Wednesday, April 24, 2013

PANTUN : NASIHAT AYAH KEPADA ANAK (DUA)


Selain berdoa ayah wajib mengingatKAN
Agar pas menjabat kamu tidak lupa diRI
Jadilah pemimpin yang mensejahteraKAN
Agar saat kau mengajak rakyat tidak laRI

Laksanakan program sesuai nomor uRUT
Boleh lompat jika urgen dan dinlai paTUT
Ingat nak, jangan sampai rakyat cembeRUT
Sikap kamu sendiri jangan plintat plinTUT
Jangan cuma pintar bicara atau danDAN
Karena harus mikir soal pembanguNAN
Jadilah pemimpin berkarakter taulaDAN
Agar rakyat tak hanya menikmati aNGAN2

Nak… teruslah melangkah ke dePAN
Tapi tengok ke samping dan belaKANG
Nak, kenapa rakyat menaruh haraPAN
Karena berharap kamu tak terjengKANG

Kotoran hanya layak masuk tong samPAH
Kalau masuk ke kulkas, sudah tak waRAS
Nak.. bukanah pemimpin ucapkan sumPAH
Maka katakan, mari berswa-sembada beRAS

Kapan pun, angin selalu berhemBUS
Semilirnyanya tak akan mencelakaKAN
Karena disumpah kamu harus meneBUS
Hasrat rakyat yang ingin disejahteraKAN

Laut kita masih berlimpah ikan teRI
Potensinya bisa dijadikan sandaRAN
Jika beeras berlimpah, bangun industRI
Agar mampu bersaing dan berkejaRAN

Tak hanya dengan tetangga terdeKAT
Tapi dengan negara yang sudah maJU
Tapi utamakan musyawarah & mufaKAT
Demokrasi seperti itu rakyat pasti setuJU

Dengan begitu, kau tahu mengapa jeraPAH
Kakinya tinggi. lehernya justru panJANG
Jadi, jika kamu sudah berani ucap sumPAH
Sejahterakan rakyat meski badai menerJANG

Nak... selagi hujan masih rintik rinTIK
Bergegaslah kamu berangkat ke kanTOR
Pemimpin memang harus ahli berpolitiK
Hanya, jangan gunakan cara yang koTOR

PANTUN : NASIHAT AYAH KEPADA ANAK (SATU)


Nak …. Lihatlah rombongan buRUNG
Selalu bersama saat mereka terBANG
Nak… janganlah engkau terus muRUNG
Meski kondisi negeri datangkan bimBANG

Nak… jika burung bisa terbang tingGI
Cita citamu harus seluas angkasa raYA,
Mari berpikir & kerja keras tuk negeRI
Agar Indonesia jadi negeri yang berjaYA

Kotoran layak masuk ke tong samPAH
Kalau masuk kulkas pertanda tak waRAS
Katakan, setelah nanti kamu disumPAH
Kujadikan Indonesia sebagai gudang beRAS

Hanya, jangan berlebihan mengapresiaSI
Yang baik. tidak ada lebih tidak kuRANG
Hanya, jangan sesekali melakukan korupSI
Karena dalam hidup kita tak boleh cuRANG

Juga nak, jangan merasa karena terlanJUR
Sebab, semua masalah bisa dikendaliKAN
Berbaktilah dengan cara dan sikap juJUR
Sebab, rakyat cuma ingin disejahteraKAN

Gak mungkin rakyat cuma ongkang kaKI
Mereka justeru lebih siap bekerja keRAS
Hanya, bisa saja rakyat akhirnya keKI
Jika prilaku pemimpin makin tidak waRAS

Meski keras kayu jati bisa digergaJI
Jadi, hadapi masalah tak perlu guSAR
Nak... pejabat yang ingat pada janJI
Kalaupun berbuat salah tidak beSAR

PANTUN : JANGAN ALERGI SAMA KENTUT


Kalau memang dinilai tidak paTUT
Buat apa sih mesti maksa dipameRIN
Jika memang sudah kepingin kenTUT
Silahkan, cuma brotnya jangan dibesaRIN

