Wednesday, May 8, 2013

CERITA BERSAMBUNG (30)


MASIH ADA JALAN
                                               oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH


Sabar terduduk. Kedua kakinya berselonjor Tubuhnya disandarkan ke batang pohon. Sabar tak menghiraukan celananya yang pasti kotor oleh debu. Ia lantas menatap langit, seseng gukan dan membiarkan air matanya berhambu ran.
Sabar kembali sesenggukan. Kalimat yang baru saja ia dengar, langsung membawa nya ke puncak keharuan. Sabar, benar-benar merasa hari ini menjadi hari yang paling indah dalam hidupnya. Hari yang sangat berbeda dengan ribuan hari yang telah dilaluinya. Ia mengangkat kedua tangan, kedua matanya yang bercucuran air mata, memandang luasnya langit
“Tengkyu Tuhan…Tengkyu..Hamba menikmati limpahan karuniaMu yang begitu besar dan tak terhingga.Oooh, Engkau memang Maha Besar, yaa Tuhanku. Engkau memang Maha Agung dari segala keagungan yang ada. Engkau begitu baik pada hambamu yang maha lemah ini, Tuhanku. Bagaimana hamba sanggup membalas semua kebaikan yang telah Engkau limpahkan pada hamba.
Tuhanku…ooh, tengkyu hanya kucurahkan pada-MU, Tuhan..
Alhamdulillah Hirabbil Alamin, ya Rabbku “
Bondan, bukan tak melihat apa yang dilakukan Sabar. Beberapa saat Bondan hanya bisa ternganga. Lantas, dengan agak kesal ia menghampiri Sabar.
“ Lu itu, ngapain, sih bang. Dari tadi, kayaknya kerjaan lu cuma nangis. Terus, di tempat ramai begini, lu mewek? Kalau memang gue nggak boleh ikut ke rumah sakit, nggak boleh bezuk isteri lu dan kagak lu kasih kesempatan kenal sama bayi, lu, bilang terus terang.
Gue bisa panggil taksi dan pulang sekarang juga, kok. Niih, ambil helm lu kalau nggak percaya gue bisa pulang pakai taksi “
Masalahnya, bukan nggak percaya, coi. Lagipula, apa susahnya si boss langsung pulang pakai taksi. Wong, cari kontrakan pakai mobil sewaan yang anti keterjang angin saja, pasti bisa, kok ?
Cuma, ketulusan lu, itu, boss. Cara lu nolong orang, kok, kagak pernah pakai rencana, sih. Ngalir begitu aja, kayak air? Lu benar-benar kagak ngerti, ya, kalau hari ini, gue benar-benar bahagia. Lu tau nggak, sih, karena lu begitu tulus, Allah langsung kasih gue karunia. Langsung bikin gue terus hepi. Gue tuh nangis bukan kagak setuju sama rencana, lu. Tapi, karena ketulusan lu itu yang bikin gue nggak berenti dari rasa haru.
Gue rela, kok, dikatain orang cengeng. Emangnye, gue pikirin. Gue tuh nggak mungkin nggak nangis, boss. Keharuan demi keharuan, terus nerjang dan datang silih berganti, karena ketulusan lu?
Sabar kepingin banget, suara yang bergema di hatinya diungkap dan didengar anak muda yang ia panggil boss. Tapi, ia nggak sanggup. Nggak bisa. Sebab, ia tahu, ketulusan si boss adalah sejatinya ketulusan. Tidak diiming-imingin apapun. Buktinya, di pangkalan, ketika Sabar curiga, ia malah dibayar setengah juta.
Di rumah makan mahal, nggak ngajak ke dalam dan Sabar mau ke warteg, malah dipanggil pelayan dan nggak cuma bebas pesan makanan. Tapi, malah diomelin kalau nggak pesan makanan enak buat isterinya.
Di rumah kontrakan ? Mestinya, bisa ambil yang lebih bagus dengan harga empat belas ju ta buat dua tahun. Eee, malah ambil yang enam juta dua tahun dan sisanya, malah dikasih ke Sabar agar bisa bayar biaya rumah sakit. Dan barusan ? DI tengah jalan malah bilang mau ikut ke rumah sakit.
“ Bang…lu jangan nangis terus, dong. Gue tuh butuh kepastian. Kalau gue nggak boleh ikut ke rumah sakit, ambil nih helm lu. Sekarang juga, gue mau langsung pulang. Kalau lu ijinin, cepat berangkat. Lu pikir enak diliatin banyak orang ?”




