Tuesday, July 16, 2013

MUDIK APA NGGAK USAH MUDIK YA (2)

oleh : Oesman Doblank


       TARIKAN nafas Bejo yang panjang menandakan kebingungannya makin meningkat.
Emon bukan tidak iba. Hanya, meski ibanya diterang-jelaskan sehingga kadarnya mencapai seratus prosen dan ikhlas, tetap saja hanya sebatas iba. Pasalnya, Emon yakin kalau dirinya tidak bisa membantu. 
       Memang, meski nganggur, Emon tetap mencari uang dengan memanfaatkan sepeda motor kreditannya yang bulan depan lunas. Cuma, penghasilan dari ngojek nggak pernah bisa dipastikan. Saking banyaknya pengojek, setiap operasional, paling banyak Emon mengantongi tujuh puluh ribu rupiah. Itu pun kotor. Karena setelahnya harus kembali mengisi premium, yang harganya sudah disesuaikan menurut sudut pandang pemnerintah. 
      Kalau saja harga BBM disesuaikan menurut kepentingan dan kebutuhan masyarakat, mesti harganya memang sudah harus disesuaikan, tapi harganya tidak lebih tinggi. Tapi, malah lebih rendah. Setidaknya, dari empat ribu lima ratus jadi empat ribu saja. Jika seperti itu, layak dikatakan masyarakat sudah mendapatkan subsidi
      Cuma, kata Emon dalam hati, mengapa harus premium yang dikaitkan dengan duka nestapa Bejo, yang meskipun lebaran masih cukup lama tapi pusingnya sudah diaplikasikan saat ini. 
      " Kamu sendir, yakin lebaran nanti harus pulang?" Tanya Emon
      " Wah.. kamu pikir soal mudik lebaran harus diaplikasikan berdasarkan keyakinan? Emon.. Emon... kamu tuh sangat besar dalam kekeliruan dan sangat keliru dalam kebesaran. Sebab, tanpa keyakinan setiap perantau itu selalu mudik saat lebaran dan budaya mudik tidak mungkin bisa dilenyapkan, meski setiap tahun jalan di pantura nggak pernah beres dan membuat para pemudik selalu dipersembahkan ketidaknyamanan dalam perjalanan," tutur Bejo, yang meski belum bebas dari bingung tapi tetap bisa bicara panjang lebar
      " Begini saja," tukas Emon yang baru saja manggut manggut
      "Begini bagaimana?" Tanya Bejo yang berubah jadi optimis karena mengira Emon sudah punya solusi
      Dengan cepat Emon menyahut
      " Bagaimana kalau lebaran kali ini, kamu tidak usah mudik. Pertimbangannya, kan jelas, Kamu tidak punya uang, " kata Emon tanpa bermaksud menghalangi niat Bejo
      Tentu saja Bejo langsung tercengang
      "Jadi kamu punya niat untuk tidak mempertemukanku dengan keluarga dan kampung halaman yang kamu bilang boleh jadi merindukanku?" Kata Bejo, yang nampaknya menahan kesal, karena tak suka dengan opsi yang baru saja dikatakan Emon
      " Maksudku bukan begitu, Jo," Emon berusaha ingin menjelaskan lebih lanjut agar Bejo mengerti maksud sebenarnya
      " Maksud kamu, tidak berniat menghalangiku mudik lebaran ke kampung?"
      "Pasti seperti itu, Jo, Hanya, marilah kita berpikir secara rasional. Artinya, mudik itu kan, tak hanya butuh biaya. Tapi juga butuh mental dan kesehatan yang mantap. Sebab, bukan tak mungkin terhambat macet panjang yang makan waktu berjam jam dan membuat kamu bisa kesal karena mau cepat sampai tapi malah dihambat oleh jalan yang tidak pernah bagus dan kemacetan total yang tak bisa dihindari"
      " Emoooon... Emooon.. justeru di situlah indahnya mudik ke kampung halaman saat lebaran. Kalau jalan tidak rusak di saat arus mudik berlangsung, sama artinya kita tidak tinggal di Indonesia, Mon. Ini Indonesia, Mon. Bagaimana pun ini negeri kita dan wajar kalau jalanan rusak, karena proyek pembuatan dan pemeliharaan jalan itu dananya cukup besar. Kalau jalan dibuat bagus menurut standar biaya yang dianggarkan, kan daya tahannya bisa sepuluh tahun. Lantas, apa yang akan dikerjakan oleh mereka yang selalu berharap jalan rusak agar bisa diperbaiki?"
     " Oooh... begitu, Jo"
     " Yaa... begitu. Kalau tidak begitu, nggak mungkin jadi pemberitaan media. Sebab, jika perjalanan mudik lebaran lancar, justeru jadi tidak menarik untuk diberitakan. Soalnya, tidak ada masalah. Makanya selalu diberitakan, kan macet dan jalan rusak selalu jadi masalah. Hanya, buat apa memikirkan masalah klasik, Mon. Bukankah masalahku belum bisa di atasi?" Kata Bejo
     Emon garuk garuk kepalanya yang memang gatal karena berketombe.
     " Mon... kamu kan temanku. Tolong aku Mon... Ingat Mon, menolong teman yang sedang dalam kesulitan pahalanya itu besar, Mon, dan bisa dijadikan bekal untuk ke surga" Bejo kembali berkicau karena Emon malah garuk garuk kepalanya yang berketombe
     Lantaran Emon kepingin banget membantu Bejo yang rindu kampung halaman, ia pun terpaksa memberanikan diri mengatakan hal ini
     " Jo...," ujar Emon
     " Nanti, jika jelang kamu mudik tetap tak punya uang, kita gadaikan motorku. Nah, jika bisa dapat lima juta, uangnya kita bagi dua. Hanya, setelah hari raya kamu harus mengembalikan agar aku bisa nebus motorku kembali dan tetap bisa ngojek. Kamu setuju, kan?" 
     Bejo tercengang. Tak menyangka kalau Emon mau mengambil keputusan seperti itu.
     Dan, sejenak kemudian, Bejo langsung merangkul Emon sambil menangis sesenggukan karena dia merasa terharu. Bejo tak menyangka jika Emon, rela menggadaikan sepeda motornya untuk biaya mudik lebaran yang dirindukan Bejo.
     Sembari sesenggukan, Bejo yang masih memeluk Emon, mengatakan, setelah ia kembali ke Jakarta akan segera membayar agar Emon bisa  menebus motornya yang digadaikan dan bisa kembali ngojek.
    Hanya, Bejo tak menyebutkan, kalau di kampungnya dia punya dua ekor sapi. Rencananya, Bejo akan menjual seekor sapinya karena kebaikan dan perhatian Emon harus dibalas dengan hal yang sama. Bukankah elok jika bisa membalas kebaikan dengan hal yang sama?









