Wednesday, May 8, 2013

CERITA BERSAMBUNG (20)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH


(6)


BONDAN memperhatikan dengan seksama rumah yang ditunjukkan Sabar. Situasi dan kondisi di sekelilingnya, juga tak luput dari perhatian Bondan. Menurut Bondan, posisinya terlalu dekat dengan jalan utama, yang padat oleh berbagai kendaraan karena jalan utama komplek perumahan telah dijadikan jalan alternatif oleh para pengguna kendaraan yang akan menuju Jakarta atau sebaliknya.
Bondan tak suka dengan suasana lingkungannya yang pasti bising.
“Kayaknya gue nggak sreg.Kita cari yang lain aja, “ ujar Bondan sembari kembali ke motor
Sabar kecewa. Tapi, sekejap ia sudah bi sa bilang,” Siap boss “ dan bergegas untuk kembali membawa Bondan ke tempat lain. Tentu saja Sabar sadar, ia tak cuma harus sabar. Terlebih, penumpangnya yang sudah membayar lebih sudah mengingatkan
Sabar sudah ke luar-masuk beberapa komplek perumahan di wilayah perbatasan Jakar ta – Tangerang. Tapi, sejauh ini, belum juga menemukan rumah yang sesuai dengan selera dan pilihan yang diinginkan Bondan. Ada saja alasan, yang membuat mereka harus segera meluncur ke tempat lain, untuk mendapatkan rumah yang diinginkan Bondan.
Sabar memang benar-benar harus lebih sabar. Juga tak boleh bingung, meski ia sudah ke hausan. Pasalnya, penumpangnya saja malah begitu tenang. Sama sekali tidak terlihat merasa kehausan. Sabar bukan tak merasa heran. Tapi ju ga merasa tak enak jika ia harus menepi dan harus mampir ke warung di tepi jalan. Untuk beli air mineral atau minuman apa saja.
“ Kalau ada rumah makan, langsung mampir, ya, bang. Kayaknya, perut saya sudah keroncongan, nih “
Tentu saja Sabar sangat bersyukur. Sebab, saat ia sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa mengatasi rasa haus yang sudah sampai di sela-sela kerongkongan, dan rasa lapar yang membuat perutnya keroncongan, penumpangnya malah meminta agar Sabar mampir ke rumah makan.. Terlebih, tak lama berselang, Sabar me lihat rumah makan bagus. Rumah makan mahal
Sabar benar-benar plong. Ia jadi kepingin makan di rumah makan yang nampak di pelupuk matanya. Rumah makan kelas atas. Hanya, jika ia mampir ke rumah makan itu, apakah penumpangnya berkenan mentraktir ?
Sabar berspekulasi. Ia berbelok ke rumah makan mewah yang baru saja dilihatnya. Bila di anggap oleh penumpangnya tak cocok, toh, ia siap meluncur kembali dengan segera untuk mencari rumah makan lainnya.
Nyatanya, Bondan, penumpangnya, sama sekali tak protes. Tapi, setelah menyerahkan helm ke Sabar, ia ngeloyor dengan begitu saja. Tanpa permisi, tidak ngajak dan benar-benar tak hanya membiarkan Sabar. Tapi, juga langsung meninggalkan Sabar yang masih duduk di atas motornya
Tapi, Sabar hanya sempat tertegun sejenak. Setelahnya, ia sadar, penumpangnya hanya seorang penumpang ojek yang cuma wajib membayar tapi tak punya kewajiban untuk mengajak dan mentraktir tukang ojek makan. Terlebih di sebuah retoran mahal, yang pastinya, harus punya uang karena makanan yang dijual, bukan untuk kalangan pengojek. Kecuali sanggup membayar menu makanan yang terbilang mahal
Sabar yang sadar siapa dirinya dan mengapa ia ditinggalkan dengan begitu saja, segera menstandarkan motornya. Niatnya, satu dan benar-benar bulat: cari warung tegang, eh, Warung Tegal alias Warteg.
Makan di Warteg, meski tarifnya naik sampai lima belas ribu perak, Sabar masih sanggup bayar. Toh, sudah terima uang. Kalau di restoran mahal ? Meski saat ini ia sanggup bayar jika hanya seratus ribu rupiah, tentu saja Sabar harus mikir sejuta kali.
Timbang habis seratus ribu untuk sekali makan, lebih baik dan lebih berani nahan lapar Duitnya, lebih pantas buat bekal makan enam hari di warteg. Untuk itulah, seusai parkir motornya, Sabar bergegas melangkah. Niatnya, ke Warung Tegal. Tapi baru beberapa langkah, Sabar malah mendengar suara yang memanggilnya .



