Wednesday, June 5, 2013

CERITA BERSAMBUNG (36)

MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH ENAM


“Bang…istighfar, bang. Istighfar. Abang sudah mengganggu tata tertib di ruang rawat “
“Kamu tidak usah suruh-suruh saya. Saya tak bisa tidak menangis, Ani. Sejak tadi, saya te rus menangis. Hanya, kamu tidak tahu. Tidak pernah mengerti dan tidak paham. Saya bawa makanan pemberian, boss, kamu malah kesal, malah suruh saya kalau dapat duit harus irit. Saya lihatkan isi tas pinggang, kamu malah curigai saya.
Mestinya, kamu tanya saya dengan cara baik-baik, lalu, kamu beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Tapi, kamu cuma bisa memperlihatkan rasa takut. Kuatir tidak bisa bayar biaya perawatan rumah sakit. Padahal, saya sudah bilang, Allah itu Maha Besar, Maha Memberi Rezeki. Kenapa kamu malah tidak mengerti? “
“Pak, maaf…kami harus bertugas. Kami bedua, permisi dulu, yaa ?”
Karyawan kantin yang membawa bingkisan buah-buahan, membe ranikan diri untuk menyela tangisan Sabar. Se bab, ia dan temannya tak mungkin bisa berlama lama di ruang itu. Bagaimana pun, meraka lebih berpikir harus segera kembali ke kantin untuk bekerja, timbang berlama-lama dan akibatnya malah kena tegur atasan.
Sabar yang sejak tadi menghadap ke din ding, menoleh. Sambil terus menangis, ia mena tap kedua karyawan kantin. Sesaat kemudian, ia bergegas membuka resleting tas pinggangnya. Mengambil selembar ratusan ribu rupiah.
Kedua karyawan kantin rumah sakit, ma kin bingung, karena Sabar yang terus menangis menyodorkan uang ke mereka. Isteri Sabar, juga heran, karena suaminya memberi selembar ra tusan ribu rupiah, tapi ia tak berani mencegah. Dan keheranan, menjalar ke semua orang yang ada dalam ruang rawat
“Kalian tidak boleh pergi, kecuali setelah menerima uang ini “
“Ta..tapi..pak Sabar. Ta..tadi, pak Bondan sudah memberi kami uang tip “
“Iya, pak. Tolong ijinkan kami kembali melaksanakan tugas “
Sabar yang masih sesenggukan, mengham piri dua karyawan, yang tak tahu harus berbuat apa. Keduanya tercengang, karena dengan gera kan cepat, Sabar yang masih sesenggukan, memasukkan uang di tangannya ke saku baju salah seorang karyawan kantin.
“ Terima kasih, kalian telah berbuat baik untuk saya. Silahkan kembali bekerja “
Setelah saling pandang, keduanya berge as meninggalkan ruang nomor 313.Sabar kemba li ke tempat semula. Terus menangis.
“ Bang…saya sudah ngerti. Saya sudah paham, kenapa abang nangis. Tolong jangan na ngis lagi, bang. Bu..bapak..semua yang ada di si ni, maafkan saya dan suami saya, ya ?”
“Iyaa..nggak apa-apa, bu. Tadi, kita me mang kaget. Sekarang, sudah nggak apa-apa, kok. Toh, cuma nangis. Terharu, memang mesti nangis. Itu baru logis. Kalau marah-marah, baru kita pada gerah. Iya, kan, bu ?
Sabar, baru sadar, kalau ia baru saja bikin onar. Tapi, ia tidak malu buat minta maaf.
Dua satpam, yang muncul mendadak, celi ngak-celinguk. Tentu saja bingung. Mereka baru saja dapat laporan ada yang bikin gaduh, nyatanya, ruang nomor 313, sangat kondusif. Sejenak, mereka saling tatap. Setelah itu, dengan cepat dan tanpa pamit, bergegas meninggalkan ruangan


Bersambung........


