Thursday, July 11, 2013

BALLADA SANG HARGA

oleh : Oesman Doblank

       Bagaimana mungkin jengkol nggak kaget. Saat sedang menari riang, musik yang semula berdentam mendadak koit. Begitu sang Jengkol menoleh ke pusat suara, sesosok mahluk yang kayaknya baru mematikan tape recorder, berdiri dan memandang dirinya dengan sinis.
       " Siapa anda dan mengapa datang tak memberi salam tapi berani mematikan musik kegemaran saya?" Tanya Sang Jengkol, yang kalau semula kaget kini nampak kesal.
       " Jangan kamu teruskan tarian jika hanya untuk bersenang senang di atas penderitaan masyarakat," ujar sang mahluk yang setelah mengingatkan lantas menyebut siapa dirinya.
      " Lhoo.. aku mau menari  atau menangis pilu, bukan urusanmu. Dan, mengapa pula kau peduli dengan masyarakat?" Kata Jengkol
      " Bagaimana mungkin aku bisa cuwek, jika kau tiba tiba berulah? Bukankah kau memakai namaku tapi saat menaikkan peringkat tak kompromi lagi denganku?"
     " Wah..wah...wah... kamu jangan menyalahkan aku. Peringkatku naik menjadi enam sampai tujuh puluh ribu bukan karena keinginanku. Tapi, keinginan mereka yang menguasai areal pasar. Jadi, ketika mereka melakukannya, aku malah kecewa. Cuma, apa dayaku bila orang orang pasar sangat berkuasa dan memang selalu bertindak semaunya"
    " Jadi, ketika dinaikkan dan aku dikaitkan, kamu kecewa?"
    "Friend... bagaimana mungkin aku bisa gembira? Jika aku distabilkan, orang orang kecil berpenghasilan rendah, bisa dengan mudah menjamahku. Menikmatiku, dan aku sangat senang karena orang kecil leluasa menikmati rasaku, yang walaupun mereka dengan terus terang mengatakan aku bau, tapi tak pernah malu mengatakan suka makan jengkol.  Sebaliknya, aku tak suka pada mereka yang berlimpah uang, sebab, mereka selalu melecehkanku dan kerap sok tidak suka. Padahal, diam diam mereka tak hanya menikmatiku Sebab, saat peringkatku dinaikkan, hanya mereka yang dengan malu tapi hobi, mampu membeli dan menjamahku"
    " Bisa aku percaya apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Sang Harga
    Jengkol bahkan berani bersumpah dengan mengatakan rela dirinya disambar petir sehingga di masa penen berikutnya tak ada lagi tumbuh buah jengkol jika semua pohon jengkol tumbang atau terbakar.
    " Boleh kutahu mengapa yang lain, tanpa sepengetahuanku juga ikut menaikkan peringkatnya dan membuat masyarakat menjerit dan disaat seperti itu, selalu aku yang disalahkan. Bahkan, ada yang mengatakan aku sombong, karena jika sudah naik aku tak pernah bersedia turun. Padahal, aku bukan pejabat, dan juga bukan penguasa yang maunya naik tapi malas turun"
   Jengkol berpikir sejenak. Lalu, menarik nafas panjang. Baru kemudian dia menjelaskan.
   Menurutnya, yang lain ikutan naik karena pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM.
   " Saat itu aku justeru tidak setuju diriku dinaikkan," sahut sang Harga
   "Nyatanya, premium tetap naik dan kenaikan itu membuat yang lain punya alasan untuk menyesuaikan situasi dan kondisi karena angkutan jadi mahal," kata sang jengkol/
   " Aku tak suka alasan klasik seperti itu." sergah sang harga.
   " Kau boleh tak suka. Nyatanya, di awal Ramadhan rekan rekanku malah berlomba lomba menaikan peringkat. Daging sapi, misalnya. Juga ayam, di bulan suci, bukan mencari berkah dan hikmah malah berebut menaikkan peringkat. Aku juga dengar dan lihat, ibu ibu menjerit. hanya, apa dayaku, friend?"
  " Apakah hal ini juga diakibatkan oleh ulah orang pasar?"
 " Tak hanya mereka. Para tengkulak dan produsen, juga paling menentukan. Boleh jadi, mereka yang mengatur agar kenaikanmu seolah olah hal biasa, karena di bulan ramadhan, pemintaan terhadap bahan pokok dan tambahan melonjak tajam"
 " tapi kan tidak perlu sampai mencapai langit. Karena aku sendiri tak pernah bisa mencapai langit," keluh sang harga
 " Friend... siapa pun yang mengelola kami, jika nafsu meraup untung besarnya tak dikendalikan atau dibiarkan semakin liar, tak mungkin kami bisa mengubah hasrat mereka memperkaya diri"
 Sang Harga terdiam.
 Dia kesal, namun tak mampu mencegah keinginan liar para pencari keuntungan, yang di bulan Ramadhan dan di saat BBM disesuaikan, malah berlomba lomba membangun dunia perdagangan dengan menyetel volume dirinya sekehendak hati.
Alasan alasan mereka, jauh dari kepedulian terhadap mereka yang tak mampu. Hanya, harga sendiri juga bingung, sebab, saat semua harga semua kebutuhan melonjak, ibu ibu malah menyatakan maklum karena BBM naik dan Ramadhan tiba.
 Mestinya, ibu ibu atau siapapun yang ke pasar, menahan diri. Malah, mestinya, tak membeli dan tak berhasrat membeli apapun yang harganya mahal. Jika ibu ibu bisa dan mau melawan dengan cara tidak membeli sesuatu yang mahal, para pedagang pasti berpikir untuk menurunkan dirinya. Kenapa? Karena jika ibu ibu tak membeli, barang menjadi tidak laku. Jika tidak laku, bawang, cabe dan sejenisnya, yang akan busuk. Kalau busuk, barulah para orang pasar merasakan risiko menanggung kerugian akibat ulahnya yang menaikkan harga seenaknya.
" Akkh, kalau saja ibu ibu mau melakukan hal itu, diriku tak akan dilangitkan seenak bero oleh para pedagang, baik mereka yang hanya mengecer maupun pedagang besar yang selalu bertekad mencari keuntungan besar, tanpa mau berpartisipasi untuk mencari berkah agar orang orang miskin bisa tetap belanja." keluh sang harga, yang akhirnya hanya berharap agar ibu ibu melawan.
Tokh, tak makan daging sapi yang juga dikorupsi, tak makan ayam, tak makan barang yang harganya selangit, tak mati.
Berbuka puasa dengan makanan paling sederhana pun, tetap bermakna. Tokh bukan makan apa dan harganya berapa. Tapi, bagaimana bisa berpusa lahir dan batin agar hasrat bertaqwa direaliasikan dengan benar dan tepat sehingga sampai ke areal ibadah berdimensi taqwa.







