Wednesday, May 8, 2013

CERITA BERSAMBUNG (23)


MASIH ADA JALAN
                                                           oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH TIGA


Kayaknya, jika ia tak mendengar langsung kalimat itu dari anak muda yang ia panggil boss. Tak melihat sikap boss, yang begitu santai dan tulus. Ia tak sanggup menggeser kursi. Tak sanggup duduk di depan boss. Tapi, karena ia langsung melihat dan mendengar, bisa juga ia menarik kursi. Ia berusaha untuk duduk tanpa ragu, malu, apalagi malu maluin. Toh, sudah jelas, boss mengajak dan mengijinkan ia untuk duduk bersamanya
Sabar merasakan, bimbang dan ragunya sudah hilang. Rasa malunya pun lenyap. Sabar sudah bisa tenang. Ia sudah bisa rileks, seperti Boss.
Ah, indahnya. Baru kali ini, Sabar masuk dan menikmati suasana rumah makan me wah. Tak lama lagi, ia yang sudah dipersilahkan pesan makanan paling enak, akan menikmati makanan yang harganya mahal. Malah, isterinya yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit, juga akan kebagian menikmati makanan enak yang harganya lebih dari harga bawang merah yang mendadak naik ke langit tinggi.
“ Yaa, Allah. Terima kasih. Hari ini, ham ba dapat banyak rezeki dan dapat penumpang yang baik hati karena kasih dan sayangMU pada ku, hambaMu, “
Bondan memang tak tahu, suara apa yang bergemerisik di dalam hati Sabar, si tukang ojek. Tapi, ia melihat dan tahu, ada air mata yang mengalir di pelupuk mata si tukang ojek. Dan, tak hanya itu. Dalam hitungan detik, Bondan malah mendengar suara sesenggukan
“ Bang…,” kata Bondan dengan sikap yang tetap saja santai. “ Gue tuh ngajak si abang makan. Bukan nyuruh si abang sesenggukan. Gue ngajak dan nyuruh abang pilih makanan yang abang suka, kenapa malah nangis? Kan, gue udeh bilang, soal siapa yang bayar, bukan urusan bang Sabar. Tapi, urusan gue “
“ Saya ngerti, boss,” kata Sabar, yang ingin hentikan tangis, tapi malah makin seseng gukan
“ Cuma, saya nggak bisa menahan rasa haru. Saya benar-benar nggak nyangka, hari ini Tuhan melimpahkan begitu banyak karunia. Dapat rezeki banyak dan ketemu sama anak muda, yang hatinya baik dan bijak “
“ Bang…bang…,” Bondan terpaksa meminta bang Sabar menuruti kemauannya. Bukan mau tegas, tapi Bondan, tak ingin ikut-ikutan menangis. Terlebih, sedang di restoran, dan tujuan utamanya masuk ke restoran mahal, bukan mau nangis sesenggukan. Tapi, mau makan.
“ Sekarang, tolong si abang jangan sesenggukan gitu. Anak si abang di rumah sakit, boleh nangis lantaran masih bayi. Di sini, abang jangan cengeng. Lagipula, saya mau makan, bang. Kalau si abang nangis, gimana saya bisa makan? Masa’ saya asyik makan si abang malah asyik nangis? Nggak lucu, bang. Sekarang aja, nih, saya sudah tidak tahan lagi, bang, kepingin nangis,” kata Bondan
Suaranya memang tegas dan sangat jelas, tapi hatinya malah jauh lebih lemah dari kata-kata dan sikap tegasnya. Buktinya, Bondan malah ikutan nangis.
“Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu, semua ini gara-gara elu, bang. Gue ngajak makan, mestinya lu senyum dan bukan malah nangis. Tapi, lantaran lu nangis, gue tuh jadi kepingin ikut nangis, bang. Huhuhuhuhu…“
Suara tangisan Bondan lebih keras dari Sabar. Beberapa pelayan spontan menoleh, ke meja 13. Meja tamu mereka, yang belum pesan hidangan tapi sudah pada menangis. Tapi, mereka tak berani mendekat. Hanya saling bisik-bisik. Dan satu sama lain saling tanya sekaligus saling jawab, dengan bahasa tubuh. Artinya, sama-sama tidak tahu, mengapa dan sebab apa tamu mereka, belum makan sudah pada nangis.



