Thursday, May 16, 2013

SKETSA

DUNIA TAK BISA BICARA
oleh : Oesman Doank


       Tiap kali saya membaca slogan sebuah iklan yang berbunyi Orang Bijak Taat Pajak dengan embel embel kalau tak bayar pajak disebutkan Apa Kata Dunia? Terus terang, sebenarnya saya ingin ngakak. Setidaknya, jika merasa tak enak ngakak tanpa izin, saya ingin mengkonter iklan tersebut dengan iklan yang bunyinya sederhana.
         Bunyi iklan yang rencananya akan saya buat, seperti ini.
         Jangan Biarkan Gayus Bermukim di Hatimu
      Sayangnya, hingga saat ini, iklan sederhana dari yang paling sederhana atau paling tidak sederhana, tak pernah saya buat apalagi sempat saya sebar luaskan. Bukan tak ada biaya atau tak ada percetakan yang bersedia mencetak spanduk atau banner. Tapi, karena biaya yang ada lebih saya prioritaskan untuk beli sembako. 
       Kalau saja saya tak perlu sembako dan bisa menahan lapar apalagi bisa tidak masuk angin, mungkin spanduk, banner atau bentuk alat promosi apapun yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan, boleh jadi sudah saya alihkan biaya untuk membeli sembako menjadi biaya mencetak iklan.
         Hanya, karena yang kemudian terus masuk dalam pikiran di rumah harus selalu ada dan punya sembako, saya tak punya lagi peluang untuk mengkonter iklan yang dikemas oleh dunia pajak, yang menurut kabar masih tetap ada Gayusnya.
          Mengingat hal itulah, akhirnya saya memutuskan untuk meminta waktu kepada dunia, agar berkenan untuk saya wawancara. Jika permohonan saya dipenuhi, saat wawancara berlangsung, hal pertama yang akan saya tanyakan sangat sederhana.
          Apakah tuan dunia bisa bicara dan apa komentar tuan dunia jika tahu ada masyarakat yang tidak bijak dan tidak taat dalam membayar pajak?
          Sayang, sampai hari ini saya tak mau menyempatkan diri  untuk menulis surat pada tuan dunia agar menyediakan waktu luang untuk wawancara. Mengapa? Karena sangat yakin, tuan dunia sama sekali tak bisa bicara dan dia tak paham apa itu pajak, mengapa di satu sisi masyarakat harus membayar pajak sedangkan di sisi lain, gayus gayus berlomba lomba menyelewengkan uang yang dihasilkan dari pajak.
           Menurut hemat saya, keyakinan saya sangat beralasan, karena sejak kecil saya tak pernah melihat dan tak pernah mendengar dunia bicara. Hanya, suara dunia memang ada. Saya kerap mendengar saat angin berhembus, saat gunung meletus dan saat banjir bandang melanda
                Selebihnya, dunia hanya terus membisu.
             Dunia juga tidak pernah berubah menjadi edan. Buktinya, meski banyak yang mengatakan dunia memang sudah edan, yang namanya sang dunia tak pernah protes juga tidak pernah menggelar konprensi pers dalam rangka menje laskan kalau dirinya edan atau tidak edan.
        Jadi, kalau dunia sama sekali tak bisa bicara dan tak pernah menam pakkan keedanannya--apalagi secara signifikan, mengapa dunia pajak harus membuat sebuah kalimat berbunyi : Apa Kata Dunia,  hanya untuk satu tujuan agar masyarakat mau membayar pajak.
             Mau tahu jawabannya. Maaf.... saya justeru paling tidak tahu. 
