Sunday, June 2, 2013

TAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI

oleh : Oesman


PENGANTAR

     Beda pengantar dan kata pengantar, sangat jelas. Karena sudah jelas, kayaknya beta tak perlu lagi memperjelas. Sebab, percuma menjelaskan yang sudah jelas. Mengapa? Karena selain kuatir nantinya makin jelas, juga gak enak kalau ada yang mengatakan, kok diperjelas malah menjadi sangat tidak jelas.
    Jadi, timbang diperjelas malah menghasilkan makna yang tidak jelas. bukankah lebih baik segera mengurungkan hal hal yang malah menjadi tidak jelas? Nah, itu sebabnya saya tak ingin memperjelas. Sebab, ada bukti kalau ada kata yang bisa mengantar dan juga ada pengantar yang kesulitan menguraikan kata kata.
    Mengapa bisa demikian ? 
    Ketika dikonfirmasi langsung ke kata dan juga ke pengantar, kedua belah pihak di satu sisi mengatakan sangat setuju. Alasannya, karena kata dan pengantar bisa saling dukung mendukung dan mengikat tali persaudaraan seerat eratnya, dan karena itulah kedua belah pihak lebih ikhlas untuk tidak tawuran timbang membudayakan tawuran
    "Tawuran itu hanya mencelakakan kedua belah pihak. Yang kalah dilarikan ke rumah sakit atau ke pemakaman, sedangkan yang menang bakal berurusan dengan penegak hukum "ujar si kata sambil melirik si pengantar.
    "Saya sepakat dengan apa yang dijelaskan oleh si kata," timpal si Pengantar. 
    Meski begitu, Pengantar malah menghimbau agar budaya tawuran pelajar, tawuran mahasiswa dan tawuran antar warga kampung, sebaiknya dimenej dengan sebaik baiknya sehingga bisa secepatnya menjadi perdamaian yang indah dan penuh pesona.
   "Tapi, lantas kapan kita bicara soal dan tentang tak ada akar rotanpun jadi," serobot si kata yang sepakat untuk tidak setuju membela yang bayar, karena dahulu kala, para pejuang selalu ke medan laga untuk membela yang benar
  " Lhoo, bukankah kamu mendekati saya untuk menjadi kata yang karena saya pengantar lalu tercipta kata pengantar?" tanya si pengantar
 "Itu sebabnya saya mengingatkan, setelah kita menjadi kata pengantar, segeralah beranjak ke substansi tak ada akar rotan pun jadi. Jika stagnan di kata pengantar, lalu apa ujar kata jika tak sanggup mengantar?"
   Karena nggak enak sama pak erte, akhirnya kedua belah pihak kembali sepakat untuk menyetop argumen ataupun deskripsi, dalam bentuk apapun.