.    

Tuesday, July 9, 2013

PANTUN : MULAI PUASA

oleh : Oesman Doblank


Jika hari ini disebut SelaSA
Esok, siapapun bilang RaBU
Jika esok kita mulai berpuaSA
Bersiaplah tuk menjaga kalBU

Puasa bukan untuk berlapar laPAR
Juga bukan untuk merasa dahaGA
Tak makan bukan untuk menggelePAR
Tapi tuk jinakan nafsu agar tak berlaGA

Jika nafsu terus berlaga dan tak henTI
Tentu saja setan bakalan jingkrak jingkRAK
Dalam haus dan lapar leluasa menjaga haTI
Agar dengan kebaikan tak lagi berjaRAK

Dengan membagi rasa kita maknai ibaDAH
Biasa makan saat berpuasa malah tak gunDAH
Jika hati bersih berbuat kebaikan itu muDAH
Tanpa berbuat buruk hidup jadi terasa inDAH

Ingat, jika tiba tiba lampu di rumah paDAM
Tak perlu gelisah apalagi merasa taKUT
Saat berbuka, jangan seperti balas denDAM
Kebanyak makan, setan malah minta iKUT

Saat berpuasa boleh saja ngebubuRIT
Hanya, nunggu magrib afdolnya bertadaRUS
Pengeluaran di bulan puasa harus lebih iRIT
Kalau semua dibeli cuma bikin dompet kuRUS

Timbang harus membeli aneka jenis masaKAN
Uangnya lebih baik digunakan untuk sedeKAH
Jika saat puasa nolong si miskin lebih diutamaKAN
Insya Allah, ibadah di Ramadhan berlimpah berKAH   









  

Sunday, July 7, 2013

PANTUN : BUKAN JENAKA

oleh : Oesman Doblank

Ketika dengar kicau burung di pagi hari
Cepatlah bangun dan segera shalat Subuh
Untuk apa ambil keputusan lakukan kawin lari
Jika merasa cinta tapi hanya dalam bentuk tubuh

