Wednesday, July 17, 2013

NGGAK MAU IKUTAN LEBARAN

oleh : Oesman Doblank


           Kayaknye, lebaran udeh makinan deket, deh. Pusat perbelanjaan, bukan mulai rame. Tapi udeh mulai makin rame. Makin banyak yang berdatengan makin banyak juga nyang ditawarkan. Soalnya, selain datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan Lebaran, juga banyak yang datang khusus untuk berbuka puasa. Cuma, jangan harap ada yang datang ke sana khusus untuk buka baju dan plorotin celana. Kalau hal itu dilakukan di muka umum dan bukan di toilet, petugas keamanan pasti ditangkap, eh, menangkap alias mengamankan. Setelah diinterogasi sejenak, langsung di eksport ke Rumah Sakit Jiwa.
          Cuma, tak seorang pun satpam di pusat perbelanjaan yang berani membawa HARGA ke rumah sakit jiwa, baik ke RSJ yang terdekat - Grogol, maupun yang tidak dekat tapi hanya cukup jauh - Bogor. Padahal, jauh jauh hari, HARGA sudah mengumumkan dengan blak blakan kalau dirinya hanya memeriahkan, mengeruk sebanyak banyaknya keuntungan, membangun fenomena tapi sangat tidak menikmati ikut apalagi memeriahkan dan menikmati lebaran
          "Kenapa lo gak mau ikut Lebaran?" Tanya si MAHAL hal yang belum tahu apakah dia benar bertanya seperti itu sedangkan dirinya belum memutuskan ikut atau tidak menikmati lebaran
          Setelah memperhatikan seorang ibu yang kayaknya sedih karena duitnya nggak cukup untuk membeli barang yang diinginkan, HARGA menjawab dengan enteng        
          "Lhoo... aku kan nggak pernah puasa. Yang kutahu, orang yang tak pernah mau puasa di bulan Ramadhan, tidak termasuk orang beriman. Nah, namaku HARGA, tercatat di pasar pasar di seluruh dunia, bukan sebagai mahluk yang beriman. Tapi, sebagai mahluk yang oleh para produsen, pemilik modal dan pedagang dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan sepuas puasnya dan setinggi tingginya, justeru dengan dalih BBM kan Naik, Kan bulan Puasa, Kan Lebaran, Kan Natal dan Tahun Baru, kan Panen begini dan bnegitu.
          Jadi, jangan sedih yaa kalau aku tak ikutan lebaran," pinta harga kepada si MAHAL yang langsung menyahut, sampai mati tak akan mau bersedih, karena bersedih hanya untuk para mahluk yang memiliki kepekaan sosial.
          " Kalau aku, jangankan memiliki kepekaan sosial, kepekaan untuk menjadi murah saja, tidak ada tuh. Jadi, buat apa aku harus bersedih hanya lantaran kamu tidak ikutan lebaran. Jadi, kamu nggak usah geer lah," kata si MAHAL
         "Aku bukan geer," kilah si HARGA.
         " Sebab, bagaimana bisa geer kalau sampai di penghujung malam takbir, aku tetap bekerja keras. Semua pedagang memanfaatkan diriku untuk menjadikan lebaran sebagai momen membangun keserakahan dalam mengeruk keuntungan. Tapi, pas Lebaran aku tak mau ikut ikutan. Kayaknya, aku akan istirahan total, deh. Biarlah mereka yang berpuasa dengan ikhlas dan menang melawan hawa nafsu saja, yang menikmati Lebaran dengan jiwa bersih dan kepekaan sosial yang makin meninggi"
         "Aku mau lhoo, seperti itu. Cuma, aku yakin nggak bisa. Sebab, aku dilahirkan untuk sombong. Malah, kadang untuk membuat orang miskin jadi sedih, karena gak jadi beli bawang, cabe dan lain lain, karena aku selalu ikut campur. Jadi, aku selalu digunakan oleh para tengkulak untuk meningkatkan gengsi setiap komoditas. Sedangkan si MURAH, adik kembarku, malah disekap di ruang tertutup agar tidak bilang sebenarnya semua barang bisa dibeli dengan harga MURAH. Hanya, nafsu mengeruk untung sebesar besarnya membuat manusia - sadar atau tidak sadar, jadi serakah"
        " Yaa, aku sangat paham dengan apa yang kamu katakan. Sebab, aku yang dijadikan patokan, dan kamu yang dijadikan nilai tukar. Makanya, aku berharap kau pun tidak usah ikut lebaran. AKu yakin, jika kau tak ikutan, di hari raya si MURAH bisa berhari raya sampai ke dusun dusun di berbagai perkampungan, agar mereka yang tak berduit bisa berhari Raya tanpa merasa malu karena uangnya tak cukup untuk membeli sesuatu," ungkap HARGA
       MAHAL hanya tersenyum. Karena ia sepakat untuk tidak ikutan lebaran, dia mengajak HARGA datang ke berbagai gudang. 
        " Kau lihat sendiri, kan? Semua ada dan selalu ada. Tapi, para pendulang keuntungan kerap bilang barang tak ada, langka atau panen begini dan begitu. Nyatanya? " Kata si MAHAL
        " Yaa.. makanya aku merasa makin tak pantas ikutan lebaran. Sebab, aku tak pernah puasa dan tidak dikategorikan sebagai mahluk yang beriman," ujar HARGA sambil mencolek si MAHAL dan mereka menatap seorang boss yang kepusingan menghitung tumpukan uang di depan matanya yang tinggi menjulang
        "Menurutmu," kata HARGA " Apa yang saat ini sedang kita saksikan?" 
        Harga tersenyum. Baru menjawab
        "Kita sedang menyaksikan manusia yang diperbudak hawa nafsu sedang mengumpulkan keserakahan yang membuatnya tak sadar, suatu saat pasti mati dan dia tak bawa bekal apapun ke alam kubur, karena di dunia hanya semangat menumpuk harta tapi malas membangun kebaikan dan bersedekah"
        MAHAL menepuk nepuk pundak HARGA sambil mengurai senyumnya