   Kaitan Akar Dengan Rotan

   Mengapa pepatah itu bunyinya harus Tak Ada Akar Rotan pun Jadi dan bukan Tanpa Akar Rotan Tak Akan Pernah Jadi ?
   Prof. Doktor Ir. Drs. Amburadul Banget, Phd, Msc, Pkk, Lsm, Mlm, ketika ditanyakan masalah terbesut, eh, tersebut, bukan menjawab dengan ilmiah, malah cemberut, melotot dan membentak
   "Jangan tanya sama saya. Memang kamu nggak tau kalau saya lagi pusing tujuh keliling karena sebentar lagi harga BBM mau naik? Jangan malah bikin saya dong. Sebab, bidang saya BBM bukan Akar atau Rotan.  Jadi, tanya saja langsung ke ahli akar dan ahli rotan, dan apapun jawabannya pasti jadi "
  Betapa sulitnya mengaitkan akar dengan rotan, di saat pengurus PSSI selalu membangun konflik Akibatnya, tanpa akar mau pun rotan, sepakbola Indonesia akhirnya harus ikhlas memberi peluang kepada negara lain untuk menjadi peserta perebutan piala dunia, yang akan segera di gelar di Brazil.
  Haruskah bertanya kepada orang bijak yang taat bayar pajak?
  "Wah, jangan tanya ke kami," pinta ketua Asosiasi Bayar Pajak Apa Nggak Ya, saat ditanyakan masalah ini. Dia beralasan, wajar jika kebanyakan pegawai pajak kaya raya. Sebab, Gayus saja, yang belum lama berdinas di sana, uangnya sudah milyaran. Apalagi para seniornya.
Hanya, bagaimana mungkin korupsi di sana bisa diberantas sampai ke akar akarnya, bila rotan tak dijadikan alat pemukul untuk memperbaiki moral.
  Aneh memang, jika tak ada akar rotan pun jadi dipermasalahkan secara panjang lebar. Padahal, artinya begitu simpel. Nggak percaya? Tanya saja ke engkong Lihun. Beliau pernah memanfaatkan keunggulan pribahasa ini. Saat itu, cuaca sangat panas. Waktu mau pulang setelah belanja di Glodok, duitnya kecopetan barang barangnya hilang. Karena diamanahkan untuk mengaplikasikan Tak ada Akar Rotan pun jadi, dengan ikhlas Kong Lihun pulang dari Glodok ke Kemanggisan dengan berjalan kaki.
  "Buktinya," kata engkong Lihun
 "Bisa juga tuh gue sampe di rumah dengan selamat. Cuma, pas sampai di rumah gue terpaksa mesti pingsan. Sebab, capenye nggak ketulungan. Mana mesti nahan haus," kata beliau sembari berbisik. Rupanya, Beliau menyampaikan pesan, agar pepatah tersebut dipertahankan sampai kapanpun. Cuma, kata beliau, harus disesuaikan dengan kondisi zaman. Tapi harus tetap dibuat menjadi relevan.
Artinya, kalau memang mau pintar harus belajar, jangan kalau nggak bisa menjawab kan bisa nyontek ke teman, kalau nggak dikasih jawaban ngajak berantem
Kalau kerja juga mesti jujur, jangan mentang mentang ada kesempatan dalam kesempitan, lantas kemaruk dan malah nggak habis habisnya ngembatin duit rakyat.
Jadi, kalau tak bisa makan Pizza kan masih bisa makan combro atawa pisang goreng yang harganya jauh lebih murah dan serasa serasi dengan lidah lokal.
Pokoknya, kalau nggak ada uang jangan ngutang.
Setuju? Saya sih setuju aja, ah.        




































 <script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

Friday, May 31, 2013

CERITA BERSAMBUNG (35)

MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank


TIGA PULUH LIMA


“Nah... yang sedang dirawat ini isteri saya, namanya Ariyani,” kata Sabar kemudian
“Maaf, yaa, pak. Kami hanya memastikan. Jika bapak orangnya, kami hanya melaksanakan amanah, mengantar kedua bingkisan ini untuk bapak “
“Iya, pak. Selamat ya, pak ?” Karyawan yang membawa bingkisan peralatan bayi, segera menyodorkan bingkisan yang dibawanya.
“Bing…bingkisan i....ini benar, untuk saya? Dari siapa? ” Tanya Sabar yang tentu saja merasa sangat terkejut.
Itu sebabnya, Sabar tak berkenan untuk langsung menerima bingkisan dari tangan sang karyawan kantin rumah sakit
“Pak, saya hanya melaksanakan amanah Tadi, pak Bondan yang saat kami tinggal masih di kantin, memanggil kami. Lalu, menanyakan, apakah bingkisan yang terpajang di kantin seba tas untuk pajangan atau bisa dibeli. Setelah saya jelaskan bisa dibeli oleh sia pa saja, beliau minta tolong agar kami segera mengantar bingkisan ini ke pak Sabar.
Beliau hanya bilang, isteri bapak dirawat di ruang nomor 313. Kata pak Bondan, kalau bapak tanya beliau di mana, saya harus bilang, beliau masih di kantin dan sedang asyik ngopi“
“ Bang…kenapa malah bengong seperti itu? Abang nggak lihat, mereka kelihatan capek karena sudah bawa bingkisan itu sejak dari lantai satu?”
Mestinya, tanpa diingatkan siapa pun-ter masuk isterinya, Sabar bergegas menerima bing kisan yang memang untuk Sabar. Terlebih, sudah dijelaskan pemberinya: pak Bondan. Hanya, tak seorang pun yang tahu, mengapa, Sabar, malah langsung ke sudut ruangan dan membuat semua orang di ruang nomor 313, mendadak harus ter kejut.
Baru kali ini, mereka – termasuk isterinya, melihat seseorang, yang diberi hadiah bingkisan untuk isterinya yang melahirkan, malah mena ngis. Meraung-raung.
“ Bang…Bang Sabar, Istighfar, bang. Istighfar!”
Dari ranjangnya, Ariyani yang tak boleh banyak bergerak, hanya bisa meminta dan mengi ngatkan agar suaminya beristighfar.
Kedua karyawan kantin, yang juga kaget, segera meletakkan bingkisan di bawah ranjang Ariyani, dan mereka tak berani menghampiri Sa bar, yang sudah di sudut ruangan, berdiri dengan tubuh merapat ke dinding, yang tangisnya malah terus meraung, sesenggukan.
Pasien lain yang juga sedang dibesuk, ten tu saja hanya bisa memperhatikan, dan mereka yang tetap di tempat masing-masing, hanya bisa saling pandang. Mereka melihat, sesuatu yang aneh tapi nyata
“Pak..apa kami salah?”
Karyawan kantin yang tadi membawa bing kisan peralatan bayi, memberanikan diri untuk bertanya.
Mendengar pertanyaan, Sabar yang terus menangis bak bocah, menjawab.
“ Kalian sama sekali tidak salah. Cuma, ka lian tidak tahu, isteri saya pun tidak tahu, kalau hari ini, saya mendapat begitu banyak limpahan karunia dari Tuhan. Hari ini, saya memang harus menangis dan hanya bisa menangis. Sebab, se panjang hidup saya, baru hari ini, Allah memper temukan saya dengan hambanya yang berhati mu lia. Dia itu orangnya ikhlas, tau.

          Saya tak pernah meminta apa pun, ia juste ru terus memberi. Memberi..dan lagi-lagi membe ri. Dan, bingkisan ini, adalah pemberiannya yang kesekian kalinya. Kalian boleh kaget, boleh ter cengang dan boleh menuduh saya gila, karena di tempat ini, saya memang sedang menangis “


Bersambung........















































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (34)

MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH EMPAT


          Meski sulit, akhrnya Sabar bisa meyakinkan dan ia melihat isterinya yang semula kuatir, menarik nafas lega. Lalu, tersenyum. Lantas, Sabar mendengar jelas, isterinya mengucap
“Alhamdu lillah Hirobbil Alamin”
Sabar mulai lega. Setelah merapikan tas pinggang, Sabar kembali membuka horden. Ia semakin lega, karena pasien di sebelah juga sibuk dengan urusannya sendiri.
“ Sekarang, kamu nikmati makanan enak yang abang bawa dari restoran mahal, yaa? Sete lah itu, abang akan jelaskan tentang Kebesaran Allah yang hari ini melimpahkan rezeki buat kita sekeluarga. Oke ?”
Ariyani tak bisa bilang oke. Ia hanya bisa mengangguk sambil menebar senyum. Meski be gitu, Sabar bisa menangkap senyum isterinya yang tidak full lega. Apa yang tertangkap oleh insting Sabar, memang tak begitu keliru. Soalnya, ia kenal betul siapa Ariyani. Terlebih, selama ini, ia memang tak pernah membawa pulang uang yang jumlahnya dianggap banyak itu
Nyatanya? Meski Ariyani sudah melihat dengan begitu jelas tumpukan uang di tas pinggang Sabar, dadanya tetap saja belum lapang. Di sana atau di hati Ariyani, masih ada penumpang.
Penumpang itu, bernama: tanda tanya.
Dan, Ariyani jelas mendengar suara hatinya yang bilang : tumpukan uang itu milik siapa? Jika milik suaminya, dapat darimana? Bagaimana cara mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat? Apakah dapat di pertanggung-jawabkan, membuatnya aman atau malah mencelakakan?
Pertanyaan seperti ini, harus diungkapkan Dan, Ariyani tak ingin menyimpan. Ia tak bisa membiarkan pertanyaan yang menggeliat di nuraninya, terlantar karena pengaruh uang. Tentu Terlebih, Sabar hanya tukang ojek. Selama meni kah, jangankan pernah menyimpan langsung uang berjumlah jutaan. Dua juta kontan saja, masih dalam tahap impian semata.
Tadi pagi saja, saat pamit mau ngojek, sua minya yang nginap di rumah sakit,bisa senyum karena terpaksa. Ariyani tau, senyum bang Sa bar, hanya sebatas untuk menghibur dirinya yang sedang dirawat, agar bisa dan bersedia te nang. Jika sorenya kembali datang, membesuk Ariyani, dan bisa membawa setumpuk uang, pa tutkah dipercaya dengan begitu saja?
Melihat isterinya mulai menyuap dan me ngunyah makanan yang dibawa, Sabar langsung bersyukur. Dalam hati, ia mengucap Alhamdu lillah. Sabar lalu menarik nafas. Ia sudah merasa lega. Ingin segera menjelaskan. Tapi, baru akan mulai bicara, ia mendengar suara.
“Maaf…jika kami mengganggu bapak dan ibu. Kami mencari pak Sabar, yang nama isteri nya bu Ariyani, dirawat di ruang nomor 313. Apakah saya bisa bertemu dengan pak Sabar ?”
Suara yang cukup keras dan jelas terde ngar, membuat semua orang di ruang rawat no mor 313, termasuk Sabar dan juga Ariyani, iste rinya, yang namanya langsung disebut dengan jelas, kontan menoleh ke pintu masuk.
Ariyani dan Sabar, yang menoleh berbare ngan, memperhatikan dua perempuan bersera gam karyawan kantin rumah sakit, yang masih berdiri di pintu. Seorang membawa bingkisan berisi buah-buahan mahal. Temannya, membawa bingkisan berisi peralatan bayi.
“Yaa, saya pak Sabar,” tanpa ragu, Sabar menyahut. Ia yakin, yang dimaksud, pasti diri nya. Sebab, nama isterinya juga disebut
Kedua karyawan berseragam, segera meng hampiri pak Sabar, yang isterinya menempati ran jang paling ujung, dari lima ranjang yang semua nya sudah terisi.
“ Benar bapak dan ibu bernama pak Sabar dan bu Ariyani?” Tanya karyawan kantin yang membawa bingkisan buah.
“ Yaa, saya Sabar “ sahut Sabar, yang lalu menoleh ke isterinya



Bersambung..........






































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

Tuesday, May 28, 2013

CERITA BERSAMBUNG (33)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH TIGA