Bersambung......



























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (29)

MASIH ADA JALAN
                                             oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH SEMBILAN


“Saya masih kepingin nangis, boss. Sebab, sa ya benar-benar bahagia. Saya nggak sangka, sete lah ketemu sama boss, Allah malah memberi sa ya kemudahan dalam menyelesaikan masalah, “ ujar Sabar sambil terus merapikan uang yang sudah dihitungnya
“Bagaimana, sekarang, sudah bisa apa belum jika kita cari mesjid?”
“Sangat bisa, boss. Uangnya, su dah saya hitung. Jumlahnya cukup. Tidak kurang tidak lebih. Sekali lagi, ijinkan saya mengucap kan terima kasih “
“Yaa, sama-sama. Tapi, gue minta sekali lagi, jangan terus-terusan nangis. Ntar di sangka orang, gue habis ngegebukin si abang la gi“
“Sembarangan. Kalau ada yang be rani bilang begitu sama boss, biar saya yang ha jar “
“Belagu lu bang. Mengeringkan air mata saja, lu belum bisa. Gimana bisa ngeha jar orang? Makanya, lu stop deh tuh tangisan. Te rus kita ke luar, cari mesjid “
Sabar berusaha menenangkan diri nya. Setelah dengan susah payah, akirnya, ia berhasil nyetop tangisannya. Sabar lalu ngelap air matanya. Baru ia merasa leluasa dan bisa mengeluarkan motor, dari teras rumah, yang harga kontraknya sudah dibayar Bondan


(7)


RENCANANYA, begitu sampai di pangkalan ojek, Sabar akan menurunkan si boss. Sekali lagi ia akan mengucapkan terima kasih. Begitu berpisah, Sabar langsung cabut, meluncur ke rumah sakit. Rencana kedua, setelah menye rahkan tas plastik warna merah berlogo rumah makan mahal, ia akan buat surprise. Hanya me nyerahkan uang yang setengah juta rupiah. Jika isterinya menanyakan soal biaya untuk bayar rumah sakit, ia hanya akan bilang:
“Kamu berdoa saja “
Dengan begitu, isterinya jadi harap-harap cemas. Jadi, isterinya akan mikir, dan di saatnya, ia akan bilang, soal rumah sakit sudah beres. Kalau sekarang pulang, tak bakal ada yang meng hadang. Tak akan ada yang berani menyandera
Karena itulah, Sabar menyalakan lampu sein motornya. Niatnya, sebentar lagi, dia harus tepat dan cepat berbelok ke kiri. Begitu masuk ke jalan arteri, ia akan langsung bablas sampai ke Pejompongan. Nantinya, belok ke kanan dan sampai ke pangkalan.
Belum sampai belokan, boss meminta agar Sabar menepikan motornya. Sabar hanya berpikir senangnya saja. Ia menduga, boss akan turun. Setelah menyerahkan helm terus bilang, karena tak tahan terus menerus keanginan, saya permisi dan memilih naik taksi
Nyatanya? Begitu motor menepi ke pa ling sisi, boss memang turun dari motor. Tapi, yang disampaikan benar-benar di luar perkiraan Sabar
“ Bang…kalau boleh, gue mau ikut ke rumah sakit Gue mau bezuk isteri lu, mau kenalan sama bayi lu yang baru lahir ke dunia dan setelah beres, baru anter gue ke pangkalan. Gimana, setuju ? “
Sulit bagi Sabar untuk menjawab tidak setuju. Tapi, ada yang jauh lebih sulit dari seke dar menjawab hal itu. Makanya, Sabar standar kan motor, cabut kunci dan bergegas ke salah satu pohon rindang yang berjajar di sepanjang ja lan.Jaraknya hanya sekitar lima meter dari mo tornya yang sudah distandarkan.


Bersambung......



















