Monday, May 6, 2013

SKETSA KITA


 Sketsa

AUU AH GELAAAAP
oleh; Oesman Doblank

LAGI asoi nyantai di rumah, Komeng yang sudah enam bulan nganggur kedatangan tetangga pas sebelah rumah yang sedang renovasi rumahnya menjadi dua lantai, Dia minta tolong dan berharap Komeng berkenan membantu pekerjaan ngecor dak, di rumahnya. Komeng yang sama sekali tak iri dengan rezeki tetangga sebelah yang sedang melimpah, tentu saja girang.
Alhamdulillah…hari ini, ada juga rezeki datang menghampiriku,” Komeng membati dan membayangkan, nanti sore dapat uang senilai jasa tukang.
Komeng akan ikhlas bila bayaran yang diterima setara dengan tukang . Bukankah timbang dapur tidak ngebul, lebih baik nguras tenaga tapi menghasilkan? Komeng langsung lupa kalo ia pernah kerja di kantor dan selalu tampil berdasi dengan bayaran yang lumayan.
Esoknya, pagi pagi Komeng sudah stand-by
Ngangkut adukan dari bawah ke atas emang cuma seember-seember. Tapi lantaran terus menerus, capeknya jadi terasa. Pinggang serasa mau gempor. Tapi, Komeng ikhlas, karena harapan dapat uang tidak kandas, berkat kesiapan Komeng melaksanakan tugas dan berjibaku dengan kerja keras.
Senja pun tiba. Komeng yang kecapean dan mau cepat-cepat pulang, girang bukan main saat sang tetangga memanggilnya.
Alhamdulillah…akhirnya…hari ini aku dapat uang. Terima kasih Tuhan,” kata Komeng dalam hati, bersama kegembiraannya yang bertubi-tubi.
Begitu Komeng mendekat, Mas Qorun langsung menyalaminya. Dan, tanpa beban mental, ia berkata :
Terima kasih, yaa, bang Komeng. Saya doa kan, semoga bantuan yang bang Komeng berikan kepada saya menjadi amal dan ibadah yang diridhoi oleh Allah Subhanallah Taala “
Sama-sama, mas. Terima kasih juga atas doa nya,” sahut Komeng, yang sesungguhnya kepingin ba nget mewek saat itu juga, lantaran ia hanya diberi ucapan terima kasih, dan sama sekali tidak diberi upah meski sudah kerja seharian dan sampai sedemikian kelelahan. Hampir patah dia punya pinggang
Komeng yang sudah sangat capek, merasa makin capek. Lantaran samas sekali tak disangka, harapan yang dibentangkan, tak seindah kenyataan yang nampak di pelupuk mata. Meski begitu, Komeng tetap bersyukur. Sebab, upah tak digapai, tetap ada yang sampai. Yaitu, doa tetangganya.
Sesampai di rumah, Komeng yang kepingin istirahat, langsung tercekat. Soalnya, bokinnya mengingatkan
Bang..ingat, yaa..besok, kalau rekening listerik tidak dilunasin, aliran listerik di rumah kita bakal dicabut“
Komeng hanya mampu menyahut dengan sang at singkat. “ Yaa, aku tahu “
Padahal, selain tahu, Komeng juga sangat yakin, mulai besok malam, kalau benar benar dicabut, Komeng cuma bisa bilang “ Auuu aaah, gelaaaaap “ Sedangkan isterinya bakal bilang, karena di rumah gelap aku akan ngungsi ke rumah nyakop bokapku
Mudah mudahan ente nyang ngenes sama nasib ogud, nggak di PHK lantaran perusahaan bangkrut,” kata Komeng, ia berdoa dalam hati, dengan harapan tidak banyak orang yang bernasib seperti dirinya

CERPEN (BAGII)



Cerpen                                                                               oleh: Oesman Doblank

HARI SUDAH SENJA 

 

Sudah sekitar tujuh tahun Babe mengajar anak-anak mengaji di rumahnya.

Anak-anak yang sejak awal Babe membuka pengajian di rumah sudah mengaji di sana, tetap datang mengaji meski sudah duduk di SMA. Hanya, tidak setiap hari. Mereka ha nya hadir seminggu se kali, setiap malam Jum’at.
Babe tak lagi mewajibkan mereka menga ji. Muridnya yang sudah di SMA, diajak untuk membahas siapa Allah dan mengapa Sang Kha lik mengutus Rasulullah Saw untuk memperbai ki akhlak manusia, dan bukan untuk menikmati sepuasnya segala yang diciptakan Allah yang bertebaran di dunia.
Tentu saja orangtua mereka senang. Soal nya, sejak ngaji di rumah Babe, anak-anaknya malah bisa jadi juara di sekolahnya. Sehari-hari, betah di rumah. Rajin membantu orangtua dan semakin berbudi pekerti. Tak seorang pun yang terpengaruh oleh rusaknya lingkungan. Padahal, banyak anak-anak remaja di lingku ngan mereka, yang sudah akrab dengan ganja dan minuman keras.
Babe sangat ingin menolong remaja yang suka bermabuk-mabukan, menghisap ganja dan gemar pulang pagi. Tapi, ia merasa tak leluasa, Sebab, orangtuanye tak pernah menganjurkan anak-anaknya belajar mengaji di rumah Babe.
Mereka lebih suka mendaftarkan anaknya di tempat bergengsi. Yang gurunya dianggap pintar karena sering tampil di televisi, punya titel – termasuk gelar Haji, bayarannya pun mahal, dan tempatnya sangat sesuai dengan biaya yang dikeluarkan, mewah dan ber-ac.
Sedangkan di tempat Babe, sangat seder hana. Ruangannya sempit. Tak dipungut baya ran. Kelebihannya, hanya sebatas teh manis panas, buatan isteri babe yang setiap malam di sediakan untuk dinikmati anak anak, seusai me ngaji.
Hal lainnya, Babe tak punya gelar. Di du nia pendidikan hanya SMU, diperibadatan, tak ada tanda-tanda bisa memiliki gelar Haji.
Jika Babe tak menyesal karena tak bisa membantu semua anak di komplek tempat ia tinggal untuk mengenal dan paham tentang akhlak, karena ia tahu,sebenarnya, orangtua me reka yang kerap mengecilkan Babe-- karena ha nya mampu tinggal di rumah kontrakkan, telah mendaftarkan anak-anaknya ke lembaga pendi dikan yang dianggap sangat bergengsi.
Lembaga yang selalu beriklan di koran, te levisi dan tak bosan menyebar brosur yang isi nya, mampu mencetak para siswa menjadi manusia yang beriman dan berilmu.
Sedangkan Babe, hanya berusaha menjelas kan, seperti apa akhlak yang pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw, kepada para Sahabat dan para pengikutnya, yang kagum pada Rasulul lah, karena kesederhanaannya itu indah dan mulia. Karena dengan kesederhanannya, tangan nya menyelamatkan dan mulutnya menentram kan.
Setelah menjelaskan, Babe selalu berusaha untuk mengaplikasikan. Jika ia menjelaskan ki kir itu celaka, Babe membuktikan memberi itu membahagiakan orang lain. Jika Babe menjelas kan, tulus itu gudang berkah, sejak mengajar ngaji anak-anak, ia tak pernah meminta upah.
Tiap diundang ceramah di berbagai tem pat, tiap dapat giliran jadi khotib Jum’at di mesjid, Babe melakukannya dengan tulus. Ka rena menurut Babe tulus itu tanpa pamrih, ia hanya berharap upah dari sisi Allah. Menurut Babe, upah dari Allah, jauh lebih baik dan ber sifat kekal.
Lalu, jika Babe diminta menjelaskan me ngapa menolak dengan halus bila diberi honor setelah ceramah atau khotbah Jum’at. Ia men jawab semampunya.
Kata Babe, para Rasul yang diperintah kan oleh Allah untuk berdakwah, melaksana kan tugasnya dengan ikhlas. Ikhlas, menurut Ba be, artinya tidak meminta atau berharap dapat upah. Jika sudah menyebut ikhlas, dengan ala san apapun, hati tidak boleh tergoda untuk ber harap apalagi meminta upah.
Maka bertakwalah kepada Allah dan taat lah kepadaku. Dan aku tidak minta upah kepa damu untuk usaha ini, upahku hanya dari Allah, Tuhan Semesta Alam.
Asy Syu’ara 179 – 180,