Sabar maklum, isterinya tetap kesal ka rena tak tahu – tepatnya belum tahu, jika saat ini dirinya tengah berada di puncak kegembiraan. Hanya, Sabar juga jadi kesal. Bukan pada Ariya ni. Tapi, kesal pada dirinya sendiri. Sebab, malah memilih merahaiakan kabar yang paling menggembirakan.
Karena hal itu, Sabar jadi terpikir untuk merapatkan hordeng pemisah antara pasien satu dengan yang lain, serapat-rapatnya. Ia tak ingin pasien di sebelah yang juga sedang dibesuk, mengetahui apa yang akan disampaikan ke isterinya. Ia tak peduli pada Ariyani yang kelihatan makin kesal karena Sabar tak memperhatikan keluhan isterinya.
Sabar bergegas mencopot tas pinggang nya.
“Sekarang, “ kata Sabar, dengan suara berbisik “Kamu lihat apa yang abang bawa. Setelah itu, tolong jangan mengeluh lagi. Oke ?”
“ Bang... untuk apa saya bilang oke? Abang kan, tukang ojek. Bukan tukang sulap yang bisa mengubah kertas kumel jadi setumpuk uang berwarna merah“
“Sssst..suara kamu jangan keras begitu? Sekarang, begini saja, kamu ambil tas ini, buka, dan lihat isinya, “ kata Sabar.
Ia menyarankan sambil menahan suaranya, agar tak terdengar orang ketiga, karena di saat yang sama, ia mendapat kesulitan menenangkan isterinya.
Setelah itu, Sabar hanya berharap agar isterinya mengerti dan paham dengan apa yang ia inginkan.
Padahal, yang diinginkan, ia bisa se perti Bondan, yang kalau melakukan sesuatu, kesannya sangat biasa saja, seperti halnya air me ngalir, tapi hakekatnya, mampu mendobrak apa yang tersembunyi di relung jiwa. Membuatnya terharu, dan kemudian menangis sesenggukan . karena ujung-ujungnya ia sangat merasakan baha gia.
Di saat seperti itu, begitu nikmat bersyukur pada Sang Pencipta karena benar-benar merasakan kebesaran, kasih dan sayang NYA. Akankah Ariyani, isterinya, dapat menikmati hal yang sama, seperti yang seharian ini ia rasakan dan nikmati dengan syukur yang mendalam?
“ Baaang…” seketika ia mendengar Ariyani memekik
Memang, kagetnya begitu mencuat. Namun, tak kelihatan hepi. Ariyani, malah tak hanya seperti tak percaya. Padahal, matanya melihat begitu jelas tumpukan uang yang bersemayam di tas pinggang kumel, milik Sabar, suaminya
“ Sssst…kan abang sudah bilang, buka dan lihat isinya. Kalau sudah tahu, ber syu kur pada Allah. Jangan malah bikin orang lain memperhatikan kita ?” Kata Sabar, sambil kembali menahan suaranya.
Sabar berharap, isterinya mengerti kalau ia tak sekedar mengingatkan. Tapi, juga ingin mengajak agar Ariyani merasakan hepi, setelah kaget melihat isi tas sang suami. Sayang, harapan Sabar tak langsung terpenuhi, karena sang isteri malah curiga
“ Tapi…uang sebanyak ini. Abang dapat dari mana ? Kalau nggak jelas juntrungan nya, saya malah jadi takut menerimanya “
“ Aduuuh, kamu itu bagaimana, sih. Tadi abang kan, bilang, Allah Maha Besar dan Maha Memberi Rezeki. Jadi...sekarang timbang kamu pamerin bingung, lebih baik kamu bersyukur. Setelah abang melihat kamu tenang, baru abang jelasin. Oke ?”


Bersambung.......

































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();


