat tinggal ia dan anaknya – meski suaminya belum lama wafat,  yang menjadi hak mutlak Bondan karena namanyalah yang tercantum sebagai pemilik di akte, tanpa pikir panjang atau berpikir rumit, diberikan kepada Andhika.
       Duh… tak percuma, Sumirah melaksanakan amanah suaminya, yang dengan sangat mewanti-wanti padanya, saat pak Sadewa menyerahkan surat wasiat dalam sebuah amplop coklat. Kala itu, ia malah diperkenankan untuk mengetahui isi surat wasiat yang dibuat suaminya. Tapi, Sumi rah malah baru membuka amplop dan membaca surat wasiat yang dititipkan padanya.
       Sumirah sama sekali tak kecewa, meski su rat wasiat yang dibuat suaminya sebelum beliau wafat, malah tak menyebut ia dan anaknya sedi kitpun. Artinya, hanya Bondan yang mendapat kan hak atas harta pak Sadewa. Memang, bersa maan dengan itu, pak Sadewa juga mewasiatkan pada Bondan, yang harus memikirkan nasibnya dan juga kedua anaknya.
       Duuh, tak sia-sia, Sumirah melenyapkan bisi kan-bisikan nakal dan sekaligus keji, yang kala itu sangat mengganggunya. Bisikan yang menga jak Sumirah untuk menyelewengkan amanah agar peninggalan almarhum suaminya dapat ia kuasai sendiri. Hasilnya, ternyata adalah kegem biraan dan kebahagiaan tak terhingga, seperti yang ia rasakan saat ini.

Bersambung………







CERITA BERSAMBUNG (59)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank


LIMA PULUH SEMBILAN


          Pada akhirnya, Bondan memutuskan untuk melakukan apa yang memang perlu dia lakukan. Dan, Sumarni tak hanya berharap. Ia juga dibuat terkejut. Sama sekali tak menyangka, jika Bon dan, lantas memintanya untuk segera ke notaris Sumirah diminta untuk mengurus proses balik na ma rumah yang kini ditinggalinya. Bondan berha rap, setelah nama pemiliknya berubah dari Bon dan menjadi Andhika – nama adik tirinya, mere ka akan lebih leluasa menempatinya.
         Jika tak segera membuat akte balik nama, Bondan malah kuatir, kelak pikirannya berubah dan malah berniat mengambilnya kembali. Un tuk itu, Bondan mendorong agar urusan mengu bah nama pemilik rumah dari Bondan ke An dhika, diurus secepatnya.   
         Sumirah sekali tak tersinggung apa lagi kecewa. Malah, saat Bondan mengatakan, se benarnya ia ingin nama pemilik rumah yang dihibahkan kepada Sumirah, dalam akte, dirubah dari Bondan ke Sumirah. Hanya, ia kuatir, suatu saat, Sumirah menikah lagi dengan pria lain. Jika hal itu terjadi, apapun risikonya, Bondan lebih berani menggugat untuk mengambil kembali rumahnya dari tangan Sumirah. Sebab, Bondan tak ingin, jika kekuatirannya terbukti, adik-adik tirinya jadi korban.