<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (28)


MASIH ADA JALAN
                                              oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH DELAPAN

“Emang, keluarga boss ada yang sakit? Anak atau isteri, boss ?”
“Gue, kan masih jomblo, bang “
“Boss masih jomblo. Kalau begitu, yang sakit, jika bukan orangtua pasti kakak atau adik nya, boss “
“Maksud gue, begini, lho, bang. Gue tuh, kan ngontrak dua tahun. Kalau gue ambil yang disebelah, kan, mesti bayar empat belas juta. Nah, kalau yang ini, kan , cuma enam juta. Jadi, gue tuh ngirit delapan juta, kan ?”
“Kalau hitungannya begitu, memang benar, bisa ngirit delapan juta, boss. Berarti masih bisa bayar biaya rumah sakit keluarga boss yang lagi dirawat “
“Gue tuh nggak punya keluarga yang lagi dirawat di rumah sakit, bang. Ngaco aja, lu ?”
“Ngaco gimane, boss. Kan, barusan, boss sendiri yang bilang, nggak cukup buat bayar rumah sakit “
“Yang lu bilang, emang nggak salah, bang. Cuma, maksud gue begini. Kalau gue ambil rumah kontrakan sebelah, berarti gue bayar empat belas juta. Kalau yang ini, kan, cuma enam juta. Berarti gue bisa irit delapan juta. Naah, maksud gue, duit yang bisa gue irit, yang jumlahnya delapan juta, mau gue pakai buat …enaknya buat apa, ye, bang ?”“
“Buat renovasi kan, bisa, boss. Jadi, nih rumah, walau masih asli, bisa lebih enak dipakai “
“Soal renovasi nggak usah lu pikirin, bang. Itu urusan gue. Gimana kalau gue pakai buat. “
“Beli perabotan, boss. Jadi, perabotan boss, baru semua. Oke, punya, tuh, boss ?”
“Kayaknye, lebih oke kalau gue pakai buat bayar biaya rumah sakit isteri lu, deh, bang “
Sadar, tercengang. Ia seperti tidak percaya mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulut Bondan. Padahal, sangat jelas tak mungkin tidak terdengar.
“Yee, gimana juga, sih, lu, bang. Apa nggak boleh, kalau gue mau membantu meringankan be ban lu bayar biaya rumah sakit. Tadi, lu bilang isteri lu lagi dirawat, kan ?”
“Be..benar, boss. Cu..cu.. Cuma Astagfirul lah Haladziem. Subhanallah Alhamdulillah Hi robbil ‘Alamin. Boooosss, terima kasih, boss. Terima kasih, Yaa Allah, hari ini, begitu banyak rezeki yang kau limpahkan pada hamba, Tengkyu Allah. Tengkyu ”
Sadar langsung sungkurkan kepalanya, Ia bersujud ke lantai, bersyukur. Tangisnya pecah. Tangis haru, tangis bahagia. Bondan, membuka tas yang tergantung, diikat dipinggangnya. Meng ambil uang. Menghitung. Ia membiarkan Sadar sesenggukan. Baru berhenti setelah Bondan usai menghitung uang dan mengangkat tubuhnya.
“ Bang…tolong terima uang ini, yaa. Tolong gunakan untuk bayar rumah sakit, agar isteri dan anak abang bisa cepat dibawa pulang. Ingat yaa, bang. Gue cuma bisa bantu buat bayar rumah sakit. Bukan buat foya-foya. Gunakan baik-baik, ya, bang “
“Alhamdulillah yaa Allaaah. Eng kau me mang Maha Suci. Maha Besar. Saat hambamu bi ngung, kau datangkan boss yang baik hati untuk menolong hamba. Terima kasih banget, boss. Terima kasih “
Bondan tidak menggubris
“Duitnya, tolong cepat diambil, bang. To long hitung, kalau kurang dari delapan juta, bi lang aja. Setelah abang hitung, simpan baik-baik. Kalau abang sudah tenang, kita segera cari mes jid. Kita shalat Dhuhur. Abang imam saya mak mum, yaa?”
“Iya, iya, eh, nggak boss. Boss saja yang jadi imamnya. Saya jadi makmumnya. Soalnya, saya lagi terharu. Takut, nanti terus nangis, malah sho lat saya jadi nggak konsen “
“Yaa, sudah, abang jangan buang air mata terus. Nanti, kalau habis, kan susah belinya. Percuma punya duit kalau kita nggak punya air mata “



Bersambung.......



