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>
             

PERANAN KENTUT DALAM RUMAH TANGGA

oleh : Oesman Doblank


      DAPAT dipastikan, bahwa berbagai forum ilmiah--baik skala nasional maupun internasional, tak pernah tertarik atau tak akan kepincut untuk mengagendakan tema kentut sebagai hal yang perlu dibahas. Selain karena dianggap sepele dan memang sangat disepelekan, kentut masih dianggap sebagai hal yang tabu.
           Disudutkan dan ditabukannya kentut oleh sebagian besar manusia, tak lain karena selain aspek baunya juga lantaran bila ditinjau dari aspek etika, baik jenis kentut yang sebatas peeessss maupun yang meluas menjadi broooot, dianggap tidak layak diperbincangkan karena etika sendiri-langsung ataupun tidak langsung, hanya mengatur hal yang bagus dan indah indah.
              Sedangkan kentut dianggap tak ada bagusnya juga tak ada indahnya.
              Hanya, tak seorang pun yang berani mengingkari kalau setiap pribadi sebenarnya pernah, suka, atau bahkan ada yang mengelola kentut dengan sebaik baiknya. Hal ini dilakukan karena yang namanya  kesehatan tubuh, selain harus tetap prima juga dapat menghalau berbagai penyakit
              Menurut dokter ahli jiwa yang tidak mau disebut namanya karena takut populer dan kuatir direkrut untuk jadi pemain sinetron sebanyak duaribu episode, mengatakan.
              "Bohong, jika ada manusia tidak pernah kentut. Juga bohong, kalau ada manusia yang tak suka kentut. Mengapa?" Kata sang dokter sambil bertanya.
              Eh, saya nggak bisa ngejawab, sang dokter ngejawab sendiri.
           "Karena kentut sangat berkait erat dengan kesehatan tubuh. Sudah banyak contoh konkrit, tapi saya tak pernah tahu berapa jumlah pasien yang harus dilarikan ke ruang gawat darurat, karena selama beberapa hari tak bisa kentut. Uniknya, tiap ditanya dokter, hanya mengatakan mungkin masuk angin. Padahal, kami tau persis, jika sebenanya dia sedang tidak kentut kentut," urai si dokter, yang juga mengaku pernah mengalami hal itu, setelah makan nambah sampai tiga piring, padahal lauknya hanya goreng ikan asin, sayur asem,ples pete dan jengkol.
                "Sebenarnya, waktu itu, setelah makan saya mules dan kepingin kentut. Tapi,lantaran banyak kolega dan akan sangat menjatuhkan gengsi saya bila pas saya lepas bunyinya menggelegar, maka terpaksa saya tahan. Lantas, apa akibatnya? Beberapa hari kemudian saya dilarikan ke UGD sebuah rumah sakit, dan saat bersamaan, beberapa pasien juga senasib dengan saya"
             Sayang... kita tak sampai hati untuk mengakui kalau yang dikatakan sang dokter banyak benarnya dan sedikit sekali salahnya. Tapi, untunglah, saya termasuk salah seorang yang berani mengatakan, bahwa fungsi kentut dalam rumah tangga itu sangat signifikan.
                Waktu isteri saya ngambek dan dia bersembunyi di dalam lemari, saya jadi sedih karena sampai jam sepuluh malah dia belum juga kembali. Saya pikir dia minggat. Maka, saya harus rela tidur sendiri. Namun, saat saya sudah ingin memejamkan mata, tiba tiba terdengar suara ledakan dari dalam lemari. Saya pikir, ada tikus tertembak oleh kucing.
                 Tidak taunya, isteri saya yang sembunyi di almari, tak mampu lagi menahan kentutnya. Dan saat ia ingin bertahan sampai pagi untuk bersembunyi, kentutnya dan gelegar suaranya itulah yang membuat dia harus keluar dari persembunyian dan saya jadi tau kalau isteri saya tidak minggat. Tapi sembunyi dan tekadnya untuk bertahan dipersembunyian dikalahkan oleh rasa ingin melepas kentut.
                   " Timbang saya masuk angin dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit, kan lebih saya lepaskan meski risikonya ketahuan saya sembunyi di almari, " ujar isteri saya sambil menahan malu karena misi sembunyinya terungkap oleh suara kentut yang dilepasnya.
                    Saya sama sekali tidak marah. Saya maklum dan memahami alasannya sangat logis. Dan, sialnya, saat saya ingin menjawab dengan mesra, yang kemudian terdengar bukan omongan saya. Tapi, suara braaat breeet brooot, yang terlepas dengan begitu saja.
                          Saat itu, sebenarnya saya juga mules dan ingin buang gas. Saya pikir, dengan teknik tertentu jika keluar tak terdengar. Nyatanya, malah sangat terdengar dengan jelas. Lalu, apa yang kemudian terjadi.
                           Isteri saya nyubit dengan mesra. Dia bilang, gara gara saling lepas kentut, saya jadi lupa sama kekesalan saya dan sekarang ingin merasakan indahnya kemesraaan pasca saling lepas suara alam.
                          Aaaah.... malam jadi terasa sangat indah, meski bulan sedang tidak purnama.





































