Komeng bersyukur
karena supir taksi memahami perkataannya.
“ Maaf pak, saya akan lebih hormat bila bapak
membiarkan saya
tidur dan bersedia membangunkan saya di Satria Raya “
“ Oke dik. Saya
jamin, adik akan selamat sampai tujuan “
Komeng melepas
senyum. Setelah mengucapkan terima kasih, ia menyandarkan kepalanya. Begitu
cepat Komeng terlelap. Supir taksi bergegas menghidupkan tape recorder. Komeng
sama sekali tak terganggu, meski mendengar jelas alunan musik khas Sumatera.
*****
MATA Udin
terbelalak. Ia seperti tak percaya dengan kenyataan yang nampak jelas di
matanya..Meski begitu Udin yakin, ia kenal dengan sosok yang baru saja turun
dari taksi yang berhenti di depan pos di mana ia sedang asyik menikmati segelas
kopi.
Komeng tak
menghiraukan lagi taksi yang bergegas meluncur untuk cari penumpang. Ia juga
tak menghiraukan Udin yang masih saja tercengang, meski Komeng sudah duduk di
sisinya.
“ Bisa-bisanya
kau bikin saya kaget.
Memangnye hari
ini kamu dapat rezeki nomplok ?”
Komeng tak
begitu peduli. Ia malah merebahkan badan di balai pos.
“ Meng ! Kamu
jangan malah tidur, dong !.
Tolong jelaskan,
kenapa kamu sering nasehatin saya untuk tidak
foya-foya, tapi
kamu sendiri malah baru turun dari taksi.
Ongkos naik
taksi, kan,
mahal, Meng. Kalo kamu ajak pemulung
makan bakso mas
Gito, berapa pemulung yang siang ini
ngirit lantaran
bisa makan gratis “
“ Boleh kujawab
pertanyaanmu nanti sore ?”
“ Saya bertanya
sekarang, Meng.
Jawabannya,
harus dijawab saat ini juga “
“ Kenapa kamu
hobi memaksa orang, sih?”
“ Saya sama
sekali tak memaksa. Tapi melihat sebuah fakta dan sangat ingin tahu mengapa ada
fakta yang sama sekali tak pernah saya duga bisa terjadi dan ada. Malah, sangat
nyata “
“ Oke…oke… ,”
Komeng bangun dari rebahnya.
“ Tadi, usai
mengajar, koordinatorku memberiku seratus ribu.Karena ia bilang untuk bekal
naik taksi, yaa, kugunakan untuk naik taksi. Tapi masih ada kembaliannya, kok.
Kamu mau ?”
“ Yaa, kalau
begitu lebih baik maulah.
Sebab, uang itu,
kan,
asal-usulnya sangat jelas.
Dijamin halal
dan tak ada ekses dikemudian hari “
Komeng merogoh
saku jeansnya. Ia serahkan semua kembalian dari supir taksi. Menyerahkan ke
Udin. Tapi, ketika Udin bergegas ingin mengambil, Komeng menarik tangannya.
“ Heiii, jangan
tergesa-gesa begitu, friend..
Ingat, dari
setiap rezeki yang kita peroleh
selalu tersimpan
hak untuk orang miskin.
Kalau kau
lupakan perintah Tuhan,
aku tak bersedia
menanggung dosa kamu “
Baru Komeng menyerahkan
uang di tangannya untuk Udin.
Tentu saja Udin
begitu ikhlas menebar senyum.
“ Kalau saya tak
segera mencari orang miskin, kamu pasti mengatakan, berbuat baik janganlah
ditunda-tunda begitu, kan ?”
Komeng tidak menyahut dengan kata kata. Tapi melepas
senyum sembari memukul mukul bahu Udin.
“ Karena
kebetulan aku lelah dan masih ngantuk, jangan ganggu aku tidur, yaa? “ kata Komeng dengan penuh harap
Kebanyakan
pengemudi – entah angkutan umum atau mobil pribadi, lebih ingin mendahului timbang didahului.