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (27)



MASIH ADA JALAN
                                               oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH TUJUH


“Jadi, salah dong, kalau kita bilang mafia kasus, koruptor, maling ayam, mafia pajak, itu setan “
“ Salah sih, tidak, pak. Hanya, jelas sangat keliru. Sebab, yang nyata-nyata melakukan kejahatan pas ti manusia, bukan setan. Tapi, manusia selalu mengata kan, penjahat yang sebenarnya manusia telah melakukan perbuatan setan. Untungnya saja, setan tak pernah mela porkan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh manusia terhadap setan “
“Hahahaha, sekarang bagaimana, apakah setan. Eh, maaf, maksud saya, apakah dik Marwan berkenan mengontrak rumah saya ? Tapi, maaf, lho, baru san saya bilang setan. Habis, sih, dik Marwan bisa saja. Mau transaksi kontrak rumah, setan dibawa-bawa “
Bondan yang sudah melihat situasi rumah kontrakan milik pak Waluya yang menurutnya sangat sederhana, dan cocok dijadikan tempat tinggal karena lokasinya di dalam dan jauh dari jalan raya, tak lagi berpikir panjang lebar. Ia langsung menyatakan berminat dan langsung membayar uang kontrakan untuk dua tahun
“ Langsung dibayar saat ini ?” Tentu saja Pak Waluyo jadi kaget.
“ Sekarang, besok atau lusa, kan sama saja, pak. Saya tetap harus bayar. Jadi, kenapa harus ditunda-tunda ?”
“Terima kasih, dik Bondan. Terima kasih,” pak Waluyo menghitung uang yang diserahkan Bondan untuk membayar harga kontrak rumah.
“Boleh, kan, pak kalau saya langsung minta kunci. Kebetulan, saya kepingin banget istirahat “
“Oh, boleh. Tentu saja boleh. Silahkan, ini kuncinya,” pak Waluya segera menyerahkan kunci rumahnya kepada Bondan, dan segera pamit pulang.
Bondan memanggil tukang ojek agar membawa motornya ke dalam. Sadar ter senyum. Ia yakin, pak Waluya pergi dan membi arkan Bondan di rumahnya, berarti sudah deal. Sadar yakin, sebelum Maghrib, ia sudah bisa sampai di rumah sakit. Menjenguk isterinya, menyerahkan makanan enak dan amplop sete ngah juta rupiah.
“Kita istirahat sejenak, yaa, bang. Setelah itu, kita cari mesjid dan langsung pulang. Oh iya, jam berapa abang mau besuk isteri di rumah sakit “
“Sore, kok, boss. Tenang aja, boss. Masih banyak waktu. Saya juga kepingin santai sebentar,“ sahut Sadar, sambil standarkan motornya yang sudah dibawa masuk ke teras rumah tipe 36.
“Abang tau, nggak tadinya gue mau ambil rumah kontrakan yang mana ?”
“Waah, tepatnya saya nggak tau boss.Cuma, karena rumah yang akan dikontrak ada dua, kalau nggak rumah yang ini, pasti yang di sebelah, boss “
“ Gue kepengen banget, bang, ambil yang di sebelah. Cuma, kata pak Waluyo, harga pertahunnya tujuh juta rupiah. Sedangkan yang ini, cuma tiga juta rupiah. Akhirnya, gue pilih yang ini dong “
“Dananya nggak cukup, ya, boss?”
“Ya, nggak cukup buat bayar rumah sakit”





Bersambung.........





















<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>






CERITA BERSAMBUNG (26)


MASIH ADA JALAN
                                              oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH ENAM