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

Monday, May 13, 2013

PANTUN : TOLAK MENOLAK SANTUN


oleh : Oesman Doblank


Bang... bisa kan naik ke atas genTENG
Kalo bisa pasti aye bikinin kopi suSU
Abang pantes deh dibilang ganTENG
Tapi aye nolak lantaran abang madeSU

Diih... ade kok suka banget daging iTIK
Emangnye itik lebih enak dari ikan pePES
Gak sangsi deh kalo ade kebangetan canTIK
Gak layak jadi isteri kalo terus bawa aPES

Diih abang... kenape gak mau singGAH
Emang takut gak diajak makan siANG
Aye yakin banget kalo abang tuh gaGAH
Sayang dompetnye cuma berisi bulu beruANG

Dik.. lihat deh burung gagak terBANG
Kalo cape dia pasti menclok di kawAT
Adik emang selalu diudak udak kumBANG
Sayang adik cuma ahli mencetin jeraWAT
























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

SKETSA

MINTA CINTA MEWAH
oleh : Oesman Doblank


          KEPENGEEEEEEN banget, Dul Semplak ngebanting televisi meski kreditannya belon lunas. Pasalnya, Ijah Blangsak, bokinnye, nyang biasa nonton opera sabun colek, waktu diajak nonton berita, kayak kesima. 
            Bukannye nyebut amit amit jabang bayi, eh terkesimanye malah kagum sama ulah koruptor nyang nyuci duit hasil korup dengan cara ngasih hadiah barang dan mobil mewah ke beberapa cewek kece yang konon katanya artis top dan selebriti setengah populer.
             "Mestinye, abang tuh niru die. Cewek nyang belon sah jadi bininye aje, dikasih mobil mewah sama barang mewah. Bokinnye pasti dihadiahin kapal pesiar mewah," kate Ijah.
        Dul Semplak pikir, cuma komen sepintas lantas lupa sama soal kemewahan. Nggak taunye, Ijah nuntut ke Dul Semplak dan sambil ngerengek die minta dibeliin nyang mewah mewah tapi bukan rumah gedek nyang lokasinya mewah (mepet kesawah)
               " Waktu minta segale nyang mewah,lu mikir ape kagak si Jah?" Tanya Dul Semplak, nyang bukannye marah tapi malah kasian sama bokinnye. Bukan lantaran nggak bakalan sanggup ngebeliin. Tapi, kasihan lantaran Ijah jadi mendadak kagak tau diri. 
                Udeh tau punya laki nyang statusnye cuma buruh, dan gaji per bulan cuma cukup buat pas makan doang. Eh, bokinnye nyang biasenye kagak macem macem mendadak berobah.
                  "Pasti mikir, bang,"kata Ijah.
                "Soalnye," Ijah lanjutin omongannya
              " Tuh orang nyang becandain sapi, kan juga lelaki.Nah, abang juga, kan lelaki.Kalo die bisa, abang juga mesti sanggup," tegas Ijah, sambil ngingetin kalo lakinye bisa ngedeketin bang Jebleh, nyang punya sapi sepuluh ekor dan bisa diajak kerja sama ngurus soal persapian supaya bisa menghasilkan mobil dan barang mewah laennye.
