Tuesday, September 24, 2013

ADA CERITA (22)

NYANYIAN HATI

Oleh : Oesman Doblank



DUA PULUH DUA



          Marwan bukan tidak kaget. Terlebih dirinya selalu merasa sebagai manusia yang juga suka keliru. Tak heran jika Marwan sempat kesetrum aliran emosi. Kalau saja Marwan tidak terlatih mengendalikan diri, boleh jadi Marwan langsung menanggapi dengan lebih emosi.
      Marwan  mengucap istighfar, berkali-kali. Lalu dia  menatap isterinya. Mirna yang nampaknya jengah, merasa serba salah bergegas bangkit dari duduknya. Bergerak cepat,  ke kamar. Meninggalkan Marwan yang justeru tak ingin mencegah apalagi mengejar. Ia  membiarkan Mirna ke dalam. Bahkan, tak meminta agar Mirna tidak menutup pintu kamar ketika Marwan mendengar suara karena Mirna  mengunci pintu kamar dari dalam.
           Marwan sama sekali tak bereaksi ketika Mirna mengatakan rela dicerai. Marwan yakin, dirinya tak berniat  menceraikan, meski dia berhasil menangkap basah sedang berada di luar rumah, padahal saat di telpon sedemikian mesra mengatakan dirinya sedang di rumah dan tengah menyiram kembang.  Marwan yang sesungguhnya sudah memaafkan Mir na, tidak  akan menanggapi apalagi memenuhi perkataan isterinya.
            Marwan yakin, ia yang tak berniat dan tak pernah mengatakan “ kau kuceraikan “, tak perlu mela kukan ini dan itu. Dia akan tetap menjaga dan membangun ikatan pernikahannya ke tingkat yang jauh lebih baik.  Marwan yakin, ia masih punya waktu, punya kesabaran dan masih punya keinginan kuat untuk  mem bimbing Mirna, agar menjadi isteri yang jauh lebih baik. Sebab, bagaimana pun, di balik kekurangannya Mirna masih menyimpan kelebihan. Di balik keburukannya, masih terlihat sinar kebaikan. Tak mungkin, Mirna tidak  punya niat untuk mewujudkan cita-cita bersama, membangun rumah tangga yang sakinah, mawahdah, dan warohmah.
            Seperti yang mereka niatkan saat akan dan saat akad nikah. Saat penghulu dan juga orangtua mendoakan untuk mereka yang kala itu menjadi sepasang mempelai. Sepasang pengantin  yang telah berikrar untuk saling menautkan fisik dan jiwa. Dan setelah terikat dalam pernikahan, sudah bbarang tentu siap   mengayuh biduk rumah tangga. Hanya, memang belum saling mengalami bagaimana mengatasi ketika gelombang masalah menerpa 
Marwan lalu mengirim  sms ke tetangganya, mengajak bertemu di sebuah rumah makan.  Marwan tak hanya  ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan keikhlasannya, memberi informasi yang bukan fitnah. Tapi, informasi yang mengandung begitu banyak faedah. Utamanya, tentang  informasi yang valid. Informasi yang membuat Marwan menyadari bahwa sebagai suami harus memberi perhatian lebih, sehingga prilaku isterinya tidak sampai terlanjur ke tingkat yang lebih parah .
 Informasi yang membuat Marwan, bisa cepat mendeteksi, berkesempatan  melakukan pencegahan sejak dini, berpeluang melakukan berbagai  perbaikan, agar dapat membangun rumah tangga yang harmonis, seperti yang didambakan setiap pasangan rumah tangga
            “ Kita, kan, bertetangga dan sesama hamba Al lah yang ingin tenang, damai dan bahagia dalam istana rumah tangga. Jadi, wajib untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan saya pribadi, hanya ingin mencari ridho Allah. Tapi, saya tetap harus waspada. Artinya, hanya kepada orang-orang tertentu saja saya berani melakukan hal seperti ini.
           Selebihnya, belum tentu saya berani menyampaikan informasi, meski faktanya jelas dan bisa dipertanggung-jawabkan, “ ujar  pak Sadikin, yang di rumah makan malah hanya memesan es susu dan makanan kecil 
            Marwan sama sekali tak memperlihatkan rasa bangga. Juga tak memperlihatkan perasaan puas karena berhasil memergoki Mirna yang tengah kumpul dengan geng rumpinya. Marwan juga tak menumpahkan rasa kesal pada pak Sadikin karena dia telah berhasil mengetahui ulah isterinya yang sungguh sangat menjengkelkan.
          Di saat berhadapan dengan  pak Sadikin, Marwan justeru menyalahkan dirinya. Dia mengakui kelalaiannya,  karena kurang perhatian dan sama sekali tidak mengontrol adanya perubahan tingkah laku Mirna. 
             "Sebagai suami, yang harus kita lakukan bukan menyalahkan apalagi menyudutkan isteri. Kita justeru harus melakukan introspeksi, agar di masa mendatang, jadi jauh lebih baik," kata Pak Sadikin yang dalam kesempatan bertemu dengan Marwan, tak ragu menyatakan rasa salutnya.
              "Sebab," ujar pak Sadikin, Marwan mampu mengendalikan diri meski saat itu ia pasti sangat emosi karena memergoki isterinya malah asyik ngerumpi di rumah tetangga, sedangkan suaminya pergi meninggalkan rumah dengan tujuan mulia, mencari nafkah