Kalau sudah dianggap terlanjur kaTUT
Nggak perlu lagi deh dikeles keleSIN
Kalau memang kebelet mau kenTUT
Cepet cepet deh tuh kentut dilepaSIN

Makanya jangan suka plintat plinTUT
Kecuali mau dipentokin ke lemaRI
Jangan deh sembarang lepas kenTUT
Kecuali gak kuatir isteri bakal laRI

Ngapain malah natap lampu soROT
Emangnye mata tahan sama siLAU
Kalau dengar suara brat bret bROT
Itu suara kentut, anda tak perlu gaLAU

Ngeliat celana yang cuma seluTUT
Jadi kepingin deh ikutan olahraGA
Mengapa harus dilepas tuh kenTUT
Agar tetap sehat tuh jiwa raGA

Makanya perkuat tuh posisi luTUT
Soalnya dipakai buat kuda kuDA
Bang.. maaf yee aye mau kenTUT
Oh ya? silahkan kentut oh adinDA

Gue memang tukang caTUT
Tapi gak serakah sama orDER
Barusan, gue emang kenTUT
Tapi baunye gak bikin keDER

Kalo emang niat mau ngeliat kaBUT
Tiap hari mesti ikhlas bangun paGI
Dengar kentut jangan kalang kaBUT
Toh, yang barusan kentut nggak groGI

Nggak usah deh pake cembeTUT
Padahal, sebenernye sih kepiNGIN
Nggak usah alergi sama kenTUT
Kecuali anda mau masuk aNGIN

POS SENYUM


NOSTALGIA MEMBAWA MAUT
Kong LIHUN dan Kong Bopak yang lebih setengah abad nggak pernah ketemu, saat bersamaan meluncur ke sebuah rumah sakit yang sama. Dan saat bersamaan, memarkirkan kendaraannya di halaman parkir yang lokasinya berdempetan. Setelah masing2 buka helm, keduanya bertatapan. Kong LIHUN kaget. Kong Bopak sama, kaget, krn sama-sama merasa kenal.
" Lu Lihun, kan ?" Kata Kong Bapak, sambil nunjuk dgn jari dgn yakin.
" Lu bopak, kan ?" Balas kong Lihun dgn super yakin.
Stlh sama-sama mengiayakan, mereka turun dari motor. Saling nubruk, saling meluk. " Lu mau ngapain ke rumah sakit?" Tanya Kong Bopak sambil mengencangkan pelukan.
"Gue mo bezuuuk anak gue nyang baru ngasih gue cucu ke 17 " Sahut Kong Lihun sambil melakukan hal yang sama, mengencangkan pelukan. " Nah, lu sendiri, mau ngapain ke rumah sakit "
" Gue mau nengokin bini ke tujuh gue yang semalam ngelahirin," kong bopak menjelaskan, sambil kembali memeluk lebih erat
"Syeeet, deh, memang bini lu ada berape?" Meski ngerasa nyesek, kong Lihun jg kembali ikut mengencangkan pelukan.
"Bini gue cuman sebelas. Cuman, yg udeh mati baru tiga. Mangkanye gue punya rencana mau nambah lagi," usai menjelaskan, kong Bopak semakin mengeratkan pelukannya.
"Syet dah. Masih sisa banyak, lu udeh punya rencana mau nambah bini lagi?" Tanya Kong Lihun, yang kembali kencangkan pelukan meski sudah sesak nafas
"Be..be..begi.." Meski mulai terbata-bata, Kong Bopak tetap mengencangkan pelukannya.
"Be..begi..begi... uuuh, gu..gue nyes..nyes " Kong Lihun yg jg makin nyesek, ikutan ngencengin pelukan. KARENA sama-sama bersemangat mengencangkan pelukan, nostalgia dua sahabat lama, tak berlangsung lama. Hanya, SATPAM dan pihak rumah sakit, hrs mau berlama-lama dlm berpusing ria, krn mrk hrs sibuk mencari di mana alamat kedua kakek, yang wafat diareal parkir akibat bernostalgia di halaman parkir rumah sakit (ode)