                 " Usul lu bukan nggak bagus, Jah. Malah jenius.Cuman, gue mana punya kesempetan dapetin job nyang kayak gitu. Gue tuh cuman buruh pabrik, Jah. Bagus aje gue kerja di pabrik dangdang dan boss gue nggak praktekin kerja paksa. Coba kalo bos gue nyontoh kelakuan boss pabrik wajan, pasti gue disikse setiap hari," kate Dul Semplak, ngejelasin supaya Ijah jangan macem macem, sebab kalo Ijah neka neko ujung ujungnye ribet.
           " Bilang aje abang nggak mau nyenengin bini,"sentak Ijah nyang langsung ngambek,
           "Lo ngomong jangan asal ngejeblak, dong. Pemilu masih setaon lagi, udeh ngomong macem macem," kate Dul Semplak nyang berharap bokinnye sadar lantaran kagak bakal sanggup menuhin kemauan Ijah nyang mendadak berkelas lantaran biasa naik ojek jadi kepingin naik mobil mewah
          " Bang..." Kate Ijah nyang masih tetap keliatan kagak senang
          "Sekarang gini aje deh. Abang sanggup nggak menuhin permintaan aye"
      Tanpa pikir panjang, Dul Semplak langsung nyaut. Bukan cuma bilang kagak sanggup. Tapi sampai ajal dateng menyapa, juga nggak bakalan bisa menuhin permintaan Ijah
            " Nah, kalau abang gak sanggup, kasih Ijah kemewahan yang laen." kate Ijah.
            Dul Semplak bukan seneng tapi bingung. Soalnye, kalo Ijah minta kapal terbang super mewah, bakalan makin berabe. Bisa bikin Dul stress.
             " Jah.. kemewahan ape lagi sih? Lu jangan mikir gue sanggup, Jah?" Dul jadi memelas
             Tapi setelah Ijah ngejelasin die minta kemewahan cinta dan kalo disanggupin Dul Semplak nggak boleh kawin maning, sang suami jadi narik nafas selega leganya. Lebih lega dari Gelora Bung Karno, lapangan nyepak nyepak bola nyang kalo PSSI maen lawan tim luar negeri lebih sering kalah timbang menang.
           " Abang sanggup, kan?" Tanya bokinnye nyang tetep cembetut lantaran lakinye belum ngejawab dengan teges.
             " Kalo itu sih, gue sanggup, Jah," sahut Dul Semplak, kurang begitu ikhlas lantaran die lagi ngincer jande demplon nyang ditinggal minggat lakinye lantaran matre banget.
                 Cuma, akhirnye Dul Semplak rela ngebatalin niat ngudak ngudak sang janda, sebab, biar cakep banget tapi kalo matre, kagak bakalan setimpal sama penghasilannye.
































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>
                          

Wednesday, May 8, 2013

CERITA BERSAMBUNG (30)


MASIH ADA JALAN
                                               oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH


Sabar terduduk. Kedua kakinya berselonjor Tubuhnya disandarkan ke batang pohon. Sabar tak menghiraukan celananya yang pasti kotor oleh debu. Ia lantas menatap langit, seseng gukan dan membiarkan air matanya berhambu ran.
Sabar kembali sesenggukan. Kalimat yang baru saja ia dengar, langsung membawa nya ke puncak keharuan. Sabar, benar-benar merasa hari ini menjadi hari yang paling indah dalam hidupnya. Hari yang sangat berbeda dengan ribuan hari yang telah dilaluinya. Ia mengangkat kedua tangan, kedua matanya yang bercucuran air mata, memandang luasnya langit
“Tengkyu Tuhan…Tengkyu..Hamba menikmati limpahan karuniaMu yang begitu besar dan tak terhingga.Oooh, Engkau memang Maha Besar, yaa Tuhanku. Engkau memang Maha Agung dari segala keagungan yang ada. Engkau begitu baik pada hambamu yang maha lemah ini, Tuhanku. Bagaimana hamba sanggup membalas semua kebaikan yang telah Engkau limpahkan pada hamba.
Tuhanku…ooh, tengkyu hanya kucurahkan pada-MU, Tuhan..
Alhamdulillah Hirabbil Alamin, ya Rabbku “
Bondan, bukan tak melihat apa yang dilakukan Sabar. Beberapa saat Bondan hanya bisa ternganga. Lantas, dengan agak kesal ia menghampiri Sabar.
“ Lu itu, ngapain, sih bang. Dari tadi, kayaknya kerjaan lu cuma nangis. Terus, di tempat ramai begini, lu mewek? Kalau memang gue nggak boleh ikut ke rumah sakit, nggak boleh bezuk isteri lu dan kagak lu kasih kesempatan kenal sama bayi, lu, bilang terus terang.
Gue bisa panggil taksi dan pulang sekarang juga, kok. Niih, ambil helm lu kalau nggak percaya gue bisa pulang pakai taksi “
Masalahnya, bukan nggak percaya, coi. Lagipula, apa susahnya si boss langsung pulang pakai taksi. Wong, cari kontrakan pakai mobil sewaan yang anti keterjang angin saja, pasti bisa, kok ?
Cuma, ketulusan lu, itu, boss. Cara lu nolong orang, kok, kagak pernah pakai rencana, sih. Ngalir begitu aja, kayak air? Lu benar-benar kagak ngerti, ya, kalau hari ini, gue benar-benar bahagia. Lu tau nggak, sih, karena lu begitu tulus, Allah langsung kasih gue karunia. Langsung bikin gue terus hepi. Gue tuh nangis bukan kagak setuju sama rencana, lu. Tapi, karena ketulusan lu itu yang bikin gue nggak berenti dari rasa haru.
Gue rela, kok, dikatain orang cengeng. Emangnye, gue pikirin. Gue tuh nggak mungkin nggak nangis, boss. Keharuan demi keharuan, terus nerjang dan datang silih berganti, karena ketulusan lu?
Sabar kepingin banget, suara yang bergema di hatinya diungkap dan didengar anak muda yang ia panggil boss. Tapi, ia nggak sanggup. Nggak bisa. Sebab, ia tahu, ketulusan si boss adalah sejatinya ketulusan. Tidak diiming-imingin apapun. Buktinya, di pangkalan, ketika Sabar curiga, ia malah dibayar setengah juta.
Di rumah makan mahal, nggak ngajak ke dalam dan Sabar mau ke warteg, malah dipanggil pelayan dan nggak cuma bebas pesan makanan. Tapi, malah diomelin kalau nggak pesan makanan enak buat isterinya.
Di rumah kontrakan ? Mestinya, bisa ambil yang lebih bagus dengan harga empat belas ju ta buat dua tahun. Eee, malah ambil yang enam juta dua tahun dan sisanya, malah dikasih ke Sabar agar bisa bayar biaya rumah sakit. Dan barusan ? DI tengah jalan malah bilang mau ikut ke rumah sakit.
“ Bang…lu jangan nangis terus, dong. Gue tuh butuh kepastian. Kalau gue nggak boleh ikut ke rumah sakit, ambil nih helm lu. Sekarang juga, gue mau langsung pulang. Kalau lu ijinin, cepat berangkat. Lu pikir enak diliatin banyak orang ?”




Bersambung......



