Bersambung..........



































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (22)


MASIH ADA JALAN
                                                          oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH DUA


Kayaknya, jika ia tak mendengar langsung kalimat itu dari anak muda yang ia panggil boss. Tak melihat sikap boss, yang begitu santai dan tulus. Ia tak sanggup menggeser kursi. Tak sanggup duduk di depan boss. Tapi, karena ia langsung melihat dan mendengar, bisa juga ia menarik kursi. Ia berusaha untuk duduk tanpa ragu, malu, apalagi malu maluin. Toh, sudah jelas, boss mengajak dan mengijinkan ia untuk duduk bersamanya
Sabar merasakan, bimbang dan ragunya sudah hilang. Rasa malunya pun lenyap. Sabar sudah bisa tenang. Ia sudah bisa rileks, seperti Boss.
Ah, indahnya. Baru kali ini, Sabar masuk dan menikmati suasana rumah makan me wah. Tak lama lagi, ia yang sudah dipersilahkan pesan makanan paling enak, akan menikmati makanan yang harganya mahal. Malah, isterinya yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit, juga akan kebagian menikmati makanan enak yang harganya lebih dari harga bawang merah yang mendadak naik ke langit tinggi.
“ Yaa, Allah. Terima kasih. Hari ini, ham ba dapat banyak rezeki dan dapat penumpang yang baik hati karena kasih dan sayangMU pada ku, hambaMu, “
Bondan memang tak tahu, suara apa yang bergemerisik di dalam hati Sabar, si tukang ojek. Tapi, ia melihat dan tahu, ada air mata yang mengalir di pelupuk mata si tukang ojek. Dan, tak hanya itu. Dalam hitungan detik, Bondan malah mendengar suara sesenggukan
“ Bang…,” kata Bondan dengan sikap yang tetap saja santai. “ Gue tuh ngajak si abang makan. Bukan nyuruh si abang sesenggukan. Gue ngajak dan nyuruh abang pilih makanan yang abang suka, kenapa malah nangis? Kan, gue udeh bilang, soal siapa yang bayar, bukan urusan bang Sabar. Tapi, urusan gue “
“ Saya ngerti, boss,” kata Sabar, yang ingin hentikan tangis, tapi malah makin seseng gukan
“ Cuma, saya nggak bisa menahan rasa haru. Saya benar-benar nggak nyangka, hari ini Tuhan melimpahkan begitu banyak karunia. Dapat rezeki banyak dan ketemu sama anak muda, yang hatinya baik dan bijak “
“ Bang…bang…,” Bondan terpaksa meminta bang Sabar menuruti kemauannya. Bukan mau tegas, tapi Bondan, tak ingin ikut-ikutan menangis. Terlebih, sedang di restoran, dan tujuan utamanya masuk ke restoran mahal, bukan mau nangis sesenggukan. Tapi, mau makan.
“ Sekarang, tolong si abang jangan sesenggukan gitu. Anak si abang di rumah sakit, boleh nangis lantaran masih bayi. Di sini, abang jangan cengeng. Lagipula, saya mau makan, bang. Kalau si abang nangis, gimana saya bisa makan? Masa’ saya asyik makan si abang malah asyik nangis? Nggak lucu, bang. Sekarang aja, nih, saya sudah tidak tahan lagi, bang, kepingin nangis,” kata Bondan
Suaranya memang tegas dan sangat jelas, tapi hatinya malah jauh lebih lemah dari kata-kata dan sikap tegasnya. Buktinya, Bondan malah ikutan nangis.
“Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu, semua ini gara-gara elu, bang. Gue ngajak makan, mestinya lu senyum dan bukan malah nangis. Tapi, lantaran lu nangis, gue tuh jadi kepingin ikut nangis, bang. Huhuhuhuhu…“
Suara tangisan Bondan lebih keras dari Sabar. Beberapa pelayan spontan menoleh, ke meja 13. Meja tamu mereka, yang belum pesan hidangan tapi sudah pada menangis. Tapi, mereka tak berani mendekat. Hanya saling bisik-bisik. Dan satu sama lain saling tanya sekaligus saling jawab, dengan bahasa tubuh. Artinya, sama-sama tidak tahu, mengapa dan sebab apa tamu mereka, belum makan sudah pada nangis.


