Wednesday, July 24, 2013

PANTUN SABAR SAAT BERPUASA

oleh : Oesman Doblank


Nebang pohon. kan bisa pakai kaPAK
Gak ada kapak yaa bisa pakai gergaJI
Di saat puasa apa yang harus namPAK
Selain sikap sabar juga tetap mengaJI

Air panas kok malah dimasukin ke ranTANG
Baiknya kan tuang ke termos atau geLAS
Di saat puasa tentu banyak yang dipanTANG
Makanya diajak ibadah jangan bilang maLAS

Kenapa sih ibu minta dibelikan ketumBAR
Lhoo.. kan harus buat makanan tuk berbuKA
Saat puasa tentu saja harus tingkatkan saBAR
Kalau malah emosi, boleh jadi malah bisa celaKA

Celaka, bukan berarti ketabrak atau jaTUH
Tapi kuatir puasa cuma dapat haus dan dahaGA
Selain sabar, manusia mesti taat dan paTUH
Agar sampai kapanpun, iman tetap terjaGA 









Sunday, July 21, 2013

CERITAKU-CERITAMU (4)

JALAN MASIH PANJANG
Oleh : Oesman Doblank

EMPAT

Komeng bersyukur karena supir taksi memahami perkataannya.
 “ Maaf pak, saya akan lebih hormat bila bapak
membiarkan saya tidur dan bersedia membangunkan saya di Satria Raya “
“ Oke dik. Saya jamin, adik akan selamat sampai tujuan “
Komeng melepas senyum. Setelah mengucapkan terima kasih, ia menyandarkan kepalanya. Begitu cepat Komeng terlelap. Supir taksi bergegas menghidupkan tape recorder. Komeng sama sekali tak terganggu, meski mendengar jelas alunan musik khas Sumatera.
*****
MATA Udin terbelalak. Ia seperti tak percaya dengan kenyataan yang nampak jelas di matanya..Meski begitu Udin yakin, ia kenal dengan sosok yang baru saja turun dari taksi yang berhenti di depan pos di mana ia sedang asyik menikmati segelas kopi.
Komeng tak menghiraukan lagi taksi yang bergegas meluncur untuk cari penumpang. Ia juga tak menghiraukan Udin yang masih saja tercengang, meski Komeng sudah duduk di sisinya.
“ Bisa-bisanya kau bikin saya kaget.
Memangnye hari ini kamu dapat rezeki nomplok ?”
Komeng tak begitu peduli. Ia malah merebahkan badan di balai pos.
“ Meng ! Kamu jangan malah tidur, dong !.
Tolong jelaskan, kenapa kamu sering nasehatin saya untuk tidak
foya-foya, tapi kamu sendiri malah baru turun dari taksi.
Ongkos naik taksi, kan, mahal, Meng. Kalo kamu ajak pemulung
makan bakso mas Gito, berapa pemulung yang siang ini
ngirit lantaran bisa makan gratis “
“ Boleh kujawab pertanyaanmu nanti sore  ?”
“ Saya bertanya sekarang, Meng.
Jawabannya, harus dijawab saat ini juga “
“ Kenapa kamu hobi memaksa orang, sih?”
“ Saya sama sekali tak memaksa. Tapi melihat sebuah fakta dan sangat ingin tahu mengapa ada fakta yang sama sekali tak pernah saya duga bisa terjadi dan ada. Malah, sangat nyata “
“ Oke…oke… ,” Komeng bangun dari rebahnya.
“ Tadi, usai mengajar, koordinatorku memberiku seratus ribu.Karena ia bilang untuk bekal naik taksi, yaa, kugunakan untuk naik taksi. Tapi masih ada kembaliannya, kok. Kamu mau ?”
“ Yaa, kalau begitu lebih baik maulah.
Sebab, uang itu, kan, asal-usulnya sangat jelas.
Dijamin halal dan tak ada ekses dikemudian hari “
Komeng merogoh saku jeansnya. Ia serahkan semua kembalian dari supir taksi. Menyerahkan ke Udin. Tapi, ketika Udin bergegas ingin mengambil, Komeng menarik tangannya.
“ Heiii, jangan tergesa-gesa begitu, friend..
Ingat, dari setiap rezeki yang kita peroleh
selalu tersimpan hak untuk orang miskin.
Kalau kau lupakan perintah Tuhan,
aku tak bersedia menanggung dosa kamu “
Baru Komeng menyerahkan uang di tangannya untuk Udin.
Tentu saja Udin begitu ikhlas menebar senyum.
“ Kalau saya tak segera mencari orang miskin, kamu pasti mengatakan, berbuat baik janganlah ditunda-tunda begitu, kan ?”
 Komeng tidak menyahut dengan kata kata. Tapi melepas senyum sembari memukul mukul bahu Udin.
“ Karena kebetulan aku lelah dan masih ngantuk, jangan  ganggu aku tidur, yaa? “ kata Komeng dengan penuh harap