Bersambung…….

ADA CERITA (21)

NYANYIAN HATI
Oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH



2
       

Marwan juga menegaskan kalau  dirinya tak mau lagi diperdaya. Dengan blak blakan Marwan mengatakan, kebohongan itu menyebalkan dan kebohongan Marni selain menyebalkan juga membuatnya jengkel. Terlebih, kemesraan Marni tidak seindah dengan kelakuannya. Sok mesra tapi kemesraan Marni  menelikung. Sok perhatian dengan mengucapkan selamat bertugas, tapi sebenarnya Mirna hanya ingin bergegas meninggalkan rumah untuk berkecipa kecipi bersama dengan ibu ibu yang kesemuanya memang seperti sepakat untuk membohongi suami. Kalau suami saja dibodohi bagaimana dengan orang lain?   
      
Menurut Marwan, apa yang dilakukan isterinya adalah perbuatan yang melecehkan suami, dan sama sekali menghargai suami, yang sejak pagi meninggalkan rumah, dan kalau pun dapat rezeki tak lain untuk memenuhi kebutuhan isteri, yang karena tak kerja tentu lebih pantas mengurus rumah dengan kreartivitas dan aktivitas yang mestinya membuat betah karena diperkokoh dengan aktivitas ibadah. 

Karena isterinya tetap membisu, Marwan semakin blak-blakan. Ia bilang, tak suka pada si kap Mirna, yang malah memperlihatkan ketidak-sukaan, dan bukan menunjukkan rasa penyesalan yang dalam. Padahal suaminya berhasil menyingkap kebohongan Mirna, berhasil menangkap Mirna, yang sedang menghabiskan waktu di rumah tetangga. Bukan untuk sesuatu yang positif. Tapi, hanya untuk membangun ke mudharatan

Meski begitu, dengan tetap tenang dan berusaha lemah lembut, Marwan menjelaskan,. Bersilaturahmi itu bukan ngerumpi. Tapi saling berkunjung dan bertemu untuk satu tujuan he bat. Mendapatkan dan meraih berbagai hal yang bermanfaat. Bukan untuk memperoleh hal hal yang malah mendatangkan mudharat.

Mendiskusikan berbagai masalah keseharian, baik tentang rumah tangga atau masalah lingkungan atau hal lain, juga harus obyektif dan dampaknya, selain harus positif juga ber manfaat bagi diri sendiri dan akan semakin bagus jika juga bermanfaat bagi orang lain.

“ Kalau memang perlu, saling berbagi resep masakan dan sekaligus mempraktekkannya. Jika isteri pandai masak, suami pasti lebih suka membudayakan hobi makan di rumah. Menik mati masakan isterinya, sambil berbincang, bercanda dan membangun keharmonisan , “ urai Marwan, yang tak menyesal menyampaikan, meski isterinya tetap diam.