Sunday, July 14, 2013

MUDIK APA NGGAK MUDIK YAA?

oleh : Oesman Doblank


           KALAU ngeliat Bejo lagi bingung ples pusing, kasiiiiiiiiiiian banget. Soalnye, gak disapa kuatir dibilang sombong dan nggak punya kepedulian sama friend. Tapi, kalau disapa, biasanya dia malah ngambek. Nah, kalau Bejo udeh ngambek, kayaknye ngerepotin. Soalnya, die pasti langsung nraktir. Semisal lagi nggak punya doku, Bejo rela ngejual ape aje supaya bisa mengekpresikan ngambeknye dengan mentraktir.
          Terakhir, Bejo ngejual BBnya karena waktu die ngambek, Emon nyang lagi lapar sengaja negor. eeeeh. meski kepengen makan, Emon jadi malah repot. Soalnye, traktiran Bejo juga ngerepotin. Gimane nggak ngerepotin kalo semua yang die beli mesti diembat abis. Kalau nggak diabisin, die ngancem, nggak akan mau ngambek lagi dan itu berarti Bejo nggak bersedia nraktir lagi.
         Tapi, sekarang eni, Emon malah bingung. Soalnya, Bejo kelihatan bingun lantaran pusing bukan di bada Maghrib. Tapi, pas baru Dzuhur. Syet, dah, nggak mungkin donk kalau lagi puasa mesti buka, lantaran kalau negor Bejo dia pasti nraktir dan die nggak peduli apakah di bulan Ramadan atau bukan bulan puasa.
         Makanya, Emon ambil keputusan kagak mau negor Bejo.
         Apa yang terjadi? Yaa, begitulah, tanpa tedeng aling aling Bejo nuding Emon sebagai seseorang yang somse sekali dan kagak punya kepedulian.
         " Sampeyan kalau nggak mau berkawan dengan saya, bilang aja terus terang," ujar Bejo
         " Siapa yang tidak mau berteman dengan kamu lagi," sahut Emon yang terpaksa nyetop langkah lantaran Bejo memperlihatkan hasrat memprotes dirinya
         " Buktinya, kamu sudah tidak negur saya lagi. Padahal, saya berdiri di sini dan kamu pasti melihat dengan jelas sosok saya. Jadi, salahkah kalau saya bilang kamu somse sekali?"
        " Yaa udah," kata Emon, yang nggak mau menyinggung perasaan Bejo yang mulai sensi
          "Sekarang, apa yang harus saya lakukan agar sampeyan tidak kelihatan bingung dan cepet cepet bebas dari pusing"
        " Saya ini, kan punya kampung halaman. Meski di kampung, rumah saya nggak punya halaman, kan kampung halaman nggak boleh dilupakan. Jadi, bagaimana caranya agar saya bisa tidak pulang tapi bisa bebas dari keinginan ketemu sama orangtua dan keluarga saya?"
       Mendengar hal ini, Emon jelas kaget
       "Heii biasanya kan kamu pulang. Hari raya kali ini pun harus menjenguk kampung halaman. Bagaimana coba, kalau yang rindu sama kamu selain orangtua dan keluarga kamu, juga kampung halaman kamu. Memangnya kamu tidak iba pada kampung halaman yang merindukan kamu." tukas Emon
      "Iyaa.. tapi saya sedang belum punya duit. Bulan ini juga belum tentu gajian, lantaran perusahaan tempat saya bekerja sedang jatuh pailit. Sedangkan kalau saya berleberan di kampung, nggak mungkin bisa hepi kalau bokek"
       "Jadi?" Emon Tercengang.
       "Kamu sedang tidak punya duit tapi kepingin lebaran di kampung dan untuk itu hari gini kamu sudah bingung?"
      " Lhooo... kapan lagi saya harus bingung? Kalau bingungnya pas dekat dengan lebaran, kan makin membingungkan karena makin sulit cari jalan ke luar. Jadi, saya sudah memutuskan untuk bingung sekarang. Pertama, agar kamu bersedia membantu. Kedua, agar kamu memberi solusi supaya di saat hari raya saya bisa berlebaran di kampung, bersama sanak saudara dan kerabat di sana"
      " Hadddduuuuuuuh...Bejooo.. Bejoooo... Saya ini bukan motivator atau pemberi solusi terbaik. Lagian, kamu kan tau, saya sudah tiga bulan nganggur, dan selama nganggur cuma ngojek. Jadi, bagaimana mungkin saya bisa membantu," Emon terpaksa harus berterus terang
      Bejo menarik nafas.
      Penulis menarik kesimpulan untuk berlanjut di bagian dua   