Di senja berawan bolehlah siapkan payung
Agar tenang ketika pergi ke Pulogadung
Barusan bilang cinta, sekarang, kok bingung
Jangan-jangan, perut kamu sudah melendung

Ketika padi menguning menghiasi areal sawah
Sinar mentari tentu saja leluasa berkeliaran
Jika kuberi yang atas kamu minta yang bawah
Pantasnya, kubenamkan saja kamu ke comberan

Tataplah sang rembulan yang bersinar terang
Lalu nyanyikan lagu untuk bermanja manja
Kalau dulu kamu lembut sekarang jadi garang
Pasti karena aku sering mengurangi uang belanja

Di jalan tol, tak boleh mengemudi perlahan
Sampai di gerbang, tarif tol harus dibayar
Manalah mungkin rumah tangga bisa t’rus bertahan
Jika saat didera kemiskinan, kamu tak siap berlayar

Jangan sengaja berdiri di tepi jurang
Sebab, bisikan setan sangat membahayakan
Jika suami atau isteri suka licik dan curang
Percuma nikah jika di tengah jalan berantakan






Friday, July 5, 2013

CERITA BERSAMBUNG (61)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank

ENAM PULUH SATU


         Malah, ia yang diangkat sebagai Direktur Utama dan diberi kepercayaan oleh Bondan un tuk mengelola dan sekaligus mengawasi perusa haan yang telah maju dan berkembang pesat, ka rena keuletan suaminya yang sekaligus diizinkan oleh Allah meraih keberhasilan dibidang bisnis
       Hanya, untuk hal yang satu ini, Sumirah ti dak menerima dengan begitu saja tawaran dan sekaligus kepercayaan Bondan pada dirinya. Me mang,  yang diberikan kepadanya adalah jabatan paling strategis. Gaji besar dan fasilitas pun pa ling memadai. Ia yakin, jika ia langsung meneri ma tawaran dan amanah Bondan tanpa catatan dan atau permintaan, ia bebas seratus prosen dari beban ekonomi.
       Bukan berarti jika Bondan tak memenuhi permintaannya, ekonomi rumah tangganya full diwarnai kendala. Ia toh masih punya  simpanan uang di bank, juga perhiasan, yang jumlahnya lumayan besar, dan semua yang dimiliki telah jadi milik pribadinya. Semua dari suaminya dan selama perkawinannya, yang ia dapatkan dari pak Sadewa, memang untuk dan atas nama Sumi rah. Sama sekali tak ada kaitannya dengan harta yang diwasiatkan pak Sadewa kepada Bondan.
       Kini, yang akan dilakukan Sumirah hanya menunggu kabar dari Bondan. Ia yakin, Bondan dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Dan jika Bondan berhasil memecat lelaki yang tak lain adik iparnya, ia tak akan menyesal. Malah, itulah yang diharapkan. Dampaknya, bukan tak ada. Hanya, Sumirah yakin, ia dapat menyelamat kan Lasmini, adik kandungnya, yang belakangan hidupnya agak kacau, karena suaminya, setelah diangkat sebagai salah seorang Direktur di peru sahaan suaminya, telah berubah menjadi lelaki yang sangat gemar main wanita, dan juga gemar menyakiti isterinya.
       Sumirah sengaja tak mau menceritakan mengapa, Juneadi lebih baik dipecat dari kedudu kannya. Jika Bondan melakukan investigasi, ia akan bisa mengumpulkan data-data kebobrokan adik iparnya. Baik di perusahaan, mau pun di lu ar perusahaan.
       Sumirah hanya tak ingin menjadi seseorang yang mengungkap borok dan kebobrokan mental adik iparnya. Selain karena ia sangat iba pada na sib adiknya, juga tak ingin ia dituding sebagai penyebab, dicopot dan dikeluarkannya Junaedi dari jabatan dan dari perusahaan        
        Hanya, Sumirah, sangat kuatir jika Junaedi tetap bercokol. Terlebih, ia sudah merasa sebagai adik ipar dari pak Sadewa, dan ia sama sekali tak merasa almarhum suaminya sedang mempertim bangkan untuk memecatnya. Dan pasca kematian pak Sadewa, bukan tak mungkin bila Junaedi semakin berencana untuk lebih memantapkan cengkramannya. Jika hal ini dibiarkan, Sumirah yakin, perusahaan yang dibangun dan dikembang kan oleh suaminya dengan susah payah, akan hancur di situasi yang sebenarnya bisa semakin berkembang.