******

SELALU ada, yang membayar lebih.Wak tu mulai ngojek, Babe heran. Tapi, setelah bebe rapa hari kemudian, Babe yakin, begitulah cara Allah Subhanallah Ta’ala, memberi rezeki, se hingga dua anaknya tetap bisa sekolah. Bisa makan, dan setiap malam, isterinya, tetap bisa menyuguhkan teh manis panas untuk anak anak , seusai mereka mengaji
Allah jualah yang menggerakkan hati seo rang penumpang ojeknya, yang baru pertama kali naik ojek Babe, tapi tanpa ragu, meminta agar Babe berkenan mampir ke rumahnya.
Setelah Babe menyeruput teh hangat di te pi kolam renang yang terletak di belakang ru mah mewah, Babe baru tahu, penumpangnya sengaja minta turun pada supirnya, karena ia melihat Babe di pangkalan ojek, sedang duduk di motornya.
Karena ia yakin pernah mengenal Babe saat berceramah di kantornya, penumpang yang ternyata the big boss perusahaan cukup besar dan ternama, sangat penasaran pada Babe dan sangat ingin mengenal siapa Babe sebenarnya.
“Ya, inilah saya. pagi sampai Ashar beker ja sebagai tukang ojek. Malam mengajar ngaji, dan di waktu tertentu, jika ada yang meminta ceramah, saya ceramah,” kata Babe.
Ia juga menjelaskan, sama sekali tak mera sa terpaksa, menjadi tukang ojek. Sebab, sete lah minta pensiun dini dari pns, harus tetap memberi nafkah untuk keluarga.
“ Jadi, bapak malah minta pensiun saat ak an naik pangkat?” Tanyanya
“Menurut saya, bukan saat naik pangkat.
Tapi, itulah saat beban hati nurani saya bertambah berat. Saya pasti dipindahkan ke tem pat basah. Jika tidak ikut basah, malah disinisi. Malah dibilang sok suci.
Daripada saya menanggung beban sok su ci, saya pilih minta pensiun dini. Teman dan saudara-saudara saya, kaget. Hanya isteri saya yang memberi ucapan selamat.
Dia, juga bilang, lebih ikhlas saya pensiun timbang setiap pulang ke rumah, dia selalu ber tanya, apakah uang yang saya serahkan, di da lamnya penuh berkah atau campuran berkah dan tidak berkah.
Saya merasa beruntung, karena isteri saya masih tetap seiring sejalan dalam mengayuh bi duk rumah tangga.
Begitulah saya
Sama sekali tak ada apa-apanya.
Mungkin karena itu, teman teman dan sau dara kandung saya, menilai saya orang bodoh.
Tapi saya tetap merasa sangat beruntung, sebab, isteri saya memberi ucapan selamat “
The big boss alias pak Margono manggut manggut, setelah mendengarkan penjelasan Ba be. Tak lama, mereka larut dalam perbincangan yang mengasyikkan.
Mulai soal politik, hukum, ekonomi, dan so sial, yang meski pun sama sekali tak dibahas se
cara mendalam – hanya sekilas pintas, tapi membuat mereka jadi merasa akrab.
Pak Margono harus merelakan Babe, yang setelah ikut shalat Ashar di rumahnya, langsung pamit karena ia harus pulang, dan sampai magh rib, jika luang, selalu berkumpul dengan isteri dan dua anaknya di rumah. Saat-saat itulah, kata Babe, ia dan keluarga berkomunikasi dan saling berbagi.
Tapi, pak Margono tak lupa meminta ala mat rumah Babe. Tanpa ragu, Babe menulis ala mat rumahnya, lengkap dengan nomor hape
Keesokan harinya, Babe terpaksa menunda keberangkatannya mengantar Dinda ke sekolah dan setelah itu baru menuju ke pangkalan ojek, karena saat akan meninggalkan rumah, pak Mar gono tiba di depan rumah, bersama mobilnya.
Babe segera mengajaknya masuk. Ia tak risi mengajak pak Margono duduk di ruang tamu ru mahnya, meski kursi di ruang tamunya, hampir semua robek. Malah, bagian tengah sofa pan jangnya, sudah jebol. Tapi, pak Margono justru duduk di sofa panjang, yang karet busanya bermunculan ke luar karena kain penutupnya sudah pada amburadul
Isteri babe bergegas menyuguhkan teh pa nas. Dinda, putrinya, bergegas cium tangan Babe, lalu ke ibunya, dan tanpa ragu, ia cium tangan ke Margono. Setelah itu ia pamit.
Dinda tetap berangkat, karena ia tak ingin terlambat sampai ke sekolah. Dinda, sama seka li tidak merasa kesal, meski ayahnya batal me ngantarnya ke sekolah
Pak Margono, tak merasa kikuk, meski harus duduk di sofa rusak. Juga tak kikuk, keti ka sangat ingin menikmati teh panas buatan isteri Babe, meski baru saja diletakkan di meja ruang tamu, oleh isteri Babe.
Setelah mereguk teh panas yang dirasa begi tu nikmat, pak Margono meminta isteri Babe, untuk ikut ngobrol bersamanya.
“Ada hal yang juga ingin saya sampaikan kepada ibu,” jelas pak Margono.
Isteri Babe bergegas ke belakang untuk menaruh baki, yang baru saja ia pakai untuk membawa cangkir berisi teh panas, yang baru saja disajikan ke tamunya. Setelah merapikan kembali jilbab pan jangnya, ia kembali ke ru ang tamu. Tanpa ragu, isteri Babe duduk di sisi suaminya
Meski sudah tahu, pak Margono sudah men cicipi teh yang disajikan isterinya, Babe yang belum tahu mau ngomong apa, kembali mem persilahkan pak Margono untuk menikmati saji an ala kadarnya.
“Terima kasih, pak. Nanti, setelah urusan se lesai, pasti saya habiskan. Soalnya, tehnya serasa lebih nikmat,” kata pak Margono, yang lalu sibuk membuka tasnya.
Ia lalu mengambil amplop standar, yang di sudut kiri atas, berlogo sebuah perusahaan. Meletakkannya di meja. Babe dan isterinya tak kepincut untuk memperhatikan amplop yang se pertinya biasa saja. Tak ada isinya.
Babe dan isterinya baru tahu isi amplop sebenarnya, setelah pak Margono menutup tas echolac-nya, ia meraih kembali amplop di me ja, mengeluarkan isterinya. Ternyata, sebuah cek.
Baru jelas berapa nilai yang tertera dan bisa dicairkan di bank mana, setelah pak Margono menjelaskan, ia ingin membiayai Babe dan isterinya melaksanakan ibadah haji.
“Ini bukan hal yang mengejutkan. Setiap ta hun, saya selalu menyisihkan keuntungan peru sahaan, untuk biaya ongkos naik haji sekitar lima sampai enam orang karyawan.
Tahun depan, sepertinya, tak ada lagi karya wan yang dapat jatah. Semua sudah, dan jika tiga orang karyawan yang tersisa belum dapat jatah, karena mereka belum setahun bekerja.
Jadi, tolong bapak dan ibu terima.
Tak usah mendaftar ke Depag, karena bapak dan ibu harus ONH plus. Terserah, ingin menggunakan biro perjalanan yang mana. Yang jelas, selain untuk ONH, juga cukup untuk biaya di sana dan untuk biaya anak-anak di rumah “
Babe dan isterinya berpandangan.
Saling merangkul erat
Lalu sesenggukan
Air mata mereka berjatuhan
Dandi, kakak Dinda, yang sekolah siang, bergegas ke luar dari kamar. Setelah tahu, mengapa ayah ibunya menangis, Dandi memeluk orangtuanya.
Babe melepas pelukan isteri dan anaknya. Ia mendekat dan memeluk pak Margono. Mengucapkan terima kasih. Lalu, mengatakan, ia tak bisa membalas karena yang bisa memba las hal seperti ini, hanya Allah, Tuhan Yang Maha besar
“Kalau begitu, saya permisi karena harus segera ke kantor. Semoga bermanfaat, saya hanya bisa mendoakan, agar bapak dan ibu menjadi haji yang mabrur, ” kata pak Margono, sembari mengulurkan tangannya ke Dandi, yang ingin menyalaminya
“Terima kasih, pak Margono,” kata isteri babe.
“Sama-sama, bu. Oh iya, saya harus menghabiskan dulu, teh yang nikmatnya luar biasa ini”
Pak Margono meraih cangkir teh. Dengan ikhlas ia menyeruput isinya.
Menyeruput nikmat yang terasa tak ada habisnya.