Semua sepertinya hanya ingin cepat sampai di tujuan, timbang lebih baik saling
mengalah atau sedikit bersabar.
Agaknya, jalan
raya sudah dianggap tak pantas untuk mengaplikasikan kesabaran. Padahal,
kesabaran harus mengejawantah dimana dan kapan saja. Bukan malah dianggap tak
pantas diterapkan di jalan raya
Sepertinya keinginan membangun budaya tertib dalam berlalu
lintas justeru sudah semakin ter singkir
dari hati masyarakat pengguna jalan. Entah bagaimana cara meluruskan jika yang
nampak melekat dengan begitu kokoh di jiwa para pengemudi, hanya egoisme. Ingin
selalu berada di depan dan lebih dahulu dari yang lain
Padahal, sikap
dan kepribadian yang malah semakin menonjol
ini, tak hanya merugikan banyak orang. Tapi juga sangat merugikan setiap
pribadi. Terlebih, kecelakaan bisa terjadi kapan , di mana dan bisa menimpa
siapa saja. Dan jika ujung ujungnya jalan raya jadi pusat kemacetan lalu
lintas, entah berapa banyak BBM terbuang sia sia.
Komeng hanya
bisa tersenyum saat seorang pengemudi motor terjatuh, karena menghindari mikrolet
di depannya yang berhenti mendadak. Ketika orang-orang berhamburan – entah mau
menolong atau malah ingin mencari peluang meraih keuntungan, Komeng lebih ingin
masuk ke sebuah taksi yang ngetem di tepi jalan dan meminta sang pengemudi
untuk segera meluncur.
“ Kemana pak? “
pengemudi taksi yang baru saja melarikan mobilnya mencoba menjalin rasa akrab.
“ Grogol, pak “
Komeng menyahut seperlunya.
Bukan tak ingin
berakrab-akrab. Tapi Komeng tahu diri kalau ia sudah lelah. Capek. Bukan
lantaran ia tak dimengerti oleh Badrun dan hanya ia yang paham tentang Badrun.
Tapi, sejak pagi, ia sudah meninggalkan rumah. Setelah melaksanakan tugas
rutinnya, bermain dan membimbing anak-anak jalanan di kawasan Kebayoran Lama, Komeng
ke Blok M. Meski hampir sejam ia berada di Gramedia, selama di sana
hanya numpang membaca. Tak berarti tidak punya niat membeli buku. Dia hanya
mampu membaca karena memang sedang bokek.
Uang di
dompetnya hanya cukup untuk ongkos.
Kalaupun ia bersedia memenuhi ajakan Badrun yang ingin mendiskusikan soal PNS
di sebuah tempat bergengsi, karena Badrun yang janji mentraktir. Jika tidak, ia
pasti tidak naik taksi. Tapi, naik bus.
“ Saya prihatin,
lho dik, dengan nasib pengendara motor
yang terjatuh
karena ulah sopir mikrolet “
Sebenarnya,
Komeng sudah ingin menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Tapi, saat
melirik ia jelas melihat sopir taksi memperhatikan dari kaca spion dan sangat
ingin berdialog, Komeng terpaksa menimpali.
“ Oh yaa ?”
“ Memangnya adik
sama sekali tak prihatin ?”
“ Kalau bicara
soal prihatin, keprihatinan saya jauh lebih dahsyat, pak ?”
“ Maksud adik ?”
Sopir taksi menekan pedal gas lebih dalam.
“ Yaa, saya baru
tidak prihatin jika para pengemudi kendaraan memilih berhati hati.Tidak ngebut
seenaknya, dan selalu memikirkan keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain
“
Sopir taksi
bukan tidak tersinggung. Tapi, tampaknya ia memilih berusaha menjinakkan
ketersinggungannya. Dan, ia berhasil. Sebab, yang kemudian dilakukan olehnya
terasa sangat melegakan Komeng. Terlebih, sang supir yang jelas berasal dari
Sumatera, terlihat jelas dari tanda pengenalnya, lalu menurunkan laju
kendaraannya.