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (29)

MASIH ADA JALAN
                                             oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH SEMBILAN


“Saya masih kepingin nangis, boss. Sebab, sa ya benar-benar bahagia. Saya nggak sangka, sete lah ketemu sama boss, Allah malah memberi sa ya kemudahan dalam menyelesaikan masalah, “ ujar Sabar sambil terus merapikan uang yang sudah dihitungnya
“Bagaimana, sekarang, sudah bisa apa belum jika kita cari mesjid?”
“Sangat bisa, boss. Uangnya, su dah saya hitung. Jumlahnya cukup. Tidak kurang tidak lebih. Sekali lagi, ijinkan saya mengucap kan terima kasih “
“Yaa, sama-sama. Tapi, gue minta sekali lagi, jangan terus-terusan nangis. Ntar di sangka orang, gue habis ngegebukin si abang la gi“
“Sembarangan. Kalau ada yang be rani bilang begitu sama boss, biar saya yang ha jar “
“Belagu lu bang. Mengeringkan air mata saja, lu belum bisa. Gimana bisa ngeha jar orang? Makanya, lu stop deh tuh tangisan. Te rus kita ke luar, cari mesjid “
Sabar berusaha menenangkan diri nya. Setelah dengan susah payah, akirnya, ia berhasil nyetop tangisannya. Sabar lalu ngelap air matanya. Baru ia merasa leluasa dan bisa mengeluarkan motor, dari teras rumah, yang harga kontraknya sudah dibayar Bondan


(7)


RENCANANYA, begitu sampai di pangkalan ojek, Sabar akan menurunkan si boss. Sekali lagi ia akan mengucapkan terima kasih. Begitu berpisah, Sabar langsung cabut, meluncur ke rumah sakit. Rencana kedua, setelah menye rahkan tas plastik warna merah berlogo rumah makan mahal, ia akan buat surprise. Hanya me nyerahkan uang yang setengah juta rupiah. Jika isterinya menanyakan soal biaya untuk bayar rumah sakit, ia hanya akan bilang:
“Kamu berdoa saja “
Dengan begitu, isterinya jadi harap-harap cemas. Jadi, isterinya akan mikir, dan di saatnya, ia akan bilang, soal rumah sakit sudah beres. Kalau sekarang pulang, tak bakal ada yang meng hadang. Tak akan ada yang berani menyandera
Karena itulah, Sabar menyalakan lampu sein motornya. Niatnya, sebentar lagi, dia harus tepat dan cepat berbelok ke kiri. Begitu masuk ke jalan arteri, ia akan langsung bablas sampai ke Pejompongan. Nantinya, belok ke kanan dan sampai ke pangkalan.
Belum sampai belokan, boss meminta agar Sabar menepikan motornya. Sabar hanya berpikir senangnya saja. Ia menduga, boss akan turun. Setelah menyerahkan helm terus bilang, karena tak tahan terus menerus keanginan, saya permisi dan memilih naik taksi
Nyatanya? Begitu motor menepi ke pa ling sisi, boss memang turun dari motor. Tapi, yang disampaikan benar-benar di luar perkiraan Sabar
“ Bang…kalau boleh, gue mau ikut ke rumah sakit Gue mau bezuk isteri lu, mau kenalan sama bayi lu yang baru lahir ke dunia dan setelah beres, baru anter gue ke pangkalan. Gimana, setuju ? “
Sulit bagi Sabar untuk menjawab tidak setuju. Tapi, ada yang jauh lebih sulit dari seke dar menjawab hal itu. Makanya, Sabar standar kan motor, cabut kunci dan bergegas ke salah satu pohon rindang yang berjajar di sepanjang ja lan.Jaraknya hanya sekitar lima meter dari mo tornya yang sudah distandarkan.


Bersambung......



