        Sebab, bisa saja, suami baru Sumirah, nantinya menguasai rumah itu, semisal di akte ke pemilikan rumah, nama yang tercantum sebagai pemilik, bukan Andhika. Tapi, Sumirah. 
       Sumirah malah tertawa.
       Ia suka, blak-blakan ala Bondan. Terbuka tapi tak menyakitkan. Blak-blakan tapi malah membuatnya segar. Sikap dan sifat yang tak jauh beda dengan suaminya. Dan, itu sebabnya, Sumi rah berkenan diajak ke pelaminan, meski untuk itu, ia mengawali perkawinannya dengan berma cam gangguan. Sebab,  isteri pak Sadewa yang tak lain ibu kandung Bondan, kerap menterornya
        Namun, dari situ pula, Sumirah makin pa ham, mengapa pak Sadewa memilih kawin lagi. Dan, beliau merasa sangat beruntung. Akhirnya, bertemu juga dengan wanita yang diinginkan Bukan berarti tak menginginkan isteri pertama nya. Hanya, ibu kandung Bondan, tak ingin kesederhanaan, terlebih merasa dijerat kemiski nan.
         Yang juga disukai Sumirah dari putra sema ta wayang suaminya dengan isteri pertama, ia tak sebatas bisa menerima semua yang terjadi dan sama sekali tak memperlihatkan rasa sakit hati, terlebih membenci. Malah, ketulusan Bondan me nerima kenyataan, terlihat sangat jelas. Seolah ketulusan yang bersemayam di hatinya, tanpa ti rai. Sedemikian transparan.
         Di dalamnya, tak nampak benang setipis apapun yang menyimbolkan kepura-puraan terle bih lebih dari itu. Merekayasa diri misalnya, Sumirah percaya, kalau Bondan, seolah-olah nrimo tapi lubuk hatinya menolak
       Sangat identik dengan pak Sadewa, almar hum suaminya. Menurut Sumirah, sifat dan sikap anak tirinya, tak lain foto copy dari ayahnya, yang juga seperti itu. Paling mengesankan saat pak Sadewa mengatakan dengan jujur kalau ia akan menikah lagi.
         Saat itu, Sumirah tak saja merasa, yang dikatakan suaminya – ingin menikah lagi, adalah kejujuran yang jarang melekat pada diri suami yang entah dengan alasan apa, berniat menikah lagi. Ia nyaris tak percaya, jika pada akhirnya, malah Sumirah sendiri yang datang, melamar. Meminang dan dengan lapang dada, Sumirah menyaksikan akad nikah suaminya dengan wani ta lain.