Marwan sama sekali tak menyangka, jika  Mirna yang terus dan tetap diam, akhirnya bica ra. Entah karena emosi, entah lantaran ia tak su ka karena terus dinasihati suaminya. Yang je las, dengan setengah berteriak, Mirna malah bilang : silahkan ceraikan saya .




Bersambung…..

Wednesday, September 11, 2013

ADA CERITA (20)

NYANYIAN HATI
Oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH

         Saat    meminta agar Mirna tidak mengulangi lagi kekeliruannya, Marwan terpaksa mengatakannya dengan agak keras. Dia juga mengingatkan agar isterinya tidak berakrab-akrab lagi dengan ibu-ibu, yang di saat suami pergi ke kantor, malah memanfaatkan waktu luang untuk bergibah. Kekeliruan semacam itu harus berakhir setelah Marwan mendapatkan Mirna tengah asyik bersama ibu ibu di rumah orang lain
         Namun Marwan menekankan kalau yang diinginkan sama sekali tidak berarti melarang isterinya bergaul. Dia justeru mendorong isterinya bersosialisasi dengan siapa saja, karena bergaul bukan hanya hak setiap insan. Tapi sekaligus kewajiban, agar satu sama lain saling mengenal dengan siapa saja dan berakrab akrab pun sangat tak salah, asal paham bahwa dalam bergaul, unsur saling memetik manfaat harus melekat dan satu sama lain dengan sadar harus saling mencerdaskan, saling mengajak ke jalan benar dan bukan malah mengajak ke jalan yang kelak membawa masalah. Bahkan, bisa membawa malapetaka.
          Jika proporsional karena cerdas dalam memilah dan memilih tentu yang kemudian dipetik dari pergaulan adalah manfaat bukan hal hal mudarat. Jadi, kalau dalam bergaul harus ada yang dikalahkan, tentu saja yang dimenangkan bukan keburukan. Tapi jika yang dimenangkan adalah kebenaran dan kebaikan, maka esensi bergaul jadi indah.
          Malah bisa jadi jalan untuk membangun akhlak terpuji dan menyingkirkan berbagai tipikal akhlak tercela.
          Marwan sangat berharap, agar Mirna menjadi isteri dan ibu serta perempuan yang tak hanya bisa dan pandai memilih Tapi juga bisa menginventarisir mana hal hal yang dipenuhi kebaikan yang benar dan mana hal hal yang di dalamnya hanya diwarnai oleh keburukan yang sampai kapan tetap mengandung ketidak-benaran.
          Dalam memilih, harus diketahui dan dipahami, mana pilihan yang seirama, senada, sepemikiran dan satu visi dan satu misi. Dan, kata Marwan,  itulah hak setiap hamba karena setiap orang yang mengaku beriman, harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan yang dianjurkan dan bukan perbuatan yang jelas jelas sangat dilarang.
          Ia tak berhak gaul dan berteman dengan siapa pun, yang beda dalam sikap dan beda dalam mengaplikasikan keimanan. Bukan karena dianggap salah atau keliru. Tapi, sangat tidak tepat, mengingat hati setiap orang yang beriman harus selalu terjaga dan terpelihari dari berbagai macam keburukan.
         Terlebih, sama-sama mengaku beriman dan mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, konsekwensi logisnya bukan membangun akhlak tercela. Tapi melaksanakan seluruh perintah Allah dan mentaulagani Rasulullah, yang diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia.
          Padahal, hukum dan larangan Allah sudah sangat jelas dan semua difirmankan dalam Al Qur’an. Bahkan, begitu tegas. Dan aturan Islam, tak satu pun yang keras. Dan kita tak boleh salah kaprah dalam menafsirkan. Pasalnya,   yang sebenarnya  keras bukan aturan agama. Tapi hati manusia. Ketika hati manusia sudah dikendalikan oleh hawa nafsu, maka saat itu yang dia lakukan adalah apa yang diinginkan dan bukan apa yang dibolehkan.
          Ketika dorongan hawa nafsu semakin tak bisa dikendalikan,  kebanyakan manusia tak lagi menggubris mana yang boleh dan mana yang dilarang. Hal ini dengan mudah bisa terjadi karena semakin banyak manusia yang malah enggan melaksanakan perintah Allah. Meski tahu  semua kebenaran itu datang dari Allah dan telah ditetapkan oleh Allah sejak ribuan tahun silam, malah dianggap sebagai aturan yang membuat dirinya tidak leluasa melakukan yang diinginkan berdasarkan hawa nafsu.