Bersambung.........

Thursday, July 4, 2013

CERITA BERSAMBUNG (60)

MASIH ADA JALAN
Oleh: Oesman Doblank

ENAM PULUH


          Saat itu, Sumirah merasa lebih baik dengan tulus mengijinkan.  Bukan karena ia menyadari, tapi karena ketika itu, pernikahannya pun, nyaris sama. Malah boleh dibilang serupa.  Artinya, saat menikahinya status pak Sadewa juga bukan lajang dan bukan duda. Beliau sudah beristeri dengan satu orang anak.
         Hanya, saat menikahinya Pak Sadewa  melakukannya tanpa sepengetahuan isteri pertamanya. Bukan karena ia  tak ingin jujur atau sengaja tidak mau jujur. Tapi, kejujuran dalam bentuk apapun yang dipersembahkan kepada ibu kandung Bondan yang menjadi isteri pertamanya,  tak akan diapresiasi dengan pertimbangan yang bijak. Malah, kata Pak Sadewa, tak mungkin ia diijinkan menikah dengan wanita lain.
        Pak Sadewa yakin, isteri pertamanya yang tidak pernah menghargai, jauh dari menghormati suami, dan dinilai terlalu neko neko dalam me ngayuh biduk kehidupan rumah tangga bersama pak Sadewa yang ketika itu ekonominya mulai membaik, memilih tidak mengizinkan dan ia siap melakukan apa saja, asal pak Sadewa tidak meni kah dengan  wanita lain, .          
       Sedangkan yang paling mengesankan, dan hal ini yang tak akan mungkin bisa dilupakan oleh Sumirah, keleluasaan dan kemudahan mene rima dirinya dan juga adik tirinya. Bondan sama sekali tak melihat sosoknya yang patut dibenci. Juga tak menempatkan kedua adiknya sebagai sosok, yang mengganggu kehidupannya. Paling tidak, mengganggu kemutlakan Bondan dalam menikmati harta warisan.
       Dan, sama sekali Sumirah tidak mengira, ji ka rumah yang kini masih jadi tempat tinggal ia dan anaknya – meski suaminya belum lama wafat,  yang menjadi hak mutlak Bondan karena namanyalah yang tercantum sebagai pemilik di akte, tanpa pikir panjang atau berpikir rumit, diberikan kepada Andhika.
       Duh… tak percuma, Sumirah melaksanakan amanah suaminya, yang dengan sangat mewanti-wanti padanya, saat pak Sadewa menyerahkan surat wasiat dalam sebuah amplop coklat. Kala itu, ia malah diperkenankan untuk mengetahui isi surat wasiat yang dibuat suaminya. Tapi, Sumi rah malah baru membuka amplop dan membaca surat wasiat yang dititipkan padanya.
       Sumirah sama sekali tak kecewa, meski su rat wasiat yang dibuat suaminya sebelum beliau wafat, malah tak menyebut ia dan anaknya sedi kitpun. Artinya, hanya Bondan yang mendapat kan hak atas harta pak Sadewa. Memang, bersa maan dengan itu, pak Sadewa juga mewasiatkan pada Bondan, yang harus memikirkan nasibnya dan juga kedua anaknya.
       Duuh, tak sia-sia, Sumirah melenyapkan bisi kan-bisikan nakal dan sekaligus keji, yang kala itu sangat mengganggunya. Bisikan yang menga jak Sumirah untuk menyelewengkan amanah agar peninggalan almarhum suaminya dapat ia kuasai sendiri. Hasilnya, ternyata adalah kegem biraan dan kebahagiaan tak terhingga, seperti yang ia rasakan saat ini.