Bersambung…………..


Tuesday, July 2, 2013

CERITA BERSAMBUNG (58)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA PULUH DELAPAN


Hanya, Bondan merasa punya hak untuk tidak memperhatikan secara mendalam. Artinya, Bondan tidak akan memenuhi berbagai kebutu han – terlebih kemauan ibu tirinya, karena jika ibu tirinya memilih untuk menikah dengan lelaki lain, suaminyalah yang paling berhak bertang gung jawab, mulai dari memberi nafkah sampai ke berbagai kebutuhan lainnya
Jika sebaliknya, tentu saja yang akan dila kukan Bondan harus ia konkritkan. Bondan ikh las, rumah atas namanya – di balik nama dan diganti atas nama adik tirinya, sebagai pemilik. Lalu, rumah yang kini masih ditempati oleh ibu tiri dan dua adik tirinya, ia serahkan ke Sumirah, agar ibu tiri dan kedua adik tirinya merasa lebih nyaman tinggal di rumah itu.
Lalu, Bondan akan meminta agar ibu tiri nya yang dulu sekretaris pribadi ayahnya, kemba li ke perusahaan. Selain ia angkat dan tugaskan sebagai Direktur Utama, juga diberi kepercayaan penuh, mengelola perusahaan yang diwariskan oleh ayahnya, tanpa meninggalkan kewajiban membuat laporan lisan dan tertulis secara berkala dan priodik.
Bondan sendiri, tak kepincut untuk langsung mengambil alih PT Juwita Permai, yang ternyata berhasil membangun bisnis kelapa sawit, ekspor impor hasil bumi dan pemba ngunan perumahan. Bondan yakin, ibu tirinya yang mantan sekretaris di perusahaan dan masih secara intensif mengikuti perkembangan perusa haan, mampu melaksanakan tugas dan memang gul beban amanah yang diberikan kepadanya
Dan dengan jabatannya, ibu tirinya tak sebatas berpeluang dan bisa membangun, me ngembangkan dan membuatnya lebih maju lagi. Tapi, sekaligus bisa mengontrol dan menjadikan nya sebagai asset yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
Hanya, Bondan tak menyangka jika Su mirah malah menolak diangkat jadi Dirut, kecu ali Bondan memecat salah seorang Direktur yang menurut Sumirah, lebih layak diberhentikan tim bang dipertahankan. Tapi Sumirah tak mengung kap mengapa orang tersebut harus diberhentikan dan kenapa Sumirah malah tidak mau terima jabatan, bila orang yang dimaksud tetap dibiar kan bekerja dan tetap ikut berperan mengembang kan perusahaan yang tak lain milik mereka juga
“Saya bukan tidak ingin mengungkap me ngapa dia harus diberhentikan. Hanya, saya tak akan sanggup melaksanakan tugas sebagai Direk tur Utama, jika yang bersangkutan masih tetap dipertahankan “
“Tapi memberhentikan seseorang, terlebih dia salah seorang direktur, harus ada dasar dan alasan yang kuat. Belum lagi, kita pun harus memikirkan dampaknya. Belum lagi dampak yang berkaitan langsung dengan nasib anak dan isterinya “
“Itu sebabnya saya menolak diangkat jadi Dirut. Jika saya menerima tanpa catatan, berarti saya tak memikirkan nasib isteri dan anak-anak nya “
Bondan tercenung. Tapi, sama sekali tidak bingung. Bondan justru berkesempatan mere nung dan ia yang akhirnya kepingin tahu, punya alasan yang kuat untuk mengungkap sejelas-je lasnya, mengapa Sumirah, bisa lebih rela tidak mendapatkan status dan atau jabatan sebagai Di rektur Utama, daripada ia harus selalu bertemu dan selalu bersama, seatap dengan orang itu di pe rusahaan.
“Ibu tidak keberatan jika sebelum me ngambil keputusan, saya mencari tahu terlebih dahulu semua hal yang perlu saya ketahui agar saya punya alasan kuat untuk memberhentikan seseorang dari perusahaan kita ?”
“Kalau menurutmu yang terbaik adalah melakukan hal yang ingin kamu ketahui, ibu kira kamu harus sesegera mungkin melakukannya. Ji ka tidak, dipaksapun dan dengan argumentasi seperti apapun, ibu memilih lebih baik melamar kerja di perusahaan lain “
“ Saya hanya berharap, tidak menemukan indikasi adanya permusuhan antara ibu dengan dia, atau hal lain yang bersifat pribadi. Bukan sa ya tak suka. Hanya, sulit bagi saya melakukan tindakan tegas, jika unsurnya tidak rasional”
“Ibu suka dengan cara berfikir dan prinsip kamu. Kenapa? Karena sifat ayah kamu juga be gitu. Hanya, almarhum tidak bisa mengambil ke putusan dengan cepat. Jadi, belum memecat su dah lebih dahulu wafat “
“Jadi, ayah juga tahu persoalan orang ini?”
“Bukan sekedar tahu. Bahkan, banyak yang beliau ketahui. Cuma, berpikir saat akan me ngambil keputusan, terlalu lama. Terlalu dalam menimbang “



Bersambung........


CERITA BERSAMBUNG (57)