Tuesday, July 16, 2013

PANTUN NUNGGU LEBARAN

oleh : Oesman Doblank

Ada gusuran buat kepentingan pelebaRAN
Kalau warga ikhlas jalan bakalan aWET
Kayaknye anak gue semangat nunggu lebaRAN
Untung.. puasanye lancar mulutnye gak cereWET

Bukan lantaran gue udeh bisa ngejelaSIN
Tapi, meski masih bocah anak gue ngerTI
Cuma, tetep aje gue terus menerus dikeleSIN
Soalnye, die kepengen beli baju begambar aTI

Die bilang, kan tiap tahun dituntut naik keLAS
Jadi, wajar kalo permintaannye dikabulKAN
Gue siap ngebelin kalau puasanye terus ikhLAS
Sebagai babe, begitulah yang mesti gue lakuKAN

Duuh.. siape tuh yang metik kembang melaTI
Kan kalau gak pamit bisa dituding pencuRI
Kate pak guru, ngedidik anak mesti pakai haTI
Kalau pake sikap kasar malah bisa belok kiRI

Yang jelas, sebagai babe gue gak keleleRAN
Meski banting tulang siap nyenengin aNAK
Semangan anak gue nunggu datang lebaRAN
Kalo gak menuhi permintaan rasanya gak eNAK

Untungnye, anak gue nggak banyak laGA
Dibilangin orangtue didenger dan dilaksanaKAN
Puasanye sih gak sebatas nahan laper dan dahaGA
Sebab, die belajar hawa nafsunya dijinakKAN

Be.. kata die, puasa kan gak bikin aye keleleRAN
Malah, rasanya badan makin hari makin seHAT
Gue bilang, pokoknye lo berhak nikmati lebaRAN
Sebab, diajarin soal agama, di hati si bocah terpaHAT








   