Bersambung........




































CERITA BERSAMBUNG (19)



MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

SEMBILAN BELAS 
 

Bondan sengaja nggak mau nyautin lagi. Bukan lantaran ngantuk. Ia sudah malas bicara. Tapi, tetap buka helm dan menyandarkan kepalanya ke punggung tukang ojek. Sabar tak merasa menanggung beban. Maklum, bayarannya lima ratus ribu.
Sabar manteng kecepatan motornya diangka empat puluh. Dia menarik lega saat berhenti sejenak, di lampu merah Pos Pengumben. Target sudah dekat. Semoga, di komplek pertama yang akan dimasukinya, ada rumah kontrakan atau yang mau dijual, dan cocok dengan selera Bondan
“ Kalau langsung cocok, saya bisa segera bezuk isteri. Ngbarin hari ini dapat rezeki nomplok. Julia sayang pasti senang, “ kata suara yang menggema di lubuk hatinya.
Sabar kembali ngegas sepeda motornya. Melewati sepeda motor, nyang dibawa seorang perempuan yang pasti nggak punya sim. Soalnya, bawa motornya malah ngagokin pengemudi motor laen. Untungnya, Sabar bisa cepat mendahuluinya. Ia jadi bisa cepat melaju, meski kecepa tannya tetap di empat puluh kilometer.
Saat belok ke kiri di lampu merah Joglo, Sabar tersenyum. Menarik nafas lega. Sabar se makin berharap cepat ketemu rumah yang mau di kontrak atau dijual. Soal akhirnya hanya ngont rak atau malah dibeli, bukan urusannya. Sabar cuma ingin cepat, cocok dan kembali mengantar ke pangkalan.
Lalu, ia kerumah sakit. Bezuk dan melaporkan baru saja dapat rezeki nomplok. Agar iste rinya tenang. Tidak berpikir soal dari mana membayar biaya rumah sakit.
Sabar berbelok ke sebuah gang.
Celingak celinguk
Mata sabar melihat sebuah rumah yang di pagarnya ada kertas kartun berisi tulisan : Rumah ini dikontrakkan. Hub. 083806254696
Sabar ingin membangunkan penumpangnya yang ia kira masih pulas dan masih asyik menikmati indahnya mimpi di atas sepeda motor/ Baru saja Sabar akan melaksanakan niat, membangunkan Bondan, eeh, Bondan malah lebih dahulu bersuara.
“Kok berhenti, bang. Memangnya sudah sampai ?”
Sabar bukan tidak kaget. Sebab, ia tak menyangka jika Bondan sudah bangun dan terlebih dahulu bertanya
“ Su..sudah, boss. Tuuh, ada rumah yang di pagarnya ada tulisan mau dikontrakkan,” sahut Sabar, yang mesti dengan gugup, tapi bisa menjelaskan dan penjelasannya membuat Bondan menoleh kea rah yang baru saja ditunjuk oleh Sabar


Bersambung.....

