Mestinya,
kalau menurut Badrun, rekannya, Komeng, terpikat untuk melakukan hal yang sama.
Melakukan yang jutaan orang lain juga melakukan karena kenyataan menjelaskan kalau nyaris di semua
instansi, tumbuh dan berkembang budaya menyusup dari jalan belakang. Budaya
yang membuat mudah siapapun diterima menjadi PNS jika bersedia menyediakan dana
sekian puluh juta sebagai konpensasi untuk menikmati kemudahan yang seperti sengaja disiapkan bagi siapa saja yang ingin menjadi PNS dengan cara yang diberlakukan tapi tanpa aturan tertulis
Nyatanya
? Komeng malah menolak. Dia sama sekali tak tertarik untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan. Dan
peluang itu pasti mudah diraih dan mereka tak akan tertipu, karena seorang
paman Badrun punya kedudukan yang strategis.
Hanya, percuma Badrun memaksa,
karena ia tahu persis siapa Komeng. Dan, kalau pun ia mencoba membujuk agar
mengikuti jejaknya, Badrun jadi sangat maklum Komeng menyatakan tak berminat
“
Yaa, apa boleh buat jika kau malah bersikeras menolak. Tapi, kau jangan
tersinggung jika aku menga takan kau tidak akan lulus “
Komeng
malah menanggapi peringatan Badrun dengan senyum. Malah lagi, tertawa terkekeh
kekeh. Sepertinya, yang dikatakan oleh Badrun adalah hal lucu. Padahal, Badrun
yang tak pernah melawak, paling menolak jika diajak ke panggung untuk melucu
Terlebih Badrun
tak saja menjelaskan dengan serius. Tapi juga sangat yakin, siapa pun tak akan bisa
lulus dan tak mungkin diterima jadi PNS, bila cara menempuhnya justeru dengan
cara berbeda. Pasalnya, kenyataan semakin menjelaskan, mereka yang mela wan
arus dan tetap bertahan di jalan lurus, dijamin pas ti hanya bakal tergerus.
Sebab, yang dijami lulus hanya khusus
untuk mereka yang siap, berani dan rela menyuap.
“ Aku tetap
menghargai prinsipmu, Meng.
Sekarang,
ijinkan aku pamit “
Tapi, Badrun
yang sudah berdiri dan siap meni nggalkan Komeng, tak bisa bergegas melangkah
kare na Komeng meraih tangannya.
“ Kau tidak
tersinggung jika aku mengatakan satu hal? “
Badrun tidak
menyahut. Tapi gelengan kepala nya, sangat dimengerti Komeng.
“Aku hanya ingin
mengingatkan. Yang menyo gok dan yang disogok, sama-sama menjadi penghuni neraka
“
Badrun sempat
kaget. Tapi, ia lebih ingin mene pis tangan sahabatnya. Komeng tak berusaha
memper tahankan posisi tangannya. .
“ Kupikir kau
mau bilang siap bergabung.
Tapi kau memang
lebih pantas jadi ustadz, friend. Aku pamit “
Badrun segera
beranjak. Komeng tak merasa di tinggalkan. Ia menyeruput sisa kopinya. Menghela
na fas. Menatap jalan raya, yang semakin padat dengan berbagai jenis kendaraan.