Thursday, July 11, 2013

BALLADA SANG HARGA

oleh : Oesman Doblank

       Bagaimana mungkin jengkol nggak kaget. Saat sedang menari riang, musik yang semula berdentam mendadak koit. Begitu sang Jengkol menoleh ke pusat suara, sesosok mahluk yang kayaknya baru mematikan tape recorder, berdiri dan memandang dirinya dengan sinis.
       " Siapa anda dan mengapa datang tak memberi salam tapi berani mematikan musik kegemaran saya?" Tanya Sang Jengkol, yang kalau semula kaget kini nampak kesal.
       " Jangan kamu teruskan tarian jika hanya untuk bersenang senang di atas penderitaan masyarakat," ujar sang mahluk yang setelah mengingatkan lantas menyebut siapa dirinya.
      " Lhoo.. aku mau menari  atau menangis pilu, bukan urusanmu. Dan, mengapa pula kau peduli dengan masyarakat?" Kata Jengkol
      " Bagaimana mungkin aku bisa cuwek, jika kau tiba tiba berulah? Bukankah kau memakai namaku tapi saat menaikkan peringkat tak kompromi lagi denganku?"
     " Wah..wah...wah... kamu jangan menyalahkan aku. Peringkatku naik menjadi enam sampai tujuh puluh ribu bukan karena keinginanku. Tapi, keinginan mereka yang menguasai areal pasar. Jadi, ketika mereka melakukannya, aku malah kecewa. Cuma, apa dayaku bila orang orang pasar sangat berkuasa dan memang selalu bertindak semaunya"
    " Jadi, ketika dinaikkan dan aku dikaitkan, kamu kecewa?"
    "Friend... bagaimana mungkin aku bisa gembira? Jika aku distabilkan, orang orang kecil berpenghasilan rendah, bisa dengan mudah menjamahku. Menikmatiku, dan aku sangat senang karena orang kecil leluasa menikmati rasaku, yang walaupun mereka dengan terus terang mengatakan aku bau, tapi tak pernah malu mengatakan suka makan jengkol.  Sebaliknya, aku tak suka pada mereka yang berlimpah uang, sebab, mereka selalu melecehkanku dan kerap sok tidak suka. Padahal, diam diam mereka tak hanya menikmatiku Sebab, saat peringkatku dinaikkan, hanya mereka yang dengan malu tapi hobi, mampu membeli dan menjamahku"
    " Bisa aku percaya apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Sang Harga
    Jengkol bahkan berani bersumpah dengan mengatakan rela dirinya disambar petir sehingga di masa penen berikutnya tak ada lagi tumbuh buah jengkol jika semua pohon jengkol tumbang atau terbakar.
    " Boleh kutahu mengapa yang lain, tanpa sepengetahuanku juga ikut menaikkan peringkatnya dan membuat masyarakat menjerit dan disaat seperti itu, selalu aku yang disalahkan. Bahkan, ada yang mengatakan aku sombong, karena jika sudah naik aku tak pernah bersedia turun. Padahal, aku bukan pejabat, dan juga bukan penguasa yang maunya naik tapi malas turun"
   Jengkol berpikir sejenak. Lalu, menarik nafas panjang. Baru kemudian dia menjelaskan.
   Menurutnya, yang lain ikutan naik karena pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM.
   " Saat itu aku justeru tidak setuju diriku dinaikkan," sahut sang Harga