Bersambung......







































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (21)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH SATU


“Bang…bang ojek, tungguuuu”
Sabar menoleh. Ia melihat pelayan ru mah makan melangkah bergegas untuk mengham pirinya.
“ Ada apa, mas ?”
“Ada apa, ada apa? Gara-gara abang tidak ikut masuk ke dalam, jadi saya yang capek. Sekarang, lebih baik cepat deh, si abang masuk “ Kata sang pelayan restoran, yang tentu saja tak bisa menyembunyikan rasa kesal karena gara-gara Sabar tak langsung masuk ke rumah makan, ia harus kehilangan waktu dan tenaga untuk memberikan pelayanan terbaik kepelanggan atau calon pelanggan
“ Bilang saja saya mau ke warteg,” sahut Sabar yang semula kaget, karena tak me nyangka jika Bondan mengajaknya makan.
Tapi kemudian ia bergegas bersiasat dengan berlagak tidak menggubris ajakan Bondan. Terlebih Sabar melihat, sang pelayan rumah makan yang baru saja memintanya masuk ke rumah makan, tidak tulus dalam melaksanakan tugasnya.
“Si abang jangan norak, dong. Teman si abang tuh mau ngajak makan enak. Ngapain juga si abang malah mau ke warteg ?”
“ Teman?” Gumam Sabar
Ia lalu menatap sang pelayan
“Abang nggak percaya kalau saya dimin ta tolong untuk segera memanggil abang? Maka nya, cepat masuk dan tanya langsung ke teman abang, saya serius apa berbohong?”
Sabar tetap bimbang. Masih antara percaya dan tanda tanya. Pelayan yang ia lihat kesal, bergegas meninggalkannya. Sabar masih menatap sang pelayan yang meninggalkan dirinya de ngan perasaan tidak percaya. Tapi, akhirnya Sabar mengikuti langkah si pelayan restoran.
Ia pun masuk ke rumah makan. Di pintu masuk, Sabar celingukan. Baru bergegas meng hampiri setelah melihat boss, yang duduk di me ja nomor 13 melambaikan tangan ke arahnya.
Meski sudah di depan Bondan, Sabar tak langsung narik kursi. Sabar sebatas sanggup berdiri. Bagaimana pun, sulit menghalau kerag an. Bukankah ia tak diajak juga tak ditawarkan? Sabar masih belum sanggup menarik kursi dan duduk bersama Bondan di rumah makan mahal.
“ Hahahaha, sorri. Saya pikir, bang Sabar ngerti. Nggak taunya, nggak ngerti. Lain kali, walau saya nggak nawarin, ikut masuk aja bang. Oke ?”
Sabar, malah jadi gemetar. Tak bisa menyahut meski hanya dengan kata oke. Ia cuma mampu mengangguk. Itu pun anggukan yang lemah. Anggukan antara kepingin segera duduk , tapi terantuk oleh rasa ragu. Malu
“Nggak usah mikir panjang, bang. Lebih baik tarik tuh kursi, silahkan abang duduk se santa-santainya. Terus, abang ambil ini,“ kata Bondan, sambil ngegeser buku menu ke dekat Sabar.
“Pilih sendiri makanan dan minuman yang abang suka,” kata Bondan kemudian.
“ Jika abang suka dan mau nambah, sampai tiga kali pun, silahkan. Pokoknya, no problem. Yang penting, si abang kenyang. Oh iya, tadi di jalan, kan abang bilang, isteri abang di rumah sakit. Kalau perlu, pesan makanan yang paling enak dan paling mahal. Soal bayar, jangan abang pikirin. Pokoknya, saya traktir.
Tapi, kalau soal selera dan hasrat abang mau makan sampai kenyang, saya serahkan uru san itu ke abang. Sebab, perut abang dan selera abang, pasti sangat berbeda dengan perut dan selera saya. Oke ?”
“ Te..terima kasih, boss,” kata Sabar


Bersambung.....





