Sunday, May 5, 2013

CERPEN : BAGIAN SATU


Oesman Doblank


HARI
TELAH
SENJA




BABE sama sekali tak kecewa, saat tiba di rumah adik kandungnya, hanya ditemui Mi nah, salah seorang dari tiga pembantu yang be kerja di rumah Tinni Sumarni, adik bungsu Babe. Ia tetap meminta Minah untuk menaruh pisang ambon di meja makan, agar Dindin, ke ponakannya, yang suka pisang ambon, menik mati oleh-oleh yang dibawanya.
Minah yang bergegas menyediakan ko pi untuk babe, menginformasikan, tuan beserta nyonya dan kedua kakaknya, setengah jam sebe lum Babe sampai, sudah berangkat bareng. Mereka menuju ke sebuah restoran mewah, un tuk menghadiri pesta ulang tahun Tasya yang ke delapan.
Tasya, juga keponakan Babe. Ia putri kedua Sutisna, adik pertama babe. Dan kata Minah, Adik dan kakak babe, sudah meluncur bersama keluarga masing-masing, untuk menik mati suasana pesta ulang tahun Tasya yang di gelar di sebuah restoran mewah.
“Memang uwa tidak diundang?” Tanya Minah. Ia jelas kepingin tahu, mengapa Babe justeru datang ke rumah majikannya, dan bukan berangkat ke tempat ulang tahun Tasya
“Pastinya, ya diundang. Hanya, saya lu pa mencatat hari, tanggal dan waktunya. Jadi, setelah selesai antar langganan, saya malah me luncur ke mari,” sahut Babe.
Babe terpaksa berbohong
Ia tak ingin membahas apapun dengan Minah. Bukan karena ia pembantu di rumah adik kandungnya. Tapi, urusan keluarga Babe tak layak dicampuri oleh siapa pun, termasuk Minah, yang menurut Babe, lebih pantas me ngurus urusannya sendiri. Atau setidaknya, lebih baik ia konsen dengan tugasnya sebagai pembantu. Bila bisa bekerja dengan baik, pasti leluasa untuk minta kenaikan gaji dan setiap lebaran diizinkan pulang kampung.
“Oh iya, uwa sudah tahu belum, tuan dan nyonya mau umroh ?”
“Kok kamu tau, sih?”
“Ya, pasti taulah, Wa. Minggu lalu, kan diajak tuan dan nyonya ke rumah pak Sadikin. Semua keluarga uwa, hadir,lho. Cuma uwa saja yang tidak datang “
“Iya, saya sering nggak punya waktu, ka rena kebetulan sibuk ngojek “
“Uwa tau, nggak. Minggu lalu itu, memba has berangkat umroh bersama, untuk yang keli ma kalinya. Guru ngaji keluarga uwa dan suami nya, juga diajak lho, wa “
“Oh, yaa? Sok tau amat, sih, kamu?”
“Lhoo, kan, waktu itu, bu Ustadzah dan suaminya hadir di rumah Tuan Sadikin. Saya denger, pada setuju iuran untuk membiayai ongkos bu ustadzah dan suaminya,” jelas Mi nah, lebih rinci lagi.
Babe terpana.
“Kok, uwa malah nggak diajak, ya?”
Babe hanya tersenyum.
Ia lantas buru-buru pamit. Bukan lantaran kesal atau emosi. Ia memilih cepat pulang, ka rena kuatir Minah nyeplos. Soalnya, bisa saja ia menyimpulkan, dan tanpa bermaksud menyu dutkan Babe, Minah yang banyak omong, bisa bilang, begini atau begitu. Babe yang bergegas pulang, hanya berpesan agar Minah menyam paikan salam ke adiknya.
******
CUMA Babe yang belum pernah me nginjakkan kakinya ke Mekkah dan Madinah, belum pernah menikmati indahnya tawaf dan asyiknya melempar jumroh. Sedangkan ketiga adik dan kedua kakaknya, malah selalu satu kloter, dalam dua kali kesempatan melaksana kan ibadah haji.
Babe memang pernah melihat Ka’bah dan keinternasionalan bandara King Abdul Aziz yang megah, di televisi. Sampai saat ini, hasratnya berumroh pun, masih tetap terbingkai dalam mimpi. Sedangkan kedua kakak, tiga adik dan lima iparnya, sudah empat kali melak sanakan umroh
Mendengar rencana adik dan kakak kan dungnya akan melaksanakan umroh ke lima, Babe tetap meninggalkan pisang ambon yang dibawanya. Ia tak tertarik untuk kembali membawanya pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, Babe tak mencerita kan perihal pesta ulang tahun keponakannya yang dilangsungkan di sebuah restoran mewah. Babe hanya menginformasikan rencana saudara kandungnya, yang dua bulan mendatang akan melaksanakan umroh untuk kali yang kelima
Di keluarganya, babe doang yang tidak dipanggil dengan sebutan haji. Ketiga adik dan dua kakaknya—juga suami atau isterinya, sela lu dipanggil dengan Haji dan Hajjah.
Di antara enam bersaudara pasangan almarhum bapak Wiranata Sandjaya dan almar humah Juliati, hanya Babe yang belum pernah melaksanakan ibadah haji dan belum berumroh
Kedua kakak dan tiga adiknya, tidak per nah memanggil Babe-- nama aslinya Hambali Suradinata, dengan sebutan pak Haji. Tentu sa ja mereka punya alasan kuat. Karena Hambali belum pernah berangkat ke Tanah Suci. Baik untuk ibadah haji maupun umroh
Mereka juga punya alasan kuat,untuk tidak membantu Babe. Sebab, hanya Babe yang tidak pernah memanggil Haji atau Hajjah, dan cuma Babe yang tidak pernah gembar gem bor, menceritakan sukses mereka ke sanak sau dara dan para tetangga di kampung halaman.
Hingga saat ini, tak satupun dari lima saudara Babe yang telah dua kali berhaji dan dua bulan mendatang akan umroh bareng untuk yang kelima kalinya, berinisiatif untuk be rembuk, bermusyawarah, sehingga lahir keikh lasan memberangkatkan Babe dan isterinya, ke Tanah Suci, melaksanakan ibadah Haji.
Padahal, guru ngaji mereka yang tiap jumpa dimana pun selalu memanggil mereka Haji dan Hajjah, kerap mengajak wisata ziarah, gemar memuji sukses mereka, dan sering me minjam uang tapi sampai saat ini tak pernah mengembalikan--karena merasa sebagai guru, diajak oleh saudara kandung Babe berumroh.
Mereka merasa berhak dan pantas me manggil guru ngaji mereka dan suaminya deng an sebutan Hajjah dan Haji. Juga bangga, kare na guru ngajinya bisa menambah namanya de ngan Hj, dan k arena ia berhasil mengajak su aminya ke Tanah Suci, melaksanakan ibadah haji, suaminya pun menempelkan H di depan nama aslinya.
Terlebih, guru ngajinya dan juga suami nya, sering menyebutkan, mereka bisa melak sanakan ibadah haji ke Tanah Suci, karena di biayai oleh dua kakak dan tiga adik Babe, yang ikhlas membiayai pelaksanaan ibadah haji mereka