Bersambung





Saturday, July 20, 2013

CERITAKU-CERITAMU (3)

JALAN MASIH PANJANG
Oleh : Oesman Doblank

TIGA


Kebanyakan pengemudi – entah angkutan umum atau mobil pribadi,  lebih ingin mendahului timbang didahului. Semua sepertinya hanya ingin cepat sampai di tujuan, timbang lebih baik saling mengalah atau sedikit bersabar.
Agaknya, jalan raya sudah dianggap tak pantas untuk mengaplikasikan kesabaran. Padahal, kesabaran harus mengejawantah dimana dan kapan saja. Bukan malah dianggap tak pantas diterapkan di jalan raya
Sepertinya  keinginan membangun budaya tertib dalam berlalu lintas justeru  sudah semakin ter singkir dari hati masyarakat pengguna jalan. Entah bagaimana cara meluruskan jika yang nampak melekat dengan begitu kokoh di jiwa para pengemudi, hanya egoisme. Ingin selalu berada di depan dan lebih dahulu dari yang lain
Padahal, sikap dan kepribadian yang malah semakin  menonjol ini, tak hanya merugikan banyak orang. Tapi juga sangat merugikan setiap pribadi. Terlebih, kecelakaan bisa terjadi kapan , di mana dan bisa menimpa siapa saja. Dan jika ujung ujungnya jalan raya jadi pusat kemacetan lalu lintas, entah berapa banyak BBM terbuang sia sia.
Komeng hanya bisa tersenyum saat seorang pengemudi motor terjatuh, karena menghindari mikrolet di depannya yang berhenti mendadak. Ketika orang-orang berhamburan – entah mau menolong atau malah ingin mencari peluang meraih keuntungan, Komeng lebih ingin masuk ke sebuah taksi yang ngetem di tepi jalan dan meminta sang pengemudi untuk segera meluncur.
“ Kemana pak? “ pengemudi taksi yang baru saja melarikan mobilnya mencoba menjalin rasa akrab.
“ Grogol, pak “ Komeng menyahut seperlunya.
Bukan tak ingin berakrab-akrab. Tapi Komeng tahu diri kalau ia sudah lelah. Capek. Bukan lantaran ia tak dimengerti oleh Badrun dan hanya ia yang paham tentang Badrun. Tapi, sejak pagi, ia sudah meninggalkan rumah. Setelah melaksanakan tugas rutinnya, bermain dan membimbing anak-anak jalanan di kawasan Kebayoran Lama, Komeng ke Blok M. Meski hampir sejam ia berada di Gramedia, selama di  sana hanya numpang membaca. Tak berarti tidak punya niat membeli buku. Dia hanya mampu membaca karena memang sedang bokek.
Uang di dompetnya  hanya cukup untuk ongkos. Kalaupun ia bersedia memenuhi ajakan Badrun yang ingin mendiskusikan soal PNS di sebuah tempat bergengsi, karena Badrun yang janji mentraktir. Jika tidak, ia pasti tidak naik taksi. Tapi, naik bus.
“ Saya prihatin, lho dik, dengan nasib pengendara motor
yang terjatuh karena ulah sopir mikrolet “
Sebenarnya, Komeng sudah ingin menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Tapi, saat melirik ia jelas melihat sopir taksi memperhatikan dari kaca spion dan sangat ingin berdialog, Komeng terpaksa menimpali.
“ Oh yaa ?”
“ Memangnya adik sama sekali tak prihatin ?”
“ Kalau bicara soal prihatin, keprihatinan saya jauh lebih dahsyat, pak ?”
“ Maksud adik ?” Sopir taksi menekan pedal gas lebih dalam.
“ Yaa, saya baru tidak prihatin jika para pengemudi kendaraan memilih berhati hati.Tidak ngebut seenaknya, dan selalu memikirkan keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain “
Sopir taksi bukan tidak tersinggung. Tapi, tampaknya ia memilih berusaha menjinakkan ketersinggungannya. Dan, ia berhasil. Sebab, yang kemudian dilakukan olehnya terasa sangat melegakan Komeng. Terlebih, sang supir yang jelas berasal dari Sumatera, terlihat jelas dari tanda pengenalnya, lalu menurunkan laju kendaraannya.