CERITA BERSAMBUNG (18)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

DELAPAN BELAS


“Iya, boss. Mestinya memang harus seperti yang baru saja boss bilang. Harap maklum, boss, tadi kondisi saya lagi pusing. Kemarin, isteri saya melahirkan. Mestinya, cukup di bidan. Eeh, si Bidan malah langsung membawa isteri saya ke rumah sakit.
Dia bilang nggak sanggup, karena bayinya sungsang. Untung bidannya ngejamin. Jadi lang sung di tanganin. Alhamdulillah, isteri dan anak selamat. Tapi, waktu tadi pagi saya bezuk, dokternya bilang, kemungkinan baru tiga hari mendatang bisa pulang. Nah, siapa yang nggak pusing boss?
Tuh bidan, mentang-mentang mau cepet, eeeh, die bawa ke rumah sakit mahal. Memang sih, dekat dari rumahnya. Tapi, ngeberatin beban saya”
Bondan terpaksa membuka helmnya dan mendekatkan kepalanya ke kepala Sabar, si tu kang ojek
“Waktu bikinnya sama sekali nggak pusing dan nggak terasa berat, kan, bang ?”
“Hahaaha Si boss bisa saja, “
“Tapi, benar, kan, apa yang barusan saya bilang?”
“Sangat benar, boss. Waktu bikin, boro-boro ingat sama pusing atawa beban berat. Sama mertua yang sering cemberut juga tidak ingat. Lhaa, benar, boss. Saya cuma ingat sama enak dan nikmatnya saja.
Malah, kadang kala, maunya pakai nambah. Setelah masuk ke rumah sakit bersalin bertarif mahal, mau nyesalin perbuatan masa silam, malah serasa percuma. Toh, harus tetap bayar juga. Tapi, saya pasrah saja. Semisal di sandera karena nggak sanggup bayar, apa boleh buat “
“Makanya, setelah dapat yang satu ini, langsung di rem dulu aja “
“Waaah, sulit banget, boss. Lagipula nanti isteri saya tersinggung. Kalau saya usul mau nge rem, ntar dia sangka saya nganggap dia truk gandengan. Kan repot “
“Maksud gue, bukan rem kepingin ngekepin, bang Tapi, rem punya anak. Caranya, kan gampang. Pakai kondom aja juga bisa. Praktis, kan ?”
“Waduuuuh, bisa apa nggak, ya, saya pakai kondom Soalnya, terus terang, boss. Meski saya cuma tukang ojek, isteri saya lebih cakep dari Jupe yang jadi bintang iklan kondom yang sering muncul di televisi
“Maksud abang, Jupe tuh, Jupri Pesek atau Jubaedah Peyang ?”
“Bukan itu, boss. Masa sih, boss nggak suka nonton teve dan nggak tau sama Jupe, yang jadi bintang iklan kondom dan sekarang ini sedang ramai diberitakan karena dia nyalonin diri jadi Bupati Pacitan. Sedap punya, tuh, boss, kalau sampai kepilih”
“Sedap punya? Maksud abang apa, sih? “ Bondan belagak bego.
“Yaa, asyik, gitu, boss. Kalau terpilih, pasti satu-satunya Bupati yang tidak mau ngajuin ang garan buat beli pakaian dinas Bupati atau Wakil Bupati. Sebab, Jupe sudah biasa pakai busana yang bahannya selalu kurang. “
“Jadi bupati tuh mesti cukup duit, bang. Buat kampanye. Buat macem-macem keperluan. Stock buat serangan fajar juga mesti siap, bang. Jadi, nggak mungkin dia bisa nyalonin jadi bupati kalau mau beli busana aja duitnya malah kurang “
“Hahahahaha, boss pinter ngelawak juga “
“Hahahaha, abang tau nggak. Saya ngantuk. Boleh, kan, saya tidur sambil nyenderan ke punggung abang ?”
“ Boleh, boss. Silahkan kalo mau tidur “
“ Terima kasih, bang. Hati-hati ya, bang. Ingat, begitu saya bangun, harus di depan rumah yang mau dikontrak. Bukan di bangsal rumah sa kit “
“ Beres, boss “


Bersambung......










































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (17)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TUJUH BELAS