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (20)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH


(6)


BONDAN memperhatikan dengan seksama rumah yang ditunjukkan Sabar. Situasi dan kondisi di sekelilingnya, juga tak luput dari perhatian Bondan. Menurut Bondan, posisinya terlalu dekat dengan jalan utama, yang padat oleh berbagai kendaraan karena jalan utama komplek perumahan telah dijadikan jalan alternatif oleh para pengguna kendaraan yang akan menuju Jakarta atau sebaliknya.
Bondan tak suka dengan suasana lingkungannya yang pasti bising.
“Kayaknya gue nggak sreg.Kita cari yang lain aja, “ ujar Bondan sembari kembali ke motor
Sabar kecewa. Tapi, sekejap ia sudah bi sa bilang,” Siap boss “ dan bergegas untuk kembali membawa Bondan ke tempat lain. Tentu saja Sabar sadar, ia tak cuma harus sabar. Terlebih, penumpangnya yang sudah membayar lebih sudah mengingatkan
Sabar sudah ke luar-masuk beberapa komplek perumahan di wilayah perbatasan Jakar ta – Tangerang. Tapi, sejauh ini, belum juga menemukan rumah yang sesuai dengan selera dan pilihan yang diinginkan Bondan. Ada saja alasan, yang membuat mereka harus segera meluncur ke tempat lain, untuk mendapatkan rumah yang diinginkan Bondan.
Sabar memang benar-benar harus lebih sabar. Juga tak boleh bingung, meski ia sudah ke hausan. Pasalnya, penumpangnya saja malah begitu tenang. Sama sekali tidak terlihat merasa kehausan. Sabar bukan tak merasa heran. Tapi ju ga merasa tak enak jika ia harus menepi dan harus mampir ke warung di tepi jalan. Untuk beli air mineral atau minuman apa saja.
“ Kalau ada rumah makan, langsung mampir, ya, bang. Kayaknya, perut saya sudah keroncongan, nih “
Tentu saja Sabar sangat bersyukur. Sebab, saat ia sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa mengatasi rasa haus yang sudah sampai di sela-sela kerongkongan, dan rasa lapar yang membuat perutnya keroncongan, penumpangnya malah meminta agar Sabar mampir ke rumah makan.. Terlebih, tak lama berselang, Sabar me lihat rumah makan bagus. Rumah makan mahal
Sabar benar-benar plong. Ia jadi kepingin makan di rumah makan yang nampak di pelupuk matanya. Rumah makan kelas atas. Hanya, jika ia mampir ke rumah makan itu, apakah penumpangnya berkenan mentraktir ?
Sabar berspekulasi. Ia berbelok ke rumah makan mewah yang baru saja dilihatnya. Bila di anggap oleh penumpangnya tak cocok, toh, ia siap meluncur kembali dengan segera untuk mencari rumah makan lainnya.
Nyatanya, Bondan, penumpangnya, sama sekali tak protes. Tapi, setelah menyerahkan helm ke Sabar, ia ngeloyor dengan begitu saja. Tanpa permisi, tidak ngajak dan benar-benar tak hanya membiarkan Sabar. Tapi, juga langsung meninggalkan Sabar yang masih duduk di atas motornya
Tapi, Sabar hanya sempat tertegun sejenak. Setelahnya, ia sadar, penumpangnya hanya seorang penumpang ojek yang cuma wajib membayar tapi tak punya kewajiban untuk mengajak dan mentraktir tukang ojek makan. Terlebih di sebuah retoran mahal, yang pastinya, harus punya uang karena makanan yang dijual, bukan untuk kalangan pengojek. Kecuali sanggup membayar menu makanan yang terbilang mahal
Sabar yang sadar siapa dirinya dan mengapa ia ditinggalkan dengan begitu saja, segera menstandarkan motornya. Niatnya, satu dan benar-benar bulat: cari warung tegang, eh, Warung Tegal alias Warteg.
Makan di Warteg, meski tarifnya naik sampai lima belas ribu perak, Sabar masih sanggup bayar. Toh, sudah terima uang. Kalau di restoran mahal ? Meski saat ini ia sanggup bayar jika hanya seratus ribu rupiah, tentu saja Sabar harus mikir sejuta kali.
Timbang habis seratus ribu untuk sekali makan, lebih baik dan lebih berani nahan lapar Duitnya, lebih pantas buat bekal makan enam hari di warteg. Untuk itulah, seusai parkir motornya, Sabar bergegas melangkah. Niatnya, ke Warung Tegal. Tapi baru beberapa langkah, Sabar malah mendengar suara yang memanggilnya .