Bersambung…….



Thursday, September 5, 2013

KAPAN TERSANGKA HAMBALANG DITANGKAP

oleh : Oesman Doblank


       ANGIN segar berhembus dari Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tepatnya dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Di sana, Abraham Samad menjelaskan bahwa dalam beberapa hari ke depan KPK akan menahan para tersangka yang terlibat kasus Proyek Hambalang, yang berdasarkan hasil audit BPK, diketahui telah merugikan keuangan negara yang jumlahnya ratusan milyar rupiah
       Sebuah angka yang dalam dimensi kerugian negara sangat fantastis. Sebab, semula proyek tersebut hanya berkisar seratusan milyar lebih lalu didapuk menjadi proyek yang berbiaya lebih dari dua triliun dan ratusan milyar diantaranya bukan buat pembangunan pusat olahraga, melainkan untuk dikorupsi oleh mereka yang berkait erat dengan proyek Pusat Olahraga.
      Jika hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sangat membantu KPK untuk menahan mereka yang telah berbulan bulan ditetapkan sebagai tersangka, tentu, ini merupakan kabar yang menggembirakan karena jika dilaksanakan tanpa hal lain kecuali bukti yang kuat, masyarakat akhirnya tidak lagi bertanya tanya karena memang terasa aneh, jika ada orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka namun masih bebas menghirup udara segar di luat hotel prodeo
     Tentu saja kita boleh berharap jadi fakta, karena Ketua KPK Abraham Samad telah mengatakan hal itu, dan tentu pihak KPK tidak akan bermain main dengan pernyataannya, yang diapresiasi oleh masyarakat luas yang memang sangat menantikan adanya berita soal tindak lanjut yang akan dilakukan KPK terhadap para tersangka yang dinyatakan terlibat dalam kasus Hambalang
      Kita juga mendengar kabar tentang upaya KPK yang akan mengajukan banding atas vonis yang telah dijatuhkan oleh hakim Tipikor terhadap terdakwa yang terlibat dalam kasus Simulator dimana kerugian negara mencapai seratusan milyar lebih. Upaya banding akan dilakukan KPK, karena vonis hakim hanya sepuluh tahun dan denda sebesar lima ratus juta rupiah. Vonis ini, dinilai tidak sesuai dengan tuntutan jaksa yang menuntut Terdakwa dihukum selama 18 tahun penjara dan denda seratusan milyar atau sesuai dengan jumlah kerugian negara.
     Semoga apa yang akan dilakukan KPK menjadi fakta sehingga para tersangka kasus Hambalang di tahan dan selama ditahan tak diberi fasilitas yang membuat masyarakat kecewa karena jika kondisi di tahanan tetap sama dengan di rumah para tersangka, tentu kebanyakan orang malah termotivasi untuk melakukan korupsi, karena di tahan pun tidak merasa tersiksa dan denda yang ditetapkan hakim dalam vonis, jauh lebih rendah atau sangat sedikit dibandingkan dengan uang yang berhasil diperoleh dari hasil korupsi
     Hanya, kita tak pernah tahu, apakah korupsi di Indonesia dapat diberantas dalam waktu singkat atau korupsi tetap membudaya sampai hari kiamat tiba


Monday, September 2, 2013

ADA CERITA (19)