MASIH ADA JALAN
oleh :Oesman Doblank


LIMA PULUH TUJUH


Tak saja tanah dan rumah yang saat ini ia jadikan tempat tinggal dan seluruh isinya. Ru mah yang sekarang dijadikan tempat tinggal oleh kedua ibu tirinya, kendaraan yang ada di sana dan juga yang lainnya, tak satu pun atas nama ayah dan kedua ibu tirinya. Sertifikat rumah, surat-surat kendaraan, dan juga deposito, yang tercantum sebagai pemilik bukan mereka. Tapi, Bondan.
Kenyataan yang benar-benar di luar dugaan Bahkan, di luar jangkauan pemikiran Bondan. Ternyata, pak Sadewa, ayahnya, sedemikian pe nuh perhatian. Boleh jadi sebagai konpensasi ka sih sayang seorang ayah, yang selama ini mene lantarkan anaknya. Boleh jadi komitmen pak Sa dewa, yang di satu sisi tak mampu memberi kebutuhan batiniah, tapi di sisi lain, berusaha me menuhi kebutuhan lahiriah anaknya.
Dan, bukan cuma itu isi surat wasiat yang sejak sepuluh tahun silam dibuat pak Sadewa. Dalam surat wasiat yang sengaja diserahkan Sumirah kepada Bondan, sang putra juga dijadi kan akhli waris paling utama. Dengan begitu, perusahaan yang dirintis, dibangun dan dikem bangkan dengan susah payah oleh pak Sadewa, otomatis menjadi milik Bondan.
Tentu Bondan bisa berbuat apa saja.
Terlebih, juga terlampir data perusahaan dan data neraca keuangan perusahaan milik ayah nya, yang assetnya berjumlah milyaran.
Apa yang tidak bisa dilakukan Bondan, yang selama ini kehilangan kasih sayang, ketika di tangannya tergenggam begitu banyak harta ke kayaan?.
Siapa yang berhak mencegah dan mengha langi, jika Bondan ingin melakukan apapun un tuk memuaskan dirinya. Tak seorang pun. Tapi Bondan malah berpikir tentang ibu tiri dan dua adiknya, yang harus ia jaga, perhatikan dan jika diperkenankan, ia didik dengan baik. Terlebih, sa at ini, mereka sangat membutuhkan tempat ting gal agar esok dan seterusnya, merasa tentram. Merasa hidup jadi lebih berarti karena tetap bisa sekolah, bisa melakoni kehidupan, leluasa mera ih mimpi yang diinginkan.
Menjadi manusia yang tak sebatas tahu mana benar mana salah. Mana hak dan mana ba til. Tapi juga tahu mengapa harus beribadah, apa manfaat ibadah dan mengapa dengan ibadah ma nusia leluasa menikmati indahnya hidup dan kehidupan.
Mengapa, manusia yang memilih ibadah sebagai jalan untuk meraih kasih sayang Rabb, lebih cenderung cinta akhirat timbang cinta pada dunia, bahkan, rela mengentuti dunia karena sa dar, dunia cenderung melenakan, menyesatkan dan gara-gara kepincut dunia, manusia lupa pa da Tuhan.
Meski begitu, Bondan tak ingin gegabah. Artinya, ia tak sebatas harus tahu kewajiban dan kepeduliannya. Bondan juga harus tahu, apa yang akan dilakukan ibu tirinya setelah ditinggal pergi selama-lamanya oleh ayahnya. Jika ia akan menikah lagi dan membawa kedua anaknya yang juga adik Bondan, tak ada hak untuk mencegah atau menghalanginya.


Bersambung........


Friday, June 28, 2013

CERITA BERSAMBUNG (56)

MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA PULUH ENAM


(11)