Bondan menoleh. Tersenyum, mengangguk dan memperkenalkan diri, dan menyam paikan maksudnya pada pak Waluya.
“ Kayaknya, saya mesti tanya dulu, dik Bondan mau ambil yang mana, nih? Kalau mau yang masih asli, saya bisa langsung antar masuk ke dalam agar dik Bondan bisa lihat-lihat. Kalau mau yang di sebelahnya, kita harus ke rumah bu Mursidin terlebih dahulu “
“Jadi, yang masih asli punya bapak, yang sudah direnovasi dan ditingkat, punya bu Rasidin. Bagaimana kalau saya maunya lihat lebih dahulu rumah bapak. Oh ya, boleh saya tahu, berapa harga per tahunya, pak ?”
“Rumah saya kan masih asli. Masih apa adanya. Listriknya pun hanya 900 watt. Har ga per tahunnya, tentu lebih rendah dari rumah di sebelahnya. Saya tawarkan cuma tiga juta rupiah. Jika dik Bondan naksir rumah bu Rasidin, kata nya, sih, per tahun tujuh juta rupiah “
Pak Waluya membuka gembok rumah nya. Mengajak Bondan masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Sadar tetap di atas motornya. Me mandang bungkusan plastik berisi makanan ma hal, untuk isterinya. Ia yakin, boss mengijinkan ji ka ia ikut melihat-lihat ke dalam. Tapi, Sadar ta kut malah lama. Ia tak ingin, kelamaan di dalam rumah, begitu keluar, motornya sudah raib entah ke mana
“Pastinya, isteriku nggak mungkin ti dak senang Dia pasti tidak nyangka, jika suami nya yang cuma tukang ojek, bisa bawa makanan enak, mahal dan dibungkus dalam kemasan m ewah “
Sadar terus memandang bungkusan yang ia gantung di stang motornya. Ia terus terse nyum. Seperti Bondan, yang juga tersenyum sete lah mendengar seloroh pak Waluya, yang menga takan, para tetangga menyangka rumahnya yang sekitar sebulan kosong ada penghuninya
“Pak Waluya bisa saja. Tapi, untung saya tidak takut setan. Sebab, saya pernah jadi setan. Dan ketika saya merasa sebagai setan, saya bisa melihat dengan nyata, lho pak, betapa setan-setan beneran malah pada santai dan berleha-leha “
“Hahahahaha, sekarang, dik Bondan yang bisa saja. Masa’ bisa, sih, setan beneran malah pada santai dan berleha-leha “
“Benar dan nyata, pak.Mereka itu, malah pada malas kerja. Baru kepingin membujuk manusia agar pada mabuk, eh, manusia yang sudah jadi setan, malah mabuk duluan. Baru mau ngebujuk manusia agar korupsi, eh, manusia yang sudah menempatkan setan dalam dirinya, belum dibujuk sudah lebih dahulu korupsi. Jadi, setan merasa nggak ada kerjaan.
Mereka jadi bisa santai dan berleha-leha. Sebab, saat ini, kebanyakan manusia, malah menempat kan setan ke dalam dirinya. Menjadi setan sebelum setan datang untuk membujuknya. Para setan pasti bersyukur, sebab semakin banyak manusia yang jadi setan, semakin ringan tugasnya “
“ Ada benarnya juga, lho, dik Bondan. Sebab, setan yang benar-benar setan, kan, nggak pada hobi ma buk-mabukan. Eh, manusia yang dilarang melakukan perbuatan setan malah gemar mabuk-mabukan. Setan juga nggak hobi korupsi, sebab, setan nggak perlu uang atau rumah mewah.
Tapi, korupsi itu pekerjaan setan. Lalu, mengapa justeru manusia yang gemar melakukan korupsi, yaa ? Jadi, menurut dik Bondan, yang aneh itu, setan atau manusia, yaa ?”
“Waah, menurut saya, itu harus dianggap aneh tapi nyata, pak. Soalnya, kalau kita bilang yang aneh itu manusia, toh, nyatanya manusia itu konkrit dan sesama manusia bisa melihat wujud nyatanya. Tapi, jika yang aneh kita anggap setan, toh, meski kita tak pernah bisa melihat wujudnya, kita juga tak pernah melihat kenyataan tentang setan yang sedang bermabuk-mabukan.
Di pengadilan, kita juga tak pernah, tuh, melihat jaksa membacakan tuntutan kepada setan. Yang dituntut, pasti manusia. Hakim yang kemudian memvonis, juga tidak menjatuhkan vonis untuk setan. Sebab, wujud nyata terdakwanya, kan jelas: manusia “



Bersambung..........


