Bersambung……

Friday, July 19, 2013

CERITAKU-CERITAMU (2)

JALAN MASIH PANJANG
Oleh : Oesman Doblank

DUA



            Mestinya, kalau menurut Badrun, rekannya, Komeng, terpikat untuk melakukan hal yang sama. Melakukan yang jutaan orang lain juga melakukan karena kenyataan menjelaskan kalau nyaris di semua instansi, tumbuh dan berkembang budaya menyusup dari jalan belakang. Budaya yang membuat mudah siapapun diterima menjadi PNS jika bersedia menyediakan dana sekian puluh juta sebagai konpensasi untuk menikmati kemudahan yang seperti sengaja disiapkan bagi siapa saja yang ingin menjadi PNS dengan cara yang diberlakukan tapi tanpa aturan tertulis
            Nyatanya ? Komeng malah menolak. Dia sama sekali tak tertarik untuk  memanfaatkan peluang yang ditawarkan. Dan peluang itu pasti mudah diraih dan mereka tak akan tertipu, karena seorang paman Badrun punya kedudukan yang strategis.
            Hanya, percuma Badrun memaksa, karena ia tahu persis siapa Komeng. Dan, kalau pun ia mencoba membujuk agar mengikuti jejaknya, Badrun jadi sangat maklum Komeng menyatakan tak berminat
            “ Yaa, apa boleh buat jika kau malah bersikeras menolak. Tapi, kau jangan tersinggung jika aku menga takan kau tidak akan lulus “
            Komeng malah menanggapi peringatan Badrun dengan senyum. Malah lagi, tertawa terkekeh kekeh. Sepertinya, yang dikatakan oleh Badrun adalah hal lucu. Padahal, Badrun yang tak pernah melawak, paling menolak jika diajak ke panggung untuk melucu
Terlebih Badrun tak saja menjelaskan dengan serius. Tapi juga sangat yakin, siapa pun tak akan bisa lulus dan tak mungkin diterima jadi PNS, bila cara menempuhnya justeru dengan cara berbeda. Pasalnya, kenyataan semakin menjelaskan, mereka yang mela wan arus dan tetap bertahan di jalan lurus, dijamin pas ti hanya bakal tergerus. Sebab, yang dijami lulus hanya  khusus untuk mereka yang siap, berani dan rela menyuap.
“ Aku tetap menghargai prinsipmu, Meng.
Sekarang, ijinkan aku pamit “
Tapi, Badrun yang sudah berdiri dan siap meni nggalkan Komeng, tak bisa bergegas melangkah kare na Komeng meraih tangannya.
“ Kau tidak tersinggung jika aku mengatakan satu hal? “
Badrun tidak menyahut. Tapi gelengan kepala nya, sangat dimengerti Komeng.
“Aku hanya ingin mengingatkan. Yang menyo gok dan yang disogok, sama-sama menjadi penghuni neraka “
Badrun sempat kaget. Tapi, ia lebih ingin mene pis tangan sahabatnya. Komeng tak berusaha memper tahankan posisi tangannya. .
“ Kupikir kau mau bilang siap bergabung.
Tapi kau memang lebih pantas jadi ustadz, friend. Aku pamit “
Badrun segera beranjak. Komeng tak merasa di tinggalkan. Ia menyeruput sisa kopinya. Menghela na fas. Menatap jalan raya, yang semakin padat dengan berbagai jenis kendaraan. Komeng jelas melihat, masi ng-masing pengemudi lebih menonjolkan kepribadian mereka yang hanya dipenuhi oleh egoisme pribadi









Bersambung….