</script>

CERITA BERSAMBUNG (32)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH DUA


BONDAN mengajak Sabar yang ia tahu sudah tidak sabar, untuk mampir sejenak ke kantin rumah sakit yang berada di lantai dasar. Tapi, ia tidak memaksa Sabar, yang menolak dengan alasan kuatir makanan yang ia bawa dari rumah makan mewah, nantinya malah basi dan akhirnya mubazir, jika tidak segera dinikmati oleh isterinya.
“Yaa, sudah. Lu duluan aja, bang. Nan ti gue nyusul ke atas. Oh iya, dilantai tiga, kamar nomor 313, kan ? “
“Benar sekali boss. Saya duluan dan nunggu di atas saja, ya?”
“Oke, salam buat isteri lu. Gue mau ri lek dulu. Hati-hati “
Bondan melangkah ke kantin. Sabar yang memang sudah tak sabar, melangkah tergo poh, menuju lift. Sabar yang tangannya menjin jing tas plastik warna merah berlogo rumah ma kan mahal, tidak kecewa, ketika sampai di depan lift, ia tak bisa ikut naik karena lift baru saja ber gerak, naik ke atas dengan penumpang full.
Karena Sabar yang memang sudah tidak sabar, tak mau menunggu--meski hanya untuk beberapa saat, hanya berpikir harus cepat sampai ke lantai tiga, Rumah Sakit Mahal Itu Indah. Ia tak ingin nyasar ke lantai lain, karena ruang bersalin hanya di lantai tiga. Selebihnya, adalah lantai untuk ruang rawat inap pasien non bersalin. Ia bergegas menyusuri tangga
Sabar yang baru saja menyusuri anak tangga rumah sakit, meski jelas terengah engah, sama sekali tak merasa lelah. Begitu sampai ke lantai tiga, langsung bergegas menuju ruang rawat nomor 313.
Ariyani, isterinya, memang sangat kelihatan tak sabar menunggu kedatangan Sabar. Begitu melihat suaminya masuk ke ruangan, Ari yani tak memperhatikan nafas Sabar yang terse ngal dan tas plastik yang dibawa suaminya. Setelah menjawab salam, mencium tangan sua minya, Ariyani yang kuatir suaminya tak mampu membayar biaya rumah sakit, langsung menge luh.
Sabar terpaksa lebih ingin mendengar kan keluhan isterinya timbang segera menyodor kan tas plastik dan merogoh amplop setengah ju ta rupiah yang niatnya akan langsung diserahkan ke isteri nya.
Meski begitu, Sabar sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya dikeluhkan Ariyani. Saat Ariyani mengeluh, Sabar sengaja berpaling dan ia hanya menahan senyum, karena kali ini, ia datang dengan solusi yang paling mumpuni
“ Masih ada keluhan yang ingin kamu sampaikan?” Tanya Sabar
Sabar yang yakin, isterinya tak akan mengungkap kalimat lain yang identik dengan keluhan dan juga kekuatiran, mendekat. Begitu duduk di tepian ranjang, dengan seksama dan penuh perhatian, ia menghapus air mata di pipi isterinya
“Bang…kekuatiran saya serius.Abang jangan anggap ringan soal biaya rumah sakit. Ka lau kita nggak bisa bayar, yang pasti disandera bukan abang. Tapi saya, tau ?”
“ Tenang saja, Allah itu, kan Maha Besar. Maha Memberi Rezeki bagi setiap hamba nya. Sekarang, lebih baik kamu nikmati yang abang bawa. Oh, iya, ini makanan enak, lho. Harganya ? Wooow… di luar jangkauan. Dua hari narik ojek, belum tentu bisa abang beli “
Sabar lalu sibuk mengeluarkan bung kusan. Ariyani tak menggubris.
“ Bang…kita butuh uang buat bayar biaya rumah sakit. Mestinya, dapat duit tuh diirit irit Bukan malah beli makanan mahal. Buat apa sih berlagak seperti orang kaya?“



Bersambung..........


























<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>

CERITA BERSAMBUNG (31)