<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>




CERITA BERSAMBUNG (25)


MASIH ADA JALAN
                                              oleh : Oesman Doblank


DUA PULUH LIMA



BONDAN malah tidak ingin memberi uang sepeserpun, pada seorang pengemis perempuan sekitar tiga puluh lima tahunan, meski ia menggendong bayi dan tangan kanannya menuntun seorang bocah lelaki berusia sekitar enam tahunan.
Hanya, Bondan yang sedang memperhatikan dua rumah yang posisinya saling bersebelahan dan di masing masing pagarnya ada tulisan dikontrakkan, sama sekali tak merasa terganggu. Tapi, ia sempat kesal. Pasalnya, meski ia sudah minta maaf dengan begitu sopan dan sudah mengatakan, “lain kali saja ya, bu,” si pengemis, terus aja memohon agar ia dikasihani dan diberi sedekah.
“ Ibu kan, masih gagah. Masih kuat. Mestinya, ibu kerja. Sebab, mengemis itu, menghina diri sendiri, lho, bu ?”
Bondan terpaksa memberi saran. Sabar yang duduk rileks di atas motor yang diparkir di sebuah pohon rindang, tak jauh dari posisi Bondan, hanya bisa memperhatikan dari tempat ia melepas lelah
“ Kerja apa dan di mana, oom. Saya su dah cari kerjaan ke berbagai tempat, tak ada yang mau menerima saya. Meski hanya sebagai pem bantu rumah tangga,” jelas si pengemis
“ Oh, yaa” Bondan kaget.
“ Iyaa, oom. Cari kerja itu benar-benar susah,” tegas pengemis perempuan, sambil mene nangkan bayi di gendongannya, dan bocah lelaki yang dituntunnya
“Kalau begitu, kerja saja di rumah sa ya. Kebetulan, si mbok Sinem, butuh teman. Nah , ibu mau, kan, ikut dan bekerja di rumah saya ?”
“ Ta..tapi, oom?”
“Soal gaji? Ibu jangan kuatir. Ibu mau minta gaji berapa? Satu juta atau satu juta sete ngah?”
“A..a..anu, oom. Lain kali saja”
Pengemis perempuan itu malah jadi berbalik gugup. Ia tak menyangka, jika pria yang dipanggilnya oom, malah mengajak bekerja dengan gaji menggiurkan. Tapi, ia juga kesal, karena yang ia harapkan diberi uang, bukan diminta bekerja, meski gajinya cukup menggiurakan. Bukankah ia lebih biasa menengadahkan tangan, meminta dan dengan begitu tinggal menikmati hasil tanpa harus memeras keringat dan membuang tenaga?
Jika harus bekerja, bukan tak sanggup. Tapi, tak biasa. Dan jika bekerja, berarti ia harus menguras tenaga, merelakan diri diimarahi majikan, dan bukan tidak mungkin, pakai disiksa. Bukankah banyak pembantu yang dianiaya?
Bondan tak sempat menanyakan me ngapa pengemis wanita yang pinter nyetel wajah nelangsa, malah menolak tawarannya, setelah mengaku sudah melamar sebagai pembantu ke berbagai tempat, tapi tak kunjung ada yang mene rima. Sebab, si pengemis bergegas pergi tanpa permisi. Bocah delapan tahun yang dibawanya, nyaris terpelanting saat ia menuntunnya dengan gerak cepat.
“Kenapa tuh pengemis,boss? Ngam bek?” Tanya Sabar, ketika Bondan mengham pirinya.
“Tau? Dia bilang, makanya ngemis lan taran susah cari kerja. Eh, gue ajak kerja di ru mah gue, malah langsung ngeloyor. Kayaknya, sih, ngambek “
“Orang males, tuh, yaa, gitu, boss. Dia jak kerja bukan senang, malah kesel. Sebab, ker ja, kan, mesti pakai tenaga. Mesti siap diomelin. Modalnya, cukup gede. Ka lau ngemis, modal nya kan cuma salammualaikum “
“ Oh, yaa? Terus, gimane, nee? Kalau setengah jam ke depan orangnya nggak datang juga, kita cari ke komplek yang lain, si abang kagak keberatan, kan?”
“ Insya Allah, boss “
“ Insya Allah keberatan apa tidak keberatan “
“ Boss, sampai besok pun saya siap an tar boss ke mana saja. Yang penting, tujuannya cari rumah. Eh, kayaknya, yang punya datang, tuh boss “



Bersambung.............



