Babe tidak pernah marah.
Terlebih kesal sampai ledakkan emosi
Babe tidak pernah sedih
Terlebih mencaci maki
Babe tidak pernah iri terlebih benci
Babe malah semakin tahu diri
Ia tetap menghargai saudara kandungnya.
Tetap menghormati kedua kakak dan keti ga adiknya. Sebab, mereka saudara kandung Ba be. Bahkan, Babe menghargai dan menghorma ti ipar-iparnya. Bagi Babe, menghargai dan menghormati saudara kandung, sangat penting. Jika mereka tak menghargai, menghormati dan tak membantu Babe, bukan hal penting.
Sebab, yang Babe lakukan hanya karena Allah. Bukan lantaran saudara kandungnya, ba nyak harta, dalam kemewahan dan mampu membiayai ibadah haji guru ngaji mereka dan suaminya
Babe tetap bersilaturahmi. Selalu ber usaha membawa apa saja yang bisa dibawa ke rumah ketiga adik dan kedua kakaknya. Alasan Babe, sangat sederhana. Bersilaturahmi dan bi sa memberi dengan ikhlas, disukai Allah
Menurut almarhum ayahnya, dalam kon disi apapun, lebih baik suka memberi daripada meminta, terlebih sengaja tengadahkan tangan.
Babe tak pernah mempersoalkan, me ngapa ketiga adik dan kedua kakak serta ipar-iparnya--hingga saat ini, semakin jarang bersila turahmi ke rumahnya. Juga tak pernah mem bantunya. Padahal, babe sering mendengar, sau dara kandungnya, kerap menggelar acara amal--berbagi dengan kaum dhuafa, secara bergan tian.
“Itu bukan hal penting, bu “ Tegas Babe , ketika ia kembali mengajak isterinya bersilatu rahmi, ke rumah Tinni Astuti, dan kerumah saudara kandungnya yang lain
Babe yang mendengar kabar adik bung sunya, Tinni Astuti, sedang hamil anak ketiga nya, tak tersinggung apalagi marah, mendengar penolakan isterinya
“Tapi saya harus diperbolehkan menga nggapnya sebagai hal penting,” tegas isteri Ba be, sembari menyeka butiran air mata yang ber jatuhan di pipinya.
“Itu karena ibu punya keinginan agar kakak dan adik saya juga berkunjung ke rumah kita, kan? “
“Apa itu salah ?”
“Mungkin, malah benar, bila dasar yang ibu jadikan pertimbangan adalah keinginan ag ar mereka juga balas mengunjungi dan mau ber bagi. Iya, kan ?”
“Bang…saya ini manusia biasa, dan ha nya seorang perempuan. Kalau pun saya ingin mereka berkunjung ke rumah kita, bukan untuk menuntut agar saudara abang menghormati dan menghargai saya.
Saya justru berharap mereka menghar gai dan menghormati abang, karena abang su ami saya dan sekandung dengan mereka.
Sampai kapanpun, abang tetap terikat dalam hubungan keluarga. Saya, semisal kita bercerai, atau abang meninggal terlebih dahulu, tak punya ikatan apa-apa lagi, selain karena setiap hamba harus tetap taat pada Allah, bang. Tapi abang ?”
Isteri Babe tak bisa menahan tangis
“Abang tidak perlu terus menerus me ngalah. Sabar dan mengalah itu, ada batasnya, bang. Saya sedih, karena mereka tak meng hargai dan menghormati abang
Kita sering mendengar, mereka kerap mengundang anak-anak yatim dan orang-orang miskin, ke rumahnya. Tapi tiap abang datang ke rumah saudara kandung abang, tak pernah dapat apa-apa, kecuali cerita semata.
Mestinya, paling tidak, mereka mena nyakan, apakah abang yang sudah enam bulan tidak bekerja, bisa memberi makan isteri dan dua anak abang? Tidak pernah,kan, bang?.
Apa abang tidak sedih? Tidak kecewa? Mereka itu saudara kandung abang. Tapi perla kuan mereka terhadap abang?
Saya sedih, bang.
Saya sangat kecewa.
Abang selalu berusaha bersilaturahmi, berusaha membawa apa yang bisa abang beri kan kepada saudara abang. Tapi mereka? Jangankan berkunjung atau memberi. Menel pon abang dan sekedar menanyakan kondisi abang saja, sampai saat ini, tak pernah bang ?”
Babe mengambil sapu tangan di saku celananya. Menyeka air mata yang membasahi pipi isterinya. Babe jadi terbawa suasana. Ia ikut sedih karena isterinya kelihatan sedang sedih Bukan sedih karena ketiga adik, dua kakak dan ipar-iparnya, tak pernah berkunjung ke rumah Babe. Juga tak pernah pernah mem bantu Babe, meski Babe kadang ditanya dan selalu menjelaskan, setiap pagi sampai sore ia hanya bisa mengojek.
“Akhirnya, abang sedih. Sedihnya abang seperti kesedihan saya, kan ?” Kata isteri Baba, yang akhirnya melihat, suaminya bisa mengucurkan air mata.
Babe tetap berusaha tersenyum
“Saya sedih karena isteri saya sedih dan menangis. Bukan karena saudara kandung saya semakin jarang berkunjung, tak pernah
berbagi dan entah kapan punya waktu untuk ber kunjung ke ru mah kita, “ ujar Babe.
Ia sama sekali tak berbohong
Babe sedih karena isterinya menangis,
Ia tak nau lagi ikut dengan Babe--ber kunjung ke rumah Tinni Astuti, adik bungsu Ba be, yang sedang hamil dua bulan, untuk anak ketiganya.
Tinni dan suaminya, tinggal di kawasan perumahan mewah. Babe, tinggal di kawasan perumahan KPR. Sudah sebelas tahun, Babe tinggal di perumahan Banjir Emas Indah. Sejak pindah ke sana, hingga saat ini, Babe hanya bisa ngontrak
“Bang…saya tak tahu lagi bagaimana cara saya menjelaskan, agar abang mengerti sa ya kecewa karena mereka sama sekali tak meng hargai dan menghormati abang”
“Ibu tak perlu menjelaskan dan juga tak usah mencari cara apapun untuk menjelaskan. Saya biasa menerima kenyataan seperti ini, kok bu. Juga biasa menghargai dan menghormati mereka. Jika mereka bersikap sebaliknya terha dap saya, tak pernah saya persoalkan “
“Ya, terserah abang. Tapi,saya sudah ti dak mau ikut lagi “
Babe tak memaksa isterinya.
Ia hanya minta isterinya mengikhlaskan suaminya pergi ke rumah Tinni. Menurut Babe, dia harus tahu, apakah Doni, suami adiknya, yang tahu sudah dua kali isterinye hamil, tak pernah membawakan rujak untuk Tinni, meski Doni sendiri yang cerita, di dekat kantornya ada rujak enak
*****