NYANYIAN HATI
Oleh : Oesman Doblank

SEMBILAN BELAS


         Mirna diam. Entah karena kesulitan menjawab, entah karena  tak ingin penjelasannya malah dianggap mengada-ada dan akhirnya berkembang ke hal yang tak diinginkan. Marwan sendiri, tak lantas bicara. Ia pun memilih untuk ikut diam. Agar dari mulutnya tak keluar kalimat yang membuat isterinya merasa tersudut atau tertekan. Juga berusaha menjaga sikap, agar dari dirinya tak muncul ekpresi yang bisa membuat Mirna tersinggung atau membuat dirinya semakin merasa ter tekan.  
        “Oke, mama salah dan atas kesalahan yang mama perbuat, mama minta maaf,” akhirnya, setelah bebe rapa menit saling diam dan hanya saling tunggu, Mirna yang terlebih dahulu membisu, kembali bersuara.
        Marwan menarik nafas lega
        “Syukur mama merasa bersalah dan mau minta  maaf. Abang sudah  memaafkan. Seka rang, tolong dengar baik-baik. Jika ngerumpi atau bergibah itu, tidak dilarang oleh Allah, abang juga mau  melakukannya, ma. Sebab, ngerumpi itu nikmat. Bergibah itu, sering bikin kita jadi enjoi. Dan, membicarakan aib orang lain itu, memang sangat mengasyikkan.
        Hanya, Allah melarang kita bergibah. Me larang hambanya memakan daging saudaranya sendiri. Itu sebabnya, bergibah, ditetapkan seba gai perbuatan yang tidak disukai oleh Allah. Ja di, bukan abang yang tidak suka. Abang juga hobi, Mir. Hanya karena kita harus taat pada aturan agama, harus konsinten dan konsekwen, mau tak mau kita harus taati peraturan yang su dah ditetapkan oleh Allah.
    . Munafik, namanya, jika kita mengaku ber iman pada Allah, tapi tetap melanggar larangan Allah. Munafik namanya, jika kita mengaku beriman, tapi malah sengaja tak mau melaksa nakan perintah yang sudah ditentukan oleh Allah. Mama bisa, kan, mengerti dan me maha mi, mengapa hal ini perlu saya kemukakan  ?“
         Mirna diam. Langsung memandang Mar wan dengan tatapan marah. Agaknya, ia tak su ka mendengar nasehat yang baru saja disam paikan suaminya. Marwan bukan tidak kesal. Kepalanya saja, langsung terasa cenat-cenut. Meski  ia segera membalas tatapan isterinya de ngan tatapan yang lebih tajam, Marwan beru saha untuk tetap rasional. Kepalanya boleh panas, boleh cenat-cenut. Tapi hatinya harus selalu dingin. Kalau perlu, lebih dingin dari ba tu es
         Marwan, ingin Mirna yang biasanya ba wel, banyak bicara, bersedia membahas atau menyimpulkan apakah ia baru mendengar penje lasan yang benar atau sebaliknya Bukan malah kembali diam lalu menatap dengan marah .
         Bukankah Mirna mengaku sudah dewasa? Mestinya, pria atau wanita yang sudah dewasa, bisa bersikap fair dan sanggup menghadapi aki bat, dari suatu sebab yang telah ia perbuat.
         Tapi, Mirna malah memperlihatkan si kapnya yang sama sekali tidak menunjukkan di rinya sebagai isteri yang berani berbuat salah ta pi berani bertanggung  jawab. Dijelaskan ten tang larangan bergibah, malah bersikap aneh. Mestinya, jika tidak suka diarahkan ber dasar kan petunjuk kebenaran—bukan petunjuk Marwan, yaa, jawab tidak suka. Atau, sebaliknya