Bersambung………







CERITA BERSAMBUNG (59)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank


LIMA PULUH SEMBILAN


          Pada akhirnya, Bondan memutuskan untuk melakukan apa yang memang perlu dia lakukan. Dan, Sumarni tak hanya berharap. Ia juga dibuat terkejut. Sama sekali tak menyangka, jika Bon dan, lantas memintanya untuk segera ke notaris Sumirah diminta untuk mengurus proses balik na ma rumah yang kini ditinggalinya. Bondan berha rap, setelah nama pemiliknya berubah dari Bon dan menjadi Andhika – nama adik tirinya, mere ka akan lebih leluasa menempatinya.
         Jika tak segera membuat akte balik nama, Bondan malah kuatir, kelak pikirannya berubah dan malah berniat mengambilnya kembali. Un tuk itu, Bondan mendorong agar urusan mengu bah nama pemilik rumah dari Bondan ke An dhika, diurus secepatnya.   
         Sumirah sekali tak tersinggung apa lagi kecewa. Malah, saat Bondan mengatakan, se benarnya ia ingin nama pemilik rumah yang dihibahkan kepada Sumirah, dalam akte, dirubah dari Bondan ke Sumirah. Hanya, ia kuatir, suatu saat, Sumirah menikah lagi dengan pria lain. Jika hal itu terjadi, apapun risikonya, Bondan lebih berani menggugat untuk mengambil kembali rumahnya dari tangan Sumirah. Sebab, Bondan tak ingin, jika kekuatirannya terbukti, adik-adik tirinya jadi korban.
        Sebab, bisa saja, suami baru Sumirah, nantinya menguasai rumah itu, semisal di akte ke pemilikan rumah, nama yang tercantum sebagai pemilik, bukan Andhika. Tapi, Sumirah. 
       Sumirah malah tertawa.
       Ia suka, blak-blakan ala Bondan. Terbuka tapi tak menyakitkan. Blak-blakan tapi malah membuatnya segar. Sikap dan sifat yang tak jauh beda dengan suaminya. Dan, itu sebabnya, Sumi rah berkenan diajak ke pelaminan, meski untuk itu, ia mengawali perkawinannya dengan berma cam gangguan. Sebab,  isteri pak Sadewa yang tak lain ibu kandung Bondan, kerap menterornya
        Namun, dari situ pula, Sumirah makin pa ham, mengapa pak Sadewa memilih kawin lagi. Dan, beliau merasa sangat beruntung. Akhirnya, bertemu juga dengan wanita yang diinginkan Bukan berarti tak menginginkan isteri pertama nya. Hanya, ibu kandung Bondan, tak ingin kesederhanaan, terlebih merasa dijerat kemiski nan.
         Yang juga disukai Sumirah dari putra sema ta wayang suaminya dengan isteri pertama, ia tak sebatas bisa menerima semua yang terjadi dan sama sekali tak memperlihatkan rasa sakit hati, terlebih membenci. Malah, ketulusan Bondan me nerima kenyataan, terlihat sangat jelas. Seolah ketulusan yang bersemayam di hatinya, tanpa ti rai. Sedemikian transparan.
         Di dalamnya, tak nampak benang setipis apapun yang menyimbolkan kepura-puraan terle bih lebih dari itu. Merekayasa diri misalnya, Sumirah percaya, kalau Bondan, seolah-olah nrimo tapi lubuk hatinya menolak
       Sangat identik dengan pak Sadewa, almar hum suaminya. Menurut Sumirah, sifat dan sikap anak tirinya, tak lain foto copy dari ayahnya, yang juga seperti itu. Paling mengesankan saat pak Sadewa mengatakan dengan jujur kalau ia akan menikah lagi.
         Saat itu, Sumirah tak saja merasa, yang dikatakan suaminya – ingin menikah lagi, adalah kejujuran yang jarang melekat pada diri suami yang entah dengan alasan apa, berniat menikah lagi. Ia nyaris tak percaya, jika pada akhirnya, malah Sumirah sendiri yang datang, melamar. Meminang dan dengan lapang dada, Sumirah menyaksikan akad nikah suaminya dengan wani ta lain.

Bersambung…………..


Tuesday, July 2, 2013

CERITA BERSAMBUNG (58)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA PULUH DELAPAN