Di rumah kontrakan Babe, semakin ba nyak anak-anak yang belajar mengaji. Setiap malam, isterinya sibuk menyediakan teh manis untuk anak-anak, yang memang haus seusai mengaji. Anak-anak senang minikmati teh, bua tan isteri Babe, karena terasa sedemikian sedap saat dinikmati.
Padahal, di rumahnya, anak-anak sering dan bisa sampai lima atau enam kali minum teh. Tapi, teh seduhan isteri guru ngaji mereka, selalu terasa lebih nikmat
Beberapa ibu, ada yang sampai sengaja datang untuk membuktikan nikmatnya rasa teh buatan isteri Babe. Mereka kesal, karena anak nya terus mengatakan, rasa teh buatan ibunya tak pernah senikmat rasa teh, buatan isteri Ba be. Terlebih, anak-anak tidak diwajibkan men cuci gelas, yang mereka pakai untuk minum

SKETSA SATU


SAMA SAMA KECEWA



PADAHAL Udin janji mau datang ke rumah Panjul pukul 12 siang. Bilangnya mau bayar utang. Tapi sudah nyaris jam dua siang si Udin malah belum nongol.
Karena perlu uang buat biaya berobat anaknya yang sudah tiga hari dirawat di rumah sakit akibat sulit buang gas, Panjul yang nahan kesal, segera ambil motor dan berangkat ke rumah Udin.
Sessasmpai di rumah Udin, kekesalan Panjul bertambah. Sebab, di rumahnya Panjul hanya ketemu seorang cewek cantik, yang mengaku sedang menunggu Udin kaena yang bersangkutan sedang ambil kunci rumah yang ketinggalan di tempat kost si cewek.
“ Sudah lama perginya,” tanya Panjul yang jadi lupa sama kesalnya karena senyuman si cewek kece bikin bulu kuduk dan bulu lainnya merinding bareng. Karena sosok Minah memang menggiurkan, Panjul yang pernah jadi play boy cap kapal retak, malah kepincut buat kenalan Malah, Panjul yang mestinya segera bezoek jadi lupa dengan penderitaan anaknya yang tengah malah selalu nangis karena susah kentut.
“ Baru lima menit,” terang Minah yang dapat kesempatan menjawab karena Panjul ngajak kenalan dan mereka saling sebutkan nama
“ Saya kan kost di situ. Pas di rumah itu” kata si Cewek sambil menunjuk ke rumah besar, yang kelihatan jelas karena bertingkat, tapi di depannya penuh dengan rumah lain.
Wajar, jika sosok Udin yang dibilang sedang ambil kunci, tak kelihatan. Juga wajar, jika Panjul sangat berminat untuk berusaha jalin komunikasi. Ternyata, tak sulit mengajak kenal karena sama-sama sedang menunggu orang yang sama, Udin.
“ Kok lama yaa, “ keluh Panjul.
“Begini saja. Ijinkan saya pinjam motor mas Panjul. Biar saya susul. Mungkin dia tak bisa buka pintu kamar saya “
Tanpa pikir panjang, Panjul menyerahkan kunci motor. Malu rasanya, jika niat cewek cantik pinjam motor tak dipenuhi. Terlebih, Panjul sudah kenalan dan menggenggam tangan lembutnya. Dan, Panjul menyaksikan, betapa bodi Minah saat melarikan motornya, begitu mempesona
Tapi, setelah beberapa lama Minah, tidak muncul muncul, Panjul jadi was-was. Dia makin bingung, karena dua jam kemudian, dia tetap menunggu Minah tapi si cewek kece itu tidak juga datang.
Tak lama, seorang lelaki sekitar 30 tahunan tiba. Langsung bertanya di mana Udin. Panjul menjelaskan, ia sedang menunggu Udin buat nagih hutang. Tapi, sejak tadi belum datang dan motornya yang kemudian dipinjam cewek cantik yang ngaku datang mau nagih hutang, juga belum datang. Dan, Panjul menjelaskan rincian peristiwa, sampai akhirnya nunjuk ke sebuah rumah
“ Yaa, itu rumah saya. Tadi, si Udin datang dan minjam motor saya. Bilangnya sebentar karena ia lupa ngunci rumahnya “
“ Jadi….” Kata Panjul dengan full lemas.
“Motorku dan motor sampeyan sama-sama hilang “
Mereka kepingin nangis bersama. Tapi, karena malu sama warga, sepakat untuk cari solusi.
“ Bagaimana kalau kita lapor ke polisi ?”
“ Motor hilang kok, lapor, ke polisi.,” Panjul lang sung protes
“ Kalau begitu, ke jaksa, saja “
“ Motor hilang kok malah lapor ke Jaksa “
“Yaa, sudah, kalau begitu ke Hakim saja. Biar langsung disidang “
“Menurut saya, lebih baik kita lapor ke komnas ham saja?” Usul Panjul, yang mendadak ingat anaknya di rumah sakit.

SKETSA : SAMA SAMA HEPI


Dul sangat dikenal sebagai mandor yang bijak. Tak heran jika semua anak buahnya yang bekerja sebagai tukang dan knek, di proyek Perumahan Banjir Permai selain suka dengan Dul , juga sangat menghormatinya.
Saat ngontrol ke salah satu rumah yang lokasinya terletak di bagian paling pojok, para knek dan tukang langsung menyambut kedatangan Dul. Tanpa diperintah, seorang knek segera pamit untuk ke warung.
Tak lama ia kembali dengan dua bungkus rokok, dua kaleng minuman dingin, dua bungkus biskuit, dua kelapa muda dan dua bungkus kopi dan gula, ukuran sekilogram. Langsung semua diserahkan ke mandor Dul
“ Saya datang ke sini, kan cuma melaksanakan tugas, sekedar wajib kontrol. Gak perlu kalian repot repot seperti ini, “ kata Dul sambil mereguk minuman kaleng dan segera menghisap rokok yang baru saja diberikan oleh seorang knek.
“ Apa salahnya kalau kita menjamu pak Dul ?
Selama ini, pak Dul, kan enak diajak kerja sama” Sahut komandan tukang dan knek
“ Saya ngerti,” timpal mandor Dul.
“ Cuma, saya kan nggak enak. Sebab, hari Sabtu masih dua hari lagi. Jadi, lain kali, kalau belum
terima gaji, tidak usah repot sepert ini “
“ Kita memang belum terima gaji, pak Dul,” Sshut kepala tukang segera menjawab.
“ Cuma,” lanjutnya. “ Tadi si Ujang baru saja menjual sepuluh zak semen. Sekarang, kan, pak Dul datang. Jadi, harus ikut dapat bagian agar kita semua bisa merasakan nikmatnya saling berbagai supaya sama-sama hepi “
Mandor Dul bukan tidak ingin mendamprat para tukang dan knek. Tapi, karena sudah terlanjur menikmati pemberian mereka, ia cuma jadi tak merasa malu berat, saat berniat mengambil dan membawa rokok dan lain-lain ke ruang kerjanya.
Saat ia menikmati rokok lainnya dari bungkusan yang sama, di ruang kerjanya, seseorang mengetuk pintu. Ia segera menyuruh tamunya masuk. Melihat knek yang ia kenal, datang pada jam kerja, ia langsung bertanya dengan segala kegalakan dan wibawanya.
“ Kamu, kan, knek di rumah ujung sana? Kenapa di jam kerja malah datang kemari “
“ Sorri pak mandor. Saya cuman mau ngasih ini,” kata sang knek, sambil menaruh amplop di meja, yang lantas diambil dan bertanya:
“ Memang ini amplop ada isinya ?”
Kemudian, ia melihat. Tau ada isinya, suaranya dipelankan. Ia takut ada yang mendengar.
“ Kamu, kan, baru gajian di hari Sabtu. Kenapa saya dikasih hadiah “
“ Kemaren, teman saya datang. Dia perlu semen, pasir, batu bata, behel dan alat-alat bangunan untuk membangun rumah. Tadi, dia datang dan karena semua yang diperlukan ada di proyek, saya suruh dia bawa. Nah, yang saya amplopin, bagian pak mandor. Sebab, kata rekan tukang di ujung sebelah sana, kalau ngasih bagian ke pak mandor, semua jadi no problem “
Usai ngomong, si knek langsung cabut. Mandor tak mau berteriak manggil dan bilang “ Heiii knek, ngasih hasil maling kok segini. Tambahin doong “
Sebab, ia takut dengan lagu yang ia suka nyanyikan
“ Ooo kamu ketahuan….
selalu dan sering ngobyek
kerja sama dengan tukang dan knek
lantas sering nyolong barang proyek “