Komeng jelas melihat, masi ng-masing pengemudi lebih menonjolkan kepribadian
mereka yang hanya dipenuhi oleh egoisme pribadi
oleh : Oesman Doblank Gimana bisa sorak sorak bergembiRA Kalau keanehan selalu jadi realiTA Saat mudik banyak yang lewat pantuRA Tapi nasib jalan di sana selalu menderiTA Padahal di tengah jalan gak ada pabrik biHUN Kok saat mudik, lewat pantura jalan tersenDAT Bukan nggak setuju diperbaiki setiap taHUN Kan kualitas jalan bisa dibuat sepuluh taHUN Mestinya malam minggu enak wakunCAR Cuma batal lantaran hujan begitu deRAS Kalau pas mudik lebaran pantura lanCAR Kan waktu dan biaya gak habis terkuRAS Kalau tugas malam nggak usah bergiDIK Toh setan justeru takut kepada manuSIA Saat lebaran jutaan orang kan pada muDIK Kalau pantura rusak, waktu terbuang sia SIA Mestinya bisa bebas sorak sorak bergembiRA Kalau kerusakan jalan gak selalu beruLAH Mestinya sepanjang tahun pantura terpelihaRA Supaya pas lebaran gak selalu jadi masaLAH
oleh : Oesman Doblank Kayaknye, lebaran udeh makinan deket, deh. Pusat perbelanjaan, bukan mulai rame. Tapi udeh mulai makin rame. Makin banyak yang berdatengan makin banyak juga nyang ditawarkan. Soalnya, selain datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan Lebaran, juga banyak yang datang khusus untuk berbuka puasa. Cuma, jangan harap ada yang datang ke sana khusus untuk buka baju dan plorotin celana. Kalau hal itu dilakukan di muka umum dan bukan di toilet, petugas keamanan pasti ditangkap, eh, menangkap alias mengamankan. Setelah diinterogasi sejenak, langsung di eksport ke Rumah Sakit Jiwa. Cuma, tak seorang pun satpam di pusat perbelanjaan yang berani membawa HARGA ke rumah sakit jiwa, baik ke RSJ yang terdekat - Grogol, maupun yang tidak dekat tapi hanya cukup jauh - Bogor. Padahal, jauh jauh hari, HARGA sudah mengumumkan dengan blak blakan kalau dirinya hanya memeriahkan, mengeruk sebanyak banyaknya keuntungan, membangun fenomena tapi sangat tidak menikmati ikut apalagi memeriahkan dan menikmati lebaran "Kenapa lo gak mau ikut Lebaran?" Tanya si MAHAL hal yang belum tahu apakah dia benar bertanya seperti itu sedangkan dirinya belum memutuskan ikut atau tidak menikmati lebaran Setelah memperhatikan seorang ibu yang kayaknya sedih karena duitnya nggak cukup untuk membeli barang yang diinginkan, HARGA menjawab dengan enteng "Lhoo... aku kan nggak pernah puasa. Yang kutahu, orang yang tak pernah mau puasa di bulan Ramadhan, tidak termasuk orang beriman. Nah, namaku HARGA, tercatat di pasar pasar di seluruh dunia, bukan sebagai mahluk yang beriman. Tapi, sebagai mahluk yang oleh para produsen, pemilik modal dan pedagang dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan sepuas puasnya dan setinggi tingginya, justeru dengan dalih BBM kan Naik, Kan bulan Puasa, Kan Lebaran, Kan Natal dan Tahun Baru, kan Panen begini dan bnegitu. Jadi, jangan sedih yaa kalau aku tak ikutan lebaran," pinta harga kepada si MAHAL yang langsung menyahut, sampai mati tak akan mau bersedih, karena bersedih hanya untuk para mahluk yang memiliki kepekaan sosial. " Kalau aku, jangankan memiliki kepekaan sosial, kepekaan untuk menjadi murah saja, tidak ada tuh. Jadi, buat apa aku harus bersedih hanya lantaran kamu tidak ikutan lebaran. Jadi, kamu nggak usah geer lah," kata si MAHAL "Aku bukan geer," kilah si HARGA. " Sebab, bagaimana bisa geer kalau sampai di penghujung malam takbir, aku tetap bekerja keras. Semua pedagang memanfaatkan diriku untuk menjadikan lebaran sebagai momen membangun keserakahan dalam mengeruk