MASIH ADA JALAN
oleh : Oesman Doblank

TIGA PULUH SATU



Bondan malah makin kesal. Sabar yang diingatkan agar hentikan tangis, malah makin sesenggukan. Sabar yang tak mau cepat-cepat ambil helm dari tangan Bondan, juga nggak segera kasih jawaban apakah menolak atau mengijinkan Bonda ikut ke rumah sakit.
Bondan menaruh helm di dekat kaki Sabar.
“ Yaa, sudah. Kalau begitu lebh baik gue langsung pulang aja,” kata Bondan yang sudah ambil keputusan untuk pulang.
Tanpa ragu, Bondan bergerak. Meninggalkan Sabar yang masih kayak anak kecil ngak dikasih uang jajan.
Sabar baru ngeh, baru sadar, kalau Bon dan sudah bergerak. Langkahnya, memang begi tu santai. Tanpa beban. Tanpa kepingin tahu, me ngapa Sabar, yang langsung diajak ke rumah sa kit, malah turun dari motor, bersandar di pohon tepi jalan dan sesenggukan.
“Boooossss ?” Sabar berteriak.
Memanggil Bondan dengan suara yang jelas dide ngar. Ia lakukan itu, bukan takut ditinggalkan. Bukan kuatir Bondan langsung manggil taksi dan pulang ke rumahnya dengan begitu saja. Sabar takut berdosa. Takut mengecewakan si boss yang kebaikannya begitu tulus, tanpa rencana dan bisa dibilang lebih dari air yang mengalir.
Bondan mendengar teriakan Sabar yang memang gilnya. Ia menoleh, melihat Sabar yang berlari, bergegas menghampirinya sambil berte riak.
“ Saya nggak nolak, nggak melarang, saya malah senang. Sekarang juga kita langsung berangkat ke rumah sakit, boss”
Begitu mendekat, Sabar mengangsurkan helm ke Bondan, dan ia duluan ke motor. Menstarter. Siap meluncur. Membawa Bondan. Bukan ke pangkalan. Tapi ke rumah sakit, memenuhi permintaan Bondan.
“ Silahkan, naik, boss,“ Sabar terpaksa berinisiatif menawarkan. Ia takut Bondan batal kan niat karena tak segera naik tapi malah keli hatan kesal
“Lu ikhlas nggak ngajak gue ke rumah sakit ?”
“ Demi Allah, saya ikhlas, boss “
“ Lu nggak usah pakai sumpah segala, deh. Nggak usah niru-niru pejabat, yang berani sumpah tapi malah berani korupsi, yang berani disumpah, tapi lebih berani ngebohongin rakyat. Gue kesal, tau. Bukan sama pejabat. Tapi, sama lu. Di tempat umum, malah mewek sesenggukan. Memangnya, salah, kalau gue bilang mau bezuk isteri lu di rumah sakit ?”
Sabar kepingin banget ngejelasin semu anya. Agar boss ngerti, paham. Tapi, Bondan ma lah bergegas naik ke motor. Memberi intruksi yang nggak mungkin bisa ditolak oleh Sabar
“ Cepat lu jalan. Awas lu yaa, sekali la gi nangis di depan umum, kagak bakalan lagi gue mau pakai ojek lu “
Mau nggak mau Sabar harus nahan ke inginan menjelaskan, mengapa ia menangis. Me ngapa ia mendadak berada di puncak keharuan.
“Hati-hati…Ingat, gue mau bezuk orang melahirkan di rumah sakit, bukan mau jadi pasien rumah sakit. Lu ngerti, kan? “
“Pasti ngerti, boss. Si boss tenang aja. Allah pasti melindungi kita “
Sabar cepat menyahut. Ia segera me luncur. Menyalakan sein bagian kanan. Ia tidak jadi berbelok ke kiri, karena tujuan sudah beru bah arah. Buka ke pangkalan ojek. Tapi, ke ru mah sakit. Membezuk isterinya
Meski Sabar harus membatalkan dua rencana yang sudah disusunnya, ia malah bisa te rus tersenyum. Sepanjang jalan, ia konsentrasi. Ia bawa motor, bawa si boss, bersama kebahagi aannya. Hanya, ia belum menyusun rencana lain, untuk isterinya. Tapi, jika isterinya menanyakan darimana ia dapat uang sebesar setengah juta ru piah, Sabar akan menjawab apa adanya. Seperti air mengalir.





Bersambung...............

































<script type="text/javascript">

  var _gaq = _gaq || [];
  _gaq.push(['_setAccount', 'UA-41008897-1']);
  _gaq.push(['_setDomainName', 'sketsadanpantun.blogspot.com']);
  _gaq.push(['_setAllowLinker', true]);
  _gaq.push(['_trackPageview']);

  (function() {
    var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true;
    ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://' : 'http://') + 'stats.g.doubleclick.net/dc.js';
    var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s);
  })();

</script>