   "Nyatanya, premium tetap naik dan kenaikan itu membuat yang lain punya alasan untuk menyesuaikan situasi dan kondisi karena angkutan jadi mahal," kata sang jengkol/
   " Aku tak suka alasan klasik seperti itu." sergah sang harga.
   " Kau boleh tak suka. Nyatanya, di awal Ramadhan rekan rekanku malah berlomba lomba menaikan peringkat. Daging sapi, misalnya. Juga ayam, di bulan suci, bukan mencari berkah dan hikmah malah berebut menaikkan peringkat. Aku juga dengar dan lihat, ibu ibu menjerit. hanya, apa dayaku, friend?"
  " Apakah hal ini juga diakibatkan oleh ulah orang pasar?"
 " Tak hanya mereka. Para tengkulak dan produsen, juga paling menentukan. Boleh jadi, mereka yang mengatur agar kenaikanmu seolah olah hal biasa, karena di bulan ramadhan, pemintaan terhadap bahan pokok dan tambahan melonjak tajam"
 " tapi kan tidak perlu sampai mencapai langit. Karena aku sendiri tak pernah bisa mencapai langit," keluh sang harga
 " Friend... siapa pun yang mengelola kami, jika nafsu meraup untung besarnya tak dikendalikan atau dibiarkan semakin liar, tak mungkin kami bisa mengubah hasrat mereka memperkaya diri"
 Sang Harga terdiam.
 Dia kesal, namun tak mampu mencegah keinginan liar para pencari keuntungan, yang di bulan Ramadhan dan di saat BBM disesuaikan, malah berlomba lomba membangun dunia perdagangan dengan menyetel volume dirinya sekehendak hati.
Alasan alasan mereka, jauh dari kepedulian terhadap mereka yang tak mampu. Hanya, harga sendiri juga bingung, sebab, saat semua harga semua kebutuhan melonjak, ibu ibu malah menyatakan maklum karena BBM naik dan Ramadhan tiba.
 Mestinya, ibu ibu atau siapapun yang ke pasar, menahan diri. Malah, mestinya, tak membeli dan tak berhasrat membeli apapun yang harganya mahal. Jika ibu ibu bisa dan mau melawan dengan cara tidak membeli sesuatu yang mahal, para pedagang pasti berpikir untuk menurunkan dirinya. Kenapa? Karena jika ibu ibu tak membeli, barang menjadi tidak laku. Jika tidak laku, bawang, cabe dan sejenisnya, yang akan busuk. Kalau busuk, barulah para orang pasar merasakan risiko menanggung kerugian akibat ulahnya yang menaikkan harga seenaknya.
" Akkh, kalau saja ibu ibu mau melakukan hal itu, diriku tak akan dilangitkan seenak bero oleh para pedagang, baik mereka yang hanya mengecer maupun pedagang besar yang selalu bertekad mencari keuntungan besar, tanpa mau berpartisipasi untuk mencari berkah agar orang orang miskin bisa tetap belanja." keluh sang harga, yang akhirnya hanya berharap agar ibu ibu melawan.
Tokh, tak makan daging sapi yang juga dikorupsi, tak makan ayam, tak makan barang yang harganya selangit, tak mati.
Berbuka puasa dengan makanan paling sederhana pun, tetap bermakna. Tokh bukan makan apa dan harganya berapa. Tapi, bagaimana bisa berpusa lahir dan batin agar hasrat bertaqwa direaliasikan dengan benar dan tepat sehingga sampai ke areal ibadah berdimensi taqwa.