Bondan tak mau lagi mengetahui bagaimana para pengojek tiba tiba saja begitu gembira, dan juga tak menghiraukan apakah yang menerima uang darinya curang atau jujur. Yang jelas, Bondan meminta Sabar untuk segera berangkat.
Sabar yang memang sangat berharap untuk segera meninggalkan pangkalan ojek, tanpa buang waktu membawa Bondan secepatnya. Sabar merasa lega karena sudah jauh dari pangkalan tempat di mana ia menanti rezeki dan membaur dengan kawan kawan seojek, yang hari ini juga kebagian rezeki dari Tuhan yang dibagikan oleh Bondan
Sabar lalntas merancang arah yang hendak dia tuju. Sabar akan membawa Bondan, langsung ke kawasan ke Joglo. Atau ke daerah pinggiran lain yang masih berbatasan dengan wilayah Tangerang. Tapi, setelah hampir dua kilometer berjalan, Sabar seperti bergegas menepikan kendaraannya.
“Kenapa berhenti , bang ?”
Sabar kagak nyaut. Ia standar motornya. Turun dan dengan lugu ia menjura.
“Sorri boss. Saya tadi khilaf. Saya sekali lagi mohon, maaf. “
“Yeee, elu, bang. Lagi-lagi, maaf yang lu pinta. Kalau masih kurang, kan mendingan lu minta duit ? Minta maaf nggak bakalan bisa bikin lu kenyang, bang ”
“Saya serius, boss. Soal bayaran, sudah le bih dari cukup. Jadi, saya benar-benar minta ma af, boss. Maafkan saya boss “
Sebenarnya, Bondan, jadi kepingin nga kak. Tapi, ia tak ingin tukang ojek yang memba wanya kembali salah persepsi
“Yaa, kalau si abang minta duit aje gue siap ngasih. Apalagi kalau cuma minta maaf. Po koknya, gue maafin. Titik. Sekarang, cepat deh kita berangkat “
“Terima kasih, boss. Saya jadi lega. Jadi enak bawanya. Saya siap bawa boss sampai ke pelosok dan jika tidak ketemu, juga siap nemanin sampai besok. Sampai boss dapat rumah yang cocok, “ ujar Sabar.
Ia sudah merasa senang, tenang dan tarikan nafasnya yang panjang serta senyumnya yang nampak gemilang, menjelaskan, Sabar merasa sudah tak punya beban moral. Bondan,yang
ia panggil boss, sudah memaafkan
Sabar juga merasa sangat diuntungkan. Dapat rezeki nomplok dan dapat penumpang berhati dermawan. Anak muda yang tak mengklaim kesalahan dan kebodohannya.Yang tak mengalihkan niatnya ke ojek lain, tapi justeru tetap memilihnya, meski tahu, sikap dan tindakannya sewaktu di pangkalan, memang sangat menyebalkan.
“Kita ke daerah Joglo terlebih dahulu, yaa, boss”Sabar langsung kasih ide. Ia yang sudah siap berangkat berusaha untuk berakrab-akrab.
“Kemana saja. Yang penting komplek perumahan, lokasinya bisa hampir ke Tangerang atau hampir ke Jakarta. Ngerti,kan? Oh iya, siapa nama abang?”
“Sabar, boss,” sabar cepat menyahut tapi ia tetap konsentrasi, saat mulai start lagi. Dan ia sa ngat hati-hati. Tidak mau ngebut. Maksimal ha nya empat puluh kilome terperjam. Kayaknya, Sabar kepinging manfaatin kerjanya sambil ngobrol.
“Lain kali, sikap abang mesti cocok sama nama abang yang tercantum di ktp. Jangan cepat emosi kaya’ tadi ?” Bondan juga cepat nimpalin.
Ia tahu, Sabar kepingin ngobrol. Tapi, ia tidak ingin bersama pengojek yang tidak bisa bersi kap Sabar. Makanya, Bondan tak ragu buat nyentil kelakuan Sabar, yang nyaris berbuntut tidak mengenakan.