MUDIK APA NGGAK USAH MUDIK YA (2)

oleh : Oesman Doblank


       TARIKAN nafas Bejo yang panjang menandakan kebingungannya makin meningkat.
Emon bukan tidak iba. Hanya, meski ibanya diterang-jelaskan sehingga kadarnya mencapai seratus prosen dan ikhlas, tetap saja hanya sebatas iba. Pasalnya, Emon yakin kalau dirinya tidak bisa membantu. 
       Memang, meski nganggur, Emon tetap mencari uang dengan memanfaatkan sepeda motor kreditannya yang bulan depan lunas. Cuma, penghasilan dari ngojek nggak pernah bisa dipastikan. Saking banyaknya pengojek, setiap operasional, paling banyak Emon mengantongi tujuh puluh ribu rupiah. Itu pun kotor. Karena setelahnya harus kembali mengisi premium, yang harganya sudah disesuaikan menurut sudut pandang pemnerintah. 
      Kalau saja harga BBM disesuaikan menurut kepentingan dan kebutuhan masyarakat, mesti harganya memang sudah harus disesuaikan, tapi harganya tidak lebih tinggi. Tapi, malah lebih rendah. Setidaknya, dari empat ribu lima ratus jadi empat ribu saja. Jika seperti itu, layak dikatakan masyarakat sudah mendapatkan subsidi
      Cuma, kata Emon dalam hati, mengapa harus premium yang dikaitkan dengan duka nestapa Bejo, yang meskipun lebaran masih cukup lama tapi pusingnya sudah diaplikasikan saat ini. 
      " Kamu sendir, yakin lebaran nanti harus pulang?" Tanya Emon
      " Wah.. kamu pikir soal mudik lebaran harus diaplikasikan berdasarkan keyakinan? Emon.. Emon... kamu tuh sangat besar dalam kekeliruan dan sangat keliru dalam kebesaran. Sebab, tanpa keyakinan setiap perantau itu selalu mudik saat lebaran dan budaya mudik tidak mungkin bisa dilenyapkan, meski setiap tahun jalan di pantura nggak pernah beres dan membuat para pemudik selalu dipersembahkan ketidaknyamanan dalam perjalanan," tutur Bejo, yang meski belum bebas dari bingung tapi tetap bisa bicara panjang lebar
      " Begini saja," tukas Emon yang baru saja manggut manggut
      "Begini bagaimana?" Tanya Bejo yang berubah jadi optimis karena mengira Emon sudah punya solusi
      Dengan cepat Emon menyahut
      " Bagaimana kalau lebaran kali ini, kamu tidak usah mudik. Pertimbangannya, kan jelas, Kamu tidak punya uang, " kata Emon tanpa bermaksud menghalangi niat Bejo
      Tentu saja Bejo langsung tercengang
      "Jadi kamu punya niat untuk tidak mempertemukanku dengan keluarga dan kampung halaman yang kamu bilang boleh jadi merindukanku?" Kata Bejo, yang nampaknya menahan kesal, karena tak suka dengan opsi yang baru saja dikatakan Emon
      " Maksudku bukan begitu, Jo," Emon berusaha ingin menjelaskan lebih lanjut agar Bejo mengerti maksud sebenarnya
      " Maksud kamu, tidak berniat menghalangiku mudik lebaran ke kampung?"
      "Pasti seperti itu, Jo, Hanya, marilah kita berpikir secara rasional. Artinya, mudik itu kan, tak hanya butuh biaya. Tapi juga butuh mental dan kesehatan yang mantap. Sebab, bukan tak mungkin terhambat macet panjang yang makan waktu berjam jam dan membuat kamu bisa kesal karena mau cepat sampai tapi malah dihambat oleh jalan yang tidak pernah bagus dan kemacetan total yang tak bisa dihindari"
      " Emoooon... Emooon.. justeru di situlah indahnya mudik ke kampung halaman saat lebaran. Kalau jalan tidak rusak di saat arus mudik berlangsung, sama artinya kita tidak tinggal di Indonesia, Mon. Ini Indonesia, Mon. Bagaimana pun ini negeri kita dan wajar kalau jalanan rusak, karena proyek pembuatan dan pemeliharaan jalan itu dananya cukup besar. Kalau jalan dibuat bagus menurut standar biaya yang dianggarkan, kan daya tahannya bisa sepuluh tahun. Lantas, apa yang akan dikerjakan oleh mereka yang selalu berharap jalan rusak agar bisa diperbaiki?"
     " Oooh... begitu, Jo"
     " Yaa... begitu. Kalau tidak begitu, nggak mungkin jadi pemberitaan media. Sebab, jika perjalanan mudik lebaran lancar, justeru jadi tidak menarik untuk diberitakan. Soalnya, tidak ada masalah. Makanya selalu diberitakan, kan macet dan jalan rusak selalu jadi masalah. Hanya, buat apa memikirkan masalah klasik, Mon. Bukankah masalahku belum bisa di atasi?" Kata Bejo
     Emon garuk garuk kepalanya yang memang gatal karena berketombe.
     " Mon... kamu kan temanku. Tolong aku Mon... Ingat Mon, menolong teman yang sedang dalam kesulitan pahalanya itu besar, Mon, dan bisa dijadikan bekal untuk ke surga" Bejo kembali berkicau karena Emon malah garuk garuk kepalanya yang berketombe
     Lantaran Emon kepingin banget membantu Bejo yang rindu kampung halaman, ia pun terpaksa memberanikan diri mengatakan hal ini
     " Jo...," ujar Emon
     " Nanti, jika jelang kamu mudik tetap tak punya uang, kita gadaikan motorku. Nah, jika bisa dapat lima juta, uangnya kita bagi dua. Hanya, setelah hari raya kamu harus mengembalikan agar aku bisa nebus motorku kembali dan tetap bisa ngojek. Kamu setuju, kan?" 
     Bejo tercengang. Tak menyangka kalau Emon mau mengambil keputusan seperti itu.
     Dan, sejenak kemudian, Bejo langsung merangkul Emon sambil menangis sesenggukan karena dia merasa terharu. Bejo tak menyangka jika Emon, rela menggadaikan sepeda motornya untuk biaya mudik lebaran yang dirindukan Bejo.
     Sembari sesenggukan, Bejo yang masih memeluk Emon, mengatakan, setelah ia kembali ke Jakarta akan segera membayar agar Emon bisa  menebus motornya yang digadaikan dan bisa kembali ngojek.
    Hanya, Bejo tak menyebutkan, kalau di kampungnya dia punya dua ekor sapi. Rencananya, Bejo akan menjual seekor sapinya karena kebaikan dan perhatian Emon harus dibalas dengan hal yang sama. Bukankah elok jika bisa membalas kebaikan dengan hal yang sama?