.    

Tuesday, July 9, 2013

PANTUN : MULAI PUASA

oleh : Oesman Doblank


Jika hari ini disebut SelaSA
Esok, siapapun bilang RaBU
Jika esok kita mulai berpuaSA
Bersiaplah tuk menjaga kalBU

Puasa bukan untuk berlapar laPAR
Juga bukan untuk merasa dahaGA
Tak makan bukan untuk menggelePAR
Tapi tuk jinakan nafsu agar tak berlaGA

Jika nafsu terus berlaga dan tak henTI
Tentu saja setan bakalan jingkrak jingkRAK
Dalam haus dan lapar leluasa menjaga haTI
Agar dengan kebaikan tak lagi berjaRAK

Dengan membagi rasa kita maknai ibaDAH
Biasa makan saat berpuasa malah tak gunDAH
Jika hati bersih berbuat kebaikan itu muDAH
Tanpa berbuat buruk hidup jadi terasa inDAH

Ingat, jika tiba tiba lampu di rumah paDAM
Tak perlu gelisah apalagi merasa taKUT
Saat berbuka, jangan seperti balas denDAM
Kebanyak makan, setan malah minta iKUT

Saat berpuasa boleh saja ngebubuRIT
Hanya, nunggu magrib afdolnya bertadaRUS
Pengeluaran di bulan puasa harus lebih iRIT
Kalau semua dibeli cuma bikin dompet kuRUS

Timbang harus membeli aneka jenis masaKAN
Uangnya lebih baik digunakan untuk sedeKAH
Jika saat puasa nolong si miskin lebih diutamaKAN
Insya Allah, ibadah di Ramadhan berlimpah berKAH   









  

Sunday, July 7, 2013

PANTUN : BUKAN JENAKA

oleh : Oesman Doblank

Ketika dengar kicau burung di pagi hari
Cepatlah bangun dan segera shalat Subuh
Untuk apa ambil keputusan lakukan kawin lari
Jika merasa cinta tapi hanya dalam bentuk tubuh