Friday, May 3, 2013

CERITA PENDEK


Oesman Doblank



Cerita Pendek
ABAH SUDAH PULANG


SAYA selalu melihat Abah dengan penampilannya yang tak berubah: bercelana jeans, berbaju koko dan berkopiah. Tak beda dengan seminggu atau sebulan silam. Di kesendirianya, tiap usai Subuh, Abah selalu memegang tasbih. Saya yakin beliau berdzikir. Setengah jam kemudian ia pasti masuk ke dalam rumah untuk membuat kopi. Lalu, seperti biasa kembali ke teras rumah dan abah duduk di tempat yang sama.
Sambil ngopi, Abah menikmati kipasan angin pagi yang hembusannya membelai tubuh Kalau sudah begitu, Abah yang koleksi bukunya melulu tentang Islam, membuka buku yang sudah ia siapkan. Sambil terus membaca, jari jemari tangan kanannya, memilin-milin biji tasbihnya.
Abah tak terganggu oleh hiruk pikuk lingkungan yang mulai sibuk memburu dunia.
Tiap pagi, sampai pukul tujuh, selalu begitu. Yang tidak selalu, hanya warna dan model baju koko yang dikenakan dan judul buku yang dibacanya.
Saat Abah sudah asyik dengan paginya, saya selalu berinisiatif untuk pamit. Pulang ke rumah, menikmati kebodohan saya yang selalu ingat Rukmini, meski ia sudah menikah dengan lelaki lain.
Saya tak bisa terus menemani Abah, ke cuali saat bermalam di rumahnya. Bukan tak ingin. Saya hanya belum sanggup berbincang la ma dengan Abah, yang tak lagi tertarik bicara soal dunia. Sedangkan saya, tak pernah bosan
mengingat ingat Rukmini. Bagi saya, Rukmini adalah dunia saya yang hilang. Saya terus berpi kir untuk kembali mendapatkannya.
Bukan berarti Abah tak suka dunia. . Se bab, Abah pernah bilang saat ia masih muda, yang justru diintai tak ada habisnya oleh Abah, hanya kemilau dunia. Abah sempat mabuk oleh kemilaunya. Hanya, menurut Abah, semakin ia terlena mengintip dunia, hanya semakin mem buatnya mabuk, dan kemilaunya yang mema bukkan, merapuhkan jiwanya yang menuntut ketentraman. Meminta ketenangan.
Tapi, setelah sejak lima belas tahun si lam Abah mulai mengintai selain dunia, ji wanya tak lagi menggugat yang dirindukan Hingga ia bersama paginya di teras rumah sampai jam tujuh, Abah tidak tahu, apakah ia masih tertarik mengintip dunia atau malah ha nya ingin mengintai selain dunia.
Sebab, kata Abah, esok bukan masa silam dan juga bukan hari ini. Dalam jangkauan detik, manusia yang semula senyum bisa mena ngis. Abah tetap melihat dunia tapi belum ke pincut untuk kembali mengintipnya. Ia kuatir, daya mabuknya tak pernah berubah. Hanya ke milau yang justeru memisahkan jiwanya dari jangkauan ketenangan
Itu sebabnya saya tak merasa cocok me lewati pagi bersama Abah, di teras rumahnya. Kalau pun saya kerap menginah di rumahnya, tak lebih dari sekedar memenuhi hasrat, meman faatkan kebaikan Abah, yang selalu memper silahkan siapa pun untuk menikmati makan dan minum gratis, di rumah Abah.
Jadi, saya sering menginap di rumah Abah, atas keinginan pribadi dan bukan atas permintaan Abah. Bukan berarti Abah tak hen dak ditemani. Setiap malam, selalu ada anak muda yang keinginannya bermalam, tak dipe nuhi Abah.
Abah malah suka jika saya atau teman teman menginap di rumahnya
“Kalian adalah tamu istimewa. Saya wajib menjamu setiap tamu, baik yang hanya sesaat atau menginap”
Begitu kata Abah.
Abah selalu menyiapkan sajian
Hidangan untuk tamunya, selalu ada
Padahal, Abah tinggal sendirian.
Isterinya, minta bercerai karena tak sanggup mengikuti Abah yang semula hanya mengintip dunia lalu fokus mengintai selain dunia. Ketiga anak Abah, memilih ikut ibu me reka. Abah memberi mereka perusahaan yang pernah dibangunnya.
Begitu pun kekayaannya Kata Abah, ia hanya mengambil secukupnya Untuk kebutu han sehari-hari, selama dua puluh tahun. Sele bihnya, Abah serahkan untuk isteri dan tiga anaknya.
Uangnya ia titipkan. Abah yakin, saha batnya yang membuat Abah kepincut menginta selain dunia, istiqomah. Buktinya, setiap bu lan, Abah mendapat kiriman bagian keuntu ngan dari uangnya yang dipakai untuk modal bisnis oleh temannya. Abah tak menyoal jum lahnya berapa. Sebab, tak meminjamkan. Tak meminta bunga. Sampai saat ini, tak pernah ter sendat.
Rumah yang kini ditempati Abah, la dang yang dimanfaatkan oleh Abah untuk ber cocok tanam, dibeli saat ia mulai berhasil mem bangun perusahaannya.
Tak hanya saya yang merasa leluasa menikmati makan dan minum gratis jika mengi nap di rumah Abah. Hanya, saya sendiri saja yang jika Subuh tiba, kadang berkenan jadi makmum. Meski begitu, saya sering kesal
Sebab, Abah selalu membaca Al Baqa rah di rakaat pertama, dan Surah Yassin, di rakaat kedua. Tiap bermakmum, kaki saya pasti kesemutan. Itu sebabnya, kadang saya kesal dan juga menyesal. Tak lain karena saya mengi ra akan selesai dengan cepat. Nyatanya, bermak mum dengan Abah, tak pernah berubah. Jadi , harus siap berdiri lama dan kesemutan.
Saya pernah protes pada Abah, karena menurut saya, tak harus membaca surat yang begitu panjang. Namun, Abah tak jemu menje laskan. Katanya, itu sebabnya Abah selalu sha lat Subuh di rumah. Mengapa? Karena semasa muda, ia kuat menghabiskan waktu lama hanya untuk setan. Untuk hal yang sama sekali tak bermanfaat.
Jadi, kata Abah, jika waktu muda ia bi sa membuang waktu untuk begadang, sejak lima belas tahun silam, Abah mulai berusaha agar bisa berlama-lama berdiri saat melaksana kan shalat. Jadi, jika dulu waktunya dihabiskan untuk hawa nafsu tak berfaedah, kini dikhusus kan untuk hawa nafsu Mutmainah. Nafsu beri badah kepada yang telah Menciptakan Abah