Sunday, July 14, 2013

MUDIK APA NGGAK MUDIK YAA?

oleh : Oesman Doblank


           KALAU ngeliat Bejo lagi bingung ples pusing, kasiiiiiiiiiiian banget. Soalnye, gak disapa kuatir dibilang sombong dan nggak punya kepedulian sama friend. Tapi, kalau disapa, biasanya dia malah ngambek. Nah, kalau Bejo udeh ngambek, kayaknye ngerepotin. Soalnya, die pasti langsung nraktir. Semisal lagi nggak punya doku, Bejo rela ngejual ape aje supaya bisa mengekpresikan ngambeknye dengan mentraktir.
          Terakhir, Bejo ngejual BBnya karena waktu die ngambek, Emon nyang lagi lapar sengaja negor. eeeeh. meski kepengen makan, Emon jadi malah repot. Soalnye, traktiran Bejo juga ngerepotin. Gimane nggak ngerepotin kalo semua yang die beli mesti diembat abis. Kalau nggak diabisin, die ngancem, nggak akan mau ngambek lagi dan itu berarti Bejo nggak bersedia nraktir lagi.
         Tapi, sekarang eni, Emon malah bingung. Soalnya, Bejo kelihatan bingun lantaran pusing bukan di bada Maghrib. Tapi, pas baru Dzuhur. Syet, dah, nggak mungkin donk kalau lagi puasa mesti buka, lantaran kalau negor Bejo dia pasti nraktir dan die nggak peduli apakah di bulan Ramadan atau bukan bulan puasa.
         Makanya, Emon ambil keputusan kagak mau negor Bejo.
         Apa yang terjadi? Yaa, begitulah, tanpa tedeng aling aling Bejo nuding Emon sebagai seseorang yang somse sekali dan kagak punya kepedulian.
         " Sampeyan kalau nggak mau berkawan dengan saya, bilang aja terus terang," ujar Bejo
         " Siapa yang tidak mau berteman dengan kamu lagi," sahut Emon yang terpaksa nyetop langkah lantaran Bejo memperlihatkan hasrat memprotes dirinya
         " Buktinya, kamu sudah tidak negur saya lagi. Padahal, saya berdiri di sini dan kamu pasti melihat dengan jelas sosok saya. Jadi, salahkah kalau saya bilang kamu somse sekali?"
        " Yaa udah," kata Emon, yang nggak mau menyinggung perasaan Bejo yang mulai sensi
          "Sekarang, apa yang harus saya lakukan agar sampeyan tidak kelihatan bingung dan cepet cepet bebas dari pusing"
        " Saya ini, kan punya kampung halaman. Meski di kampung, rumah saya nggak punya halaman, kan kampung halaman nggak boleh dilupakan. Jadi, bagaimana caranya agar saya bisa tidak pulang tapi bisa bebas dari keinginan ketemu sama orangtua dan keluarga saya?"
       Mendengar hal ini, Emon jelas kaget
       "Heii biasanya kan kamu pulang. Hari raya kali ini pun harus menjenguk kampung halaman. Bagaimana coba, kalau yang rindu sama kamu selain orangtua dan keluarga kamu, juga kampung halaman kamu. Memangnya kamu tidak iba pada kampung halaman yang merindukan kamu." tukas Emon
      "Iyaa.. tapi saya sedang belum punya duit. Bulan ini juga belum tentu gajian, lantaran perusahaan tempat saya bekerja sedang jatuh pailit. Sedangkan kalau saya berleberan di kampung, nggak mungkin bisa hepi kalau bokek"
       "Jadi?" Emon Tercengang.
       "Kamu sedang tidak punya duit tapi kepingin lebaran di kampung dan untuk itu hari gini kamu sudah bingung?"
      " Lhooo... kapan lagi saya harus bingung? Kalau bingungnya pas dekat dengan lebaran, kan makin membingungkan karena makin sulit cari jalan ke luar. Jadi, saya sudah memutuskan untuk bingung sekarang. Pertama, agar kamu bersedia membantu. Kedua, agar kamu memberi solusi supaya di saat hari raya saya bisa berlebaran di kampung, bersama sanak saudara dan kerabat di sana"
      " Hadddduuuuuuuh...Bejooo.. Bejoooo... Saya ini bukan motivator atau pemberi solusi terbaik. Lagian, kamu kan tau, saya sudah tiga bulan nganggur, dan selama nganggur cuma ngojek. Jadi, bagaimana mungkin saya bisa membantu," Emon terpaksa harus berterus terang
      Bejo menarik nafas.
      Penulis menarik kesimpulan untuk berlanjut di bagian dua   