Di senja berawan bolehlah siapkan payung
Agar tenang ketika pergi ke Pulogadung
Barusan bilang cinta, sekarang, kok bingung
Jangan-jangan, perut kamu sudah melendung

Ketika padi menguning menghiasi areal sawah
Sinar mentari tentu saja leluasa berkeliaran
Jika kuberi yang atas kamu minta yang bawah
Pantasnya, kubenamkan saja kamu ke comberan

Tataplah sang rembulan yang bersinar terang
Lalu nyanyikan lagu untuk bermanja manja
Kalau dulu kamu lembut sekarang jadi garang
Pasti karena aku sering mengurangi uang belanja

Di jalan tol, tak boleh mengemudi perlahan
Sampai di gerbang, tarif tol harus dibayar
Manalah mungkin rumah tangga bisa t’rus bertahan
Jika saat didera kemiskinan, kamu tak siap berlayar

Jangan sengaja berdiri di tepi jurang
Sebab, bisikan setan sangat membahayakan
Jika suami atau isteri suka licik dan curang
Percuma nikah jika di tengah jalan berantakan






Friday, July 5, 2013

CERITA BERSAMBUNG (61)

MASIH ADA JALAN
Oleh : Oesman Doblank

ENAM PULUH SATU


         Malah, ia yang diangkat sebagai Direktur Utama dan diberi kepercayaan oleh Bondan un tuk mengelola dan sekaligus mengawasi perusa haan yang telah maju dan berkembang pesat, ka rena keuletan suaminya yang sekaligus diizinkan oleh Allah meraih keberhasilan dibidang bisnis
       Hanya, untuk hal yang satu ini, Sumirah ti dak menerima dengan begitu saja tawaran dan sekaligus kepercayaan Bondan pada dirinya. Me mang,  yang diberikan kepadanya adalah jabatan paling strategis. Gaji besar dan fasilitas pun pa ling memadai. Ia yakin, jika ia langsung meneri ma tawaran dan amanah Bondan tanpa catatan dan atau permintaan, ia bebas seratus prosen dari beban ekonomi.
       Bukan berarti jika Bondan tak memenuhi permintaannya, ekonomi rumah tangganya full diwarnai kendala. Ia toh masih punya  simpanan uang di bank, juga perhiasan, yang jumlahnya lumayan besar, dan semua yang dimiliki telah jadi milik pribadinya. Semua dari suaminya dan selama perkawinannya, yang ia dapatkan dari pak Sadewa, memang untuk dan atas nama Sumi rah. Sama sekali tak ada kaitannya dengan harta yang diwasiatkan pak Sadewa kepada Bondan.
       Kini, yang akan dilakukan Sumirah hanya menunggu kabar dari Bondan. Ia yakin, Bondan dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Dan jika Bondan berhasil memecat lelaki yang tak lain adik iparnya, ia tak akan menyesal. Malah, itulah yang diharapkan. Dampaknya, bukan tak ada. Hanya, Sumirah yakin, ia dapat menyelamat kan Lasmini, adik kandungnya, yang belakangan hidupnya agak kacau, karena suaminya, setelah diangkat sebagai salah seorang Direktur di peru sahaan suaminya, telah berubah menjadi lelaki yang sangat gemar main wanita, dan juga gemar menyakiti isterinya.
       Sumirah sengaja tak mau menceritakan mengapa, Juneadi lebih baik dipecat dari kedudu kannya. Jika Bondan melakukan investigasi, ia akan bisa mengumpulkan data-data kebobrokan adik iparnya. Baik di perusahaan, mau pun di lu ar perusahaan.
       Sumirah hanya tak ingin menjadi seseorang yang mengungkap borok dan kebobrokan mental adik iparnya. Selain karena ia sangat iba pada na sib adiknya, juga tak ingin ia dituding sebagai penyebab, dicopot dan dikeluarkannya Junaedi dari jabatan dan dari perusahaan        
        Hanya, Sumirah, sangat kuatir jika Junaedi tetap bercokol. Terlebih, ia sudah merasa sebagai adik ipar dari pak Sadewa, dan ia sama sekali tak merasa almarhum suaminya sedang mempertim bangkan untuk memecatnya. Dan pasca kematian pak Sadewa, bukan tak mungkin bila Junaedi semakin berencana untuk lebih memantapkan cengkramannya. Jika hal ini dibiarkan, Sumirah yakin, perusahaan yang dibangun dan dikembang kan oleh suaminya dengan susah payah, akan hancur di situasi yang sebenarnya bisa semakin berkembang.