Bersambung........




































CERITA BERSAMBUNG (19)



MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

SEMBILAN BELAS 
 

Bondan sengaja nggak mau nyautin lagi. Bukan lantaran ngantuk. Ia sudah malas bicara. Tapi, tetap buka helm dan menyandarkan kepalanya ke punggung tukang ojek. Sabar tak merasa menanggung beban. Maklum, bayarannya lima ratus ribu.
Sabar manteng kecepatan motornya diangka empat puluh. Dia menarik lega saat berhenti sejenak, di lampu merah Pos Pengumben. Target sudah dekat. Semoga, di komplek pertama yang akan dimasukinya, ada rumah kontrakan atau yang mau dijual, dan cocok dengan selera Bondan
“ Kalau langsung cocok, saya bisa segera bezuk isteri. Ngbarin hari ini dapat rezeki nomplok. Julia sayang pasti senang, “ kata suara yang menggema di lubuk hatinya.
Sabar kembali ngegas sepeda motornya. Melewati sepeda motor, nyang dibawa seorang perempuan yang pasti nggak punya sim. Soalnya, bawa motornya malah ngagokin pengemudi motor laen. Untungnya, Sabar bisa cepat mendahuluinya. Ia jadi bisa cepat melaju, meski kecepa tannya tetap di empat puluh kilometer.
Saat belok ke kiri di lampu merah Joglo, Sabar tersenyum. Menarik nafas lega. Sabar se makin berharap cepat ketemu rumah yang mau di kontrak atau dijual. Soal akhirnya hanya ngont rak atau malah dibeli, bukan urusannya. Sabar cuma ingin cepat, cocok dan kembali mengantar ke pangkalan.
Lalu, ia kerumah sakit. Bezuk dan melaporkan baru saja dapat rezeki nomplok. Agar iste rinya tenang. Tidak berpikir soal dari mana membayar biaya rumah sakit.
Sabar berbelok ke sebuah gang.
Celingak celinguk
Mata sabar melihat sebuah rumah yang di pagarnya ada kertas kartun berisi tulisan : Rumah ini dikontrakkan. Hub. 083806254696
Sabar ingin membangunkan penumpangnya yang ia kira masih pulas dan masih asyik menikmati indahnya mimpi di atas sepeda motor/ Baru saja Sabar akan melaksanakan niat, membangunkan Bondan, eeh, Bondan malah lebih dahulu bersuara.
“Kok berhenti, bang. Memangnya sudah sampai ?”
Sabar bukan tidak kaget. Sebab, ia tak menyangka jika Bondan sudah bangun dan terlebih dahulu bertanya
“ Su..sudah, boss. Tuuh, ada rumah yang di pagarnya ada tulisan mau dikontrakkan,” sahut Sabar, yang mesti dengan gugup, tapi bisa menjelaskan dan penjelasannya membuat Bondan menoleh kea rah yang baru saja ditunjuk oleh Sabar


Bersambung.....

