TIPS CARI ISTERI SETIA


oleh: Oesman Doblank

Sebelum pencarian dimulai dengan serius, bekalilah diri anda dengan sengaja dan terencana, yaitu dengan membaca komik atau langsung menonton film berjudul SUPERMAN.
Agar tak kelelahan dalam pencarian, minumlah 3 butir pil SUPER YAKIN
Mulailah melakukan pencarian dengan seksama, dengan cara sebagai berikut :
1. AMATI se-amat-amatnya, apakah putrinya pak AMAT yang kamu taksir itu, benar benar berstatus cewek atau perempuan. Tapi kalau statusnya sangat wanita, pastikan dia adalah pilihan hati yang siap ketabrak asmara dan anda harus menabrakkan mobil asmara anda ke hatinya.
2. Agar bisa mendekat, di kunjungan perdana, bawakan pak AMAT 3 porsi martabak telur, rokok kesukaan pribadinya dan tasbih yang sengaja dibungkus dan didalamnya ada kertas dgn tulisan, tolong kalau saya datang, bapak manfaatkan tasbih ini dgn sebaik-baiknya.
3. Untuk lebih mempercepat proses goal yg efektif, datanglah sebulan berturut turut sambil tetap bawa oleh-oleh seperti yang disebut dalam point dua.
4. Yakinlah, setelah sebulan, gaji anda langsung minus.
5. Jangan tanya kapan dapat putrinya pak AMAT ? Sebab, nyari isteri super setia, bukan pekerjaan gampang. Terlebih, semakin banyak cewek yang hobi shoping ke mall dan ke mana mana mainin hp atau alat elektronik canggih lainnya .
6. Jika nanti anda menyimpulkan, lebih mudah cari isteri yang suka shoping, suka ngabisin waktu ber BB ria, dan suka ngerumpi di saat pulsa habis, gak perlu lapor ke Menteri Peranan Wanita (ode)