<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (28)


MASIH ADA JALAN
                                              oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH DELAPAN

“Emang, keluarga boss ada yang sakit? Anak atau isteri, boss ?”
“Gue, kan masih jomblo, bang “
“Boss masih jomblo. Kalau begitu, yang sakit, jika bukan orangtua pasti kakak atau adik nya, boss “
“Maksud gue, begini, lho, bang. Gue tuh, kan ngontrak dua tahun. Kalau gue ambil yang disebelah, kan, mesti bayar empat belas juta. Nah, kalau yang ini, kan , cuma enam juta. Jadi, gue tuh ngirit delapan juta, kan ?”
“Kalau hitungannya begitu, memang benar, bisa ngirit delapan juta, boss. Berarti masih bisa bayar biaya rumah sakit keluarga boss yang lagi dirawat “
“Gue tuh nggak punya keluarga yang lagi dirawat di rumah sakit, bang. Ngaco aja, lu ?”
“Ngaco gimane, boss. Kan, barusan, boss sendiri yang bilang, nggak cukup buat bayar rumah sakit “
“Yang lu bilang, emang nggak salah, bang. Cuma, maksud gue begini. Kalau gue ambil rumah kontrakan sebelah, berarti gue bayar empat belas juta. Kalau yang ini, kan, cuma enam juta. Berarti gue bisa irit delapan juta. Naah, maksud gue, duit yang bisa gue irit, yang jumlahnya delapan juta, mau gue pakai buat …enaknya buat apa, ye, bang ?”“
“Buat renovasi kan, bisa, boss. Jadi, nih rumah, walau masih asli, bisa lebih enak dipakai “
“Soal renovasi nggak usah lu pikirin, bang. Itu urusan gue. Gimana kalau gue pakai buat. “
“Beli perabotan, boss. Jadi, perabotan boss, baru semua. Oke, punya, tuh, boss ?”
“Kayaknye, lebih oke kalau gue pakai buat bayar biaya rumah sakit isteri lu, deh, bang “
Sadar, tercengang. Ia seperti tidak percaya mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulut Bondan. Padahal, sangat jelas tak mungkin tidak terdengar.
“Yee, gimana juga, sih, lu, bang. Apa nggak boleh, kalau gue mau membantu meringankan be ban lu bayar biaya rumah sakit. Tadi, lu bilang isteri lu lagi dirawat, kan ?”
“Be..benar, boss. Cu..cu.. Cuma Astagfirul lah Haladziem. Subhanallah Alhamdulillah Hi robbil ‘Alamin. Boooosss, terima kasih, boss. Terima kasih, Yaa Allah, hari ini, begitu banyak rezeki yang kau limpahkan pada hamba, Tengkyu Allah. Tengkyu ”
Sadar langsung sungkurkan kepalanya, Ia bersujud ke lantai, bersyukur. Tangisnya pecah. Tangis haru, tangis bahagia. Bondan, membuka tas yang tergantung, diikat dipinggangnya. Meng ambil uang. Menghitung. Ia membiarkan Sadar sesenggukan. Baru berhenti setelah Bondan usai menghitung uang dan mengangkat tubuhnya.
“ Bang…tolong terima uang ini, yaa. Tolong gunakan untuk bayar rumah sakit, agar isteri dan anak abang bisa cepat dibawa pulang. Ingat yaa, bang. Gue cuma bisa bantu buat bayar rumah sakit. Bukan buat foya-foya. Gunakan baik-baik, ya, bang “
“Alhamdulillah yaa Allaaah. Eng kau me mang Maha Suci. Maha Besar. Saat hambamu bi ngung, kau datangkan boss yang baik hati untuk menolong hamba. Terima kasih banget, boss. Terima kasih “
Bondan tidak menggubris
“Duitnya, tolong cepat diambil, bang. To long hitung, kalau kurang dari delapan juta, bi lang aja. Setelah abang hitung, simpan baik-baik. Kalau abang sudah tenang, kita segera cari mes jid. Kita shalat Dhuhur. Abang imam saya mak mum, yaa?”
“Iya, iya, eh, nggak boss. Boss saja yang jadi imamnya. Saya jadi makmumnya. Soalnya, saya lagi terharu. Takut, nanti terus nangis, malah sho lat saya jadi nggak konsen “
“Yaa, sudah, abang jangan buang air mata terus. Nanti, kalau habis, kan susah belinya. Percuma punya duit kalau kita nggak punya air mata “



Bersambung.......



































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>