Thursday, July 11, 2013

BALLADA SANG HARGA

oleh : Oesman Doblank

       Bagaimana mungkin jengkol nggak kaget. Saat sedang menari riang, musik yang semula berdentam mendadak koit. Begitu sang Jengkol menoleh ke pusat suara, sesosok mahluk yang kayaknya baru mematikan tape recorder, berdiri dan memandang dirinya dengan sinis.
       " Siapa anda dan mengapa datang tak memberi salam tapi berani mematikan musik kegemaran saya?" Tanya Sang Jengkol, yang kalau semula kaget kini nampak kesal.
       " Jangan kamu teruskan tarian jika hanya untuk bersenang senang di atas penderitaan masyarakat," ujar sang mahluk yang setelah mengingatkan lantas menyebut siapa dirinya.
      " Lhoo.. aku mau menari  atau menangis pilu, bukan urusanmu. Dan, mengapa pula kau peduli dengan masyarakat?" Kata Jengkol
      " Bagaimana mungkin aku bisa cuwek, jika kau tiba tiba berulah? Bukankah kau memakai namaku tapi saat menaikkan peringkat tak kompromi lagi denganku?"
     " Wah..wah...wah... kamu jangan menyalahkan aku. Peringkatku naik menjadi enam sampai tujuh puluh ribu bukan karena keinginanku. Tapi, keinginan mereka yang menguasai areal pasar. Jadi, ketika mereka melakukannya, aku malah kecewa. Cuma, apa dayaku bila orang orang pasar sangat berkuasa dan memang selalu bertindak semaunya"
    " Jadi, ketika dinaikkan dan aku dikaitkan, kamu kecewa?"
    "Friend... bagaimana mungkin aku bisa gembira? Jika aku distabilkan, orang orang kecil berpenghasilan rendah, bisa dengan mudah menjamahku. Menikmatiku, dan aku sangat senang karena orang kecil leluasa menikmati rasaku, yang walaupun mereka dengan terus terang mengatakan aku bau, tapi tak pernah malu mengatakan suka makan jengkol.  Sebaliknya, aku tak suka pada mereka yang berlimpah uang, sebab, mereka selalu melecehkanku dan kerap sok tidak suka. Padahal, diam diam mereka tak hanya menikmatiku Sebab, saat peringkatku dinaikkan, hanya mereka yang dengan malu tapi hobi, mampu membeli dan menjamahku"
    " Bisa aku percaya apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Sang Harga
    Jengkol bahkan berani bersumpah dengan mengatakan rela dirinya disambar petir sehingga di masa penen berikutnya tak ada lagi tumbuh buah jengkol jika semua pohon jengkol tumbang atau terbakar.
    " Boleh kutahu mengapa yang lain, tanpa sepengetahuanku juga ikut menaikkan peringkatnya dan membuat masyarakat menjerit dan disaat seperti itu, selalu aku yang disalahkan. Bahkan, ada yang mengatakan aku sombong, karena jika sudah naik aku tak pernah bersedia turun. Padahal, aku bukan pejabat, dan juga bukan penguasa yang maunya naik tapi malas turun"
   Jengkol berpikir sejenak. Lalu, menarik nafas panjang. Baru kemudian dia menjelaskan.
   Menurutnya, yang lain ikutan naik karena pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM.
   " Saat itu aku justeru tidak setuju diriku dinaikkan," sahut sang Harga