CERBUNG


Cerita Bersambung


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


Prilaku buruk yang semakin mewabah, jauh lebih membahayakan dari penyakit kanker, atau dari jenis penyakit gana lainnya yang paling membahayakan.
Lihat saja, misalnya, suporter sepakbola. Mereka bisa tak rela jika stelah bertanding tim idolanya kalah dari tim lawan. Padahal, setiap pertandingan, hasilnya ya, bisa kalah atau malah menang. Malah di babak final, jika skor seri ujungnya pasti adu pinalti. Jadi, layak jika ada yang kalah dan tak layak jika keduanya dinyatakan menang.
Seperti halnya Ghana, yang dilibas Paraguay dalam adu pinalti.Mereka rela menerima kekala han, ikhlas pulang kandang dan sama sekali tak merasa sebagai pecundang. Toh, mereka sudah berjuang di even dunia. Kalah pun tetap senang.
Tapi sangat beda dengan di Indonesia. Ketika tim favorit bonek, Jakmania, atau Persita di taklukkan tim lawan, para suporter tak ikhlas menerima kekalahan. Mereka rela mendadak jadi banteng ketaton yang siap menyeruduk siap menanduk. Lebih siap ngamuk dan letupkan amarah, timbang berlapang dada dan meredam emosi, hanya karena fanatisme terhadap tim idola begitu tinggi. Padahal, setinggi tingginya fanatisme, sepokbala adalah permainan kalah menang. Setiap yang menang pasti pernah kalah, dan yang pernah kalah satu ketika bisa menang
Suporter lebih siap memamerkan tindakan yang membabi dan membanteng buta. Tidak hanya sanggup merusak fasilitas umum yang dibangun oleh pemerintah dari dana APBD dan AP B`N, tapi juga sangat siap perang tanding dengan suporter lawan. Padahal, pihak pihak yang bisa berseteru secara mendadak lantaran membela tim kesayangan, sesama anak bangsa. Anak anak Indonesia juga. Mereka gak cuma rela benjut dihajar musuh. Tapi, berani dan rela mati, demi kesebelasan kesayangannya.
Jika terus dan selalu seperti ini, kan aneh. Masa, cuma lantaran tim kalah, ada yang harus berdarah darah
Nah, di mana tidak anehnya?
Prilaku buruk juga tumbuh dan berkembang di kalangan pelajar dan mahasiswa. Tujuan utama, menuntut ilmu, rela diabaikan. Demi hobi terbaru yang dianggap relevan dengan perkembangan zaman, bukan lagi ilmu dan kebajikan yang diutamakan dan ditumbuh-kembangkan
Tapi, justru budaya tawuran. Saling gasak, saling gebrak, saling tendang, saling jitak, saling merangsek, saling lempar batu, dan saling saling lain pertanda sudah sulit eling.
Tas tak lagi jadi tempat untuk buku dan alat tulis. Tapi, untuk j menyimpan pisau, mister kapak dan senjata lainnya yang sengaja disiapkan untuk memperindah tawuran yang diinginkan. Senjata-senjata digunakan untuk satu tujuan yang sesungguhnya saling mengancam keselamatan. Padahall, agama mengajarkan untuk saling sayang. Bukan untuk saling mencelakakan.
Hal yang di tahun enam puluh sampai tujuh puluhan tak pernah terjadi, kini malah jadi berita sehari hari, di media cetak maupun di media elektronik bernama pop : televisi
Masyarakat semakin prihatin karena dampak negatif prilaku buruk tumbuh dan terus berkem bang. Seperti tak terkendali atau memang tak bisa lagi dikendalikan. Akhirnya, masyarakat hanya bisa mengurut dada. Nelangsa tak berdaya. Tak mampu mengatasi. Pemerintah seperti melakukan pembiaran. Artinya, fenomena yang muncul di kalangan masyarakat, tak segera diantisipasi dan tidak segera dicarikan solusi agar hal yang menggelisahkan itu, tak ada lagi atau terlupakan karena aparat memiliki kemampuan mencegah sejak dini dan setelahnya tak akan pernah lagi terjadi.
Prilaku buruk berjangkit dan menjalar ke mana-mana. Lebih dari penyakit yang tak bisa disembuhkan, karena ahli kesehatan paling ternama sekalipun, tak mampu menciptakan formulasi yang tepat untuk dijadikan obat agar penyakit tawuran, penyakit korupsi, penyakit a sosial lainnya koit secepatnya dan pejabat atau rakyat biasa , langsung sembuh, sadar dan kembali ke jati diri sebagai manusia Indonesia, yang setelah kemerdekaan dikumadangkan ke penjuru dunia, berkewajiban membangun Indonesia untuk rakyat – dan bukan untuk kesejahteraan para pejabat semata
Prilaku buruk, tiap kali berjangkit di satu tempat, dalam waktu relatif singkat, sudah menjalar ke wilayah lain. Begitu cepatnya menyebar dan sekaligus mengancam keselamatan siapa saja. Virus ganas dan mematikan, tak terhalau oleh canggihnya, ilmu kedokteran dan kefarmasian. Tak terbendung oleh kekuatan dan kekuasaan politik karena para politisi lebih hobi berkreasi untuk meraih materi dan untuk membangun prilaku buruk itu sendiri