BONDAN harus bisa dan ikhlas memaklumi, segala sesuatu yang telah dan terlanjur terjadi. Baik untuk hal yang membuatnya pernah merasa kehilangan kasih sayang, maupun yang membuat dirinya harus kehilangan seorang ayah, dimana untuk keinginan pribadinya yang sebatas mengurus memandikan dan memakamkan jenazah almarhum, saja justeru tak mendapatkan peluang melaksanakannya.
Begitu pun hilangnya peluang untuk membuktikan kalau dirinya bisa menerima, memaklumi dan sekaligus mampu memenej kekecewaan menjadi hal berguna yang membuahkan kedamaian , ketenangan dan kebahagiaan. Bondan juga harus rela kehilangan peluang untuk membalas kebaikan ayahnya yang bagaimana pun konkritnya memperlakukan Bondan, tetap saja harus dihormati dan Bondan harus menganggapnya sebagai sosok yang bagaimana pun telah sangat berjasa, karena almarhum ayahnya sudah membesarkan putranya dengan cara dan dalam kondisi yang dihadapinya .
Ia pun benar-benar harus memaklumi, mengapa Sumirah, ibu tirinya, baru mengabarkan kematian ayahnya, setelah acara pemakaman dan bukan saat jenazah disemayamkan.
Bondan yakin, Sumirah bicara apa adanya dan memang begitu kondisinya. Artinya, Sumi rah yang sama sekali tak mengira suaminya me ninggal dunia, tak bisa berbuat banyak. Selain ka rena saat kejadian ia di rumah dan ayahnya se dang mengantar ibu tiri Bondan yang lain, saat peristiwa, juga ada yang memanfaatkan kesem patan dalam kesempitan.
Membuat pihak rumah sakit tak bisa me ngontak atau menghubungi keluarga korban, ka rena dompet semua penumpang sedan hilang. Ta ngan-tangan jahil yang tega memenggal orang yang dalam kondisi duka nestapa, membuat se mua korban kehilangan identitas. Kalau saja peristiwa tabrakan itu tak muncul di media cetak, Sumirah tak akan pernah tahu jika tak saja pak Sadewa yang wafat. Marina dan juga supir setia mereka, juga wafat.
Itu sebabnya, menurut Sumirah, ia tak bi sa berbuat banyak. Jangankan langung mengabar kan, membawa jenazah pulang untuk disemayam kan saja, Sumirah tak memiliki peluang. Saat dia datang ke rumah sakit, ketiga jenazah sudah siap dimakamkan. Sumirah hanya bisa meneteskan se senggukan. Akhirnya ia lebih memilih turut me ngantar jenazah ke pemakaman, timbang harus membawa pulang untuk disemayamkan, karena jenazah pak Sadewa, Marina dan supirnya, lebih pantas secepatnya dimakamkan timbang harus di bawa pulang ke rumah Sumirah untuk disema yamkan
Begitu pun untuk hal lainnya.
Bondan yakin, sekecil apapun tak akan datang dan tak akan menimpa dirinya jika bukan lantaran kehendak sang Khalik. Tapi lantaran telah diatur dan merupakah kehendak Illahi Rab bi, segala sesuatunya harus dihadapi dan diterima dengan ikhlas. Ikhlas itu akan bermagma di jiwa, bila mau, bisa mengerti, bisa memahami dan sanggup menerima segala kehendak Sang Penga sih dan Penyayang,
Itu sebabnya Bondan tetap kuat, tegar dan ia sama sekali tidak shock
Dulu, berbagai peristiwa yang menimpa dirinya, selalu dianggap malapetaka. Bondan tak pernah bisa mengerti dan memahaminya. Malah, pernah mengira Tuhan tidak sayang padanya. Untuk itulah ia kecewa dan frustrasi. Larut da lam kekecewaan dan hanya melakukan hal yang dianggapnya menyenangkan.
Kini, Bondan yang pernah merasa kecewa dan frustrasi, justeru memahami mengapa semua bisa terjadi. Mengapa ia harus mengalami nasib malang dan mengapa semua yang datang dan menerpa dirinya, ia hadapi dan ia terima dengan lapang dada dan kebesaran jiwa.
Hikmah yang kemudian dapat ia petik dari sikapnya yang berubah total dan kedewasaannya yang mulai mengental, benar-benar dahsyat. Bondan sama sekali tak menyangka, jika ia sang at disayang ayahnya. Bondan baru tahu, jika ayahnya sangat memperhatikan. Tak mengira ji ka apapun yang dimiliki ayahnya – kecuali isteri, dijadikan sebagai milik Bondan.



Bersambung...............