Bersambung........








































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (16)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


ENAM BELAS


Suaranya yang lantang, terdengar rekan-rekannya dan membuat mereka bergegas meng hampiri. Tentu saja ingin tahu apa yang sesungguhnya sedang dan akan terjadi
Jika Bondan tidak peka, bukan tak mungkin bisa salah paham. Untung, Bondan menyadari dan ia tahu apa yang harus segera diperbuat. Ia segera mengeluarkan uang dari sakunya. Sebe narnya, tak sengaja, dan ia tak bermaksud memamerkan kertas merah yang nyaris sulit digeng gam oleh tangannya. Tapi, karena ia biasa pegang uang banyak, tak masalah.
Bondan hanya segera mencabut lima lembar ratusan ribu dengan tangan kanannya.
“Sorri….gue bukan penjahat. Sekarang, bawa gue keliling ke pinggiran Jakarta. Nih buat elu, bang. Kalau kurang, nanti lu tinggal minta. Ayo, jalan. Oh iya, gue mau nyari rumah kontra kan di komplek perumahan. Jadi, bawa gue ke komplek perumahan yang udeh lu tau tempat nya. Di sana, kita cari rumah yang dikontrak atau yang dijual. Begitu cocok, lu bawa lagi gue ke sini. Oke?”
Kalau saja si tukang ojek yang helmnya masih bersarang di kepala Bondan, tidak mikir cari uang lebih sulit dari menghitung butiran beras sekarung, dia pasti gak peduli, lantaran terlanjur malu. Terlebih, beberapa temannya, spontan berminat merebut rezeki yang sudah di depan matanya.
“Kalu si Sabar kagak mau, pake ojek saya aja, boss,” samber tukang ojek yang punggung jaketnye ada tulisan ganyang koruptor
“ Kalau segitu ongkosnye, sama saya aja, boss. Sampai besok juga saya siap, nganterin, ” kata yang satunya lagi, yang usai menawarkan diri, langsung berdoa dalam hati. Hanya, Bondan dan para tukang ojek lainnya, sama sekali tak mendengar denger doanya yang terucap dalam hati, dan didawamkan dengan sangat khu suk.
“Tuhan…tolong bikin si sabar linglung dan emosi. Biar penumpangnya naik ojek saya saja. Soalnya, bayarannya setengah juta. Tolong saya Tuhan. Sampai saat ini, saya belum bisa ngelunasin kreditan motor “
Doa si tukang ojek yang pakai kaos Jack mania, bukan tak didengar Tuhan. Hanya, Sabar, si tukang ojek yang terlalu curiga karena memang banyak kejahatan yang mengancam keselamatan para pengojek, sadar. Ia lebih siap mem buang malu dan mengakui kebegoannya.
“Enak aje, lu pade. Gue kan, cuma salah paham,” ia buru-buru menetralisir agar penum pangnya yang masih memakai helmnya, tak beralih ke rekannya yang terang-terangan ngiler mau membawa Bondan ke manapun tujuannya.
Sabar bergegas meminta maaf, Bondan mengikhlaskan uang di tangannya disamber oleh Sabar, yang cepat memasukkanya ke saku celana, dan buru-buru menstarter motor.
“Dasar keple, lu, Bar. Tadi ogah, sekarang nafsu “
“Mangkanye, lain kali ati-ati nilai orang. Penjahat lu kire boss. Eh, boss lu sangka penjahat “
Sabar yang tak menggubris ocehan temannya, tak sempat mendengar ocehan lain yang dilontarkan rekan ojeknya. Namun, niatnya bergegas meninggalkan pangkalan, tertunda karena Bondan memintanya menunggu. Ia baru tahu apa sebabnya, setelah menoleh ke belakang melihat Bondan sibuk mengeluarkan lima lembar ratusan ribu dan segera memanggil salah seorang tukang ojek yang berada paling dekat dengannya.
Begitu mendekat, Bondan mengangsurkan lembar ratusan ribu di tangannya
“ Bu..bu..buat saya nih boss?” Tanya si pengojek dengan sedikit gugup tapi banyak nafsu ingin segera mengabilnya.
“ Enak aja,lu. Bukan cuma buat lu sendiri bang. Tapi, bagi bagi buat semua teman yang ada di sini. Sori... Gue nggak sempat bawa lu semua buat makan makan”


Bersambung......




