******
Tiap pukul delapan, Abah sudah di ladang Semua yang ingin Abah lakukan, sege ra dikerjakan. Memperbaiki pagar. Menyiangi rumput liar. Membersihkan dedaunan yang ber serakan. Atau, menimba air untuk menyiram ta naman. Setelah itu, Abah baru mencangkul. Istirahat setelah merasa tubuhnya bersimbah ke ringat
Saya heran, pada Abah, karena ia tak pernah mengeluh. Dalam capek atau lelah, ia hanya minum dan terus tersenyum. Ketika be lum ada hasil kebun yang bisa dijual, keluhan Abah tak pernah terdengar. Malah tiap tahu su dah ada yang bisa dituai, tapi akhirnya hilang dicuri tetangga atau dirusak oleh ternak milik tetangga- yang kerap masuk ke ladangnya, se nyum itulah yang diperlihatkan
Abah tak pernah mengeluh terlebih ma rah.Meski singkong atau tanaman lain yang ak an dituai ternyata juga telah dicuri entah oleh siapa, tetap saja abah leluasa mengurai senyum nya
Abah sudah Nur Yaqin.
Yang hilang bukan miliknya. Rezeki nya hanya yang dimakan. Bila bisa menuai dan laku dijual, baru dibelanjakan setelah berinfaq Bila tetangga membutuhkan, ia tak ragu membe
rikan semua hasil ladangnya
Dan, Abah yang pernah beberapa kali memergoki pencuri di ladangnya, selalu berha sil menangkapnya. Saya kagum pada Abah da lam hal menangkap pencuri yang kepergok di ladangnya.. Saya yakin, Abah pasti punya ilmu bela diri.
Hanya, saya sering kecewa pada Abah, se telah berhasil menangkap pencurinya, saya tak bisa berpartisipasi untuk membuatnya babak be lur. Sebab, Abah malah mengajak si pencuri ke rumahnya. Saya diminta agar tidak memberita hu siapa pun. Sulit menolak permintaan Abah
Setiba di rumah, Abah mengajaknya ma kan. Lalu, memberinya ongkos untuk pulang dan bekal makanan untuk isteri dan anak si pen curi. Juga memberi bibit apa saja yang ada di ru mahnya. Setelah itu, Abah berpesan
“Bila manusia mau menanam bibit men timun, di saatnya, ia tidak pernah menuai ang gur atau apel.Yang pasti dituai, sejenis dengan yang ditanam. Bila manusia gemar menanam keburukan, suatu saat, dia harus ikhlas menuai celaka. Tapi, jika manusia terus menerus mena nam kebaikan, dia harus bersiap menuai dan membagi berkah pada sesamanya. Sebab, ber kah Allah, untuk seluruh hambanya “
Saya pernah kesal, dan memprotesnya Abah, malah mengajak saya makan bersama nya. Saat makan, Abah menjelaskan. Katanya, pencuri itu ada dua. Pertama, karena ia lapar lalu mencuri, tapi hatinya menangis. Kedua, ka rena ia serakah dan setiap berhasil mencuri, hatinya tak pernah merasa puas.
Saya hanya kenyang menikmati nasi dan lauk pauk setelah makan bersama Abah. Ta pi tak mengerti mengapa tak sedikit pun mera sa kenyang mendengar petuah indahnya Padahal, saya sering mendengar saat Abah men jawab, pertanyaan atau protes saya
Terus terang, saya semakin sulit mema hami Abah. Sampai kini, saya belum pernah me
ngerti – terlebih memahami, mengapa Abah selalu berbuat baik dan menghadapi apapun de ngan senyum, sambil jari jemarinya terus mema inkan biji tasbih
Saya justeru sering marah pada pen curi dan selalu berpikir seribu kali, bila semua hasil panen di ladang, diberikan ke tetangga
Tiap saya marah karena hasil ladang di curi dan tetap berpikir seribu kali untuk mem beri, Abah, malah kerap kali melakukannya
Saya makin tak mengerti, apakah ka rena hal itu, ladangnya tak pernah habis dari umbi, buah-buahan dan yang lainnya. Jamur terus bermunculan di ladangnya. Setiap pagi, selalu ada jamur di ladang Abah. Selain sering dijual ke pasar, juga dibagikan ke tetangga
Saya sering keblinger, karena di penghu jan atau di musim kemarau, selalu diajak Abah untuk memetik jamur di ladangnya. Di ladang saya sendiri yang bersebelahan dengan ladang Abah, jamur hanya tumbuh sesekali
Abah bilang, begitulah jika Allah meng hendaki. Dengan kekuasaannNya, Allah meng hidangkan hambanya bekal agar hambanya me nikmati hidup makmur. Hidup makmur, menu rut abah, adalah hidup yang selalu memberi de ngan hati. Tuhan pasti memberi pengganti ber kali kali.
Saya pernah ingin menjalani dan menik mati hidup, seperti abah. Tapi akhirnya, saya malah ingin menjalani dan menikmati hidup yang tidak seperti abah. Padahal, saya belum pernah mencatat, menghitung, dan mengkritisi kebodohan dan prilaku buruk saya.
Saya pernah bertanya, mengapa saya tak pernah bisa seperti atau setidaknya punya keinginan seperti abah? Beliau malah tertawa.
Saya bilang, saya tak suka ditertawa kan. Abah katakan, tawanya bukan karena perta nyaan saya.Abah tertawa karena juga kemauan pernah begitu lama bersemayam dalam dirinya.
“Jika setiap manusia ikhlas melepaskan nya, maka kemauan itu lenyap dan manusia tak akan lenyap kecuali ajal menjemputnya. Kema uannyapun tetap ada. Tapi, kemauan yang me nguatkan dan bukan kemauan yang melemah kan manusia “
“Apa salah jika saya yang masih mu da punya kemauan, dan selama saya ada, kema uan itu tetap bersama saya ?”
“Sama sekali tak salah. Malah itulah kebenaran jika menurut kamu memang seperti itulah yang benar”
“Jadi, saya tak keliru berpandangan se perti itu?”
Seperti biasa, Abah pasti tersenyum.
Lalu Abah kembali bicara.
“Setiap ciptaan Allah, dibekali kema uan. Hanya, untuk apa kemauan itu dipertahan kan, harus dipahami dan harus diolah sedemiki an rupa,agar kemauan benar-benar menjadi hik mah dan bukan menjadi selain hikmah.
Jika tidak, malah menjadi semakin asing dan akhirnya sama sekali tak pernah tahu, apakah kelak, menyelamatkan atau malah men celakakan? Apakah nantinya membuat manusia lebih dekat dengan Sang Pencipta, atau malah semakin berjarak denganNYA “
Saya pusing jika bicara dengan Abah
Saya baru merasa senang, ketika akan pulang, Abah yang tengah menikmati paginya memanggil dan menahan saya. Saya senang ka rena diminta tolong Abah. Inilah pertama kali saya diminta Abah untuk menolongnya. Selama ini, selalu Abah yang menolong saya.
Sambil menyerahkan kunci rumahnya, Ab ah minta agar sekitar jam sebelas saya datang. Menurut Abah, sekitar jam sebelas, akan ada tamu datang ke rumahnya. Abah mengama nah kan agar saya menyampaikan amplop warna coklat untuk tamunya.
“Nanti amplop coklatnya saya letakkan di meja ruang tamu. Sekitar jam sembilan saya akan pulang kampung,” kata Abah.
Saya sangat senang, karena diberi ke sempatan oleh Abah untuk membalas kebaikan nya. Setelah itu saya langsung pamit. Saya tak pernah ingin menemani Abah, jika dia sedang menikmati paginya.
Sesampai di rumah, saya kesal pada di ri sendiri. Sebab, baru terpikir, sebenarnya saya bisa minta ke Abah, agar diberi kesempatan me nolong untuk hal yang lebih berat. Mencangkul ladangnya,misalnya. Atau, mengecat rumah Ab ah, yang dinding ruang tamunya sudah buram.
Saya ikhlas dan Abah tak perlu menge luarkan uang. Saya tak ingin dibayar berapa pun. Saya hanya ingin membalas kebaikan Abah. Saya berjanji, setelah Abah kembali ke rumahnya, saya akan sampaikan keinginan saya dan berharap Abah bersedia memenuhinya.
Saya tak punya firasat apa pun, saat jam sebelas kurang beberapa menit, membuka pintu rumah Abah. Saat saya ambil amplop coklat di meja ruang tamu, saya langsung tercekat. Kaget , karena mendadak mencium aroma wewangian
Aroma wewangian yang begitu harum, se makin merebak saat saya membuka amplop cok lat.Dengan hati-hati saya mengeluarkan isi am plop coklat yang ukurannya lebih panjang dan lebih lebar dari kertas folio.
Saya ternganga membaca tulisan di kertas
bagian teratas. Berbunyi Innalillahi Wain na Ilaihi Roji’un. Di lembar kertas kedua, entah pesan entah puisi.
Hari ini, saya pulang
ke kampung paling melahirkan
ke halaman paling menghidupkan
ke tempat selain dunia
Di ladang yang sudah berliang
baringkan saya di sana
Saya di kamar
di sisi kain kafan dan lainnya
saya ingin kamu mengantar
agar cepat sampai di ladang
Rumah dan isinya jual saja
gunakan untuk anak yatim piatu
yang ingin sekolah dan ingin
menggapai akhlak mulia
Ladang saya sudah jadi ladangmu
tapi tolong makam saya tetap disitu
jangan sampai di bongkar makelar tanah
kecuali kamu ingin punya mesjid
atau pesantren, untuk membahagiakan
Rukmini.