Bersambung……

Sunday, September 1, 2013

HABIS MANIS SEPAH DIBUNGKUS

oleh : Oesman Doblank


        KASIHAN banget deh si Paijo yang nama panjangnya Paijo Selamat Suntuk  tapi kalau kenalan sama cewek selalu pakai nama David. Kenapa kita harus kasihan? Karena dia baru saja mengalami peristiwa yang tak pernah diimpikan, tak pernah diinginkan dan juga tak pernah diprediksi kalau yang benar benar dialaminya bakal dan bisa terjadi.
       Lhoo, soalnya David - nama yang dikenal oleh Susi Silobakutil, dengan terencana dan sangat sengaja memutuskan tali kolornya. eh, tepatnya tali cinta. Bukan pakai gunting. Bukan pakai pisau lipat. Tali cinta David diputus langsung oleh Susi Silobakutil, pakai gergaji.
       Kalau pakau gunting atau pisau lipat, boleh jadi sakitnya tidak sedahsyat yang dirasakan David alias Paijo. Nah bayangkan saja jika alat untuk memutuskan Paijo menggunakan gergaji. Pelan tapi pasti akhirnya memang putus tuh tali cinta. Tapi, prosesnya kan lambat dan karena proses pemutusannya tidak cepat alias sangat alot, Paijo benar benar merasa kesakitan.
      Gimana nggak sakit dan nggak bikin Paijo kelojotan?
      Waktu kondisi keuangan Paijo masih asyiknya kebangetan, tak ada tanda tanda Susi akan meninggalkan David. Malah, nampak sangat mencintai dan seperti tak ingin melepas apalagi dilepas. Makanya, Paijo gak sayang untuk membelikan apapun yang dipinta. Paijo nggak pernah malas jika Susi selalu ngajak bertemu di rumah makan yang harganya cukup buat masak seminggu.
      Dan, Paijo sangat tidak perduli dengan jumlah uang yang dihabiskan demi Susi. Demi wanita yang dikasihi dan diperkirakan akan menjadi seorang isteri yang kelak bakal melahirkan anak untuk Paijo. Anak yang menurut perkiraan Paijo akan menjadi insan yang berguna bagii nusa dan bangsa. Anak yang di masa depannya akan menjadi seorang pemimpin yang ikhlas, pemimpin yang tidak pernah berpikir untuk membiarkan korupsi meraja dan meratulela, seperti yang sekarang sedang membudaya
     Pokoknya, Paijo yakin banget kalau anak yang dikandung dan dilahirkan oleh Susi yang dipastikan akan disunting dan jadi pendamping hidupnya, akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemimpin handal. Pemimpin yang jika diberi sebelas orang anak muda genius, bisa menggebrak dan mengguncang dunia karena Paijo akan mendidik dan mengajarkan bagaimana caranya mensejahterakan masyarakat. bagaimana caranya, mengelola kekayaan alam dengan kemampuan lokal dan hasilnya mencengangkan dunia internasional
    Nah, jika akhirnya Susi malah menelantarkan dan menyepak Paijo saat kondisi keuangannya mengalami krisis, siapa yang tidak sakit setengah koit. Siapa yang tak merasa hatinya diiris iris, jika sedang dalam kesulitan malah ditendang oleh sang pacar yang sangat dicintai dan sangat diharapkan bakal melahirkan anak yang langsung punya bibit, bebet dan bobot dan memiliki karakter kenegarawanan yang paling mumpuni.
    Kalau saja yang dialami Paijo masih sebatas habis manis sepah dibungkus, tentu saja Paijo masih punya harapan, meski setetes atau malah setengah tetes. Tapi kalau sudah sampai ke tahap habis manis sepah dibuang, Paijo benar benar kelabakan. Benar benar merasa sangat kehilangan.
   Mau lapor ke Polisi, sungguh sangat tidak mungkin karena Susi tetap ada di rumahnya dan sampai saat ini tidak pernah dinyatakan hilang, juga tidak pernah memiliki keberanian untuk melarikan diri dari rumah. Mau melapor ke Satpam, semakin tidak mungkin karena tugas utama mereka hanya menjaga keamanan dan bukan mencari dan melakukan investigasi untuk mendapatkan kembali yang hilang. Jadi, bagaimana mungkin Satpam berkenan mencari atau mendapatkan kembali cinta paijo yang hilang karena diputus oleh sang kekasih, Susi Silobakutil yang ternyata lebih layak diberi nama Susi SilobaAkal karena cintanya ternyata palsu alias mencintai Paijo karena saat pakai nama David masih banyak duit, tapi setelah dokunya lenyap ditinggalkan begitu saja.
    " Aku harus bunuh diri," akhirnya Paijo ambil keputusan nekad.
    " Jangan bunuh dirilah, kan itu perbuatan dosa," ujar sang kebaikan yang begitu melihat tindakan Paijo langsung turun tangan untuk membujuk Paijo agar tidak membulatkan tekadnya.
    Karena dicegah oleh entah siapa, Paijo yang mendengar jelas suara tersebut segera tengok kanan tengok kiri, lirik samping lihat belakang . Tapi, karena tidak melihat siapa pun, Paijo kontan merasa ngeper.
    "Tapi saya tak sanggup hidup," keluh Paijo yang putus asanya belum hilang
    " Yaa. kalau sudah tak sanggup hidup, silahkan anda bunuh diri." Paijo kembali mendengar suara tapi kali ini malah menyarankan dan mendukung Paijo yang mengaku tak sanggup hidup
   Paijo yang makin ketakutan, dalam takutnya malah jadi bingung. Sebab, suara yang jelas ada dan terdengar di telinganya, dinilai sangat tidak konsekwen.
  " Mana yang harus saya pilih? Bunuh diri atawa jangan mati," tanya Paijo yang lupa sama nama hebatnya, Davis karena dalam kondisi demikian dirinya memang Paijo banget.
  Yang kemudian terdengar oleh Paijo memang suara. Tapi, suara yang tanpa menguraikan kalimat. Sebab, hanya gabungan huruf H dan A yang kalau dirangkai jadi HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA....