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (15)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

LIMA BELAS


“Kali ini, gue cuma mau parkir mobil. Tolong lu jaga mobil gue. Oke? Naaah, ini ada buat lu. Cukup, kan buat ngopi, ngerokok dan makan siang “
“Sama buat makan besok, juga cukup, boss,” sahut Tukijan, sambil nyamber kertas ber harga berwarna merah dari tangan Bondan.
“Tengkiyu berat, boss,” Tukijan ngucapin terima kasih dengan sikap begitu hormat, dan lagi berpikir buat terus membujuk, karena tanpa kerja, sudah dapat tambahan buat ngegemukin tubuh isteri dan anak anaknya
“Gue cau dulu,yaa,“kata Bondan yang lantas bergegas meninggalkan Tukijan
“Siap boss,” kata Tukijan, yang yakin suaranya tetap terdengar Bondan, meski sudah keluar dari pos jaga. Sambil terus senyum, sang satpam memandangi sosok Bondan yang akhirnya lenyap dari pandangan matanya.
“Kalau tiap hari begini, walau cuma dari satu orang, aku berani banget deh, insaf dan bilang sama koh Mao Ling Seng, gue udeh kapok nawar-nawarin ayam Bangkok,” gumam Tukijan sambil cepet cepet masukin kertas merah ke saku celananya, dan masukin album ke laci mejanya.
*****
DALAM hatinya, tukang ojek ngucap Alhamdulillah Hirabbil Alamin, setelah Bondan yang ia tawarkan dengan isyarat menghampirinya dan langsung duduk disadel motornya.
“Kemana kita,boss?” Tanya si tukang ojek yang langsung ambil helm yang sejak tadi nangkring di stang kaca spion motor.
“ Jangan panggil gue, boss, dong,” sahut Bondan, yang setelah ambil helm dari si tukang ojek, memprotes si tukang ojek yang dengan sok akrab, memanggil Bondan dengan boss.
“ Harus, boss. Sebab, setiap penumpang yang naik ojek saya, harus saya anggap boss dan untuk itu saya lebih berkenan memanggilnya boss, “ kilah si tukang ojek
“ Tapi gue bukan, boss, bang ?”
“Mau benar boss, kek. Mau bukan, kek, yang penting, di mata saya, penumpang adalah boss. Oh iya, boss belum bilang, nih, mau kemana. Kalau nanti saya ke kiri nggak taunya tujuan boss ke kanan, kan, repot, boss “
“Gue sendiri nggak tau nii, mau ke mana?” Bondan menyahut tanpa berpraduga apa-apa. Ia memang belum tau mau pergi ke daerah mana
Untung, tukang ojek belum merubah standar motornya. Bondan jadi tidak jatuh bersama motor atau harus menahan keseimbangan agar tidak terjungkal bersama motor. Soalnya, tukang ojek yang kayaknya belum dapat penumpang, langsung turun. Ia tak hanya mendadak kesal dengan jawaban Bondan. Tapi, juga, curiga.
Tak salah. Sebab, ia memang harus waspada. Meski di siang hari, bisa saja penumpangnya yang kini duduk di jok motornya, bukan warga negara teladan. Tapi, warga negara berjiwa edan, yang demi uang, siap mencari korban dari kalangan pengojek.
Bukan berprasangka. Tapi, sudah begitu banyak peristiwa menghebohkan,yang terjadi di kalangan pengojek. Dan aksi mereka, tak sebatas melarikan motor pengojek. Jika perlu, demi me lancarkan usahanya, menganiaya atau membunuh tukang ojek.
“ Kenapa si abang kayaknya sewot ?” Tanya Bondan, yang tentu saja kaget karena tukang ojek langsung turun dari motornya
“ Jelas marah dong?! Saya, kan, tanya baik-baik, kita mau kemana? Ngejawabnya malah nggak tau mau ke mana. Niat kamu, mencurigakan, tahu ?” Sahut si tukang ojek, yang lantaran curiga menjawab dengan sewot. 


Bersambung......