Baru kali ini saya menangis sesenggukan.
Baru kali ini saya mengumumkan tentang Abah yang telah pulang ke kampung halaman. Orang-orang berdatangan. Mengucurkan air mata. Mereka sulit melupakan kebaikan Abah.
Buat saya, inilah pengalaman terindah, selama kenal dengan Abah, yang ternyata memahami keinginan saya, yang juga sangat ingin berbuat baik seperti yang kerapkali dicontohkannya.
Baru kali ini saya menangis sesenggukan, panjang dan baru berhenti setelah sadar sudah sampai di sisi makam. Mengantar Abah, yang ternyata sudah siapkan bekal, untuk kembali ke kampung yang paling melahirkan, dan hala man yang paling menghidupkan.
Usai pemakaman, saya kembali ke rumah Abah. Tapi sampai malam, tamu Abah tak kun jung tiba. Padahal, saya harus menyampaikan amplop coklat dan isinya. Harus jual rumah dan isinya, untuk anak yatim piatu, seperti yang diinginkan Abah.
Saya tak tahu, sanggup dan tidaknya memanggul beban berat dari Abah. Saya hanya sanggup bergegas mencatat, menghitung dan mengkritisi prilaku buruk dan kebodohan yang pernah saya lakukan.
Jika senyum Rukmini tak lekas hilang, saya tak akan mampu mengintip selain dunia, seperti Abah, yang sudah pulang kampung, dan saya hanya bisa mendoakan semoga beliau tiba ke halaman halaman di mana juga ada kehidupan yang paling menghidupkan.





CERBUNG: (10)


MASIH ADA JALAN
oleh: Oesman Doblank

SEPULUH


Karena mendadak, supir kendaraan di belakang sedan yang dikemudikan Tarman, tak mampu mengendalikan mobil boksnya. Supirnya dan kenaknya pun, tak sempat beristighfar, ka rena tengah berbincang dengan kneknya. Saking asyik dan membuat supir dan knek ngakak ba reng, tak tahu jika sedan di depan mereka ber henti mendadak.
Tak ingin celaka, boleh saja. Tak ingin terkena musibah atau bencana, sah-sah sa ja. Siapa dan dimana pun, yang namanya manu sia, punya keinginan yang sama. Ingin selamat. Tak ada yang ingin mendapat kecelakaan. Berba gai bentuk musibah, mulai Tsunami sampai ban jir yang hanya semata kaki pun, inginnya dihin darkan. Tapi, sanggupkah manusia ‘berontak’ da ri kehendak Tuhan?
Semisal di belakang sedan yang dike mudikan Sutarman tak ada kendaraan lainnya, bo leh jadi, pak Sadewa hanya luka di kening , ka rena terbentur sandaran jok depan mobilnya. Ta pi, isterinya ? Belum tentu sekedar luka ringan, setelah ia terpental akibat mobil yang dibawa Su tarman berhenti dengan sangat mendadak
Nyatanya, di belakang sedan mewah mereka, banyak kendaraan lainnya. Salah satu nya, mobil boks besar, mengangkut berbagai jenis sembako. Bukan mobil itu yang membuat sedan di depannya--yang berhenti mendadak, tertabrak. Tapi, karena pengemudinya, tengah asyik berbincang, dan menurut kneknya, yang luka parah, ketika mereka asyik tertawa terba hak-bahak, jarak mobi boks besar dan sedan yang berhenti mendadak, hanya beberapa meter.
Jika supir sedan malah secara tak se ngaja menginjak rem, pengemudi boks yang gu gup dan berusaha menginjak rem, dalam keadaan demikian, malah menginjak gas. Tabrakan tak ter hindarkan. Benturan yang begitu keras dan sam pai menimbulkan suara menggelegar, tak saja me ngagetkan para penumpangnya. Orang-orang di tepi jalan pun, terkesiap.
Mereka, seketika berhamburan. Mo bil dan kendaraan lain yang melintas, dan jarak nya berdekatan, memang ada yang langsung saja menghilang. Tapi, juga banyak yang menghen tikan kendaraannya
Keingin-tahuan tentang nasib pengen dara dan penumpangnye, membuat kerumunan yang malah merepotkan pihak yang ingin mem bantu menyelamatkan, terhalang oleh kerumunan orang yang hanya ingin sekedar melihat nasib orang lain yang mengalami musibah.
Seketika, jalanan jadi macet total. Ke banyakan pengemudi, tertarik menghentikan ken daraan mereka, dengan seenaknya.
“ Kayaknya, semua penumpang sedan tak tertolong. Mati semua,” kata seseorang de ngan raut wajah yang biasa-biasa saja.
“ Pengemudi dan knek mobil boksnya mati juga?” tanya seorang pengemudi, dari da lam mobilnya. Ia kesal, karena yang ditanya ma lah mempercepat langkahnya.
Ia baru tahu, setelah beberapa orang mengejar sambil berteriak kencang.
“ Copet. Copeeet. Tangkap, orang itu, copet!”
“Pantas gue tanya dia malah jalan makin cepat. Nggak taunya, tuh orang, copet “ Gerutu si pengemudi yang lantas menggerakkan mobilnya. Ia tak sempat memperhatikan orang-orang yang mengejar copet, karena pengendara di belakangnya, terus membunyikan klakson.
Setelah melihat tiga ambulans yang dalam waktu singkat sudah tiba di lokasi keja dian, orang-orang yang berkerumun tak bisa le bih lama bertahan. Ketangkasan petugas bekerja, membuat evakuasi berlangsung dengan begitu singkat. Ketiga mobil ambulan bergerak lagi. .
Bunyi sirene yang memekakkan teli nga, entah sekedar menyuarakan permintaan agar diberi keleluasaan untuk melaju dengan kencang, atau sekaligus menyuarakan duka cita.
Yang jelas, orang-orang yang berkeru mun tak ada yang berkomentar, segalanya berja lan dengan cepat. Seperti halnya ketiga mobil am bulan, yang bergerak beriringan. Entah menuju rumah sakit terjauh atau paling dekat. Yang jelas, mereka hanya bisa memandang dan setelah am bulan lenyap dari pandangan mata, satu persatu meninggalkan lokasi kejadian.
Dua petugas polantas nampak sibuk melaksanakan tugas. Mengatur kembali agar ke macetan segera teratasi. Seorang lagi, sibuk ber komunikasi, sampai akhirnya, ia memberi aba-aba pada pengemudi mobil derek agar leluasa me laksanakan tugasnya. Membawa mobil sedan me wah yang rusak berat ke kantor polisi. Dan mobil boks besar, yang juga diderek ke tempat yang sama.
Bondan terbangun. Kondisi tubuhnya be lum pulih. Jauh dari segar. Memang sangat ken tara, jika Bondan masih lemas. Tapi suhu tubuh nya sudah berubah. Tidak lagi panas, seperti sebelum dikompres. Bondan baru ingin memang gil mbok Sinem. Tapi, saat ia menoleh ke pintu kamar, matanya menangkap sosok mbok Sinem, yang pantatnya terduduk di lantai, kepalanya tersandar ke tempat tidur Bondan.
Bondan membatalkan niat, memanggil mbok Sinem. Meski tubuhnya masih terasa le mas, Bondan meraih bantal. Dan perlahan ia me nggerakkan tubuhnya ke tepian ranjang. Dengan sangat hati-hati, Bondan meraih bahu mbok Si nem. Meski perlahan, ia bisa menarik tubuh si mbok, yang sedemikian lelap. Bondan melihat ruang yang cukup, untuk menempatkan batal empuk ke sisi bagian bawah ranjangnya.
Bondan sempat terengah-engah. Tapi, kepala si mbok sudah bersandar ke bantal empuk. Membuatnya lega. Terlebih, mbok Si nem terlihat sangat letih. Begitu lelapnya, hingga tak terbangun saat Bondan mengangkatnya. Bon dan menatap sejenak wajah mbok Sinem yang te rus lelap karena lelah menjaga dan mengurusnya.
Bondan melihat jam tangannya. Ia tersentak. Soalnya sudah setengah enam. Sudah menjelang maghrib. Bondan menguatkan diri, melangkah ke kamar mandi. Meski perlahan, ia bisa sampai ke pintu kamar mandi. Tapi, niatnya masuk terhambat. Ia mendengar jelas suara, si mbok.
“ Deeeen… Maaf…mbok tertidur. Biar si mbok membantu memapah”
Bondan menoleh. Melihat si mbok bergegas berdiri. Meletakkan bantal ke ranjang nya. Menghampiri Bondan dengan tergesa. Tapi, Bondan menolak keinginan mbok Sinem, yang ingin memapahnya ke dalam kamar yang hanya tiga meter dari ranjangnya

Bersambung