CERITA BERSAMBUNG (18)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

DELAPAN BELAS


“Iya, boss. Mestinya memang harus seperti yang baru saja boss bilang. Harap maklum, boss, tadi kondisi saya lagi pusing. Kemarin, isteri saya melahirkan. Mestinya, cukup di bidan. Eeh, si Bidan malah langsung membawa isteri saya ke rumah sakit.
Dia bilang nggak sanggup, karena bayinya sungsang. Untung bidannya ngejamin. Jadi lang sung di tanganin. Alhamdulillah, isteri dan anak selamat. Tapi, waktu tadi pagi saya bezuk, dokternya bilang, kemungkinan baru tiga hari mendatang bisa pulang. Nah, siapa yang nggak pusing boss?
Tuh bidan, mentang-mentang mau cepet, eeeh, die bawa ke rumah sakit mahal. Memang sih, dekat dari rumahnya. Tapi, ngeberatin beban saya”
Bondan terpaksa membuka helmnya dan mendekatkan kepalanya ke kepala Sabar, si tu kang ojek
“Waktu bikinnya sama sekali nggak pusing dan nggak terasa berat, kan, bang ?”
“Hahaaha Si boss bisa saja, “
“Tapi, benar, kan, apa yang barusan saya bilang?”
“Sangat benar, boss. Waktu bikin, boro-boro ingat sama pusing atawa beban berat. Sama mertua yang sering cemberut juga tidak ingat. Lhaa, benar, boss. Saya cuma ingat sama enak dan nikmatnya saja.
Malah, kadang kala, maunya pakai nambah. Setelah masuk ke rumah sakit bersalin bertarif mahal, mau nyesalin perbuatan masa silam, malah serasa percuma. Toh, harus tetap bayar juga. Tapi, saya pasrah saja. Semisal di sandera karena nggak sanggup bayar, apa boleh buat “
“Makanya, setelah dapat yang satu ini, langsung di rem dulu aja “
“Waaah, sulit banget, boss. Lagipula nanti isteri saya tersinggung. Kalau saya usul mau nge rem, ntar dia sangka saya nganggap dia truk gandengan. Kan repot “
“Maksud gue, bukan rem kepingin ngekepin, bang Tapi, rem punya anak. Caranya, kan gampang. Pakai kondom aja juga bisa. Praktis, kan ?”
“Waduuuuh, bisa apa nggak, ya, saya pakai kondom Soalnya, terus terang, boss. Meski saya cuma tukang ojek, isteri saya lebih cakep dari Jupe yang jadi bintang iklan kondom yang sering muncul di televisi
“Maksud abang, Jupe tuh, Jupri Pesek atau Jubaedah Peyang ?”
“Bukan itu, boss. Masa sih, boss nggak suka nonton teve dan nggak tau sama Jupe, yang jadi bintang iklan kondom dan sekarang ini sedang ramai diberitakan karena dia nyalonin diri jadi Bupati Pacitan. Sedap punya, tuh, boss, kalau sampai kepilih”
“Sedap punya? Maksud abang apa, sih? “ Bondan belagak bego.
“Yaa, asyik, gitu, boss. Kalau terpilih, pasti satu-satunya Bupati yang tidak mau ngajuin ang garan buat beli pakaian dinas Bupati atau Wakil Bupati. Sebab, Jupe sudah biasa pakai busana yang bahannya selalu kurang. “
“Jadi bupati tuh mesti cukup duit, bang. Buat kampanye. Buat macem-macem keperluan. Stock buat serangan fajar juga mesti siap, bang. Jadi, nggak mungkin dia bisa nyalonin jadi bupati kalau mau beli busana aja duitnya malah kurang “
“Hahahahaha, boss pinter ngelawak juga “
“Hahahaha, abang tau nggak. Saya ngantuk. Boleh, kan, saya tidur sambil nyenderan ke punggung abang ?”
“ Boleh, boss. Silahkan kalo mau tidur “
“ Terima kasih, bang. Hati-hati ya, bang. Ingat, begitu saya bangun, harus di depan rumah yang mau dikontrak. Bukan di bangsal rumah sa kit “
“ Beres, boss “


Bersambung......










































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (17)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TUJUH BELAS