   "Nyatanya, premium tetap naik dan kenaikan itu membuat yang lain punya alasan untuk menyesuaikan situasi dan kondisi karena angkutan jadi mahal," kata sang jengkol/
   " Aku tak suka alasan klasik seperti itu." sergah sang harga.
   " Kau boleh tak suka. Nyatanya, di awal Ramadhan rekan rekanku malah berlomba lomba menaikan peringkat. Daging sapi, misalnya. Juga ayam, di bulan suci, bukan mencari berkah dan hikmah malah berebut menaikkan peringkat. Aku juga dengar dan lihat, ibu ibu menjerit. hanya, apa dayaku, friend?"
  " Apakah hal ini juga diakibatkan oleh ulah orang pasar?"
 " Tak hanya mereka. Para tengkulak dan produsen, juga paling menentukan. Boleh jadi, mereka yang mengatur agar kenaikanmu seolah olah hal biasa, karena di bulan ramadhan, pemintaan terhadap bahan pokok dan tambahan melonjak tajam"
 " tapi kan tidak perlu sampai mencapai langit. Karena aku sendiri tak pernah bisa mencapai langit," keluh sang harga
 " Friend... siapa pun yang mengelola kami, jika nafsu meraup untung besarnya tak dikendalikan atau dibiarkan semakin liar, tak mungkin kami bisa mengubah hasrat mereka memperkaya diri"
 Sang Harga terdiam.
 Dia kesal, namun tak mampu mencegah keinginan liar para pencari keuntungan, yang di bulan Ramadhan dan di saat BBM disesuaikan, malah berlomba lomba membangun dunia perdagangan dengan menyetel volume dirinya sekehendak hati.
Alasan alasan mereka, jauh dari kepedulian terhadap mereka yang tak mampu. Hanya, harga sendiri juga bingung, sebab, saat semua harga semua kebutuhan melonjak, ibu ibu malah menyatakan maklum karena BBM naik dan Ramadhan tiba.
 Mestinya, ibu ibu atau siapapun yang ke pasar, menahan diri. Malah, mestinya, tak membeli dan tak berhasrat membeli apapun yang harganya mahal. Jika ibu ibu bisa dan mau melawan dengan cara tidak membeli sesuatu yang mahal, para pedagang pasti berpikir untuk menurunkan dirinya. Kenapa? Karena jika ibu ibu tak membeli, barang menjadi tidak laku. Jika tidak laku, bawang, cabe dan sejenisnya, yang akan busuk. Kalau busuk, barulah para orang pasar merasakan risiko menanggung kerugian akibat ulahnya yang menaikkan harga seenaknya.
" Akkh, kalau saja ibu ibu mau melakukan hal itu, diriku tak akan dilangitkan seenak bero oleh para pedagang, baik mereka yang hanya mengecer maupun pedagang besar yang selalu bertekad mencari keuntungan besar, tanpa mau berpartisipasi untuk mencari berkah agar orang orang miskin bisa tetap belanja." keluh sang harga, yang akhirnya hanya berharap agar ibu ibu melawan.
Tokh, tak makan daging sapi yang juga dikorupsi, tak makan ayam, tak makan barang yang harganya selangit, tak mati.
Berbuka puasa dengan makanan paling sederhana pun, tetap bermakna. Tokh bukan makan apa dan harganya berapa. Tapi, bagaimana bisa berpusa lahir dan batin agar hasrat bertaqwa direaliasikan dengan benar dan tepat sehingga sampai ke areal ibadah berdimensi taqwa.