Saturday, August 31, 2013

ADA CERITA (18)

NYANYIAN HATI
Oleh : Oesman Doblank


DELAPAN BELAS


         Marwan  duduk di depan isterinya, menghadap ke Mirna. Ia merasa, dalam kondisi fit, mampu mengendalikan emosinya
         “ Kita harus mulai saling bicara, dan terbuka“ Marwan mulai bicara agar kebisuan diantara mereka sirna. Sungguh hebat, karena Marwan memang mampu mengendalikan emosinya
         Marwan  hanya menginginkan sang isteri menjelaskan mengapa dirinya  jadi gemar berkumpul dengan para tetangga saat suaminya berangkat dan berada di kantor untuk  mencari nafkah. Mengapa ia  rela tertangkap tangan saat sedang terlena, bergibah bersama di rumah bu Maemunah.
         Setelahnya, yang Marwan inginkan sangat sederhana. Isterinya mau mengakui kesalahannya. Segera meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
         “ Apa lagi yang mau dibicarakan?” kata Mirna, yang akhirnya  memang mulai bicara.
         Dan ketika kebisuan sudah berubah, suasana yang mulai mencair seperti menandakan adanya keinginan dua pihak untuk menyelesaikan masalah.
         Hanya, menurut Marwan, caranya sangat tidak patut.
         Mestinya, tentu saja biasa-biasa saja, tidak malah mengucap dengan cara yang ketus. Tak perlu terus menerus menahan kesal atau rasa malu. Juga tak perlu cemberut seperti itu. Toh, ia isterinya dan meski suami nya berhasil menangkap tangan isterinya, Marwan, tak punya maksud untuk memanfaatkan momen sebagai alat untuk menekan atau menyudutkan Mirna. Sama sekali tidak
         “Menurut kamu, apakah memang tidak ada lagi yang layak dan mesti kita bicarakan?” Marwan malah bertanya, dengan nada datar dan tetap mengendalikan emosinya.
         Mawan benar-benar konsekwen dengan sikap nya, yang sama sekali tidak memanfaatkan kesempatan untuk  menekan atau menyudutkan isterinya. Padahal, bisa saja memvonis karena isterinya tak hanya kata orang telah melakukan hal yang tidak disukai Marwan. Tapi, Marwan sendiri yang mendapatkan sang isteri berada di rumah seseorang, dan saat ditelpon dengan sangat yakin dan sok jujur, mengaku tengah sibuk menyiram bunga.
        “ Kalau pun ada, untuk apa? “ Mirna malah kelihatan kesulitan mencairkan emosi
        “Untuk apa? Menjelaskan, misalnya, agar saya tahu mengapa kamu kok mau dan bisa  melakukan hal yang tak perlu bahkan sangat tidak disukai karena Tuhan melarang hambanya bergibah “
        “Apalagi yang harus dijelaskan? Faktanya, toh, sudah di tangan abang “
        “Yaa..tapi alasan dan sebab musabab yang membuat kamu jadi bersikap norak seperti ini, saya belum tahu. Jadi, saya mohon, tolong kamu jelaskan agar saya tahu” 
        “Mirna sendiri tidak tahu persis, kok. Awalnya, hanya ngobrol di warung saat sama-sama belanja. La lu, akhirnya abang mendapatkan isteri abang sedang di rumah tetangga “ 
        “Ooooh. Lalu, kemesraan yang mama hadirkan se saat sebelum saya ketemu mama,  maksudnya untuk apa ?”



Bersambung……..