Thursday, July 18, 2013

PANTUN : KERUSAKAN PANTURA

oleh : Oesman Doblank


Gimana bisa sorak sorak bergembiRA
Kalau keanehan selalu jadi realiTA
Saat mudik banyak yang lewat pantuRA
Tapi nasib jalan di sana selalu menderiTA

Padahal di tengah jalan gak ada pabrik biHUN
Kok saat mudik, lewat pantura jalan tersenDAT
Bukan nggak setuju diperbaiki setiap taHUN
Kan kualitas jalan bisa dibuat sepuluh taHUN 

Mestinya malam minggu enak wakunCAR
Cuma batal lantaran hujan begitu deRAS
Kalau pas mudik lebaran pantura lanCAR
Kan waktu dan biaya gak habis terkuRAS

Kalau tugas malam nggak usah bergiDIK
Toh setan justeru takut kepada manuSIA
Saat lebaran jutaan orang kan pada muDIK
Kalau pantura rusak, waktu terbuang sia SIA

Mestinya bisa bebas sorak sorak bergembiRA
Kalau kerusakan jalan gak selalu beruLAH
Mestinya sepanjang tahun pantura terpelihaRA
Supaya pas lebaran gak selalu jadi masaLAH   






















Wednesday, July 17, 2013

NGGAK MAU IKUTAN LEBARAN

oleh : Oesman Doblank


           Kayaknye, lebaran udeh makinan deket, deh. Pusat perbelanjaan, bukan mulai rame. Tapi udeh mulai makin rame. Makin banyak yang berdatengan makin banyak juga nyang ditawarkan. Soalnya, selain datang ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan Lebaran, juga banyak yang datang khusus untuk berbuka puasa. Cuma, jangan harap ada yang datang ke sana khusus untuk buka baju dan plorotin celana. Kalau hal itu dilakukan di muka umum dan bukan di toilet, petugas keamanan pasti ditangkap, eh, menangkap alias mengamankan. Setelah diinterogasi sejenak, langsung di eksport ke Rumah Sakit Jiwa.
          Cuma, tak seorang pun satpam di pusat perbelanjaan yang berani membawa HARGA ke rumah sakit jiwa, baik ke RSJ yang terdekat - Grogol, maupun yang tidak dekat tapi hanya cukup jauh - Bogor. Padahal, jauh jauh hari, HARGA sudah mengumumkan dengan blak blakan kalau dirinya hanya memeriahkan, mengeruk sebanyak banyaknya keuntungan, membangun fenomena tapi sangat tidak menikmati ikut apalagi memeriahkan dan menikmati lebaran
          "Kenapa lo gak mau ikut Lebaran?" Tanya si MAHAL hal yang belum tahu apakah dia benar bertanya seperti itu sedangkan dirinya belum memutuskan ikut atau tidak menikmati lebaran
          Setelah memperhatikan seorang ibu yang kayaknya sedih karena duitnya nggak cukup untuk membeli barang yang diinginkan, HARGA menjawab dengan enteng        
          "Lhoo... aku kan nggak pernah puasa. Yang kutahu, orang yang tak pernah mau puasa di bulan Ramadhan, tidak termasuk orang beriman. Nah, namaku HARGA, tercatat di pasar pasar di seluruh dunia, bukan sebagai mahluk yang beriman. Tapi, sebagai mahluk yang oleh para produsen, pemilik modal dan pedagang dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan sepuas puasnya dan setinggi tingginya, justeru dengan dalih BBM kan Naik, Kan bulan Puasa, Kan Lebaran, Kan Natal dan Tahun Baru, kan Panen begini dan bnegitu.
          Jadi, jangan sedih yaa kalau aku tak ikutan lebaran," pinta harga kepada si MAHAL yang langsung menyahut, sampai mati tak akan mau bersedih, karena bersedih hanya untuk para mahluk yang memiliki kepekaan sosial.
          " Kalau aku, jangankan memiliki kepekaan sosial, kepekaan untuk menjadi murah saja, tidak ada tuh. Jadi, buat apa aku harus bersedih hanya lantaran kamu tidak ikutan lebaran. Jadi, kamu nggak usah geer lah," kata si MAHAL
         "Aku bukan geer," kilah si HARGA.
         " Sebab, bagaimana bisa geer kalau sampai di penghujung malam takbir, aku tetap bekerja keras. Semua pedagang memanfaatkan diriku untuk menjadikan lebaran sebagai momen membangun keserakahan dalam mengeruk keuntungan. Tapi, pas Lebaran aku tak mau ikut ikutan. Kayaknya, aku akan istirahan total, deh. Biarlah mereka yang berpuasa dengan ikhlas dan menang melawan hawa nafsu saja, yang menikmati Lebaran dengan jiwa bersih dan kepekaan sosial yang makin meninggi"
         "Aku mau lhoo, seperti itu. Cuma, aku yakin nggak bisa. Sebab, aku dilahirkan untuk sombong. Malah, kadang untuk membuat orang miskin jadi sedih, karena gak jadi beli bawang, cabe dan lain lain, karena aku selalu ikut campur. Jadi, aku selalu digunakan oleh para tengkulak untuk meningkatkan gengsi setiap komoditas. Sedangkan si MURAH, adik kembarku, malah disekap di ruang tertutup agar tidak bilang sebenarnya semua barang bisa dibeli dengan harga MURAH. Hanya, nafsu mengeruk untung sebesar besarnya membuat manusia - sadar atau tidak sadar, jadi serakah"
        " Yaa, aku sangat paham dengan apa yang kamu katakan. Sebab, aku yang dijadikan patokan, dan kamu yang dijadikan nilai tukar. Makanya, aku berharap kau pun tidak usah ikut lebaran. AKu yakin, jika kau tak ikutan, di hari raya si MURAH bisa berhari raya sampai ke dusun dusun di berbagai perkampungan, agar mereka yang tak berduit bisa berhari Raya tanpa merasa malu karena uangnya tak cukup untuk membeli sesuatu," ungkap HARGA
       MAHAL hanya tersenyum. Karena ia sepakat untuk tidak ikutan lebaran, dia mengajak HARGA datang ke berbagai gudang. 
        " Kau lihat sendiri, kan? Semua ada dan selalu ada. Tapi, para pendulang keuntungan kerap bilang barang tak ada, langka atau panen begini dan begitu. Nyatanya? " Kata si MAHAL
        " Yaa.. makanya aku merasa makin tak pantas ikutan lebaran. Sebab, aku tak pernah puasa dan tidak dikategorikan sebagai mahluk yang beriman," ujar HARGA sambil mencolek si MAHAL dan mereka menatap seorang boss yang kepusingan menghitung tumpukan uang di depan matanya yang tinggi menjulang
        "Menurutmu," kata HARGA " Apa yang saat ini sedang kita saksikan?" 
        Harga tersenyum. Baru menjawab
        "Kita sedang menyaksikan manusia yang diperbudak hawa nafsu sedang mengumpulkan keserakahan yang membuatnya tak sadar, suatu saat pasti mati dan dia tak bawa bekal apapun ke alam kubur, karena di dunia hanya semangat menumpuk harta tapi malas membangun kebaikan dan bersedekah"
        MAHAL menepuk nepuk pundak HARGA sambil mengurai senyumnya