.    

Tuesday, July 9, 2013

PANTUN : MULAI PUASA

oleh : Oesman Doblank


Jika hari ini disebut SelaSA
Esok, siapapun bilang RaBU
Jika esok kita mulai berpuaSA
Bersiaplah tuk menjaga kalBU

Puasa bukan untuk berlapar laPAR
Juga bukan untuk merasa dahaGA
Tak makan bukan untuk menggelePAR
Tapi tuk jinakan nafsu agar tak berlaGA

Jika nafsu terus berlaga dan tak henTI
Tentu saja setan bakalan jingkrak jingkRAK
Dalam haus dan lapar leluasa menjaga haTI
Agar dengan kebaikan tak lagi berjaRAK

Dengan membagi rasa kita maknai ibaDAH
Biasa makan saat berpuasa malah tak gunDAH
Jika hati bersih berbuat kebaikan itu muDAH
Tanpa berbuat buruk hidup jadi terasa inDAH

Ingat, jika tiba tiba lampu di rumah paDAM
Tak perlu gelisah apalagi merasa taKUT
Saat berbuka, jangan seperti balas denDAM
Kebanyak makan, setan malah minta iKUT

Saat berpuasa boleh saja ngebubuRIT
Hanya, nunggu magrib afdolnya bertadaRUS
Pengeluaran di bulan puasa harus lebih iRIT
Kalau semua dibeli cuma bikin dompet kuRUS

Timbang harus membeli aneka jenis masaKAN
Uangnya lebih baik digunakan untuk sedeKAH
Jika saat puasa nolong si miskin lebih diutamaKAN
Insya Allah, ibadah di Ramadhan berlimpah berKAH   









  

Sunday, July 7, 2013

PANTUN : BUKAN JENAKA

oleh : Oesman Doblank

Ketika dengar kicau burung di pagi hari
Cepatlah bangun dan segera shalat Subuh
Untuk apa ambil keputusan lakukan kawin lari
Jika merasa cinta tapi hanya dalam bentuk tubuh

Di senja berawan bolehlah siapkan payung
Agar tenang ketika pergi ke Pulogadung
Barusan bilang cinta, sekarang, kok bingung
Jangan-jangan, perut kamu sudah melendung

Ketika padi menguning menghiasi areal sawah
Sinar mentari tentu saja leluasa berkeliaran
Jika kuberi yang atas kamu minta yang bawah
Pantasnya, kubenamkan saja kamu ke comberan

Tataplah sang rembulan yang bersinar terang
Lalu nyanyikan lagu untuk bermanja manja
Kalau dulu kamu lembut sekarang jadi garang
Pasti karena aku sering mengurangi uang belanja

Di jalan tol, tak boleh mengemudi perlahan
Sampai di gerbang, tarif tol harus dibayar
Manalah mungkin rumah tangga bisa t’rus bertahan
Jika saat didera kemiskinan, kamu tak siap berlayar

Jangan sengaja berdiri di tepi jurang
Sebab, bisikan setan sangat membahayakan
Jika suami atau isteri suka licik dan curang
Percuma nikah jika di tengah jalan berantakan