Thursday, June 27, 2013

CERITA BERSAMBUNG (55)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA PULUH LIMA


Pada akhirnya, Sumirah benar-benar me rasakan betapa indahnya nikmat berdoa dan sela lu bersyukur pada Sang Khalik. Sumirah, kini sudah merasa lega dan ia bisa pasrah, karena te lah menyampaikan hal yang sebelumnya tak hanya tidak diketahui oleh Bondan. Tapi, juga hal lain yang tak sekedar untuk diketahui. Bon dan justeru harus mengapresiasi dengan sebaik baiknya. Bahkan, dengan kebijakan, kearifan dan kedewasaan berfikir, bersikap dan bertindak.
Dan, sejak segalanya diungkapkan, Su mirah hanya tinggal menunggu reaksi dan sekali gus apresiasi dari Bondan. Jika dari aspek perka winan ayahnya dengan dua wanita lain, dijadikan alasan kuat oleh Bondan untuk bersikap dan ber tindak tegas karena alasan itulah yang membuat diri nya menderita, dan atas penderitaannya selama ini, Bondan lantas ingin membalas sakit hatinya, tak seorang pun yang berhak mencegah Bondan untuk mengambil keputusan dalam bentuk apapun, meski dampaknya sangat tidak mengenakkan bagi Sumirah
Jika pun sebaliknya – dalam arti Bondan melupakan masa silam, dan akhirnya ia mengap resiasi soal warisan pak Sadewa yang semua dikhususkan untuknya dan untuk itu, Bondan yang diwasiatkan sebagai pemilik seluruh harta keka yaan pak Sadewa, bersikap arif dan bijak dalam mengambil keputusan, bukan berarti Sumi rah merasakan hal sebaliknya.
Bagi Sumirah, yang terpenting ia telah menjelaskan segalanya dan menyampaikan ama nah almarhum suaminya, Amanah paling penting yang harus ia sampaikan kepada Bondan, adalah target paling utama. Makanya setelah target dicapai, semua terasa melegakan Tak ada lagi beban. Selebihnya, benar-benar ia serahkan kepada Tuhan, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dan keputusan serta kebijakan apapun yang setelah itu akan ditentukan oleh anak kan dung suaminya, yang oleh pak Sadewa ditempat kan sebagai akhli waris paling utama dan untuk itu, Bondan berhak atas berbagai jenis kekayaan milik pak Sadewa, Sumirah tak akan berusaha untuk mempengaruhi Bondan, agar dia diperha tikan dan anak-anaknya diberi bagian
Sumirah juga tak mau melakukan pro tes atau hal apapun. Sebab, jika hal itu ia laku kan, sama artinya ia bodoh. Mengapa? Jika ia protes, untuk apa ia melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Jelas tidak lucu, jika pasca penyampaian amanah, Sumirah malah protes karena merasa berhak atas kekayaan pak Sadewa.
Timbang setelah itu ia protes, kan jauh lebih baik amanah pak Sadewa ia selewengkan. Ia yakin, sangat mudah memanipulasi surat-surat berharga yang kesemuanya sudah ia serahkan dan kini sudah berada di tangan Bondan. Terlebih, saat ini, begitu banyak orang yang ber sedia membantu siapa pun – asal bayarannya sesuai dengan permintaan, meski harus melaku kan perbuatan yang melanggar hukum dunia dan hukum Allah
Tapi, buat apa jika malah mencelakakan dan hanya membuat jiwa yang tenang jadi nestapa. Jadi kehilangan magnit imani, yang selama ini melekat dengan begitu kuat dan dijaga sebaik-baiknya agar tidak cacat.
Sumirah yang sudah merasa sedemikian plong, merebahkan dirinya di kasur. Ia tatap kedua anaknya yang sudah sedemikian lelap dalam tidur. Setelah menciumi kedua anaknya, Sumirah yang selalu melakukan hal itu dikala anaknya sudah lelap dalam tidur, barulah Sumirah bangkit dan dari ranjang dan dia melangkah ke kamar mandi.
Sumirah yang meski pun merasa lelah, tetap bergegas berwudhu.
Dia berharap, malamnya habis untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik, yang teah memberinya kelapangan sehingga setelah bertemu dengan Bondan, dia merasa wajib bersyukur karena Sumirah yakin, yang dia dapatkan bisa terjadi karena izin dan pertolongan dariNYA.


Bersambung.......