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (24)


MASIH ADA JALAN
                                                           oleh : Oesman Doblank

DUA PULUH EMPAT


Bukan berarti mereka harus terus menerus tidak tahu. Toh, akhirnya mereka memang harus tahu. Setelah tamunya yang duduk di meja nomor 13, mengajukan pesanan, mereka harus segera mengisi dengan berbagai hidangan, lengkap dengan minuman yang di inginkan.
Sedangkan yang tadi dan sekarang me reka lihat, tak perlu serius diperhatikan. Itu bu kan urusan manajemen rumah makan. Toh, tak ada larangan untuk menangis dan cekakakan. Ja di, saat mereka melihat Bondan dan Sabar yang sudah tidak sesenggukan, menikmati hidangan dengan lahap sambil sesekali tertawa lebar, tak ada kewajiban bagi pelayan untuk segera memanggil petugas keamanan.
Nanti, setelah puas dan mereka pergi da ri rumah makan tanpa bersedia membayar, baru manajemen rumah makan sangat berhak untuk bersikap dan mengambil tindakan. Bahkan, setegas-tegasnya. Kalau perlu—jika terbukti tidak bayar, bisa langsung ngeroyok. Setelah babak belur, baru mereka giring ke kantor polisi.
Toh, tinggal buat laporan resmi. Bilang saja mereka preman, yang rakus saat makan tapi setelah kenyang sama sekali tak punya hawa nafsu untuk segera membayar. Malah mereka maksa minta ongkos buat pulang. Kan, beres. Paling, korban seratus ribu buat kasih uang rokok.
Nyatanya? Toh, seperti biasa. Tak ada masalah. Tamunya, bayar. Malah, petugas di bagian kasir, sempat dua kali tercengang. Pertama, saat bilang plus pesanan terakhir yang bungkusannya sudah dijinjing Sabar, totalnya tiga ratus lima puluh ribu rupiah, Bondan malah langsung komentar
“ Saya kira sampai sejuta. Nggak tahunya cuma tigatus lima puluh ribu. Nih mbak, uangnya, “ kata Sabar sambil menyodorkan empat lembar ratusan ribu
Kedua, saat ingin menyerahkan uang kembalian setelah ia menerima empat ratus ribu rupiah dari tamu yang tadi duduk di meja nomor 13, ia mendengar jelas, tamunya malah bilang.
“Ambil saja buat mbak. Dan ini, “ katanya kemudian sambil menyerahkan dua lembar ratusan ribu, “ Bagi buat empat orang teman mbak. Sebab, tadi mereka melayani dengan baik, dan tak mentertawakan kami, ketika kami asyik menangis ”
Untung, tadi mereka bersikap profesional dan proporsional. Jika gegabah dan sampai menimbulkan kesan tidak mengenakkan pada tamunya, kan yang mereka peroleh bukan uang tip yang jumlahnya lumayan besar. Tapi, klaim dari tamu yang duduk di meja nomor 13.
“Alas kakinya memang cuma sandal jepit. Tapi isi kantongnya, tebalnya selangit , “ kata pelayan berjidat agak nongnong
“ Hebat tuh, orang. Oom Ferdy saja, sekalinya ngasih tip lima puluh ribu, eh, nyuruh dibagi rata buat berlima. Padahal, tiap datang, mobil mewahnya selalu beda,” ujar temannya.
“ Yee, uang tip udeh langsung gue se rahin, bukan cepet beresin malah ngerumpi. Lain kali, gue tahan sampai akhir bulan, baru nyaho, lu “
Tentu saja Bondan tak tahu, kalau yang tadi ia la kukan, diperbincangkan dengan serius oleh para pelayan. Entah komentar apa yang akan diungkapkan Bondan, jika ia tahu dan mendengar langsung, pribadinya diperbincangkan. Padahal, apa yang dilakukan Bondan, tanpa pikir pan jang. Tanpa beban, dan tanpa berharap dapat pujian.
Dari siapa pun. Termasuk Tukijan dan teman-temannya, yang kerap kali ia beri uang tip. Memang, back groundnya beda. Tapi, kontradiktif atau pun tidak, Bondan termasuk orang yang suka memberi. Paling tahu persis, yaa, mbok Sinem. Meski embel-embelnya beda, salah satu alasan mbok Sinem betah bekerja di rumah Bondan, karena ia sering dapat uang tips. Jika sengaja dihitung, jumlahnya melebihi gaji tetapnya yang per bulan hanya sejuta rupiah.


Bersambung.......












































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>