keuntungan. Tapi, pas Lebaran aku tak mau ikut ikutan. Kayaknya, aku akan istirahan total, deh. Biarlah mereka yang berpuasa dengan ikhlas dan menang melawan hawa nafsu saja, yang menikmati Lebaran dengan jiwa bersih dan kepekaan sosial yang makin meninggi" "Aku mau lhoo, seperti itu. Cuma, aku yakin nggak bisa. Sebab, aku dilahirkan untuk sombong. Malah, kadang untuk membuat orang miskin jadi sedih, karena gak jadi beli bawang, cabe dan lain lain, karena aku selalu ikut campur. Jadi, aku selalu digunakan oleh para tengkulak untuk meningkatkan gengsi setiap komoditas. Sedangkan si MURAH, adik kembarku, malah disekap di ruang tertutup agar tidak bilang sebenarnya semua barang bisa dibeli dengan harga MURAH. Hanya, nafsu mengeruk untung sebesar besarnya membuat manusia - sadar atau tidak sadar, jadi serakah" " Yaa, aku sangat paham dengan apa yang kamu katakan. Sebab, aku yang dijadikan patokan, dan kamu yang dijadikan nilai tukar. Makanya, aku berharap kau pun tidak usah ikut lebaran. AKu yakin, jika kau tak ikutan, di hari raya si MURAH bisa berhari raya sampai ke dusun dusun di berbagai perkampungan, agar mereka yang tak berduit bisa berhari Raya tanpa merasa malu karena uangnya tak cukup untuk membeli sesuatu," ungkap HARGA MAHAL hanya tersenyum. Karena ia sepakat untuk tidak ikutan lebaran, dia mengajak HARGA datang ke berbagai gudang. " Kau lihat sendiri, kan? Semua ada dan selalu ada. Tapi, para pendulang keuntungan kerap bilang barang tak ada, langka atau panen begini dan begitu. Nyatanya? " Kata si MAHAL " Yaa.. makanya aku merasa makin tak pantas ikutan lebaran. Sebab, aku tak pernah puasa dan tidak dikategorikan sebagai mahluk yang beriman," ujar HARGA sambil mencolek si MAHAL dan mereka menatap seorang boss yang kepusingan menghitung tumpukan uang di depan matanya yang tinggi menjulang "Menurutmu," kata HARGA " Apa yang saat ini sedang kita saksikan?" Harga tersenyum. Baru menjawab "Kita sedang menyaksikan manusia yang diperbudak hawa nafsu sedang mengumpulkan keserakahan yang membuatnya tak sadar, suatu saat pasti mati dan dia tak bawa bekal apapun ke alam kubur, karena di dunia hanya semangat menumpuk harta tapi malas membangun kebaikan dan bersedekah" MAHAL menepuk nepuk pundak HARGA sambil mengurai senyumnya
oleh : Oesman Doblank Ada gusuran buat kepentingan pelebaRAN Kalau warga ikhlas jalan bakalan aWET Kayaknye anak gue semangat nunggu lebaRAN Untung.. puasanye lancar mulutnye gak cereWET Bukan lantaran gue udeh bisa ngejelaSIN Tapi, meski masih bocah anak gue ngerTI Cuma, tetep aje gue terus menerus dikeleSIN Soalnye, die kepengen beli baju begambar aTI Die bilang, kan tiap tahun dituntut naik keLAS Jadi, wajar kalo permintaannye dikabulKAN Gue siap ngebelin kalau puasanye terus ikhLAS Sebagai babe, begitulah yang mesti gue lakuKAN Duuh.. siape tuh yang metik kembang melaTI Kan kalau gak pamit bisa dituding pencuRI Kate pak guru, ngedidik anak mesti pakai haTI Kalau pake sikap kasar malah bisa belok kiRI Yang jelas, sebagai babe gue gak keleleRAN Meski banting tulang siap nyenengin aNAK Semangan anak gue nunggu datang lebaRAN Kalo gak menuhi permintaan rasanya gak eNAK Untungnye, anak gue nggak banyak laGA Dibilangin orangtue didenger dan dilaksanaKAN Puasanye sih gak sebatas nahan laper dan dahaGA Sebab, die belajar hawa nafsunya dijinakKAN Be.. kata die, puasa kan gak bikin aye keleleRAN Malah, rasanya badan makin hari makin seHAT Gue bilang, pokoknye lo berhak nikmati lebaRAN Sebab, diajarin soal agama, di hati si bocah terpaHAT