Hanya, Bondan merasa punya hak untuk tidak memperhatikan secara mendalam. Artinya, Bondan tidak akan memenuhi berbagai kebutu han – terlebih kemauan ibu tirinya, karena jika ibu tirinya memilih untuk menikah dengan lelaki lain, suaminyalah yang paling berhak bertang gung jawab, mulai dari memberi nafkah sampai ke berbagai kebutuhan lainnya
Jika sebaliknya, tentu saja yang akan dila kukan Bondan harus ia konkritkan. Bondan ikh las, rumah atas namanya – di balik nama dan diganti atas nama adik tirinya, sebagai pemilik. Lalu, rumah yang kini masih ditempati oleh ibu tiri dan dua adik tirinya, ia serahkan ke Sumirah, agar ibu tiri dan kedua adik tirinya merasa lebih nyaman tinggal di rumah itu.
Lalu, Bondan akan meminta agar ibu tiri nya yang dulu sekretaris pribadi ayahnya, kemba li ke perusahaan. Selain ia angkat dan tugaskan sebagai Direktur Utama, juga diberi kepercayaan penuh, mengelola perusahaan yang diwariskan oleh ayahnya, tanpa meninggalkan kewajiban membuat laporan lisan dan tertulis secara berkala dan priodik.
Bondan sendiri, tak kepincut untuk langsung mengambil alih PT Juwita Permai, yang ternyata berhasil membangun bisnis kelapa sawit, ekspor impor hasil bumi dan pemba ngunan perumahan. Bondan yakin, ibu tirinya yang mantan sekretaris di perusahaan dan masih secara intensif mengikuti perkembangan perusa haan, mampu melaksanakan tugas dan memang gul beban amanah yang diberikan kepadanya
Dan dengan jabatannya, ibu tirinya tak sebatas berpeluang dan bisa membangun, me ngembangkan dan membuatnya lebih maju lagi. Tapi, sekaligus bisa mengontrol dan menjadikan nya sebagai asset yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup.
Hanya, Bondan tak menyangka jika Su mirah malah menolak diangkat jadi Dirut, kecu ali Bondan memecat salah seorang Direktur yang menurut Sumirah, lebih layak diberhentikan tim bang dipertahankan. Tapi Sumirah tak mengung kap mengapa orang tersebut harus diberhentikan dan kenapa Sumirah malah tidak mau terima jabatan, bila orang yang dimaksud tetap dibiar kan bekerja dan tetap ikut berperan mengembang kan perusahaan yang tak lain milik mereka juga
“Saya bukan tidak ingin mengungkap me ngapa dia harus diberhentikan. Hanya, saya tak akan sanggup melaksanakan tugas sebagai Direk tur Utama, jika yang bersangkutan masih tetap dipertahankan “
“Tapi memberhentikan seseorang, terlebih dia salah seorang direktur, harus ada dasar dan alasan yang kuat. Belum lagi, kita pun harus memikirkan dampaknya. Belum lagi dampak yang berkaitan langsung dengan nasib anak dan isterinya “
“Itu sebabnya saya menolak diangkat jadi Dirut. Jika saya menerima tanpa catatan, berarti saya tak memikirkan nasib isteri dan anak-anak nya “
Bondan tercenung. Tapi, sama sekali tidak bingung. Bondan justru berkesempatan mere nung dan ia yang akhirnya kepingin tahu, punya alasan yang kuat untuk mengungkap sejelas-je lasnya, mengapa Sumirah, bisa lebih rela tidak mendapatkan status dan atau jabatan sebagai Di rektur Utama, daripada ia harus selalu bertemu dan selalu bersama, seatap dengan orang itu di pe rusahaan.
“Ibu tidak keberatan jika sebelum me ngambil keputusan, saya mencari tahu terlebih dahulu semua hal yang perlu saya ketahui agar saya punya alasan kuat untuk memberhentikan seseorang dari perusahaan kita ?”
“Kalau menurutmu yang terbaik adalah melakukan hal yang ingin kamu ketahui, ibu kira kamu harus sesegera mungkin melakukannya. Ji ka tidak, dipaksapun dan dengan argumentasi seperti apapun, ibu memilih lebih baik melamar kerja di perusahaan lain “
“ Saya hanya berharap, tidak menemukan indikasi adanya permusuhan antara ibu dengan dia, atau hal lain yang bersifat pribadi. Bukan sa ya tak suka. Hanya, sulit bagi saya melakukan tindakan tegas, jika unsurnya tidak rasional”
“Ibu suka dengan cara berfikir dan prinsip kamu. Kenapa? Karena sifat ayah kamu juga be gitu. Hanya, almarhum tidak bisa mengambil ke putusan dengan cepat. Jadi, belum memecat su dah lebih dahulu wafat “
“Jadi, ayah juga tahu persoalan orang ini?”
“Bukan sekedar tahu. Bahkan, banyak yang beliau ketahui. Cuma, berpikir saat akan me ngambil keputusan, terlalu lama. Terlalu dalam menimbang “



Bersambung........