CERITA BERSAMBUNG (14)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

EMPAT BELAS


Mbok Sinem spontan menyahut, membalas salam dari Bondan dengan cepat. Di hatinya terasa ada yang bergetar. Inilah kali pertama si mbok mendengar sapaan salam dari Bondan saat anak majikannya meninggalkan rumah. Sebelumnya, yang menjadi ciri khas hanya teriak, ”Saya pergi yaa mbook,” sembari melangkah cepat ke mobil dan menghilang entah kemana
“ Duh Gusti…Alhamdulillah. Den Bondan sudah mulai mengucap salam. Semoga Engkau selalu menjaga dan melindunginya , “ Mbok Sinem mendoakan Bondan yang sudah meninggal kan rumah.
Si Mbok tersedak. Perubahan sikap Bondan, membuatnya terharu sekaligus bangga. Terharu, karena perubahan sikap Bondan semakin memperlihatkan kemajuan. Tak hanya memberinya kepercayaan yang begitu besar. Tapi, juga mulai mencurahkan perhatian. Si Mbok tak menyangka, jika Bondan malah menyuruhnya membawa satu-satunya anak lelaki, dari empat anaknya yang selebihnya perempuan.
Mbok Sinem akan berusaha untuk menghubungi Parijan, agar ia mau tinggal bersamanya di rumah sang majikan. Tentang menantunya yang menyebalkan, akan dipikirkan kemudian. Tapi, semoga saja, dorongan den Bondan, bisa membuatnya lebih dekat dengan menantunya dan ia bisa membimbingnya. Syukur jika mau berubah dan hak dia jika ingin tetap di jalannya..

BONDAN menghentikan mobilnya di parkiran sebuah hotel mewah.
Ransel dan sepatunya yang biasa dibawa dimasukkan ke bagasi
Bondan yang tampil bersendal jepit, bercelana jeans dan t’shirt, membuat seorang satpam di pintu masuk hotel tercengang. Ia megucek-ngucek matanya. Sepertinya,tak percaya,yang terlihat jelas di depan matanya, Bondan
“Lu nggak mikir lagi ngeliat setan, kan?“ Bondan bergegas menyapa Tukijan, sang satpam
“Saya cuma kaget boss. Soalnya….” Sahut Tukijan, yang kelihatan jadi nggak enak. Tapi, Bondan tidak tahu, yang nggak enak itu hatinya atawa jeroannya.
“Nggak nyangka kalo gue cuman besendal jepit? “ Tanya Bondan, ingin memastikan
“Saya memang berprasangka, boss. Tapi, bukan sandal jepitnya yang bikin saya kaget. Saya kaget, karena biasanya, boss cuma nelpon dan saya langsung antar ayam bangkok ke kamar boss “ Sahut satpam bernama Tukijan, yang lantas tergopoh ke pos jaga, ambil album di laci meja dan bergegas kembali ke luar, untuk menemui Bondan, yang sudah dikenalnya.
“ Stock terbaru ini, kece banget, boss. Umurnya baru 16 tahun,” kata Tukijan, sambil angkat jempol , dan setelah larak lirik, berusaha memberikan album foto di tangannya
Bondan hanya menanggapi niat Tukijan dengan senyum. Ia lalu memberi isyarat, kalau dirinya sedang tak punya keinginan untuk melihat album berisi cewek abg yang kece-kece, yang tengah berada di tangan Tukijan.
“ Lihat dulu aja, boss. Saya jamin, aslinya lebih bagus dari fotonya,” Tukijan berusaha me yakinkan
Bondan maklum jika Tukijan berusaha membujuknya. Ia lalu meraih bahu Tukijan, dan mengajaknya ke pos, tempat Tukijan ambil album. Tukijan jadi optimis. Ia hanya mikir, bakal seperti biasa. Meski caranya mengagetkan. Biasanya nelpon, saat ini datang langsung ke sumber nya, Tukijan yakin bakal dapat uang dari bisnis lender yang diam-diam dirintisnya..
Di pos jaga, Tukijan ternganga. Bondan bukan ambil album di tangannya, malah bilang sambil nyodorin selembar ratusan ribu rupiah.


Bersambung......