Bersambung.........

Thursday, July 4, 2013

CERITA BERSAMBUNG (60)

MASIH ADA JALAN
Oleh: Oesman Doblank

ENAM PULUH


          Saat itu, Sumirah merasa lebih baik dengan tulus mengijinkan.  Bukan karena ia menyadari, tapi karena ketika itu, pernikahannya pun, nyaris sama. Malah boleh dibilang serupa.  Artinya, saat menikahinya status pak Sadewa juga bukan lajang dan bukan duda. Beliau sudah beristeri dengan satu orang anak.
         Hanya, saat menikahinya Pak Sadewa  melakukannya tanpa sepengetahuan isteri pertamanya. Bukan karena ia  tak ingin jujur atau sengaja tidak mau jujur. Tapi, kejujuran dalam bentuk apapun yang dipersembahkan kepada ibu kandung Bondan yang menjadi isteri pertamanya,  tak akan diapresiasi dengan pertimbangan yang bijak. Malah, kata Pak Sadewa, tak mungkin ia diijinkan menikah dengan wanita lain.
        Pak Sadewa yakin, isteri pertamanya yang tidak pernah menghargai, jauh dari menghormati suami, dan dinilai terlalu neko neko dalam me ngayuh biduk kehidupan rumah tangga bersama pak Sadewa yang ketika itu ekonominya mulai membaik, memilih tidak mengizinkan dan ia siap melakukan apa saja, asal pak Sadewa tidak meni kah dengan  wanita lain, .          
       Sedangkan yang paling mengesankan, dan hal ini yang tak akan mungkin bisa dilupakan oleh Sumirah, keleluasaan dan kemudahan mene rima dirinya dan juga adik tirinya. Bondan sama sekali tak melihat sosoknya yang patut dibenci. Juga tak menempatkan kedua adiknya sebagai sosok, yang mengganggu kehidupannya. Paling tidak, mengganggu kemutlakan Bondan dalam menikmati harta warisan.
       Dan, sama sekali Sumirah tidak mengira, ji ka rumah yang kini masih jadi tempat tinggal ia dan anaknya – meski suaminya belum lama wafat,  yang menjadi hak mutlak Bondan karena namanyalah yang tercantum sebagai pemilik di akte, tanpa pikir panjang atau berpikir rumit, diberikan kepada Andhika.
       Duh… tak percuma, Sumirah melaksanakan amanah suaminya, yang dengan sangat mewanti-wanti padanya, saat pak Sadewa menyerahkan surat wasiat dalam sebuah amplop coklat. Kala itu, ia malah diperkenankan untuk mengetahui isi surat wasiat yang dibuat suaminya. Tapi, Sumi rah malah baru membuka amplop dan membaca surat wasiat yang dititipkan padanya.
       Sumirah sama sekali tak kecewa, meski su rat wasiat yang dibuat suaminya sebelum beliau wafat, malah tak menyebut ia dan anaknya sedi kitpun. Artinya, hanya Bondan yang mendapat kan hak atas harta pak Sadewa. Memang, bersa maan dengan itu, pak Sadewa juga mewasiatkan pada Bondan, yang harus memikirkan nasibnya dan juga kedua anaknya.
       Duuh, tak sia-sia, Sumirah melenyapkan bisi kan-bisikan nakal dan sekaligus keji, yang kala itu sangat mengganggunya. Bisikan yang menga jak Sumirah untuk menyelewengkan amanah agar peninggalan almarhum suaminya dapat ia kuasai sendiri. Hasilnya, ternyata adalah kegem biraan dan kebahagiaan tak terhingga, seperti yang ia rasakan saat ini.

Bersambung………