Bondan tak mau lagi mengetahui bagaimana para pengojek tiba tiba saja begitu gembira, dan juga tak menghiraukan apakah yang menerima uang darinya curang atau jujur. Yang jelas, Bondan meminta Sabar untuk segera berangkat.
Sabar yang memang sangat berharap untuk segera meninggalkan pangkalan ojek, tanpa buang waktu membawa Bondan secepatnya. Sabar merasa lega karena sudah jauh dari pangkalan tempat di mana ia menanti rezeki dan membaur dengan kawan kawan seojek, yang hari ini juga kebagian rezeki dari Tuhan yang dibagikan oleh Bondan
Sabar lalntas merancang arah yang hendak dia tuju. Sabar akan membawa Bondan, langsung ke kawasan ke Joglo. Atau ke daerah pinggiran lain yang masih berbatasan dengan wilayah Tangerang. Tapi, setelah hampir dua kilometer berjalan, Sabar seperti bergegas menepikan kendaraannya.
“Kenapa berhenti , bang ?”
Sabar kagak nyaut. Ia standar motornya. Turun dan dengan lugu ia menjura.
“Sorri boss. Saya tadi khilaf. Saya sekali lagi mohon, maaf. “
“Yeee, elu, bang. Lagi-lagi, maaf yang lu pinta. Kalau masih kurang, kan mendingan lu minta duit ? Minta maaf nggak bakalan bisa bikin lu kenyang, bang ”
“Saya serius, boss. Soal bayaran, sudah le bih dari cukup. Jadi, saya benar-benar minta ma af, boss. Maafkan saya boss “
Sebenarnya, Bondan, jadi kepingin nga kak. Tapi, ia tak ingin tukang ojek yang memba wanya kembali salah persepsi
“Yaa, kalau si abang minta duit aje gue siap ngasih. Apalagi kalau cuma minta maaf. Po koknya, gue maafin. Titik. Sekarang, cepat deh kita berangkat “
“Terima kasih, boss. Saya jadi lega. Jadi enak bawanya. Saya siap bawa boss sampai ke pelosok dan jika tidak ketemu, juga siap nemanin sampai besok. Sampai boss dapat rumah yang cocok, “ ujar Sabar.
Ia sudah merasa senang, tenang dan tarikan nafasnya yang panjang serta senyumnya yang nampak gemilang, menjelaskan, Sabar merasa sudah tak punya beban moral. Bondan,yang
ia panggil boss, sudah memaafkan
Sabar juga merasa sangat diuntungkan. Dapat rezeki nomplok dan dapat penumpang berhati dermawan. Anak muda yang tak mengklaim kesalahan dan kebodohannya.Yang tak mengalihkan niatnya ke ojek lain, tapi justeru tetap memilihnya, meski tahu, sikap dan tindakannya sewaktu di pangkalan, memang sangat menyebalkan.
“Kita ke daerah Joglo terlebih dahulu, yaa, boss”Sabar langsung kasih ide. Ia yang sudah siap berangkat berusaha untuk berakrab-akrab.
“Kemana saja. Yang penting komplek perumahan, lokasinya bisa hampir ke Tangerang atau hampir ke Jakarta. Ngerti,kan? Oh iya, siapa nama abang?”
“Sabar, boss,” sabar cepat menyahut tapi ia tetap konsentrasi, saat mulai start lagi. Dan ia sa ngat hati-hati. Tidak mau ngebut. Maksimal ha nya empat puluh kilome terperjam. Kayaknya, Sabar kepinging manfaatin kerjanya sambil ngobrol.
“Lain kali, sikap abang mesti cocok sama nama abang yang tercantum di ktp. Jangan cepat emosi kaya’ tadi ?” Bondan juga cepat nimpalin.
Ia tahu, Sabar kepingin ngobrol. Tapi, ia tidak ingin bersama pengojek yang tidak bisa bersi kap Sabar. Makanya, Bondan tak ragu buat nyentil kelakuan Sabar, yang nyaris berbuntut tidak mengenakan.


Bersambung........








































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>