Banyak yang bilang, fenomena yang mengkhawatirkan itu, bermunculan karena ketauladanan sudah menghilang. Lenyapnya entah ditelan kemunafikan religius entah gejolak duniawi yang memang kian mampu membius. Juga tak diketahui dengan pasti, apakah lenyapnya karena ditelan bumi atau ditelan oleh kekuasaan yang arogan. Sepertinya, tak ada lagi cara baik untuk mendapatkan solusi maupun mengantisipasi.
Menurut para pakar, pengamat, pemimpin yang mestinya jadi idola, telah raib, entah ditelan oleh mahluk bernama apa. Ketauladanan sepertinya sudah pupus dengan sendirinya. Tergerus oleh arus yang memberangus kepribadian, kejujuran dan sekaligus ketauladanan itu sendiri.
Kalaupun pemimpin itu ada, hanya mewakili kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tindak tanduk dan kiprah kepemimpinannya, langsung menyempit ke pribadi dan kelompok dan tak pernah meluas ke semua rakyat. Tak berimbas pada tumbuh dan berkembangnya kesejahteraan rakyat. Tapi sebatas hinggap di kalangan pribadi dan kelompok. Sebatas kepentingan sesaat. Selebihnya, tindakan dan kiprah para elite justru menyengsarakan rakyat.
Perubahan, sulit diharapkan, karena bersama kiprahnya para elite tetap mengusung ambisi pri badi dan kelompok. Yang kemudian bermunculan cuma sebatas keserakahan, egoisme kekuasaan yang diselewengkan dan kemunafikan religius
Benarkah karena pemimpin sudah tak lagi menyimpan dan menyisakan ketauladanan? En tahlah. Yang jelas, realitas hidup dan kehidupan semakin tak terjaga. Jika sebaliknya, tak akan muncul Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebab, Indonesia sudah lama mendirikan lembaga bernama kejaksaan dan kepolisian.
Tak heran jika Gayus yang hanya staf dan baru lima tahun bekerja, bisa cepat kaya raya. Atasannya yang sudah lama bekerja dan dengan ketinggian pangkatnya, boleh jadi, bisa lebih Gayus dari Gayus? Dan, gayus tak cuma ada di instansi pajak saja. Di Bea cukai dan instansi pemerintah lain nya, juga banyak Gayusnya.
Soalnya, budaya korup bukan baru berkembang belakangan. Tapi, sejak era orba. Jadi, bila metode pembuktian terbalik diberlakukan, tak bakal ada lagi yang percaya, jika seorang pns bisa hidup mewah dan dengan harta yang ber limpah ruah. Meski pun tugasnya di instansi pajak atau pun bea cukai, yang sangat dikenal sebagai tempat paling basah
“Huuuh..jadi pns bukan memuliakan martabat, malah ngerampok uang negara dan membuat rakyat sengsara?”
Bondan yang menikmati dialog tentang In donesia di salah satu teve swasta, mulai kesal dan hanya bisa menggerutu. Dia segera mematikan pesawat tv yang belakangan memang semakin gencar mengurai berbagai masalah tentang Indonesia, yang ternyata, dipenuhi oleh manusia, yang dari wajahnya seperti malaikat tapi yang menggeliat di hatinya, justeru hawa naf su merampok uang rakyat
Tapi, Bondan tak mau lagi berpikir tentang hal itu Nggak mau lagi mikirin soal polisi, jaksa dan hakim, yang diberi amanah mulia, menangani kasus Gayus, malah diselewengkan untuk ke pentingan pribadi dan kelompok. Terlebih, diri nya sendiri bukan termasuk orang bersih
Memang, Bondan merasa tidak lebih buruk dari para koruptor. Tapi, ia bukan orang suci. Bukan malaikat. Prilakunya juga buruk. Bukan koruptor tapi suka teller.Bukan markus dan tidak berkomplot dengan mafia hukum, tapi suka tawuran, sering ngencanin abg dan main judi. Bu kan raja pungli, tapi suka malakin para pedagang di terminal
Prilaku buruk Bondan memang tidak merugikan negara. Makanya Bondan merasa lebih pantas bercermin sendiri dan untuk dirinya sendiri, timbang menyesali kebobrokan di luar dirinya. Bondan lebih tertarik menginventarisir berbagai keburukan pribadi nya, timbang menelaah dan mengkaji prilaku buruk orang lain. Masa’ kuman di ujung samudra atlantik kelihatan, kerbau yang berduka karena mau dipotong dan ada di pelupuk mata, tidak kelihatan?


Bersambung.......

Thursday, April 18, 2013

PANTUN : DI WAKTU HUJAN

Mendung di sepanjang hari Kamis
Kayaknya gak panjang alias pendek
Gak taunya yang turun bukan gerimis
Tapi hujan lebat diiringi suara geledek

Meski hujan tetap bikin soto babat
Meski gak pakai sambel tetap nikmat
Kalau sampai malam Jumat tetap lebat
Kayaknya tercapai deh tugas ngelumat

Lhoo ini bukan soal si Udin atau si Amat
Tapi soal kewajiban yang dilaksanakan
Bukankah di setiap malam bernama Jumat
Ada kewajiban bernama tarik dan tekan