Tuesday, July 16, 2013

PANTUN NUNGGU LEBARAN

oleh : Oesman Doblank

Ada gusuran buat kepentingan pelebaRAN
Kalau warga ikhlas jalan bakalan aWET
Kayaknye anak gue semangat nunggu lebaRAN
Untung.. puasanye lancar mulutnye gak cereWET

Bukan lantaran gue udeh bisa ngejelaSIN
Tapi, meski masih bocah anak gue ngerTI
Cuma, tetep aje gue terus menerus dikeleSIN
Soalnye, die kepengen beli baju begambar aTI

Die bilang, kan tiap tahun dituntut naik keLAS
Jadi, wajar kalo permintaannye dikabulKAN
Gue siap ngebelin kalau puasanye terus ikhLAS
Sebagai babe, begitulah yang mesti gue lakuKAN

Duuh.. siape tuh yang metik kembang melaTI
Kan kalau gak pamit bisa dituding pencuRI
Kate pak guru, ngedidik anak mesti pakai haTI
Kalau pake sikap kasar malah bisa belok kiRI

Yang jelas, sebagai babe gue gak keleleRAN
Meski banting tulang siap nyenengin aNAK
Semangan anak gue nunggu datang lebaRAN
Kalo gak menuhi permintaan rasanya gak eNAK

Untungnye, anak gue nggak banyak laGA
Dibilangin orangtue didenger dan dilaksanaKAN
Puasanye sih gak sebatas nahan laper dan dahaGA
Sebab, die belajar hawa nafsunya dijinakKAN

Be.. kata die, puasa kan gak bikin aye keleleRAN
Malah, rasanya badan makin hari makin seHAT
Gue bilang, pokoknye lo berhak nikmati lebaRAN
Sebab, diajarin soal agama, di hati si bocah terpaHAT